
Sepulangnya dari hotel Abez, "Selamat malam kek" ucap Lucas berjalan duluan.
"Tunggu" tahan Mateo saat Lucas hendak menaiki anak tangga.
"Ada apa kek?".
"Kamu tidak menyukai Kirana? dia gadis cantik, sopan dan pintar. Kamu mau dia beralih kepada Dilan? dan kamu dengar sendiri tadi kalau Dilan dan Kirana saling mengenal satu sama lain".
Lucas menghela nafas, "Kakek" lihatnya.
"Kenapa?".
"Lucas tidak menyukainya, dan Lucas harus bilang berapa kali kalau Lucas tidak akan pernah menika..
PPLLAAKKK..
Lucas menyentuh pipinya, kemudian melihat Mateo yang sangat marah kepadanya dengan tangan mengepal. "Maafkan Lucas kek, Lucas berkata seperti ini karna Lucas sudah merasakan sakitnya ditinggal seorang ayah. Lucas tidak mau itu terjadi kepada istri dan anak Lucas nanti. Maaf".
PPLLAAKKK..
"Pah..!" kaget Isabella melihat Lucas mendapatkan tamparan, kemudian berdiri dihadapan Lucas. "Pa, kenapa papa menampar Lucas?" tanyanya dengan wajah cemas.
"Hhhmmsss, Lucas sudah menguji kesabaran ku selama ini".
"Ada apa Lucas? kenapa kakek sangat marah sekali kepada mu? apa yang kamu lakukan Lucas?" bentak Isabella.
"Lucas lelah ma, Lucas butuh istirahat" ia pun langsung berjalan menaiki anak tangga.
"Lucas Lucas..." panggil Isabella. Tetapi Lucas tidak menghiraukan panggilan sang mama dan lebih memilih memasuki kamarnya. "Ah pa, tolong maafkan kelancangan Lucas".
"Kamu tau kenapa papa menampar dia? karna Lucas sudah berani melawan perintah papa. Bagaimana bisa dia berkata kalau dia tidak akan pernah menikah?".
Isabella menghela nafas, ia langsung tau apa yang sedang Lucas rasakan saat ini. "Pa, nanti aku akan bicara baik-baik dengan Lucas. Tolong maafkan dia".
"Mmmmm" gumam Mateo meninggalkannya. Lalu Isabella menaiki anak tangga menghampiri Lucas kedalam kamarnya.
TOK... TOK...
"Lucas mama masuk yah".
Ceklek!
"Ma, Lucas lelah" lihatnya kearah Isabella berjalan mendekati dirinya.
"Lucas, mama tau apa yang kamu rasakan saat ini dan mama juga tau trauma yang kamu rasakan setelah papa pergi meninggalkan kita. Tapi mama lebih enggak rela lagi kalau kamu tidak memiliki masa depan sayang. Mama juga ingin memiliki seorang menantu dan cucu dari kamu. Jadi tolong ikuti apapun yang kakek kamu bilang".
"Maaf ma, kalau pun nantinya Lucas menikah. Lucas akan menikah dengan wanita yang Lucas cintai, bukan dari hasil perjodohan apalagi karna bisnis. Lucas tidak akan bisa ma, jadi tolong ma, urusan pribadi Lucas biar Lucas sendiri yang mengatur".
"Terus mau sampai kapan Lucas? tadi mama sudah memberitahu mu kalau kakek bukanlah orang yang mudah kamu hadapi. Kapan saja kakek kamu bisa berubah, dan kamu bisa kehilangan segalanya Lucas".
"Itu tidak akan pernah terjadi ma, percaya sama Lucas".
"Lucas!" bentak Isabella.
"Lucas lelah ma, biarkan Lucas istirahat".
__ADS_1
"Ya ampun Lucas. Harus seperti apa lagi mama memberitahu mu? kamu mau jatuh miskin? kamu mau kehilangan segalanya? please Lucas, tolong dengarkan mama sayang. Kamu harus berhasil mendapatkan hati putrinya tuan Malik, mama mohon yah".
"Baiklah kalau itu mau mama dan kakek, Lucas akan menurutinya. Sekarang mama boleh keluar".
"Mmmm, terima kasih sayang. Terima kasih sudah mengerti mama".
"Mmmmm" angguk Lucas.
.
Pagi harinya Lucas langsung berangkat ke kantor, di dalam ruangannya Marisa telah menunggu. "Selamat pagi tuan, saya sudah menyiapkan sarapan tuan".
"Mmmm" angguk Lucas mengantung jasnya. "Jam berapa meeting hari ini?".
"Jam 9 tuan, ini masih jam 7:34 menit. Sebaiknya tuan sarapan dulu" Lucas berjalan kearah sofa, ia melihat dua potong sandwich dan satu gelas kopi hangat diatas meja. "Selamat menikmati tuan".
"Kamu mau kemana?" tanya Lucas melihatnya.
"Keluar tuan".
"Duduk".
"Ya?".
"Saya bilang duduk".
"Baik tuan".
Begitu Marisa duduk, "Kamu makan ini" ucap Lucas memberikan satu sandwich tersebut kepada Marisa. "Ayo dimakan".
"Kalau saya bilang makan, kamu makan. Jangan banyak tanya".
"Baik tuan" angguk Marisa menyambar milik Lucas. "Meskipun kamu judes kamu terkadang baik juga, iya terkadang" batin Marisa menyantap sandwich ya cukup lahap, sedangkan Lucas membuka ponselnya tampa melirik kepada Marisa yang sedang memandangi dirinya. "Tuan" panggilnya.
"Mmmm?".
"Sepertinya tuan kurang tidur" Lucas langsung menghentikan ponselnya. Kemudian melihat Marisa, "Ah, maaf tuan".
"Mmmm, aku tidak bisa tidur".
"Kenapa tuan? apa tuan ada masalah? kalau tuan ada masalah harusnya tuan memberi tahu saya".
Lucas tersenyum tipis, "Kamu mau membantu ku?".
"Ya" angguk Marisa.
"Kamu punya pacar?".
"Hhhmmm? maksud tuan?".
"Kamu punya pacar atau tidak? aku butuh bantuan mu".
"Hahh.. Tidak tuan, aku tidak punya pacar? kenapa?".
"Bagus, kamu mau jadi pacar ku".
__ADS_1
"Apa?" kaget Marisa sedikit meninggikan suara.
"Ck, kamu sangat berisik".
"Maaf tuan. Saya hanya kaget saja".
"Aku butuh bantuan mu. Aku mau kamu jadi pacar pura-pura ku, nanti aku akan bayaran. Bagaimana? apa kamu bersedia?".
"Ais, kenapa harus jadi pacar bohongan sih?" gumam Marisa melihatnya. "Emang kenapa tuan? kenapa aku harus jadi pacar bohongan tuan Lucas".
"Mmmmm, kakek ku sedang berusaha menikahkan ku kepada wanita pilihannya. Jadi aku butuh bantuan mu".
"Tapi kenapa tuan menolaknya? tuan tau sendiri kalau orang tua itu mau yang terbaik untuk anaknya. Berarti wanita itu adalah wanita yang baik".
"Aku tidak tau, karna aku tidak berniat untuk menikah".
"Ke-kenapa tuan?" kaget Marisa mengecilkan suaranya. "Maaf karna saya bertanya terlalu jauh".
"Sekarang kamu mau atau tidak? kalau kamu mau aku akan segera mengenalkan kamu kepada kakek. Dan soal bayaran kamu, aku akan membayar mu dua kali lipat dari gaji mu. Bagaimana?".
Marisa tersenyum sedih, "Sial benget sih? tapi ini kesempatan aku juga mendapatkan hati tuan Lucas " batinnya. "Baik tuan, aku bersedia".
"Bagus. Sekarang siapkan ruang meeting".
"Baik tuan" Marisa langsung keluar dari dalam ruangan Lucas. Kemudian berjalan memasuki ruangan meeting, karna ini sudah hampir menunjukkan pukul 9, para direktur dan para staf sebagian sudah berada disana.
"Kamu sekretaris baru tuan Lucas?".
"Iya pak".
"Apa tuan Lucas sudah datang?".
"Sudah pak, sebentar lagi beliau akan masuk".
"Mmmmm" Kemudian Marisa mendengar mereka berbisik, "Aku yakin tuan Lucas pasti sangat marah".
"Aku juga merasakan itu".
Kemudian Dilan memasuki ruangan tersebut, lalu mereka semua menunduk kepadanya dengan sopan. "Pagi tuan Dilan".
"Pagi" balasnya.
"Siapa dia? sepertinya dia sangat ditakuti di perusahaan ini" gumam Marisa melihat mereka. Tidak lama kemudian, Lucas muncul diambang pintu sana membuat mereka kembali bangkit berdiri memberi hormat.
"Selamat pagi tuan".
"Pagi" Lucas mendudukan diri diatas kursi kebesarannya. Ia melihat mereka semua satu persatu dengan tatapan datar sembari melipat tangannya diatas meja. "Apa meeting mendadak kemarin kalian menganggap ku sedang bercanda?" Mereka terdiam, tidak satu orang pun yang berani menjawabnya. "Kenapa kalian semua diam? apa kalian tidak butuh pekerjaan ini lagi? kalau kalian tidak butuh saya akan mengeluarkan kalian dari perusahaan ini".
Deng..!
Mereka terkejut dengan mata membulat, mereka tidak tau kalau Lucas akan berkata sedemikian. "Tuan, tolong maafkan kami. Kami hany..
BBRRAAKK..
Lucas memukul meja dengan tangan mengepal, "Hanya apa?".
__ADS_1