
Di dalam mobil Lucas hanya terdiam saja tampa ada percakapan diantara mereka berdua. Kemudian Marisa melihat keluar, meskipun ia tidak tau penyebab sang suami tiba-tiba terlihat dingin, ia tidak akan berbicara sebelum Lucas memulainya hingga pada akhirnya Lucas menepikan mobilnya disebuah tempat yang tidak ia ketahui. "Ada apa? kenapa kita berhenti disini?".
"Kamu tunggu disini, aku keluar sebentar" jawabnya langsung keluar dari dalam mobil, Lalu Marisa mengernyitkan dahi melihatnya malah berdiri di depan mobil mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kantongnya dengan tubuh lelah penuh beban.
"Ada apa dengannya? harusnya kalau di punya masalah cerita kepada ku. Kenapa dia hanya memendamnya sendiri? kan aku jadi merasa bersalah Hhmmsss.." setelah hampir 20 menit lamanya ia berdiri disana, Lucas pun akhirnya masuk kembali kedalam mobil. "Kamu baik-baik saja?".
"Mmmmm" balas Lucas.
Hingga kini mereka telah sampai dirumah, Marisa mengikuti langkah kaki Lucas dari belakang tampa mengajukan pertanyaan yang akan membuat mood Lucas hancur. "Ekh Risa, kalian sudah pulang?" tanya Flora yang belum tidur begitu ia keluar dari dalam kamar.
"Flora, kenapa kamu belum tidur?" tanya balik Marisa menghentikan langkah kakinya.
"Aku tidak bisa tidur Sa. Ada apa dengan tuan Lucas Sa? kenapa aku melihat wajah tuan Lucas tampak murung seperti sedang marah gitu?".
"Aku juga tidak tau Ra kenapa tiba-tiba wajahnya tampak murung seperti itu. Padahal tadi itu dia baik-baik saja".
"Mmmmm, terus kenapa kalian pulang? bukankah tadi kamu memberitahu ku kalau kalian akan menginap disana?".
"Ya karna itu juga kami pulang Ra".
"Oh".
"Iya.. Kalau gitu aku naik dulu ya Ra, kamu juga istirahatlah, ini sudah hampir jam 1 malam, ibu hamil tidak baik begadang. Besok pagi aku akan cerita".
"Iya Sa, selamat malam".
"Kamu juga Ra" begitu Marisa masuk kedalam kamar, ia langsung tau kalau Lucas sedang berada diatas balkon dan yang pastinya ia bisa menebak kalau Lucas sedang merokok ditemani sebotol alkohol. "Hhhmmss.. Biarkan saja, dari pada aku harus ikut campur sebaiknya aku tidur ajah. Ah, tubuhku lelah sekali" Marisa menaiki tempat tidur, tidak lama kemudian ia pun akhirnya terlelap.
Sedangkan Lucas yang berada diluar, ia tampak sangat menikmati udara malam tersebut dengan sebatang rokok dan segelas alkohol ditangan kanannya.
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT....
Lucas melirik ponselnya, "Raniya!" lalu ia mengeser tombol hijau dilayar ponselnya mengangkat panggilan Raniya "Ada apa kamu menelpon ku di tengah malam seperti ini?".
"Kamu sedang minum Lucas?".
__ADS_1
"Kenapa?".
"Aku ingin memberitahu mu kalau besok aku akan menikah dengan Jose. Apa kamu akan datang Lucas?".
"Kenapa tiba-tiba sekali?" kaget Lucas menghentikan minumannya. "Apa kamu sudah membicarakan ini dengan Jose?".
"Mmmmm, kita berdua sudah sepakat kalau besok kita akan menikah. Karna itu aku menghubungi mu, datanglah ke acara pernikahan ku" jawab Raniya, lalu mematikan ponselnya. Lucas pun langsung menghela nafas nafas berat, ia mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghubungi nomor Jose untuk memastikan apa yang baru saja Raniya ucapkan.
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Mmmmm, ada apa Lucas? hari ini aku lelah sekali".
"Jose, apa benar besok kamu akan menikah?".
"Apa Raniya sudah memberitahu mu?".
"Mmmmm".
"Ya, besok aku akan menikah dengannya. Apa yang harus aku lakukan Lucas? apa ini keputusan yang tepat? apa aku juga harus memberitahu Flora? tapi aku takut akan membuatnya stres ah".
"Untuk saat ini tidak usah, kamu pikirkan saja dulu pernikahan mu".
"Aku tau itu".
"Terima kasih Lucas".
"Mmmmm" begitu Jose mematikan ponselnya, Lucas pun pergi meninggalkan balkon melihat Marisa telah terlelap dalam tidurnya. Dengan senyum tipis Lucas mendekati sang istri, ia menyentuh wajah mulusnya memperbaiki anak rambut yang mengenai wajahnya Marisa lalu ia mencium keningnya. Kemudian Lucas membaringkan tubuhnya memeluk tubuh sang istri dari samping sambil membisikkan, "Selamat tidur sayang uummcchh".
.
Pagi harinya Flora terbangun, ia mendengar suara rintikan hujan kecil dari atas langit membuat ia tersenyum mendekati jendela kaca, lalu ia membukanya. Suara burung berkicau diatas udara pun langsung terdengar begitu indah di kedua telinga Flora. "Wah, sudah lama sekali hujan tidak turun. Pagi ini benar-benar begitu sangat indah".
"Aku sangat merindukan dia. Apa yang sedang Jose lakukan saat ini? ah.. ck, aku benar-benar sangat merindukan dia. Bisakah aku menghubungi dia? tapi aku takut kalau saja nantinya bukan dia yang menjawab ponselnya. Lalu apa yang harus aku lakukan? aku ingin sekali mendengar suaranya".
__ADS_1
Tok.. Tok...
"Pagi Flora" panggil sang sahabat membuka pintu kamarnya. "Kamu sedang apa Ra?".
"Tidak sedang ngapain-ngapain Sa. Aku hanya menikmati rintikan hujan ini, rasanya damai sekali".
"Oh, ayo sarapan Ra. Pagi ini aku meminta Lucas membuatkan sarapan untuk kita berdua".
"Kenapa Sa? aku jadi enggak enak tau".
"Tidak apa-apa, lagian dia sendiri juga mau kok tanpa harus aku paksa. Ayo, masakan dia sangat enak sekali, aku yakin kamu pasti akan ketagihan".
"Heh.. Jangan sampai Sa. Kamu ada-ada saja deh" tawa Flora merangkul lengannya. "Oh iya Sa, disaat kamu hamil seperti ini, apa kamu juga merasakan hal yang sama dengan ku?".
"Apa itu Ra?".
"Aku sangat merindukan Jose Sa, benar-benar sangat merindukannya sampai rasanya sesak sekali. Terkadang hal itu yang membuat ku tertawa, aku merasa tidak tau diri sekali".
"Hey.. Jangan kamu katakan seperti itu Ra. Aku juga merasakan hal yang sama dengan mu, bahkan baru beberapa jam saja dia pergi meninggalkan ku aku sudah sangat merindukan dia. Ya seperti itulah bawaan bayi yang sebenarnya, tapi aku menyukainya".
"Iya kamu enak Sa sebagai istri sahnya tuan Lucas. Lalu aku? pacar enggak, apalagi istri. Haahh.. Membuat ku lelah saja".
"Jangan khawatir, aku percaya cepat atau lambat nanti kamu dan Jose akan di persatuan dalam ikatan janji suci. Cuman untuk saat ini Tuhan sedang menguji hubungan kita berdua dengan pria yang kita cintai, tapi aku yakin semuanya akan berlalu dengan indah asalkan kita percaya kalau semuanya akan baik-baik saja mmmm".
Tersenyum, "Kamu bisa ajah Sa. Tapi amin juga kalau semuanya berlalu. Oo, lihatlah Sa, tuan Lucas benar-benar membuatkan sarapan pagi untuk kita berdua?".
"Iya, aku sudah mengatakannya kepada mu. Lihatlah, dia sangat tampan sekali kan Ra disaat seperti ini. Aku benar-benar sangat menyukainya".
"Iya Sa, aku enggak nyangka kalau tuan Lucas bisa memasak. Kamu pasti bahagia sekali bisa memiliki pria sebaik tuan Lucas".
"Puji Tuhan Ra heheheh" senang Marisa menyuruh Flora duduk diatas kursinya lalu menghampiri Lucas. "Suami ku, ada yang bisa aku bantu?".
"Tidak, kamu duduk saja, ini sudah mau selesai".
"Kamu yakin?".
__ADS_1
"Mmmmm".
"Kalau gitu aku akan menunggu disana".