Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 24


__ADS_3

Didepan pintu mension Elisabet, wanita paruh baya itu menyambut kedatangan mereka berdua seperti biasa, "Selamat malam tuan, nyonya Elisabet ada di dalam kamarnya" ucapnya memberitahu Lucas.


"Mmmmm" angguk Lucas berjalan duluan kearah kamar Elisabet. Kemudian mengetuknya terlebih dahulu sebelum ia dan Marisa masuk kedalam kamar tersebut. Begitu ia mendapatkan jawaban, Lucas langsung mendorongnya.


Ceklek!


"Kamu sudah datang?" Elisabet melihat Lucas dan Marisa berjalan kearahnya, lalu ia tersenyum senang.


"Nyonya Sabet, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lucas menggenggam kedua tangannya. Ia melihat sang nenek terbaring dengan tubuh lemas diatas tempat tidur membuat ia merasa sedih.


"Aku baik-baik saja Lucas. Terima kasih sudah membawanya kemari, dia sangat sangat manis. Kemarilah" ucapnya kepada Marisa.


"Mmmmm" angguk Marisa mendekati ranjang Elisabet. Ia mendudukan diri disana, kemudian melirik Lucas yang berada di hadapannya, namun ia malah salah tingkah, bahkan kedua pipi Marisa yang merona membuat Lucas dan Elisabet tersenyum. "Ya Tuhan, ada apa sih dengan ku?" teriak Marisa dalam hati merasa sangat malu.


"Marisa" panggil Elisabet.


"I-iya nyonya?".


"Saya mau kamu segera menikah dengan Lucas..


"Apa?" kaget Marisa memotong perkataan Elisabet. "Ah, maafkan saya nyonya".


"Tidak apa-apa. Saya tau ini terlalu buru-buru, tapi saya mau sebelum saya mati, saya ingin melihat Lucas menikah. Bisakah kamu menuruti permintaan saya?".


Marisa terdiam, ia melirik Lucas kembali. Tetapi Lucas tidak mengeluarkan sepata kata pun, ia lebih memilih diam. "Sebenarnya aku sangat bahagia mendengar ini. Tapi, tapi aku dan tuan Lucas hanyalah sebatas kontrak. Lalu apa yang harus aku lakukan? dia adalah orang tua, tidak mungkin aku berbohong kepadanya" batin Marisa.


"Kenapa kamu diam?" tanya Elisabet melihatnya. "Apa kamu belum siap? percayalah kalau Lucas akan membuat mu hidup bahagia sebelum..." gantung Elisabet melihat Lucas yang hanya diam saja. "Jangan khawatir, kalau pun kamu tidak mendapatkan harta warisan dari Mateo, kamu masih punya harta warisan dari ku Lucas" ucap Elisabet kekhawatiran yang ia tau dari raut wajah Lucas.


Lucas menghela nafas berat, "Sebaiknya nenek kembali. Aku yakin kakek pasti sangat bahagia setelah dia tau kalau nenek masih hidup".


"Tidak Lucas, aku tidak akan bisa kembali lagi kepada kakek mu".


"Apakah kamu akan hidup seperti ini terus? bahkan aku tidak bisa ada disaat kamu jatuh sakit" kedua mata Lucas berkaca-kaca. "Aku mohon kembalilah, dan tolong maafkan kakek".

__ADS_1


"Tidak bisa Lucas. Aku harus berapa kali memberitahu mu?".


"Ah" Lucas menyeka air matanya. "Maaf, aku berkata seperti karna aku takut kehilangan kamu" jawab Lucas langsung keluar dari dalam kamar tersebut. Sedangkan Marisa yang masih berada di dalam kamar itu dibuat kebingungan dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Tidak apa-apa. Lucas akan selalu berkata seperti itu setiap kali dia mendengar saya jatuh sakit. Kamu pasti penasaran".


"Tidak" geleng Marisa tersenyum.


"Sebenarnya, pada tahun 1970 saya dan Mateo pernah bertengkar sangat hebat karna pabrik yang aku pimpin saat itu tiba-tiba terjadi kebakaran hingga pabrik itu hangus karna ketepatan kebakaran itu terjadi tepat pada malam hari. Padahal pabrik itu saya sendiri yang sudah bersusah payah membangunnya.


Dan pada akhirnya saya memutuskan meninggalkan Mateo dan kedua anakku, yaitu Harry ayahnya Lucas dan Vina ibunya Dilan. Namun saat saya pergi meninggalkan rumah, yang menangis saya saat itu hanya Harry".


Ikut merasakan sedih, Marisa menggenggam kedua tangan Elisabet, "Hingga sampai sekarang Mateo dan Vina tidak tau kalau aku masih hidup" Elisabet menatap Marisa. "Saya juga berharap suatu saat nanti, kamu tidak akan pernah meninggalkan Lucas. Hidupnya sudah terlalu berat, apa yang Harry rasakan putranya juga merasakannya".


"Mmmmm, saya berjanji tidak akan pernah meninggalkan Lucas".


"Terima kasih" peluk Elisabet ditubuh Marisa dengan sayang.


.


Seperti yang Elisabet bilang kemarin, hubungan Marisa dan Lucas tampak sedikit membaik meskipun Lucas masih kadang terlihat datar kepadanya.


"Marisa" panggil Flora.


"Iya Ra. ada yang bisa aku bantu?".


"Tuan Lucas ada didalam ruangannya. Aku ingin memberikan ini".


"Tunggu sebentar ya Ra" Marisa menghubungi Lucas. Namun tidak ada jawaban darinya membuat Marisa mengetuk pintu ruangan Lucas. "Tuan..


Ceklek!


Lucas membuka pintu ruangannya, "Kamu ikut aku" tarik Lucas membawanya pergi dari hadapan Flora.

__ADS_1


"Tuan ada apa?" tanya Marisa.


"Elisabet di rumah sakit".


"Apa?" kaget Marisa.


"Mmmmm" gumam Lucas masuk kedalam lift. Sedangkan Flora yang masih berdiri disana dibuat kebingungan dengan apa yang tadi ia lihat. Begitu pintu lift terbuka, Lucas berlari kearah mobilnya, "Ayo buruan".


"Iya tuan" jawab Marisa. Setelah itu Lucas menjalankan mobilnya meninggalkan perusahaan menuju rumah sakit tempat Elisabet dirawat. Kemudian Marisa melirik Lucas, ia melihat wajahnya penuh dengan kekhawatiran. "Tidak apa-apa, aku yakin nyonya Elisabet pasti baik-baik saja tuan".


Sesampainya mereka di rumah sakit, Lucas dan Marisa langsung berlari memasuki ruang inap Elisabet. "Nyonya Elisabet" panggil Lucas. "Nyonya Elisabet" panggil Lucas kembali. Namun tidak ada jawaban dari yang empunya nama, kemudian Lucas melihat dokter yang berdiri disana. "Dok, ada apa dengannya? kenap.. Ah" Lucas tiba-tiba merasa pusing.


"Tuan" kaget Marisa menahan tubuhnya, "Tuan baik-baik saja?".


Lucas memijit keningnya, "Aku baik-baik saja" jawabnya kembali berdiri tegap. Kemudian melihat si dokter itu kembali, "Cepat beritahu saya, apa yang terjadi kepadanya?".


"Berat saya harus memberitahu anda, ini sudah menjadi rahasia kami dengan beliau".


"Apa?" kaget Lucas mengepal tangan.


"Saya harap anda tenang dulu. Mari kita bicara diruangan saya" ajak si dokter kepadanya. Lucas pun segera mengikutinya dari belakang, lalu Marisa melihat Elisabet yang terbaring lemas diatas tempat tidur sambil menyentuh tangan kenannya.


"Saya harap anda baik-baik saja nyonya Elisabet. Kalau sampai tuan Lucas kehilangan anda, saya tidak tau penderitaan apa yang akan dia rasakan" tidak lama kemudian Lucas kembali keruangan itu. "Tuan, apa kata dokter?".


Lucas mendudukan diri disamping Elisabet, ia menggenggam tangannya dengan sayang, "Dia terserah penyakitan yang tidak bisa disembuhkan dengan pil selain dia tinggal di rumah sakit ini".


"Maksud tuan?".


"Mmmmm, dia kangker xx stadium 3" jawab Lucas menunduk. "Ini semua salah ku, aku sudah tau kalau dia tinggal sendiri tapi aku tidak bisa memberinya lebih banyak perhatian".


Marisa tersentuh, ia juga bisa merasakan sedih yang Lucas rasakan. "Jangan menyalahkan diri seperti ini tuan, nyonya Elisabet bisa marah kalau sampai beliau mendengarnya, percaya saja kalau semua akan baik-baik saja. Karna aku yakin nyonya Elisabet pasti bisa melawan penyakitnya".


"Ah.. hah.." Lucas mengangkat kepala melihat kearah wajah Elisabet yang masih menutup mata. "Kamu bilang dia akan baik-baik saja? kamu percaya itu?".

__ADS_1


"Mmmmm, aku yakin nyonya Elisabet mampu melawan penyakitnya asalkan tuan Lucas selalu mendukung beliau" angguk Marisa.


__ADS_2