Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 110


__ADS_3

Di dalam kamar Flora sedang mempersiapkan semua pakaian miliknya di dalam tas untuk ia bawa kembali pulang ke kampung halaman meskipun ia mendengar ponselnya berdering sedari tadi.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRRTTTTT...


"Ck, tidak bisakah dia berhenti menghubungi ku?" Flora menggerutu kesal melirik ponselnya. Lalu menyambarnya membuka pesan masuk yang baru saja Jose kirim, "Flora, aku tau kamu sangat marah kepada ku, tapi izinkan aku bertemu dengan mu meskipun itu hanya sebentar saja. Aku mohon Flora" kemudian Flora akhirnya membalas pesan tersebut. "Tidak ada hal penting lagi yang perlu kita bicarakan Jose, aku tidak bisa. Maaf".


Tok.. Tok..


"Risa?".


"Mmmmm" jawab Marisa membuka pintu kamarnya. ia melihat Flora sedang menyusun pakaian yang akan ia bawa pergi, "Kamu membutuhkan bantuan ku Ra?".


"Tidak Risa, ini sudah mau selesai" Flora tersenyum membawanya duduk diatas tempat tidur. Lalu menggenggam tangan Marisa dengan erat, "Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu Sa, sudah hampir 7 tahun lamanya aku tinggal disini, kini aku harus kembali ke kampung halaman ku".


"Sepertinya kamu bahagia sekali Ra ingin pulang ke kampung".


"Mmmm, aku sangat bahagia sekali Sa akhirnya aku bisa bertemu dengan keluarga ku lagi yang ada disana. Aku yakin pasti rasanya senang sekali, kamu tau sendiri kan kalau rumah ku disana dekat dengan danau, jadi kalau kamu ada waktu datanglah kerumah ku, dengan senang hati aku akan selalu menunggu kedatangan mu nantinya Risa".


"Pasti Ra, aku pasti akan datang kesana untuk melihat mu".


"Terima kasih" senang Flora memeluknya.


"Oh iya Ra, maaf aku tadi memberitahu Jose kalau kamu akan pergi meninggalkan kota ini. Apa Jose menghubungi mu?".


"Mmmmm, aku tau itu, kamu pasti akan memberitahunya".


"Maaf, aku hanya ingin dia tau kalau kamu akan pergi".


"Tidak apa-apa Risa".


"Terus, apa kamu tidak akan pergi menemuinya untuk yang terakhir kalinya? aku yakin kamu juga pasti sangat ingin bertemu dengannya".


"Tidak Risa, aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya".


"Kenapa bisa seperti itu Ra? kamu benar-benar tidak ingin bertemu dengannya?".


"Mmmmm, aku mengatakan yang sebenarnya".


Marisa menghela nafas, "Ya sudah Ra aku tidak bisa banyak berkata, yang terbaik ada di tangan mu".


.


Tok.. Tok..


"Masuk!" jawab Lucas.


Ceklek!


Lalu Lucas melihat sekretarisnya itu berjalan mendekati meja kerjanya, "Ini tuan laporan yang tuan minta tadi pagi".


"Mmmm, taruh disitu" ucapnya.

__ADS_1


"Permisi tuan".


"Tunggu!".


"Iya tuan?".


"30 menit lagi saya ada urusan dilluar, tolak semua yang ingin menemui saya" jawab Lucas membuka berkas yang tadi ia minta. "Sekarang kamu pergilah" setelah itu ia menyambar ponselnya melihat sebuah notifikasi masuk dari Reza membuat ia langsung memanggilnya. "Ada apa Reza?".


"Kamu dimana?".


"Dikantor, sebentar lagi aku akan kesana. Kamu dimana?".


"Aku sudah berada disini".


"Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu".


"Mmmm".


Lucas pun segera bergegas membereskan meja kerjanya, namun saat ia hendak pergi Marisa tiba-tiba menelponnya membuat ia menghentikan langkahnya, "Iya sayang?" tanyanya.


"Kamu dimana? bisakah aku ke kantor mu saat ini juga?".


"Ada apa tiba-tiba sekali Risa?".


"Aku merasa bosan dirumah sekalian aku ingin bicara hal penting kepada mu..


"Nanti dirumah saja Risa" potong Lucas. "Aku ada urusan mendadak, maaf".


Tut.. Tut.. Tut..


Dengan kesal Marisa pun langsung menatap ponselnya, "Ais, menyebalkan sekali ck".


Sesampainya Lucas di tempat yang ia minta, ia masuk kedalam club tersebut melihat Reza sedang berada di meja paling sudut. "Kamu sudah menemukannya?" tanyanya to the poin.


"Mmmm, sesuai yang kamu minta kemarin" jawab Reza memberikan dokumen rahasia yang selama ini ia cari. Kemudian Lucas membukanya, dan benar sekali sebagain informasi yang selama ini ia cari berada disana, tetapi saat Lucas membuka lembaran berikutnya ia menemukan sebuah nama yang begitu familiar. "Ada apa Lucas?".


"Tunggu sebentar, kenapa ada nama ini disini Reza?" tanyanya balik menunjuk kepadanya. "Kamu mengenalnya?".


"Tidak, kenapa? apa kamu mengenalnya?".


Lucas menghela nafas, "Aku tidak yakin, dia salah satu investor di Asian group".


"Apa?" Reza sedikit meninggikan suaranya.


"Mmmm".


"Kalau gitu, apa dia bekerja sama juga dengan Dilan? atau dia salah satu musuh yang sedang memantau mu disana? oh iya.. Sebenarnya siapa pemilik Asian group? bagaimana bisa dengan semudah itu kamu menjabat..


"Tidak untuk sekarang" jawab Lucas memotong pembicaraannya. "Terima kasih untuk ini semua Reza, aku pergi dulu".


"Kamu mau kek.. mana. Hhmmsss, main pergi saja, anak itu tidak ada berubahnya" Reza menggeleng menyambar gelas anggur miliknya yang terletak diatas meja sembari melirik kearah wanita yang berada disebelahnya yang ketepatan saat itu juga wanita itu melihat kearahnya. "Hay".

__ADS_1


Wanita itu pun tersenyum, kemudian mendekati Reza yang hanya duduk seorang diri. "Sendiri ajah ganteng?" tanyanya dengan mata mengedip. "Boleh aku duduk disini?".


Reza pun membalas senyuman itu dengan senyuman menggoda, "Silahkan, wanita secantik kamu kenapa tidak bisa duduk disebelah ku".


"Thank you ganteng" begitu ia duduk disebelah Reza, dengan manja ia menyambar gelas anggur ditangannya. "Minum anggur sendiri kurang menyenangkan, maka izinkan aku menemani mu juga menghabiskan anggur ini".


"Mmmmm" angguk Reza setelah wanita itu meminumnya. "Apa rasanya begitu enak?".


"Enak karna minuman ini bekas dari bibir mu ganteng" jawabnya mendekatkan wajahnya dihadapan Reza sehingga Reza mampu merasakan setiap hembusan nafas wanita tersebut. "Aku menyukai mu Beby!".


"Sungguh?" Reza tersenyum menyentuh wajahnya.


"Yes Beby".


"Kalau gitu" Reza pun langsung mencium bibir dengan sekilas. "Kamu sangat menggoda".


"Really?".


"Mmmmm, kamu sangat menggoda ku. Bisakah aku meminta nomor ponsel mu honey?".


Ia tersenyum kembali mengelurakan ponselnya dari dalam tas, lalu memberikan nomornya kepada Reza. "Bagaimana dengan malam ini Beby?".


"Malam ini? baiklah.. Aku akan kemari menemui honey".


"Ok Beby uummcchh" setelah wanita itu pergi, Reza tersenyum gelang kepala sembari mengangkat bahu menghabiskan anggur yang masih tersisa, lalu ia pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


.


Dirumah sakit Lucas berada di tempat Elisabet di rawat, dengan senyum mengembang diwajahnya ia menggenggam tangannya. "Nenek, mungkin baru kali ini aku memanggil mu nenek. Aku sangat merindukan mu, apa rasanya sangat sakit terbaring seperti ini terus? maafkan aku.. Maafkan aku belum bisa mengizinkan kamu pergi begitu saja" Lucas memandangi wajah sang nenek dengan wajah merasa bersalah.


Tok.. Tok...


Ceklek!


"Jose!" Lucas melihatnya.


"Ada apa? kamu baik-baik saja?" Jose berjalan mendekatinya.


"Aku tidak tau" dengan lelah Lucas mengusap wajahnya kasar. "Lalu bagaimana dengan mu Jose? kenapa kamu terlihat begitu lelah?".


Jose mendudukkan diri, "Flora pergi Lucas".


"Maksud kamu?".


"Mmmm, Flora memilih pergi meninggalkan aku Lucas, dia memilih tinggal di kampung halamannya".


"Apa dia memberitahu mu?".


"Tidak, Marisa yang memberitahu ku".


"Lalu apa yang kamu lakukan Jose?".

__ADS_1


"Aakkkhhh, aku tidak tahu harus melakukan apa Lucas.. Aku juga tidak bisa melarangnya, dan sekarang aku malah terlihat seperti orang bodoh".


__ADS_2