Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 100


__ADS_3

"Hahahaha.. Mateo, sudah lama sekali aku tidak ke Indonesia lagi dan sekarang Lucas benar-benar sudah terlihat dewasa sekali. Apa kamu tidak berencana untuk segera menikah Lucas?".


Lucas tersenyum, lalu mereka melihat Alvin dan Marisa datang bersamaan dari arah belakang tempat Mateo memelihara binatang kesayangan ya. "Kalian berdua habis dari mana?" tanya Lucas menatapnya dengan marah.


"Ah.. Maaf tuan, tadi saya..


"Kami berdua habis dari belakang" potong Alvin memberikan senyuman kepada Lucas. "Apa dia benar sekretaris mu? dia cantik sekali. Maaf kalau aku lancang, ayo duduk Marisa" ajaknya menepuk sofa sebelahnya.


"Tidak, saya berdiri saja disini".


"No, kaki kamu nanti bisa pegal kalau kamu berdiri terus disitu. Ayo duduk disebelah ku, cepat" tarik Alvin membawanya duduk disampingnya tampa ia sadari kalau Lucas sedang menatapnya tajam dengan tangan mengepal. "Kamu mau minum teh Marisa? kamu bisa meminum milik ku saja, inih".


"Tidak usah Alvin, terima kasih" tolak Marisa menggeleng kepala.


"Tidak apa-apa, kamu tidak usah sungkan seperti itu. Ayo diminum" desak Alvin membuat mereka yang sedang melihat kedekatan diantara kedua orang itu tersenyum geleng kepala kecuali Lucas. "Oh iya Lucas, bagaimana bisa kamu mendapatkan sekretaris secantik dia? aku sangat menyukai wanita ini..


"Uhuk-uhuk..


"Kamu baik-baik saja?" khawatir Alvin langsung memberikan tissue ditangannya.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih".


Kemudian Alvin menghela nafas, "Kamu terkejut yah saat aku mengatakan kalau aku menyukai mu?".


"Hahahahah.. Tidak" tawanya geleng kepala.


"Kamu tidak usah berbohong kepada ku, aku bisa tau tampa harus kamu memberitahu ku Marisa. Maaf, terkadang aku tidak bisa menahan perasaan ku di saat aku menyukai wanita. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa bertanya kepada ayah ku".


"Hahahaha.. Alvin hentikan, kamu membuatnya merasa tidak nyaman" ucap sang ayah menyuruh putranya itu berhenti menggodanya. "Maafkan anak saya yah, dia memang selalu seperti itu".


"Tidak apa-apa tuan" senyum Marisa. Lalu Dilan menghampiri mereka bersama dengan istrinya. Namun saat Dilan ingin mendudukan diri, ia malah memperhatikan Marisa yang berada di samping Alvin, "Hallo tuan!" tunduknya.


Dilan mengernyitkan dahi, "Marisa?".


"Iya tuan".

__ADS_1


"Sedang apa kamu disini? kamu mengenal wanita itu Alvin?".


Alvin tersenyum, "Aku baru mengenalnya, bagaimana dengan mu? sepertinya kamu mengenalnya, bahkan namanya saja kamu tahu".


"Mmmmm, aku sedikit mengenalnya. Bukankah begitu Marisa?".


"I-iya tuan" jawabnya.


Dilan tertawa kembali, lalu ia mendudukkan diri disamping sang istri yang telah duluan duduk, "Oh iya, apa kabar paman selama berada diluar negeri? seperti yang Dilan dengar perusahaan paman sangat maju sekali. Aku berkata selamat untuk perusahaan paman".


"Terima kasih Dilan, semoga kedepannya perusahaan paman baik-baik saja".


"Dilan doakan itu pasti paman. Terus bagaimana dengan mu Alvin? apa kamu tidak berencana segera menikah?".


"Rencana sudah ada, cuman wanita yang ingin dinikahi belum ada. Kamu tidak berencana mencarikan aku calon istri yang baik?".


"Boleh saja, cuman kenapa tidak dengannya saja? wanita cantik sudah ada di sebelah mu. Bukankah begitu Lucas?" tanyanya tersenyum sambil mengejek Lucas. "Jangan seperti Lucas, dia terlalu pemilih terhadap wanita sehingga dia sampai sekarang belum menikah juga".


"Aku rasa Lucas tidak pemilih, dia hanya belum menemukan wanita yang tepat saja makanya sampai sekarang dia belum menikah. Tapi cepat atau lambat dia pasti akan segera menemukan wanita pujaan hatinya. Kakek, calon yang seperti apa kakek inginkan menjadi pendamping hidup Lucas?".


"Kakek tidak usah khawatir soal itu, sekarang Lucas mau atau tidak kek. Soalnya kenalan Alvin banyak sekali..


"Kenapa tidak untuk mu saja yang kamu cari Alvin?" kesal Lucas memotong perkatannya. "Tolong jangan ikut campur urusan ku, aku tidak ingin orang lain..


"Apa aku kamu anggap orang lain Lucas? kamu ada-ada saja, kita ini masih termasuk satu anggota keluarga, bukankah seperti itu kakek?".


"Hentikan Alvin, kamu juga tidak beda jauh darinya. Kalau kamu memaksakan kehendak mu untuk melihat Lucas segera menikah, harusnya kamu juga menikahlah. Tidak usah mencari calon menantu yang harus sempurna, cukup cari menantu yang baik yang bisa bersama mu sampai tua nanti" ujar sang ayah Alvin membuat Marisa merasa tersentuh dengan perasaan bahagia.


"Ya Tuhan, seandainya keluarga Lucas seperti ayahnya Alvin merestui hubungan kami, rasanya pasti akan bahagia sekali. Tapi apa boleh buat? terkadang aku lelah mau sampai kapan lagi pernikahan kami harus tersembunyi dari mereka, apalagi saat ini aku tengah mengandung buah cinta kami. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? jika suatu saat nanti Lucas tiba-tiba di jodohkan dengan pilihan kakeknya, apa kami berdua nantinya akan bercerai dan menjalani hidup kamu masing-masing?".


"Kenapa kamu terdiam Marisa? apa yang sedang kamu pikirkan?".


Marisa tersenyum, "Tidak Alvin, aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Boleh aku keluar sebentar?".


"Ayo, aku akan mengantar mu ke taman depan, udara disana sangat segar sekali".

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa sendiri Alvin".


"Nanti kamu tersesat lagi Marisa".


"Tidak akan lagi, jangan khawatir Alvin. Aku keluar dulu, permisi" tunduknya kepada mereka. Namun saat ia melangkah pergi, ia melihat ibunya Lucas sedang berjalan kearahnya membuat ia pun akhirnya menghentikan langkahnya, "Hallo tante! kita bertemu lagi".


"Marisa?".


"Iya tante, saya datang kemari bersama dengan tuan Lucas".


"Oh, terus kamu mau kemana? hidangan telah tersedia diatas meja. Ayo pa, kak ipar" ajak ibunya Lucas membawa mereka semua kesana. Lalu ia tersenyum kepada Marisa, "Apa kabar mu? kemarin saya tidak sempat berkunjung kerumah mu".


"Baik tante seperti yang tante lihat sekarang ini".


"Mmmmmm, syukurlah. Tante senang mendengarnya. Ayo duduk, ini mamanya Alvin, dia semuanya yang telah menyediakan hidangan ini".


"Wah.. Apa dia seorang chef tante?".


"Iya".


"Mmmmm, mama juga seorang chef kian tante, cuman sekarang ini mama fokus mengurus rumah tangga".


"Wah, tante yakin mama kamu pasti seorang chef yang sangat hebat".


"Heheheh.. Bisa di bilang tante".


"Ayo duduk".


"Iya tante".


Sedangkan Kirana yang sedang memperhatikan kedekatan kedua orang itu, ia terlihat semakin tidak menyukai Marisa. "Dasar wanita gatal, kamu pikir dengan mendekati ibunya Lucas kamu bakalan bisa mendapatkan Lucas? hahh.. enggak usah mimpi kamu wanita kampungan, kamu dan Lucas itu bagaikan langit dan bumi. Dasar orang miskin, taunya cari orang kaya ajah biar hidup mu senang".


"Ada apa Kirana?" tanya Dilan.


"Tidak" balasnya.

__ADS_1


__ADS_2