Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 79


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 3 sore, namun Lucas belum juga membuka kedua matanya membuat Marisa mencoba untuk melepaskan pelukan Lucas. Setelah ia berhasil, ia tersenyum melihat cara tidur Lucas yang sangat menggemaskan membuat Marisa ingin sekali mengigitnya. "Tidurlah, biarkan aku yang melanjutkan pekerjaan mu" Marisa berjalan kearah meja kerja Lucas. Ia melihat dokumen yang tadi ia kerjakan belum selesai, ia pun segera menyelesaikannya.


Hingga jam pun terus berputar, tampa Marisa sadari matahari mulai terbenam. Kemudian ia mendapatkan sebuah panggilan dari seseorang dengan nomor yang tidak di kenal, tetapi ia tetap menjawabnya. "Iya, dengan Marisa. Ini siapa?".


"Marisa!".


Deng..!


Marisa pun langsung mengenali suara tersebut dengan wajah sedikit kaget melihat layar ponselnya. "Tuan Dilan?".


"Mmmmm, sedang dimana kamu? bisakah kita bertemu di cafe xx 10 menit saja".


"Maaf tuan saya tidak bisa. Pekerjaan saya sedang menumpuk, jadi saya tidak bisa bertemu dengan tuan, dan juga tawaran untuk menjadi sekretaris tuan saya tidak bisa dan saya mohon tolong jangan pernah lagi tuan menelpon ke nomor ini" jawab Marisa mematikan ponselnya secara sepihak dengan tangan bergetar melirik Lucas yang kini sedang melihatnya. "Se-sejak kapan kamu bangun?".


"Apa itu Dilan?".


"Iya, aku juga tidak tau dari mana dia bisa mendapatkan nomor ponsel ku. Kamu marah?".


"Lalu sedang apa kamu disitu?".


"Ah, itu. Tadi aku tidak sengaja membuka komputer kamu untuk mencari sesuatu. Tapi saat aku membukanya, aku melihat sebuah dokumen yang memang aku kuasai untuk mengerjakannya. Maaf aku sudah terlalu lancang mencampuri pekerjaan mu, sebenarnya aku hanya ingin mengurangi beba... Ah" kaget Marisa begitu Lucas menarik tangannya berdiri dari atas kursi kebesarannya.


Dengan mata berkaca-kaca, Marisa pun semakin merasa bersalah melihat tatapan mata Lucas yang sangat tajam hendak menerkamnya. "Kalau aku tidak mengizinkan mu, kamu tidak boleh menyentuhnya. Sekarang kamu pulang" usirnya.


"Maafkan aku".


"Pulang".


"Kalau kamu mengusir ku dengan keadaan marah seperti ini aku tidak akan pulan..


"Aku bilang pulang!" bentak Lucas membuat Marisa langsung menumpahkan air mata yang tadi ia tahan. Kemudian Lucas mengusap wajahnya yang lelah, "Sekali lagi aku bilang pulang, jangan membuat ku tambah marah".


Marisa menyeka air matanya, "Baiklah. Aku akan pulang, sekali lagi aku minta maaf" jawabnya menyambar tas segera meninggalkan ruangannya. "Menyebalkan sekali. Harusnya dia berterima kasih kepada ku telah membantunya, tapi nyatanya dia malah mengusir ku tampa mengucapkan terima kasih" lalu ia mengeluarkan ponselnya menghubungi sang sahabat. "Hallo Ra. Kamu dimana?".


"Dirumah? kenapa?".


"Bersama siapa? aku baru pulang dari kantor. Aku ingin kerumah mu".

__ADS_1


"Ada apa dengan suara mu Sa? kamu seperti baru habis menangis. Kamu baik-baik saja? siapa yang telah membuat mu menangis Risa?" ujar Flora tidak terima kalau seseorang menyakiti sahabatnya. "Ayo beritahu aku Sa. Aku akan memberi pelajaran untuk orang itu".


"Aku baik-baik saja Ra. Aku sekarang menuju kerumah mu, kamu ingin sesuatu? aku akan membelinya di swalayan".


"Beli ayam goreng saja seperti biasa".


"Baiklah".


"Mmmmm".


Marisa keluar dari dalam loby, ia melihat sebuah taksi lewat dari hadapannya, ia pun segera menghentikan taksi tersebut. "Pak, tolong antar saya ke jalan xx, tapi sebelumnya nanti, tolong berhenti di restoran ayam goreng yang ada di jalan xx".


"Baik nona" jawabnya.


Di dalam taksi ia melihat keluar kaca, cahaya lampu perkotaan membuat ia sangat menyukainya meskipun hatinya saat ini sedang keadaan sedih. "Apa yang sedang dia lakukan? tapi kenapa aku malah memikirkan dia disaat seperti ini? padahal dia sama sekali tidak memikirkan ku hhmmsss".


Sedangkan Lucas yang berada di dalam ruangannya, ia disibukkan dengan berkas-berkasnya tampa menyadari kalau ponselnya saat ini sedang berdering, hingga panggilan itu berdering sampai beberapa kali. Tetapi Lucas tetap saja tidak mengetahuinya.


"Ck, kenapa Lucas tidak menjawab panggilan ku sih?" kesal Raniya.


"Tidak ada apa-apa. Kamu mau pulang?".


"Mmmmm, tapi sebelum pulang aku ingin bicara sebentar dengan mu. Ikut aku" ajak Jose membawa Raniya kedalam ruangannya. Lalu ia membuatkan dua teh hangat, setelah itu Jose memberikan ditangan Raniya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? apa ini mengenai pernikahan kita?".


"Mmmmm, apa kamu benar-benar tidak memiliki perasaan kepada ku. Kalau kamu tidak memiliki perasaan itu, sebaiknya kita akhiri saja dan segera beritahu mereka kalau kita tidak saling mencintai".


Raniya tersenyum, "Kamu yakin? apa kamu memiliki seorang wanita yang sedang kamu cintai saat ini? beritahu aku".


"Iya. Aku mencintai seorang wanita biasa dan wanita itu saat ini sedang...


"Kenapa? apa wanita itu sedang mengandung anak mu?" Jose pun seketika terdiam begitu Raniya menebak kalau wanita yang sedang ia cintai itu sedang mengandung anaknya. "Selamat Jose, semoga kamu berhasil. Aku setuju perjodohan kita di batalkan" Raniya meletakkan gelasnya, lalu ia pergi sambil tersenyum sinis.


Kemudian Jose mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak tau harus bagaimana caranya ia memberitahu keluarganya kalau Flora saat ini sedang mengandung anaknya. "Hhmmsss, kenapa harus rumit sekali?".


Bark.. Bark..

__ADS_1


"Siapa?".


BBBRRAAKK!


Dengan mata membulat Jose melihatnya ke ambang pintu, "Pa-papa, sedang apa papa datang kemari? kenapa papa tidak memberitahu Jos..


BBBUUNNGGHHH...


"Pa".


BBBUUNNGGHHH...


"Dasar anak kurang ajar yang tidak tau diri. Kamu pikir kamu siapa berani melawan papa hhaahhhh?" bentak sang ayah memukul wajah Jose kembali sampai Jose tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghindari pukulannya.


"Hentikan pa. Ada apa dengan papa tiba-tiba memukul Jose?".


"Haahhh.. Kamu tanya kenapa papa memukul mu? anak kurang ajar..!" bentak ya lagi memukul Jose hingga kini ia terkapar diatas lantai dingin dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Siapa wanita jalan itu? siapa wanita jalan itu Jose..?".


"Ma-maksud papa?".


Flasback.


Saat Raniya keluar dari dalam ruangan Jose, ia melihat papanya Jose sedang berjalan menuju ruangannya. Dengan menyeringai Raniya memanggilnya sambil mengeluarkan air mata buaya yang kini mengalir di kedua pipinya. "Om" panggilnya.


Ayah Jose tersenyum, namun saat ia melihat air mata buaya Raniya membuat ia langsung khawatir, "Ada apa Raniya? kenapa kamu menangis?".


"Hiks.. Hiks.. Jo-jose om, Jose membatalkan pernikahan kami hiks.. hiks..".


"Apa?".


"Iya om".


"Kalian berdua ada masalah apa sampai Jose membatalkan pernikahan kalian?".


"Hiks.. Jose, selama ini Jose telah menyelingkuhi Raniya om, dan saat ini kekasih Jose sedang mengandung anaknya hiks.. hiks.. Lalu apa yang harus aku lakukan om? aku tidak ingin berpisah dengan Jose, tapi aku juga tidak ingin menikahi pria yang hatinya untuk wanita lain".


"Kurang ajar kamu Jose" geram ayahnya memasuki ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2