Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 45


__ADS_3

Sesampainya mobil Lucas di sebuah puncak pemandangan indah yang sedikit jauh dari perkotaan menempuh perjalanan satu jam lebih lamanya membuat Marisa tertidur di dalam mobilnya. "Dia malah tertidur" gumam Lucas membuka pintu mobil.


Kemudian seseorang menghampirinya, "Selamat datang tuan" ucapnya dengan sopan.


"Mmmmm" gumam Lucas berjalan menatap kearah gunung yang terlihat sangat indah begitu juga dengan udara yang sangat menyegarkan. "Sudah berapa lama saya tidak kemari?".


"Sekitar 5 bulan tuan" jawabnya.


"Ternyata sudah sangat lama, siapkan kamar untuk dia".


"Baik tuan" angguknya langsung pergi.


Tidak lama kemudian Marisa membuka mata, ia melihat Lucas tidak berada disampingnya, lalu ia keluar dari dalam mobil, "Ini dimana? kenapa tempat ini.. Oo, itu dia. Tuan" panggilnya.


"Kamu sudah bangun? kemarilah".


Dengan mata berbinar-binar Marisa langsung berlari mendekati Lucas, "OMG, tempat ini indah sekali tuan".



"Aku menyukainya, aku sangat menyukai tempat ini. Wah...!!".


"Aku pikir kamu akan tidur sampai kita kembali ke kota".


"Hey, harusnya tadi tuan membangunkan aku. Habisnya jalan kemari sangat menyegarkan sekali hehehehe. Bdw vila ini punya siapa tuan? kenapa aku tidak melihat satu orang pun tamu disini".


"Vila ini milik ku".


"Milik tuan?".


"Mmmmm.. Kenapa?".


"Tidak, aku hanya menyukainya saja. Kalau aku menikah nanti, aku mau bulan mandi ditempat seperti ini. Bisakah tuan meminjamkannya kepada ku selama honeymoon?" Lucas pun langsung tertawa. "Kenapa tuan tertawa?".


"Tidak" geleng Lucas.


"Ck, padahal sebenarnya itu kode. Harusnya dia menjawab ku, untuk apa kamu harus meminjamnya kepada ku? padahal nantinya kamu dan aku yang akan menikah. Tapi dia malah tertawa, aaiisss" gerutu Marisa dalam hati. "Sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan".


"Kamu mau kesana?" tunjuk Lucas.


"Itu tempat apa tuan?".


"Ayo" ucap Lucas berjalan duluan membuat Marisa segera mengikutinya dari belakang. "Hati-hati, jalan ini sedikit licin".


"Kalau gitu tuan harusnya memegang tangan ku supaya aku tidak jatuh. Jangan malah meninggalkan aku terlalu jau.. Aahhkkk".


Lucas pun dengan cepat menahan tubuhnya sebelum Marisa terjatuh. "Kamu baik-baik saja?".


Marisa menghela nafas, "Mmmm, aku baik-baik saja. Terima kasih".


"Kamu bisa memegang tangan ku. Ayo".


"Mmmmm" angguk Marisa menggenggam tangan Lucas begitu juga dengan Lucas membalas genggaman tangan Marisa cukup erat supaya ia tidak terjatuh lagi. Hingga kini mereka telah berada di bawah, Marisa langsung melihat banyaknya tumbuhan stroberi disana dengan mata berbinar.


"Kamu mau? stroberi ini tidak akan asam seperti yang pernah kamu makan".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Kalau gitu akau akan memakannya" Marisa memetiknya, sebelum ia memasukkan kedalam mulut, ia terlebih dahulu mencium bau aroma stroberi tersebut. Setelah itu baru Marisa memasukkan kedalam mulut, dan mengunyahnya secara perlahan. "Wah, stroberi ini benar-benar sangat manis tampa ada rasa asam sedikit pun, lalu dari mana tuan bisa mendapatkan stroberi semanis ini?".


"Kamu tanya saja kepada mereka" jawab Lucas menunjuk kearah para pertani yang merawat stroberinya. "Mereka mungkin lebih tau".

__ADS_1


Marisa menatapnya dengan tatapan kesal, "Dia bodoh atau gimana sih? tinggal jawab ajah susuh, ini malah disuruh tanya ke mereka. Ada-ada saja" gumam Marisa.


"Kenapa? kamu enggak jadi menanyanya?".


"Mmmmm".


"Kenapa?".


"Tidak ada".


Lucas tersenyum, "Harusnya kamu tanya supaya kamu tau".


"Tidak perlu".


"Kenapa?".


"Yah..!!".


"Wah, sekarang kamu sudah berani membentak ku?".


"Maaf. Habisnya tuan menyebalkan sekali".


"Kapan?".


"Dari tadi".


"Gara-gara apa?".


"Udah ah, aku malas berdebat dengan tuan".


"Mmmmm, kamu sudah mulai berani yah. Baiklah".


"Apanya yang baik tuan?".


"Apa?".


"Lagian siapa juga yang mengancam mu?" senang Lucas menarik kepala Marisa kedalam rangkulannya.


"Aaa, sakit".


"Benarkah?".


"Ooo".


"Kalau gitu aku akan..


"Tidak" Marisa mendorongnya. Lalu menatapnya dengan tatapan sinis, "Jangan mengikuti ku, biarkan aku sendiri".


"Kamu yakin? kalau kamu kenapa-napa atau menghilang aku tidak akan tanggung jawab" Marisa menghentikan langkahnya membuat Lucas semakin melebarkan senyumannya. "Pergilah kalau kamu ingin pergi. Cepat".


"Yah..!" rengek Marisa dengan mata sedih.


"Kamu menangis?".


"Kalau iya kenapa? hiks".


"Hahahah, yah.. kamu sudah sebesar ini tapi kamu malah menangis seperti bocah? kemarilah cepat. Aku minta maaf" senang Lucas melupakan dirinya siapa bersikap seolah-oleh dia sangat dekat dengan Marisa. "Sudah jangan menangis".


"Lagian siapa juga yang menangis?".


"Itu apa?".


"Apa?".

__ADS_1


"Lupakan saja" jawab Lucas menyeka air mata ya, lalu membawanya pergi berjalan-jalan sekitar kebun tersebut. "Dulu aku sering kemari".


"Dengan siapa?".


"Kok nyambung?" Marisa pun langsung terdiam menghentikan langkahnya "Hahahaha.. Aku hanya bercanda. Dulu aku sering datang kemari bersama dengan..


"Aku enggak nanya" potong Marisa membuat Lucas menghentikan ucapannya. "Maaf, aku memang enggak nanya tuan Lucas yang terhormat".


Lucas menatapnya, kemudian mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi mulus Marisa dengan lembut. "Marisa, maukan kamu menikah dengan ku?".


Deng..!


Bagaikan di sambar petir Marisa menatapnya dengan mata membulat. "Ya Tuhan, apa yang terjadi? apa yang barusan aku dengar? apa aku sedang bermimpi? kenapa tiba-tiba sekali tuan Lucas mengajak ku menikah? ini tidak mungkin, aku yakin ini adalah mimpi panjang ku" batin Nadia masih tetap menatap Lucas.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? kedua mata mu bisa keluar dari tempatnya".


"Tuan".


"Mmmm?".


"Bisakah tuan memukul ku".


"Kenapa?".


"Coba pukul aku, aku ingin terbangun dari mimpi buruk ini".


"Hahahah, mimpi buruk? baiklah, aku akan memukul mu dengan cara ini" Lucas lalu mencium bibirnya dengan lembut membuat Marisa semakin tidak mempercayainya. "Bagaimana? kamu masih belum mempercayainya?".


"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin, ini pasti mimpi. Ma tolong bangunkan Risa, pa tolong bangunkan Risa, kak Zara tolong bangunkan Maris..


PPLLAAKK...


"Ah" rengek Marisa menyentuh keningnya. "Apa yang tuan lakukan? sakit".


"Sakit? itu artinya kamu tidak mimpi".


"Jadi ini semua tidak mimpi?".


"Mmmmm" jawab Lucas berjalan meninggalkannya. "Kamu enggak ikut?".


"Tunggu aku" kejarnya.


"Ayo" Lucas mengulurkan tangannya, dengan senyum mengembang diwajah Marisa ia pun langsung menyambar tangan Lucas. "Kamu menyukai tempat ini?".


"Sangat. Aku sangat menyukai tempat ini".


"Bagus, lalu bagaimana dengan lamaran ku? apa kamu menerimanya?".


"Apa tuan Lucas mengatakannya dengan sungguh-sungguh?".


"Mmmmm".


"Kalau gitu, boleh aku tau alasan tuan melamar ku? aku rasa aku bukanlah wanita tipe ideal tuan" Lucas tersenyum sembari mengingat permintaan terakhir Elisabet, sebelum ia meninggal ia ingin melihat Marisa menikah dengannya. "Ada apa tuan? kenapa tuan malah diam? apa tuan baik-baik saja?".


"Mmmm, aku baik-baik saja" gemas Lucas mengusap kepalanya.


"Tapi tuan belum menjawab pertanyaan ku".


"Hhhmmmsss, Marisa".


"Iya?".


"Aku ingin menikahi mu tampa sepengetahuan keluarga ku. Bisakah kamu melakukan itu?".

__ADS_1


__ADS_2