Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 81


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Lucas menaruh tubuh Marisa diatas ranjang. Kemudian ia memasuki kamar mandi membiarkan Marisa tertidur lelap. Tetapi Marisa yang kini membuka mata, ia melihat sekitar ruangan tersebut marasa tidak asing lagi, ia merasa kalau saat ini ia berada di dalam kamar Lucas.


"Kenapa aku bisa ada disini? ah" ia merasa pusing. Lalu melihat seisi kamar itu kembali dengan mata rabun, "Apa aku sedang bermimpi? harusnya aku ada dirumah Flora. Tapi dimana anak it... Kamu?" kaget Marisa melihat Lucas keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit diatas pinggangnya. "Lucas? apa itu kamu?".


Lucas pun berjalan mendekatinya, "Menurut mu siapa lagi?".


"Tidak mungkin" ia mengucek kedua matanya melihat Lucas kini berdiri dihadapannya. "Apa yang sedang kamu lakukan? ke-kenapa aku bisa berasa disini? tadi aku dirumah Flora dan begitu aku membuka mata, aku malah berada disini. Apa aku sedang bermimpi?".


Lucas menyeringai, setelah itu ia melangkah pergi. Tetapi Marisa yang belum yakin kalau ia benar-benar berada dirumah, ia mencoba untuk menahan tangan Lucas, namun tangannya malah menarik handuk Lucas. "OMG" kagetnya melihat handuk Lucas melorot.


"Hhhmmsss.. Apa yang sedang kamu lakukan?" Lucas langsung memutar tubuhnya menghadap Marisa. Dengan senyum mengembang di wajah Marisa, ia bukannya merasa malu atau merasakan hal yang lain, ia malah merona melihat kejantanan Lucas yang begitu sangat menggodanya. "Haaahh.. Aku tidak akan melakuka...


"Aku menyukainya" senyum Marisa membuat Lucas mengernyitkan dahi. "Aku bilang aku menyukainya Lucas hehehe".


"Hhhmmss.. Sebaiknya kamu mandi saja".


"Tidak mau sebelum aku mencobanya".


"Mencoba apa Risa?".


"Itu" dengan manjanya Marisa menunjuk milik Lucas yang kini malah menegang. "Aku mau itu Lucas" hingga pada akhirnya Lucas tersenyum mendekati Marisa yang sedang menatapnya dengan tatapan menggoda. Kemudian Lucas menyentuh lehernya sambil memberikan beberapa kecupan di leher jenjangnya.


"Sebaiknya kamu tidur saja kalau kamu masih mau berjalan besok pagi".


"Hhhmm?".


"Kamu tidur saja" dengan lembut Lucas mencium keningnya.


"Ah.. tidak mau Lucas. Aku mau bercinta dengan mu malam ini" Marisa menanggalkan semua pakaiannya satu persatu hingga tubuh mungil Marisa tak dibaluti sehelai benang pun. "Ayolah".


"Baiklah kalau itu yang kamu mau, tapi kamu harus mengingat kejadian malam ini" Lucas pun langsung menimpah tubuh Marisa memberikan beberapa ciuman hangat di sekujur tubuhnya. Kemudian Lucas menatapnya, "Apa kamu masih ingin melanjutkannya?".


Seketika Marisa terdiam, lalu mencium bibirnya, "Aku mencintai mu!".


"Aku juga mencintai mu" balas Lucas menjatuhkan tubuhnya disamping Marisa. "Hari ini aku merasa sangat lelah, kita tidur saja".


"Maafkan aku".

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kemarilah, aku akan memeluk mu".


"Terima kasih" senang Marisa menempelkan wajahnya di dada bidang Lucas. "Lalu bagaimana dengan pakaian kita? aku merasa dingin".


"Kamu kedinginan?" Lucas menarik selimut menutupi tubuhnya dan tubuh Marisa sambil memeluknya dengan erat. "Apa kamu masih merasa kedinginan?".


"Tidak, sekarang aku sudah merasa hangat".


"Tidurlah".


"Mmmmm, selamat malam suami ku".


"Mmmmmm" balas Lucas mencium keningnya.


.


Di dalam keluarga besar Davison, Dilan yang sedang bersiap-siap berangkat ke kantor, ia sedang di bantu oleh sang istri yang tak lain adalah Kirana yang kini sedang hamil muda. "Dilan, kapan kamu menemani ku cek kandungan?".


"Tidak bisakah kamu sendiri? atau di temani mama".


"Mama Vina saat ini sedang sibuk, jadi mama Vina tidak bisa menemani ku pergi kerumah sakit".


"Jadi kamu tidak bisa menemani aku cek kandungan? 30 menit saja Dilan".


"Aku tidak bisa Kirana" jawab Dilan menyambar jasnya. "Aku pergi dulu, waktu ku tidak banyak lag...


"Tunggu" tahan Kirana.


"Apa?".


"Kamu mau pergi begitu saja tampa mencium ku?" kedua mata Kirana berkaca-kaca membuat Dilan langsung menghela nafas menatap kedua manik mata Kirana yang kini sudah menumpahkan air matanya. "Kamu jahat".


"Maaf" Dilan mendekatinya, ia segera mencium keningnya Kirana, setelah itu ia pergi begitu saja dari dalam kamar melihat waktunya yang tidak banyak lagi.


"Bajingan!!".


Sedangkan Isabella yang tidak sengaja melihat Kirana menangis saat melewati pintu kamar mereka membuat ia tersenyum sinis, "Anak sama ibu tidak beda jauh, kalau kamu seperti ini terus, lihatlah dia tidak akan bertahan bersama dengan mu" ucap Isabella dalam hati menuruni anak tangga. Lalu ia menghampiri Mateo yang sedang berada di meja makan menikmati sarapannya. "Selamat pagi pa".

__ADS_1


"Pagi. Bagaimana dengan Lucas saat ini? apa kamu sudah menemukan informasi dimana dia tinggal saat ini?".


"Aku berpikir sebaiknya kita biarkan saja Lucas dengan pilihan ya pa. Aku tidak mau lagi memaksakan kehendak ku kalau Lucas harus seperti yang kita harapkan" Mateo menatapnya, ia sedikit terkejut dengan kata-kata yang baru saja keluar dari dalam mulut Isabella. "Maaf pa".


Mateo menyeruput kopi hangatnya, "Kamu tidak mengkhawatirkan putra mu?".


"Lucas sudah dewasa pa, sekarang tidak ada lagi alasan kita melarang Lucas melakukan hal yang dia mau. Jadi biarkan Lucas dengan pilihannya pa".


"Kamu yakin?".


"Iya pa" angguk Isabella melihat Kirana ikut bergabung dengan mereka menikmati sarapan pagi. "Kamu baik-baik saja?".


"Mmmmm, aku baik-baik saja" jawab Kirana mencoba tersenyum kalau sesuatu tidak terjadi apa-apa kepadanya. Namun Isabella yang masih melihatnya membuat ia merasa kurang nyaman, "Ada apa tante melihat ku seperti itu?".


Isabella tersenyum, "Bagaimana dengan kandungan kamu? apa kamu selalu memeriksanya?".


"Iya tante".


"Dirumah sakit mana? kenapa tidak kerumah sakit tante saja?" tetapi Kirana bukannya menjawab ia malah tersenyum tipis. "Ya sudah kalau kamu tidak mau, saran tante kamu harus menjaga kesehatan supaya bayi yang ada dalam kandungan mu itu baik-baik saja. Kalau gitu aku berangkat dulu ya pa, Kirana".


"Iya tante, hati-hati dijalan".


"Mmmmmm".


Begitu Isabelle pergi, Kirana menatap kearah Mateo yang sedang membaca koran, lalu ia berusaha untuk mengajak Mateo mengobrol dengannya. "Kakek!" panggilnya.


"Mmmmm? ada apa? apa sesuatu terjadi kepada mu? apa Dilan menyakiti mu?".


Kirana tersenyum tipis, "Kakek, kalau boleh tau kenapa Dilan dan Lucas tidak sedekat dengan beberapa orang bersaudara di luar sana?".


"Maksud kamu?" Mateo meletakkan korannya di atas meja.


"Maaf kalau Kirana terlalu lancang bertanya hal yang tidak perlu Kirana tanyakan kek. Aku hanya merasa kalau Dilan dan Lucas tidak sedekat yang aku pikirkan, ada apa dengan mereka kakek?".


"Hhhrrrmm.. Kenapa kamu tidak tanyakan saja kepada Dilan? kalau kamu bertanya kepadanya kamu akan tau jawabannya karna kakek tidak tau apa-apa tentang mereka berdua yang seperti kucing dan anjing".


"Ah, kalau gitu maafkan Kirana kakek".

__ADS_1


"Tidak apa-apa".


__ADS_2