
Namun saat itu juga Reza dan Raniya mendengar suara gedoran pintu yang begitu menakutkan di kedua telinga Reza sembari melirik kearah Raniya, "Buka saja, itu pasti mereka" ucapnya dengan santai membuat Reza hanya bisa menghela nafas berjalan kearah pintu.
Ceklek!
"Lucas" lihatnya. Tetapi marahnya Lucas yang sudah di ujung tanduk tidak memperdulikan Reza lagi yang berada di hadapannya, ia pun langsung berlari kearah Raniya yang sedang menatapnya membuat Lucas mencekiknya.
"Kamu harus mati ditangan ku, kamu harus mati ditangan ku wanita sialan" Sambil berteriak Lucas menekan kedua tangannya di leher jenjang Raniya sampai ia benar-benar kehabisan nafas kalau saja Jose dan Reza menahannya.
"Hentikan Lucas, kamu bisa membunuhnya" ucap Jose.
"Apa? kamu bilang hentikan setelah apa yang dia lakukan dengan Marisa? apa kamu sedang berpihak kepadanya?".
"Tidak, Reza baru saja memberitahu ku kalau dia baik-baik saja. Tolong, mari kita bicarakan ini dengan baik-baik".
Lucas pun menyeringai dengan tajam kepada ketiga orang tersebut, "Aku tidak perduli, sebelumnya aku sudah memperingati wanita sialan ini kalau dia berani menyentuh wanita ku aku akan membunuhnya, dan kini saatnya aku harus membunuhnya kalau tidak dia akan terus menerus menganggu Marisa ku, sekarang matilah wanita sialan".
"Hentikan Lucas, kamu tidak bisa membunuhnya" kini giliran Reza yang membentak Lucas sampai kedua tangan itu berhasil terlepas dari leher Raniya. "Aku mohon hentikan, kalau bukan karna dia yang menyelamatkan Marisa, aku tidak tau kalau Marisa masih bisa di selama..." sebelum Reza menyudahi perkatannya, Lucas pun langsung berlari menghampiri Marisa yang terbaring lemas diatas tempat tidur.
Kemudian Jose menyusulnya dari belakang, "Apa dia baik-baik saja Lucas?".
"Aku tidak tau dia baik-baik saja atau tidak, aku harus membawanya kerumah sakit".
"Mmmm.. Ayo" angguk Jose.
Setelah Lucas membawa tubuh sang istri pergi dari sana, Reza melirik Raniya yang malah tersenyum kepadanya, "Kamu baik-baik saja? disaat seperti ini bisa-bisanya kamu malah tersenyum" Reza mendekatinya dengan perasaan kesal. "Istirahatlah, aku harus pergi".
"Kemana? bisakah kamu menemani ku disini sampai aku merasa tenang? tubuhku lelah sekali..
BBBRRRAAKK
__ADS_1
"Yah..!!" kaget Reza segera menahan tubuhnya. Namun melihat Raniya yang jatuh pingsan, Reza harus membawa tubuhnya diatas sofa yang berada disana. Kemudian ia memandangi wajahnya, "Bodoh, kamu mencintai Lucas, apa segitu besarnya kah rasa cinta mu kepadanya sampai kamu tega ingin melukai orang yang Lucas cintai?" Reza menghela nafas. "Tapi aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, ketika kita melihat orang yang kita cintai bersama dengan orang lain rasanya sakit sekali".
Setelah itu Lucas mengeluarkan ponselnya, dengan tatapan sendu ia memandangi foto Flora bersama dengan dirinya 7 tahun yang lalu saat ia dan Flora masih menjalin asmara.
"Aku merindukan kamu Ra, aku sangat merindukan mu" dengan perasaan yang begitu sesak Reza rasakan ia pun menjatuhkan air mata tampa ia sadari Raniya kini sedang memandangi dirinya. "Maafkan aku Ra, tapi kini saatnya aku harus mengikhlas kamu pergi" lalu Reza menyeka air matanya, ia melirik kearah Raniya dengan wajah terkejut membuat Raniya tersenyum tipis.
"Jadi selama ini kamu mencintai wanita itu?".
"Bukan urusan kamu" Reza menyimpan ponsel itu kembali di dalam saku. "Aku pergi dulu..
"Tunggu" Raniya menahan tangannya, lalu menurunkan kedua kakinya diatas lantai. "Jangan pergi dulu, aku ingin cerita kepada mu tentang masa lalu ku. Ayo duduk dulu Reza".
"Kenapa?".
"Makanya kamu duduk dulu" Raniya pun langsung menarik tangannya. "Sudah berapa lama kamu mencintai wanita itu? kamu tau sendiri kalau wanita itu tengah mengandung anak Jose, kamu tidak marah? atau..
"Terus, kenapa kamu tidak merebutnya dari Jose kalau sampai sekarang kamu masih mencintainya? kamu tidak berniat untuk memilikinya" namun Reza bukannya menjawab, ia malah tersenyum melihatnya. "Kenapa?".
"Raniya, ada saatnya kamu harus mengikhlaskan orang yang kamu cintai bersama dengan orang yang ia cintai, begitu juga kamu dengan Lucas, sudah saatnya kamu merelakan dia bersama dengan Marisa, karna yang jauh lebih baik dari Lucas akan kamu temukan".
Raniya pun ikutan tersenyum, "Benarkah aku akan menemukannya?".
"Mmmmm".
"Terus bagaimana dengan pernikahan ku dengan Jose? kenapa kamu diam Reza? kamu berkata kepada ku kalau aku harus merelakan Lucas, lalu bagaimana dengan Jose yang sekarang status kami berdua suami istri sedangkan kamu merelakan Jose bersama dengan wanita itu. Apa ini semua masuk diakal?".
"Aku juga tidak tau harus melakukan apa mengingat kamu dan Jose telah menikah meskipun tidak didasari perasaan".
__ADS_1
"Benar, kami berdua menikah atas perjodohan kedua belah pihak keluarga kami, namun aku tidak bisa mencintai Jose, sebelum aku bertemu dengan Lucas yang sudah sangat lama hilang komunikasi darinya mencoba untuk menerima Jose tapi tetap saja aku tidak bisa hingga pada akhirnya aku bertemu dengan Lucas dirumah sakit. Perasaan itu kembali lagi menghantui ku. Lalu apa yang harus aku lakukan?".
.
Sesampainya Lucas dirumah sakit milik keluarga Jose, dokter yang berada disana segera memberi pertolongan kepada Marisa yang masih menutup kedua matanya.
"Tidak usah khawatir seperti itu Lucas, mereka akan memberikan yang terbaik untuk Marisa" kemudian Jose membawa Lucas duduk diatas kursi tunggu. "Aku ingin memberitahu mu kalau keadaan nyonya Elisabet sedang tidak baik-baik saja Lucas. Apa yang harus kamu lakukan?".
Dengan nafas berat Lucas mengusap wajahnya dengan kasar, "Harapan untuk bertahan ada beberapa persen lagi Jos? tidak bisakah dia bertahan sampai anak ku lahir kedua ini? aku ingin dia melihat keluarga kecil ku Jos".
"Kira-kira beberapa bulan lagi istri mu lahiran?".
"2 bulan lagi".
"Kalau gitu aku akan usahakan yang terbaik Lucas, lalu bagaimana dengan kakek mu? apa tidak sebaiknya kamu memberitahunya untuk yang terakhir kalinya kalau istrinya selama ini masih hidup?".
"Tidak, aku sudah berjanji kepadanya kalau aku tidak akan pernah memberitahu kakek kalau selama ini dia masih hidup meskipun yang sebenarnya aku ingin sekali memberitahunya".
"Kalau boleh aku saran sebaiknya kamu memberitahunya Lucas, biarkan kakek Mateo melihat istrinya untuk yang terakhir kalinya".
Lucas menatapnya dengan kening mengerut, "Haruskah aku melakukannya Jose? ketepatan ulang tahun kakek sudah mendekat".
"Mmmmm" lalu dokter yang menangani Marisa keluar dari dalam ruang operasi, Jose pun bertanya apa semuanya baik-baik saja.
"Pasien baik-baik saja, siapapun yang telah mengoperasinya dia telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasien. Kalau gitu saya permisi dulu tuan".
"Mmmm, terima kasih sudah melakukan yang terbaik" angguk Jose melihat Lucas menghela nafas legah, kemudian mereka melihat sang suster membawa tubuh Marisa kedalam ruang rawat. "Ikutlah dengan mereka Lucas, aku kesana sebentar".
"Terima kasih Jose".
__ADS_1
"Mmmmm".