
Namun begitu Marisa masuk kedalam dapur, ia melihat ibunya Rehan sedang mengambil sesuatu dari dalam kulkas membuat ia menghentikan langkahnya bersembunyi di balik tembok sambil memperhatikan dari kejauhan. Lalu Marisa melihat ibunya Rehan memasukkannya kedalam kanton kresek hitam sambil melihat sana sini semakin membuat Marisa berpikir kalau ibunya Rehan sedang mencuri, "Astaga, kenapa harus dicuri sih bu? kalau ibu memintanya aku akan memberikan lebih dari itu?" gumam Marisa melihatnya membawa kantong kresek hitam tersebut.
Setelah itu Marisa mengikuti dari belakang, disana Rehan masih berdiri menunggu sang ibu. "Ayo bu, sepertinya hujan sudah reda".
"Mmmmm".
"Tunggu sebentar. Itu apa yang ibu bawa?".
"Oh, bukan apa-apa. Ibu hanya membawa sisa makanan bahan-bahan di dapur yang enggak bisa dipakai lagi, jadi ibu membawanya pulang saja dari pada besok tuan Lucas marah kalau tuan Lucas melihatnya masih berada di dalam kulkas" jawab sang ibu tersenyum. "Ayo".
"Iya bu. Sini biar Rehan saja yang membawanya".
Dengan mata berkaca-kaca, Marisa menjatuhkan tubuhnya diatas lantai akibat rasa bersalah telah berpikir negatif tetang ibunya Rehan, "Ya Tuhan, bagaimana bisa aku berpikir sampai sejauh itu. Tolong maafkan aku Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menuduhnya mencuri".
Kemudian Marisa memasuki kamarnya kembali meletakkan cemilan yang ia bawa dari dapur diatas meja tempat Lucas sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Kenapa?" tanya Lucas.
"Hhhmmm? apa?".
"Mata mu kenapa bermerah seperti sedang menangis?".
Marisa pun langsung menghela nafas mendudukkan diri disamping Lucas, ia melihatnya dengan tatapan sendu. "Itu, tadi aku sempat berpikir negatif tentang ibunya Rehan saat aku melihat dia mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Aku pikir dia mencuri, tapi nyatanya dia hanya membawa bahan-bahan yang tidak di pakai lagi hiks..".
Lucas tersenyum, "Jadi karna itu kamu menangis?".
"Mmmmm, aku menangis karna itu ah.. Aku bodoh sekali, aku benar-benar sangat bodoh sekali" kesal Marisa menyandarkan kepalanya di bahu Lucas tampa ia sadari. "Hhmmsss, oh iya bagaimana dengan pekerjaan ku? aku sangat tidak ingin dirumah terus, itu akan sangat membosankan sekali".
"Kenapa kamu tanya itu? bukankah kamu harus kerumah sakit?".
__ADS_1
"Nyonya Elisabet meminta ku untuk tidak datang lagi kerumah sakit. Dia meninta ku menemani kamu saja. Karna itu aku bertanya apa yang harus aku lakukan? atau kalau aku tidak bisa lagi kembali ke posisi ku semula. Bagaimana kalau aku terima saja tawaran tuan Dilan kemarin?" tanyanya melihat ekspresi wajah Lucas yang seketika berubah jadi sangar begitu ia berkata menerima tawaran Dilan.
Kemudian Marisa tersenyum, "Hehehehe.. Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin bekerja saja secara profesional. Tapi kalau tidak bisa ya enggak apa-apa juga. Tidak usah melihat ku seperti itu, kamu membuat ku takut saja" tunduk Marisa menjauhkan wajahnya. "Hhooaamm, aku sangat mengantuk sekali. Kalau gitu aku tidur dulu, selamat mala.. Aakkkhhh" kaget Marisa terjatuh di atas pangkuan Lucas. "A-ada apa?".
Cup..!
Lucas mencium bibirnya, lalu memberikan kiss mark dileher jenjang Marisa yang sangat menggodanya sampai leher Marisa dipenuhi bekas ciuman Lucas. "Aku tidak suka kedua bibir ini menyebut nama Dilan. Apalagi harus bekerja sama dengannya, jangan membaut ku marah".
Marisa mengulum senyuman, "Kamu cemburu?".
"Tidak, aku hanya bilang tidak suka kalau kamu menyebut namanya dengan kedua bibir ini".
"Haahhh.. Bedanya apa bambang sama cemburu? ada-ada saja" batin Marisa melihatnya dengan kesal. "Iya, aku tidak akan menyebut namanya lagi, apalagi meminta bekerja dengannya".
"Bagus" senang Lucas membawa tubuh Marisa keatas ranjang. "Sepertinya junior ku aku masih menginginkannya".
"Aku tidak bisa" jawab Lucas langsung menanggalkan pakaian Marisa sampai tubuh mungilnya kini terlihat polos tampa dibaluti sehelai benang pun. Lalu Lucas mencium leher Marisa, mencium buah dadanya, mencium pusarnya, mencium kewanitaannya, mencium sampai kaki, lalu mencium bibirnya. "Aku akan melakukannya dengan lembut".
"Benarkah? awas saja kalau kamu melakukannya dengan kasar".
"Mmmmm, aku akan melakukannya sampai besok kamu tidak bisa jalan..
"Apa.. Aakkhhh" ringis Marisa begitu Lucas menancap kejantanannya secara tiba-tiba di kewanitaannya . "Aaaaa, itu sangat sakit. Aku sudah menyuruh mu melakukannya dengan lembut. Itu sama saja kamu ingin membunuh ku" rengek Marisa memayungkan kedua bibirnya membuat Lucas bukannya iba melainkan semakin gemas melihatnya.
"Yaahhh.. Jangan melihat ku seperti itu, aku yakin kamu pasti sedang mengejek ku karna aku tidak bisa melayani suami dengan benar. Ck".
"Hahahaha.. Aku tidak sedang mengejek mu sayang, aku hanya gemas melihat mu begitu sangat menggoda ku" kedua pipi Marisa pun langsung merona begitu Lucas menyebut dengan sayang, lalu Lucas mencium keningnya.
__ADS_1
.
Pagi hari datang kembali, Marisa membuka mata dengan tubuh pegal bercampur rasa nyeri yang sangat karuan melihat Lucas sedang bersiap-siap berangkat ke kantor. "Hhmmm? sekarang sudah jam berapa? kenapa kamu sudah siap-siap saja mau berangkat ke kantor? astaga, sepertinya aku terlambat bangun" kaget Marisa tampa perduli dengan tubuh polosnya menuruni tempat tidur. Namun saat itu juga ia malah terjatuh dari atas tempat tidur.
"Aahhh...!".
"Risa..!" kaget Lucas membantunya. "Kamu baik-baik saja?".
"Aaiisss.. Kenapa rasanya sangat sakit sekali? aku jadi tidak bisa jalan" ujar Marisa melihat Lucas khawatir. "Aku baik-baik saja. Tapi karna kamu tidak membangunkan ku, aku jadi tidak baik-baik saja" Lucas mengernyitkan dahi melihatnya. "Oo, kamu tega membuat ku tidur sampai jam 3 pagi, dan sekarang semua tubuh ku benar-benar terasa sangat pegal dan..
Cup..!
Lucas tersenyum mencium bibirnya, "Kamu dirumah saja, nanti aku akan memikirkannya".
"Memikirkan apa?".
"Pekerjaan apa yang cocok untuk mu".
"Benar yah. Awas saja kalau kamu berbohong, aku akan..
"Akan apa?" tanya Lucas begitu Marisa menggantung perkataannya.
"Tidak, lupakan saja. Sekarang kamu pergilah, kamu hati-hati dijalan sa-yang hehehe".
"Mmmm, aku berangkat dulu" angguk Lucas mencium keningnya. "Atau aku perlu membantu mu ke kamar mandi?".
"Tidak usah" begitu Lucas keluar dari dalam kamar. Marisa melihat keluar jendela, ia berusaha bangkit berdiri sambil menyambar pakaiannya semalam di atas lantai berjalan kearah balkon kamar. Dengan senyum mengembang diwajahnya, Marisa melihat keatas langit yang masih di penuhi embun di pagi hari bersamaan dengan burung-burung yang berkicau diatas udara.
__ADS_1
"Wah, aku sangat menyukai pagi ini, semua terlihat begitu sangat indah dan juga tanaman ya itu terlihat sangat segar sekali mmmmm" gumam Marisa menutup mata. Setelah itu ia memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan bau amis akibat ulah Lucas yang semalaman.