
Di dalam ruangan Elisabet, Marisa, Raniya dan Flora sedang mengobrol tampa mereka tau kalau saja Lucas memasuki ruangan itu kembali. "Tuan" ucap sipelayan membuat mereka bertiga melihat kearahnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyanya mendudukan diri diatas sofa yang berada di samping Elisabet.
"Tidak" jawab Raniya tersenyum. "Kamu habis dari mana? tadi kami keluar bersama dengan Jose".
"Cari angin sebentar".
"Mmmmm" gumam Raniya mendekatinya. Lalu memanggil namanya, "Bisa kita bicara sebentar?".
"Ada apa?".
"Jangan disini, tapi diruangan ku" Lucas mengernyitkan dahi melihatnya. "Tidak akan lama kok".
"Ya sudah, ayo" jawab Lucas bangkit berdiri dari atas sofa tersebut. Mereka berdua langsung keluar berjalan menuju ruangan Raniya, "Rani, bisa aku bertanya?".
"Apa?".
"Kenapa kamu menunda pernikahan mu dengan Jose?" Raniya terdiam membuka pintu ruangannya, "Kenapa kamu tidak menjawab ku?".
"Jose memberitahu mu?".
"Mmmmm, apa alasan mu menolaknya? dia pria baik dan mungkin dia sedikit nakal, tapi setiap orang bisa berubah jika dia menemukan cinta sejatinya. Jose sangat mencintai mu, padahal dia bukanlah tipikal pria yang akan mengatakan cinta kepada wanita yang pernah berkencan dengannya".
"Aku tau, tapi aku tidak bisa melupakan orang yang ada dalam hati ini Lucas. Mungkin kamu tidak tau siapa dia, tapi dia adalah pria yang paling aku cintai di dunia ini dan sampai kapan pun aku tidak akan bisa menggantikan dia dari hati ini. Maaf".
Lucas tersenyum, "Untuk apa kamu minta maaf? aku hanya ingin kamu memikirkannya lagi. Jangan sampai kamu menyesalinya".
"Aku tidak akan menyesalinya Lucas".
"Lalu bagaimana dengan keluarga kalian? apa yang akan kamu katakan kepada mereka? aku yakin mereka akan sangat kecewa".
"Aku akan bicara baik-baik kepada mereka mengenai masalah ini".
"Kalau gitu, semoga kamu tidak menyesalinya. Dan kemarin Jose memberitahu ku kalau dia memberikan waktu 1 bulan untuk mu melupakan pria itu. Kamu masih mengingatnya?".
"Mmmmm, tapi sepertinya aku tidak akan bisa Lucas" jawab Raniya membuatkan dua gelas kopi.
"Siapa pria itu?".
"Aku sudah mengatakannya kepada mu kalau kamu tidak mengenal pria itu. Dan tolong jangan tanya dia ada dimana, aku tidak akan menjawab mu" ucap Raniya memberikan segelas kopi ditangannya. "Kamu sudah memiliki kekasih? aku dengar kamu dan Dilan...
"Tidak usah membahasnya, aku sedang tidak ingin mendengarnya" potong Lucas menyeruput kopinya.
"Kenapa? kamu kalah darinya?".
__ADS_1
Tersenyum, "Bisa dibilang kalah satu langkah saja".
"Mmmmm" gumam Raniya.
.
Hari semakin sore, Marisa mengajak Flora berjalan-jalan disekitar rumah sakit sampai kini mereka berada di atas roftop. "Wah, memandang dari sini cukup menyenangkan juga ya Risa. Lihatlah keatas langit, burung-burung diatas udara sedang bernyanyi".
"Mmmm, aku sangat menyukainya".
"Apa yang kalian sukai?" Marisa dan Flora langsung melihat kebelakang. "Kenapa?" senyum Jose.
"Tidak" geleng Marisa tersenyum. Kemudian Jose ikutan melihat keatas langit, ia juga melihat beberapa burung diatas sana sedang bernyanyi membuat Jose merasa tersentuh atau merasa sedih yang belum pernah ia rasakannya sebelumnya. "Ada apa tuan?" tanya Marisa.
"Aku menyukai tempat ini" jawabnya. Lalu Jose melihat Flora, "Kenapa aku seperti pernah bertemu dengan mu?".
"Iya tuan, kemarin waktu di bar" jawab Marisa melihat Flora malah memalingkan wajahnya. "Kamu kenapa Ra?".
"Hahahah, tidak Sa" geleng Flora melihat Jose sedang menatapnya tampa berkedip membuat ia merasa tidak nyaman. Lalu Jose mendekatinya, dengan entengnya tangan Jose langsung menyentuh pipi kanannya membuat ia dan Marisa terkejut. "A-apa yang sedang anda lakukan?".
"Ah, maafkan aku" jawab Jose melepaskan tangannya.
"Tidak apa-apa" angguk Flora.
"Kalau gitu aku pergi dulu, maaf sudah menganggu".
"Apa? hey jangan bercanda seperti itu Sa. Siapa juga yang suka sama dia?".
"Hey, tidak usah membohongi ku. Kamu pikir aku enggak tau cara kamu memalingkan wajah darinya. Ayo katakan padaku kalau kamu menyukai dia, iya kan?".
"Tidak Risa, aku mengatakan yang sebenarnya. Iya kali aku menyukai pria yang berbeda kasta dari ku, itu sama saja aku bunuh diri. Dari Reza saja aku kalah, apalagi dia. Kamu ada-ada saja Sa".
"Jangan suka merendahkan diri Ra, siapa tau dia jodoh yang dikirim Tuhan untuk mu".
"Hahahaha, kalau kamu bercanda suka berlebihan ya Sa. Udah ah aku pulang dulu, ini sudah jam 6 sore. Kamu enggak pulang Sa? bagaimana kalau malam ini kita bersenang-senang, inikah malam minggu".
"Kita ke club?".
"Mmmmm".
"Ok, ayo" senang Marisa merangkul lengan Flora.
.
Dirumah Flora, Marisa sedang sibuk memilih pakaian yang cocok akan ia gunakan tampa menyadari ponselnya yang sedari tadi bergetar. "Risa, ponsel kamu berdering loh dari tadi" ucap Flora memberitahunya.
__ADS_1
"Siapa Ra?".
"Aku enggak tau siapa, angkat saja".
"Ck, dia mengganggu ku saja" gerutu Marisa menyambar ponselnya. "Nomor baru? hallo, ini siapa?".
"Aku Risa. Aku merindukan mu".
"Reza?".
"Reza?" sambung Flora.
"Sepertinya Ra. Hallo, ada apa Za?".
Reza tersenyum, "Aku ganti nomor Sa. Ponsel ku yang lama sudah hilang. Kamu dimana? apa kamu sedang dirumah? aku ingin bertemu dengan mu, bisakah aku datang kerumah mu?".
"Kamu mabuk Za?".
"Tidak hahaha aku tidak sedang mabuk Marisa ku sayang" jawab Reza tertawa. "Sekarang masih jam 8 malam, sepertinya aku masih punya waktu bertemu dengan mu. Kamu tunggu aku disana Risa, aku akan kesana".
"Aku tidak dirumah, aku sedang berada dirumah Flora".
"Apa?".
"Mmmmm, aku sedang dirumah Flora. Kamu mau datang kemari?".
"Sedang apa kamu disana?".
"Kamu sudah lupa siapa aku dan Flora? datang saja kalau kamu ingin kemari, aku akan menunggu mu" Reza terdiam membuat Marisa tersenyum melirik pintu kamar Mandi Flora yang sedang berada disana begitu Flora tau siapa yang sedang menelponnya. "Kenapa kamu diam Reza? aku tau kamu sedang mencoba menghindari Flora".
"Tidak, kalau gitu aku tutup dulu".
"Tunggu, kamu yakin tidak akan datang kemari? cobalah berbaikan dengan Flora, setidaknya sebagai sahabat atau..." gantung Marisa begitu Reza mematikan ponselnya. "Hey, dia malah mematikan ponselnya ck".
Tidak lama kemudian Flora keluar, ia melihat Marisa telah selesai menelpon. "Mandilah, aku sudah selesai".
"Mmmmm" angguk Marisa menyambar handuknya. Namun sebelum ia masuk kedalam kamar mandi, ia melihat Flora memakai pakaian dalamnya. "Ra".
"Kenapa?".
"Lupakan saja".
"Kenapa? apa itu tentang Reza?".
"Mmmmm, sepertinya dia belum bisa melupakan kamu Ra sampai dia tidak mau datang kemari".
__ADS_1
"Biarkan saja. Itu yang terbaik untuk dia dan aku. Buruan mandi".
"Baiklah" masuknya kedalam kamar mandi.