
Lucas pun segera keluar dari dalam mobilnya mendekati Marisa, "Hahahaha.. Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya butuh bantuan tuan membawa saya keluar dari sini" melihat Lucas mengernyitkan dahi membuat Marisa tertawa kembali. "Itu tuan, tadi saya kesasar sampai kemari, tapi saya tidak tahu jalan keluarnya".
"Ya sudah kamu ikut saya".
"Hhhmmm?".
"Bukankah kamu ingin keluar dari dalam sini?".
"Iya tuan, tapi saya tidak usah ikut dengan tuan. Cukup tuan memberitahu jalan keluar dari sini" Marisa melihat sekitarnya. "Dari tadi saya mencari jalan keluar, tapi tidak ketemu".
Dengan senyum tipis, Lucas pun menarik sudah bibirnya terangkat keatas melihat Marisa yang begitu sedikit menggemaskan bagi dirinya. "Saya sudah bilang kamu ikut saya saja, nanti kamu akan tahu. Buruan naik".
"Tapi tuan..
"Mau ikut atau tidak".
"Terus, bagaimana kalau sampai sepatu saya mengotori mobil tuan, mobil itu bukanlah sembarangan mobil yang pernah saya lihat".
"Kamu terlalu banyak bicara. Masuk" Lucas membukakan pintu mobil untuknya.
"Astaga! kenapa harus seperti ini sih? aku kan semakin tidak enak. Mana dibukain pintu segala lagi" gumam Marisa tersenyum manis segera masuk. "Oh iya tuan..
BBBRRRAAKK..
"OMG, Ais.. Ini orang menyebalkan juga" dengan kesal Marisa menggerutu dalam hatinya begitu Lucas menutup pintu mobil secara tiba-tiba saat ia hendak berbicara.
Kemudian melirik Lucas dan seisi mobilnya tampa ia sadari kalau mereka telah keluar dari dalam parkiran. "Ooo, kita dimana tuan? kenapa kita sudah berada di jalan raya saja?".
Lucas pun ikutan tersadar, "Kenapa kamu tidak memberitahu saya kalau..
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..
"Sebentar tuan, ponsel saya berdering. Iya, saya dengan Marisa" ucapnya melihat Lucas.
"Ini saya ibu gurunya Argana Bu. Anak ibu sudah saatnya di jemput ke sekolah".
"Oh iya bu, ini saya sudah mau kesana. Maaf ya Bu sudah merepotkan".
"Tidak apa-apa bu".
Setelah itu Marisa tersenyum, "Tuan, karna saya sangat membutuhkan sekali bantuan tuan, bisakah..
"Beritahu saya dimana alamatnya".
"Benarkah tuan?" kedua mata Marisa langsung berbinar-binar bahagia.
"Mmmmm".
"Baiklah tuan, alamat sekolah anak saya ada di jalan xxx".
__ADS_1
Dengan kecepatan sedikit tinggi, Lucas pun segera menancap pedal gas mobilnya tiba di tempat sekolah Argana.
"Anak saya sekolah disini tuan, terima kasih banyak sudah mau repot-repot mengantar saya sampai kemari" Marisa lalu keluar dari dalam mobilnya. Namun Lucas bukannya pergi, ia malah ikutan keluar dari dalam mobilnya mengikuti Marisa dari belakang.
"Loh, tuan kenapa belum pergi?" tanya Marisa melihatnya.
"Saya ingin melihat anak mu".
"Hahh.. hahahaha.. Tuan ada-ada saja" tawa Marisa geleng kepala tidak menyangka kalau yang sedang terjadi dengannya dan tuan barunya itu. "Anak saya disana tuan, yang sedang bermain di ayunan itu. Tuan melihatnya?".
"Mmmmmm".
"Sekarang tuan sudah melihatnya, tuan boleh pergi".
"Saya akan pergi begitu saya berkenalan dengannya".
"Apa?".
"Kenapa kamu masih berdiri disini? dia sudah menunggu mu. Jangan perdulikan saya".
"Ah iya tuan" angguk Marisa berjalan duluan mendekati Argana. Lalu memanggil nama putranya itu, seperti biasa Argana langsung tersenyum lebar begitu melihat ibunya, namun saat ia melihat Marisa datang bersamaan dengan Lucas. Argana menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa keduanya artikan. "Ada apa sayang?".
"Paman ini siapa ma?".
"Dia bos barunya mama sayang. Ayo kenalan dulu".
"Hallo paman. Nama ku Argana" Lucas yang mendengar suara itu kembali merasa pusing dan juga dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. "Ma, paman itu kenapa ma?".
"Tidak" jawab Lucas memijit keningnya. "Kalau gitu saya pergi dulu".
"Tunggu paman" tahan Argana menyuruh Lucas duduk diatas ayunan yang tadi ia pakai sambil mengeluarkan botol air minum miliknya dari dalam tas. "Sekarang paman minum dulu. Tapi maaf kalau Argana memberikan bekas minuman Argana".
"Ekh, jangan sayang..
"Tidak apa-apa. Terima kasih" senyum Lucas menerima botol minum tersebut dari dalam genggaman Argana.
"Aduh, saya minta maaf ya tuan kalau anak saya kurang sopan seperti ini".
"Saya sudah bilang tidak apa-apa" kemudian Lucas memberikan botol minum kembali ditangan Argana. "Siapa nama mu?".
"Argana paman".
"Argana?".
"Iya paman. Lalu bagaimana dengan paman? bisakah aku tau nama paman siapa".
Lucas pun semakin tersenyum lebar melihat Argana, "Lucas.. Kamu panggil Paman dengan sebutan nama itu".
"Paman Lucas!".
"Iya".
__ADS_1
"Lalu, apa paman sudah menikah? seperti yang aku lihat Paman.." gantung Argana begitu Marisa memarahi sang anak yang sudah lancang berani bertanya hal tersebut kepada seorang Lucas. "Maafkan saya paman".
"Mmmm, kalau gitu paman pergi dulu yah. Lain kali paman akan menggantinya. Sampai bertemu Argana".
"Iya paman, hati-hati dijalan" Argana melambaikan tangannya yang mungil. Kemudian melihat Marisa, "Argana minta maaf ya ma, Argana tidak bermaksud untuk ikut campur urusan paman itu".
"Lain kali jangan diulangi ya sayang".
"Iya ma Argana janji".
"Anak pintar. Sekarang kita pulang yo".
"Ayo ma".
.
Sesampainya Lucas dirumah sakit, ia segera menuju ruangan dokter yang sudah merawatnya selama ini.
Tok.. Tok...
"Masuk!".
Lucas langsung mendorong pintu tersebut, disana ia melihat Jose juga berada diatas sofa bersama dengan si dokter. "Duduk Lucas" ucap Jose.
Setelah Lucas duduk dihadapan Jose, ia melihat dokternya itu dan menceritakan kejadian yang tadi malam ia alami begitu ia bertemu dengan Marisa.
"Kamu bertemu dengan siapa Lucas?" tanya Jose penasaran.
"Semalam aku bertemu dengan seorang wanita di club Jose. Tapi wanita ini berbeda dengan wanita yang selama ini aku temui. Entah kenapa wanita itu mampu membangkitkan sesuatu yang sudah lama terkubur dalam hati ku. Aku merasa kalau kami berdua sudah lama saling mengenal satu sama lain, bahkan...
"Bahkan apa Lucas?".
"Aku juga bingung harus mengatakan apa. Dokter, ada apa yang sebenarnya?".
Si dokter kemudian menatap Jose yang ikutan kebingungan mendengar perkataan Lucas yang tiba-tiba setelah 5 tahun lamanya Lucas tidak merasakan hal itu lagi.
"Siapa wanita itu Lucas?".
"Marisa".
"Apa?" dengan suara meninggi Jose menatapnya. "Ma-marisa?".
"Mmmm, Marisa. Ada apa? kenapa kamu melihat ku seperti itu? kamu mengenal siapa wanita itu?".
"Tidak mungkin, Marisa yang selama ini bersama dengan Lucas telah meninggal dunia setelah kecelakaan itu, Bahkan kami semuanya melihat jenazah Marisa yang sebenarnya. Lalu siapa wanita bernama Marisa yang baru saja Lucas sebutkan itu?" gumam Jose berpikir keras.
"Jose, ada apa?" Lucas pun ikutan mengernyitkan dahi melihat Jose yang tiba-tiba berpikir.
Lalu Jose melihat dokter Lucas, "Kenapa bisa seperti ini dok? bukankah Lucas sudah melupakan masa lalunya?".
"Maksud kamu Jose?".
__ADS_1