Supreme King System

Supreme King System
Chapter 39 : Pembicaraan


__ADS_3

Qin Chen menutup matanya, dia tidak ingin menggunakan Poin Sistem lagi. Sekarang, dia mencoba mengobrak-abrik pikirannya sendiri untuk mencari Seni yang cocok untuk Keluarga Qin.


Dengan bantuan Origin, Qin Chen memiliki pemahaman dan ketrampilan Dunia ini. Walaupun mencarinya sedikit sulit dibandingkan langsung beli di Shop Sistem.


Setelah beberapa menit berlalu, Qin Chen kembali sadar setelah menemukan Seni yang cocok.


Qin Chen mengeluarkannya dalam bentuk Buku, di tangannya muncul empat Seni tingkat tinggi. Tentunya, Seni tersebut berada di Kelas Dewa.


"Di tanganku ada 4 Seni Kelas Dewa tingkat Tinggi. Dimana memiliki kecocokan dan kesempurnaan yang akurat dengan keluarga Qin. Pertama Seni Fondasi Abadi, Seni Tinju Api Neraka, Seni Pelindung 6 sisi, dan terakhir. Seni Pedang Surgawi, Penghancur bintang." Ucap Qin Chen.


Perlahan, keempat Seni tersebut Qin Chen berikan kepadanya. Patriak Qin melihat hal tersebut membuatnya sedikit gemetar, dihadapannya ada Seni Dewa yang sangat langka di dunia ini.


Bahkan, dua Benua besar tidak akan memiliki Seni setingkat Dewa. Kebanyakan hanya Seni Kelas Ungu ataupun Bumi.


"Ambillah ... Ini sebagai ucapan terima kasih karena memberikan aku tempat tinggal beberapa hari ini. Sekaligus ucapan permintaan maaf dariku." Ucap Qin Chen.


"Tidak, bagaimana bisa aku menerima barang ini disaat penyelamatan Keluarga Qin adalah orang yang membantu Putra kami balas dendam." Balasnya.


"Ambil saja, agar aku tidak memiliki perasaan bersalah kepada keluarga Qin. Selanjutnya, aku akan memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini. Untuk apa yang aku katakan sebelumnya, kau dapat melakukan perjalanan sendiri ataupun dengan caramu sendiri." Sahut Qin Chen membicarakan tentang cara menghidupkan Qin Chen sebelumnya.


Qin Chen tidak dapat membantu, karena dia memiliki masalahnya sendiri. Sekalipun dia ingin membantu, dia sendiri tidak tahu caranya untuk mendapatkan Heavenly Soul Orb atau Menarik Jiwanya.


"Benar ... Setelah aku keluar dari kediaman ini, sebarkan berita tentang kematian Qin Chen. Dengan begitu, dia tidak akan menerimanya. Jika kau tidak ingin menyembunyikan ini selamanya." Ucap Qin Chen.


"Aku mengerti ... Aku akan mencoba yang terbaik agar tidak menyembunyikan ini selamanya. Lalu, bagaimana dengan identitasmu?"


"Aku? Saat aku lahir hingga mati, namaku tetap Qin Chen. Tetapi, aku akan mencari Alternatif yang baik agar semuanya lebih baik. Kau tenang saja." Balasnya.

__ADS_1


Patriak Qin menutup matanya dan membukanya kembali. "Jika begitu, baiklah. Satu hal lagi yang ingin aku tanyakan, apa kau dapat menjelaskan."


"Tentu, selama itu ada dalam Pengelihatanku, aku akan menjelaskan apa yang ingin kau tanyakan." Balas Qin Chen sambil melihat ke arah Patriak Qin.


"Ini tentang Chu Qincheng. Sebelumnya, kau pernah bertemu dengan di Hutan dan mengatakan bahwa dia mengalami masalah, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya dengan penasaran.


Qin Chen yang mendengar hal tersebut terdiam, meskipun masih pemikiran, namun kenyataannya dia belum mempunyai bukti yang cukup kuat.


"Begitu." Qin Chen lalu melihat ke Langit ruangan. "Aku belum mempunyai bukti yang kuat, namun aku merasakan ada kesamaan dengannya." Balas Qin Chen.


Saat mendengar hal tersebut membuat Patriak Qin terkejut. "Apa maksudmu? Apa kau menyukainya?" Tanyanya.


Di dalam benaknya, Chu Qincheng adalah menantunya dimana sudah di jodohkan sejak lamanya. Sedangkan di depannya, Pemuda yang memiliki penampilan yang sama seperti putranya mengatakan hal yang ambigu.


"Menyukai? Hahaha ... Jangan salah sangka, sekalipun aku menyukainya, aku tidak akan pernah membantu Keluarga Qin. Aku hanya mengatakan, bahwa dia sama sepertiku." Balas Qin Chen.


Dengan sedikit bukti bahwa Chu Qincheng memberikan pedang kelas tinggi sudah membuat Qin Chen yakin bahwa Chu Qincheng sama sepertinya.


"Sama? Jangan bilang ... " Patriak Qin menjawabnya dengan nada gugup dan gelisah mendengar perkataan Qin Chen sebelumnya.


"Benar ... Namun ini kasus berbeda. Jiwa Chu Qincheng di Dunia ini telah tidak ada dan digantikan oleh Jiwa yang baru. Sedangkan aku, aku adalah orang yang berkelana di berbagai belahan Dunia."


"Jadi, dapat disimpulkan bahwa Chu Qincheng telah mati sama seperti Qin Chen. Jiwa mereka berada di antara Surga dan Neraka. Jika mereka memang di takdirkan, maka mereka akan bertemu di Alam yang tidak kita ketahui sekarang." Qin Chen menjelaskan menurut apa yang dia lihat.


Sekalipun semuanya salah, namun inilah yang Qin Chen pikirkan dan lihat secara langsung. Saat Patriak Qin mendengar, semuanya menjadi lebih hening dibandingkan sebelumnya.


Patriak Qin mulai menyenderkan tubuhnya, menghilangkan beban pikirannya yang menumpuk.

__ADS_1


"Jadi ... Chu Qincheng telah mati?" Patriak Qin bersuara seperti bertanya.


"Kemungkinan, benar. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, semuanya telah di Atur oleh Surga. Sebagai Mahkluk yang hidup dibawah aturan Surga dan Dunia, inilah yang harus kalian terima." Balas Qin Chen.


"Apa selama ini kau berbohong kepada kami atas kematian Putra kami?" Tanya kembali Patriak Qin dengan nada yang gugup.


Qin Chen membuka matanya, dan perlahan menutup. "Terkadang, kita diharuskan untuk berbohong untuk menyembunyikan kebenaran. Sekalipun melahirkan kebencian, inilah Dunia. Kejam dan Jahat, tidak ada yang tahu masa depan maupun masa lalu."


"Yang perlu di lakukan sekarang hanya menatap kedepan, melihat apa yang akan terjadi selanjutnya."


Patriak Qin terdiam beberapa saat setelah mendengarnya. Setelah beberapa menit diam, Patriak Qin berdiri dan menyeret Patriak Mo di tangannya.


Berjalan ke depan Pintu, Patriak Qin berhenti di depan pintu, dia sedikit bersuara. "Terimakasih ... Karena telah menyembunyikan kebenaran ini. Sisanya, biar aku yang akan mengurusnya."


"Baiklah ... Ini tanggung jawabmu sebagai seorang Ayah. Aku tidak akan ikut campur, lakukan apa yang kau anggap itu benar."


Setelah mengatakan hal tersebut, Patriak Qin keluar meninggalkan ruangan. Qin Chen yang berada di dalam sana melihat sekitarnya, lalu baring di atas tempat tidurnya.


Sementara itu, di luar kediaman keluarga Qin. Para pasukan telah menjarah banyak harta benda yang dimiliki oleh kedua keluarga besar lainnya.


Bahkan, Putra Mo diseret dengan rantai ke tempat Patriak Qin berada. Anak dan Ayah, mereka berdua akan mendapatkan hukuman dari Patriak Qin.


Membalas Kematian Putranya, Patriak Qin akan melampiaskan semuanya pada mereka berdua. Sedangkan harta benda, Qin Chen akan mengambilnya sedikit itu adalah mata uang agar dia tidak miskin saat berpetualang.


Ada banyak bahan-bahan herbal, itu mungkin akan dia ambil untuk membuat Pil terbaik dan meninggalkannya di sini. Setelah semuanya beres, Qin Chen akan pergi.


"Benar saja, Dunia dalam Kekacauan dan aku tetap bersantai disini. Setelah ini selesai, aku akan berpetualang." Gumamnya.

__ADS_1


...


*Bersambung ...


__ADS_2