Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 95


__ADS_3

Dengan senyum mengembang di wajah Marisa, ia berjalan duluan begitu mereka berhenti di sebuah tempat penjual bakso yang berada di pinggir jalan. "Wah, sudah sangat lama sekali aku tidak pernah makan bakso lagi. Pak, baksonya dua pors..


"Aku tidak, kamu saja".


"Loh, kenapa? kamu yakin enggak mau?".


"Mmmmm".


"Ya sudah kalau kamu enggak mau, padahal bakso dipinggir jalan itu jauh lebih enak dari pada yang di restoran. Pak, bakso ya jadi satu ajah ya, minumnya air putih".


"Baik nona".


Kemudian Marisa melihat sekitarnya, disana hanya tersisa satu kursi yang bisa untuk di duduki. "Bagaimana ini? hanya tersisa satu".


"Kamu duduk saja, aku akan duduk disitu" tunjuknya kearah tembok trotoar jalan.


"Tidak apa-apakan?".


"Mmmmm".


"Terima kasih" Marisa pun langsung mendudukan diri, sambil menunggu pesanannya tiba ia tak berhenti memperhatikan Lucas yang sedang asik bermain dengan ponselnya sampai pesanannya datang. "Wah, sepertinya bakso ini sangat enak sekali. Terima kasih ya pak".


"Sama-sama nona" namun saat Marisa hendak melihat kearah Lucas kembali, ia melihat seorang wanita tiba-tiba datang menghampirinya, tetapi di kedua mata Marisa wanita itu sedikit terlihat familiar.


"Siapa wanita itu? apa Lucas mengenalnya? astaga kenapa mereka dekat sekal.. Oo, itu bukannya Tera? sedang apa dia kesini? bagaimana bisa dia tau kalau kami berada disini?".


Tera tersenyum manis, "Tuan, sedang apa tuan Lucas berada disini?".


"Bagaimana dengan mu? sedang apa kamu disini?".


"Ah, aku tinggal disekitaran sini tuan dan aku sangat menyukai bakso disini. Apa tuan juga sedang ingin memakan bakso? kalau gitu biar aku saja yang membayarnya..


"Tidak, aku kemari datang bersama dengan dia" potong Lucas menunjuk kearah Marisa yang sedang memakan baksonya pura-pura tidak tahu.


"Dia siapa tuan? Haahh.. Dia bukannya sekretaris tuan? lalu kenapa tuan tidak makan bersama dengannya dan malah menunggu disini? lagian wanita itu enggak tau diri banget yah. Masa dia makan sendiri sedangkan tuan tidak".


"Aku yang menyuruhnya. Pergilah kalau kamu ingin memakan bakso".


"Terus tuan benar-benar enggak mau? bakso disini enak sekali loh, aku yakin tuan Lucas tidak akan menyesal".


"Tidak".

__ADS_1


"Ya sudah kalau tuan Lucas tidak mau" Tera pun berjalan mendekati Marisa yang sama sekali tidak terganggu olehnya. "Yah, sedang apa kamu disini?".


"Hhrrmmm, kamu buta yah? kamu enggak lihat kalau saya sedang makan bakso?" Marisa terlihat kesal kepadanya. "Tolong jangan ganggu saya, selera saya bisa hilang kalau kamu masih berdiri disitu" tetapi Tera bukannya pergi, ia malah melihatnya dengan tatapan sinis. "Ya sudah terserah kamu saja, lagian kursi itu sekarang sudah kosong. Kamu bisa duduk disitu".


"Yah.. Sejak kapan tuan Lucas mau menunggui wanita seperti mu? apalagi menunggu di tempat kumuh seperti ini? ingat yah kamu itu hanya sekretarisnya saja. Apa yang telah kamu lakukan kepadanya? jawab!".


Marisa menghela nafas, ia pun akhirnya menyudahi makanannya. "Yah, anak kecil seperti kamu tidak tau apa-apa, sebaiknya kamu diam saja".


"Apa?" geram Tera menatapnya dengan tajam. "Asal kamu tau yah, saya sudah duluan mengenal tuan Lucas dari pada kamu, dan kamu merasa sok..


"Hentikan, saya tidak punya banyak waktu berdebat dengan bocil seperti mu. Saya sudah kenyang, kamu boleh duduk disini kalau kamu tidak ingin duduk disitu...


"Yah..!!" teriak Tera tampa sadar kalau ia mencakar wajah Marisa sampai berdarah.


"Aarrkkhhh..!!".


"Marisa!!" kaget Lucas. Ia pun berlari menghampiri mereka berdua langsung memeluk tubuh sang istri, "Apa yang kamu lakukan Tera? apa kamu sudah gila?" wajah Lucas memerah membentak Tera, wanita yang berada dihadapannya itu ingin sekali ia bunuh saja melihat wajah Marisa yang terluka.


"Tu-tuan...


"Diam!!" ucapnya dengan mata tajam. Lalu Lucas membawa Marisa pergi dari sana menuju rumah sakit tampa perduli lagi kepada Tera yang sedang manahan tangis akibat rasa bersalahnya kepada Marisa. "Apa rasanya sangat sakit?".


"Sangat sakit hiks.. hiks.. Anak itu benar-benar keterlaluan sekali sampai membuat wajah ku seperti ini hiks..".


"Mmmmmm".


.


Sesampainya di rumah sakit Lucas membantunya turun dari dalam mobil, dengan rasa sakit yang masih Marisa rasakan ia tak kunjung melepaskan tangan kanannya dari pipi kanannya. Kemudian Lucas memanggil sang dokter, mereka pun segera menghampiri Marisa. Lalu menyuruhnya untuk melepaskan tangan, namun karna rasa perih itu Marisa tidak kuat menahannya. "Dok rasanya sangat sakit".


"Tidak apa-apa, dilepaskan saja nona dengan pelan-pelan".


"Tapi dok..


"Iya seperti itu, bagus.. Lagi nona" ucap si dokter itu saat Marisa mencoba untuk melepaskan tangan kanannya sampai ia berhasil "Sus, tolong ambilkan saya penjepit dan kapas".


"Baik dok".


"Ini bekas cakaran yah? kok bisa separah ini yah?".


"Iya dok, rasanya sakit sekali. Apa wajah saya akan baik-baik saja dok? saya takut cakaran ini akan meninggalkan bekas".

__ADS_1


"Tidak apa-apa, bekas ini akan hilang kalau sering di oles obat penghilang".


"Benarkah dok?".


"Iya. Saya akan melap bekas darahnya, saya mohon nona menahannya..


"Tunggu dok" ia pun menyuruh Lucas menggenggam tangannya. Lalu Marisa mengangguk tanda ia sudah siap, "Aaa.. Akkhh.. Dok, rasanya sangat perih sekali".


"Tahan nona" balas si dokter hingga pada akhirnya ia berhasil mengobati lukanya. "Selesai, apa rasanya masih sakit nona?".


"Syukurlah, rasanya tidak terlalu sakit lagi dok. Terima kasih".


"Sama-sama nona. Permisi".


"Iya dok" lalu Lucas memeluknya dengan sayang. "Aku baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir, kata dokter itu juga kalau bekas ini akan sembuh kalau di obati".


"Maaf tidak bisa menjaga mu dengan baik".


"Mmmm" senyumnya. "Ayo, kita pulang saja. Aku tidak ingin berada dirumah sakit".


"Sebaiknya kita dirumah sakit saja".


"Kita pulang saja. Ayo".


"Kamu yakin pulang".


"Iya kita pulang saja, ada Jose yang menjaga Reza disana bersama dengan Flora. Oh iya, wanita tadi sebenarnya siapa sih? kenapa aku melihat wanita itu seperti tertarik kepada mu?".


Lucas pun langsung tertawa kecil mencium bibirnya dengan sekilas. "Kenapa? kamu cemburu kepada wanita itu?".


"Tidak, aku hanya penasaran saja siapa wanita itu sebenarnya. Lagian untuk apa juga aku harus cemburu kepadanya? dia sama sekali bukanlah saingan ku".


"Hahahaha.. Iya, wanita itu bukanlah saingan mu. Karna itu kamu jangan tanya lagi tentang wanita itu".


"Tidak boleh, kamu harus memberitahu ku siapa wanita itu sebenarnya. Ayolah sayang beritahu aku siapa dia? aku tidak menyukai cara dia melihat mu dan Jose. Ayo cepat beritahu aku siapa dia".


"Kalau gitu aku akan memberitahu mu setelah kita pulang kerumah. Ayo".


"Kenapa tidak disini saja?".


"Orang lain bisa mendengarnya. Apa aku harus menggendong mu sampai ke mobil?".

__ADS_1


"Boleh, dengan senang hati suami ku hehehe" tawa Marisa langsung merangkul lehernya.


__ADS_2