
Marisa keluar dari dalam kamar, meskipun rasanya sangat sakit, ia tetap mencoba terlihat biasa saja. Lalu ia melihat ibunya Rehan sedang sibuk membuatkan sarapan pagi untuknya. "Pagi bu, Rehan dimana?".
"Rehan ada di taman belakang, dia sedang membersihkan rumput yang sudah memanjang. Nona mau sarapan apa?".
"Tadi tuan Lucas sarapan apa bu?".
"Seperti biasa nona, tuan Lucas selalu sarapan dengan dua potong sandwich dan segelas kopi".
"Oh, kalau gitu samakan saja bu dengan punya Risa. Aku lagi enggak mood makan nasi".
"Ya sudah. Lalu ini bagaimana nona?".
"Untuk ibu saja sama Rehan. Aku rasa ibu belum sempat tadi pagi sarapan dari rumah" jawab Marisa menerima sandwich tersebut dari tangan ibunya Rehan. "Terima kasih bu. Mmmmm, aromanya sangat enak. Aku yakin rasanya juga sangat enak hehehehe" dengan lahap Marisa memakannya, lalu ia mendengar ponselnya berdering, Marisa pun segera menerima telpon tersebut dari sang sahabat yang tak lain adalah Flora. "Iya Ra" jawab Marisa.
"Kamu dimana Sa? apa hari ini kamu kerumah sakit?".
"Tidak, kenapa?".
"Aku ingin bicara dengan mu. Bisakah jam makan siang nanti kamu kemari?".
"Sepertinya sangat penting sekali. Baiklah, sekarang juga aku akan kesana".
"Mmmmm, kalau gitu aku tutup dulu".
"Iya" angguk Marisa melahap sandwich ya kembali. "Mmmm, rasanya sangat enak sekali bu, terima kasih untuk sarapannya".
"Nona mau pergi?".
"Iya bu".
"Oh, hati-hati dijalan nona".
__ADS_1
Begitu Marisa keluar dari dalam rumah, ia memesan sebuah taksi online, tapi tak satupun taksi tersebut yang mau menerima orderannya membuat ia terpaksa harus berjalan keluar komplek dengan kedua kakinya. "Ah, baru saja sepuluh langkah aku berjalan kaki, keringat di di dahi ku sudah bercucuran. Mana selangkangannya ku masih terasa sangat sakit, sial banget sih" kesal Marisa mencoba mengorder taksi online kembali.
"Semoga bisa, ayo dong bisa, bisa, bisa. Oo, akhirnya berhasil. Yes" senannya melihat ia berhasil mengorder sebuah motor bukan mobil. Tapi ia tetap senang. Tidak lama kemudian, si supir ojol tersebut kini berhenti dihadapannya, la bertanya atas namanya, setelah itu Marisa naik menyuruhnya membawanya ke gedung Hanju group. Hingga kini mereka telah tiba, Marisa mengeluarkan 1 lembar uang biru berkata kepada si supir ojol sisanya itu untuk dia saja. Dengan senyum bahagia, ia mengangguk berkata terima kasih.
"Sekarang sudah jam 10 pagi, dia sedang apa yah? tapi kalau aku menghampiri kedalam ruangannya, aku takut yang melihat ku nanti jadi merasa curig.." gantung Marisa melihat Reza berada di loby. "Reza? sedang apa dia disini?" gumam Marisa berjalan mendekati Reza sambil memanggil namanya. "Reza sedang apa kamu disini? kamu tidak ke kampus?".
Reza tersenyum menyentuh kepalanya layaknya seperti seorang adik. "Mmmm, untuk 1 bulan kedepannya aku akan berada disini".
"Kenapa? maksud kamu sekarang.. Kok aku enggak ngerti?".
"Papa meminta ku untuk 1 bulan ke depan berada disini".
"Apa orang tua kamu salah satu investor di perusahaan ini?".
"Iya".
"Oh, terus kamu akan mendukung siapa untuk melanjutkan perusahaan ini Za? apa kamu akan mendukung tuan Lucas atau tuan Dilan?".
"Aku tidak tau karna aku belum terlalu tau siapa paling lebih bagus dari antara keduanya. Kenapa kamu bertanya itu?".
"Bukankah sekretarisnya sudah digantikan dengan yang sekarang? apa jangan-jangan kamu menyukainya? lagian sejak kapan sekretaris berpakaian seperti yang sedang kamu pakai ini?".
"Ck, jangan mengejek ku. Aku kemari ingin bertemu dengan flora".
"Kenapa dengan Flora?".
"Sebaiknya kita duduk dulu disana, aku lelah sekali kalau berdiri terlalu lama" ujar Marisa berjalan kearah kursi tunggu membuat Reza melihat cara jalan Marisa tidak seperti biasa.
"Risa" panggilnya.
"Hhhmmm?".
__ADS_1
"Ada apa dengan cara jalan mu? kenapa kamu terlihat sedang...
"Hahahaha.. Iya kemarin aku jatuh dari pohon mangga yang mengakibatkan kedua paha ku sakit. Tapi kamu tenang saja, kemarin ibu ku sudah memanggil tukang urut kok" jawab Marisa berbohong dengan kesal.
"Oh, jadi kamu tidak apa-apa? pasti rasanya sangat sakit".
"Mmmmm, sakit sekali" Marisa tersenyum begitu ia duduk melihatnya. "Ayo duduk".
"Tunggu sebentar, aku akan membelikan kopi untuk mu" Reza memasuki restoran yang berasa disana, ia memesan dua kopi. Setelah ia mendapatkannya, ia kembali menghampiri Marisa. "Ada apa dengan Flora Sa? apa dia memberitahu sesuatu kepada mu?".
"Tidak, dia hanya memintaku bertemu di jam makan siang. Sepertinya dia ingin memberitahu sesuatu gitu. Emang ada apa Reza? aku merasa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari ku".
Reza menghela nafas meneguk kopinya, "Lebih baik kamu tau darinya dari pada dari ku Sa, tolong kalau dia nanti sudah cerita, tolong katakan kepadanya kalau aku sangat mencintainya, bahkan aku siap menerima dia apa adanya?".
"Aku tau kamu mencintai Flora Za, bahkan kamu sangat mencintainya. Dan Flora juga sudah memberitahu ku kalau kalian berdua dulunya sangat mencintai satu sama lain. Tapi..
"Aku tau, itu semua karna keluarga ku yang sangat tidak setuju kalau aku bersama dengannya. Tapi aku sudah mencobanya sejak dari dulu untuk melupakan dia Sa, tapi aku benar-benar tidak bisa, aku benar tidak bisa Risa".
"Hhmmsss, aku ngerti apa yang sedang kamu rasakan Za. Tapi aku lebih kasihan kepada Flora kalau kamu masih bersikeras untuk memperjuangkan dia, kalau boleh aku kasih saran, menyerahlah. Karna kedua orang tua kamu berserta keluarga besar kamu enggak bakalan setuju kalau kamu memilih Flora. Stop menyiksa diri kamu Za".
"Kalau gitu aku akan berhenti Sa".
"Maksud kamu Za?".
"Mmmmm, dari pada aku tidak bisa bersama dengan Flora. Lebih baik aku mati saja".
"Apa kamu sudah gila?".
Reza tersenyum, "Mmmm, aku sudah gila Sa. Aku benar-benar sudah gila karna tidak bisa hidup bersama dengan Flora" jawab Reza mencoba menahan air matanya. "Kalau gitu aku pergi dulu, pekerjaan ku sangat banyak".
"Tunggu Za" dengan perasaan sedih Marisa menarik Reza kedalam pelukannya. "Tidak apa-apa, semua akan berlalu. Pilihan ada di tangan kamu, maka dari itu pilihlah mulai dari sekarang dan jangan pernah mencoba untuk mengakhir hidup kamu. Ingat, masih banyak yang sayang sama kamu, yang selalu mendukung kamu dan yang selalu ada untuk kamu. Jadi jangan pernah berpikir macam-macam mmmm" ucap Marisa menepuk punggungnya.
__ADS_1
"Mmmmm, terima kasih Risa. Kamu benar-benar perhatian sekali dan dewasa. Aku pergi dulu".
"Iya. Semangat" setelah Reza pergi meninggalkannya. Marisa melihat jam telah menunjukkan pukul 11. 20 menit. "Sebentar lagi Flora keluar, sebaiknya aku tunggu disini saja".