Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 125


__ADS_3

"Siapa nama mu?" tanyanya.


"Hhmmm? ah, na-nama ku Marisa" ia langsung memberanikan diri mendekatinya dengan tangan bergetar. "A-apa saya harus menuang minuman ini di dalam gelas tuan?".


"Tidak" jawab ia mencoba menyentuh wajah mulus Marisa. "Siapa kamu? kenapa aku seperti..


"Maafkan saya tuan, jangan sentuh saya, saya sudah menikah".


Mawar yang mendengarnya pun sontak menatapnya dengan tajam setelah mendengar apa yang baru saja keluar dari dalam mulut Marisa.


"Aaakkhh, tolong maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud untuk..


"Tidak" potong ia menutup mulut Marisa. Lalu membawanya pergi dari sana menuju teman yang berada di halaman belakang. Kemudian menatap Marisa dari atas sampai bawah, "Siapa kamu sebenarnya? kenapa jantung ini..


"Maksud tuan?" potong Marisa dengan mata bulat. Namun melihat si pria itu melangkah mendekati tubuhnya, ia pun sontak melangkah mundur. "A-ada apa tuan? maaf jika perkataan saya tadi membuat tuan mara.. Akh" Marisa pun semakin membulatkan kedua matanya begitu si pria tersebut memeluknya dengan erat.


"Tolong lepaskan saya tuan".


"Sebentar saja".


"Apa?".


"Diamlah".


Pada akhirnya Marisa pun membiarkan dirinya dipeluk oleh si pria itu hingga waktu yang ia minta telah berlalu. "Tuan, ini sudah lebih dari 10 menit. Ayo lepaskan saya tuan".


Ia pun melepaskannya, "Terima kasih" lalu tersenyum tipis memperbaiki anak rambut Marisa yang sedikit berantakan. Kemudian sebuah panggilan terdengar di kedua telinganya.


"Tuan, kita harus kembali. Tuan Mateo tiba-tiba masuk rumah sakit" mendengar ucapan sekretarisnya itu, ia pun langsung pergi begitu saja dari hadapan Marisa. Namun sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Marisa, ia menyempatkan diri mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam jasnya.


"Tinggalkan tempat ini, saya tau kamu membutuhkan pekerjaan" setelah itu ia pergi.


Dengan senyum mengembang diwajah Marisa, ia melihat kartu nama yang berada di atas genggamannya. "Ya Tuhan, kenapa dia perduli dengan ku?".


.


Sepulangnya dari club, Marisa melihat sang putra tercintanya telah terlalap dalam tidurnya. Tidak ingin mengganggu, ia memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Tetapi begitu ia keluar dari dalam kamar mandi, ia di buat terkejut melihat Argana berdiri dihadapannya.


"Loh, Argana kenapa bangun sayang? mama menganggu yah?".


Argana pun menggeleng, "Mama habis dari mana baru pulang jam segini? kenapa mama tidak memberitahu Argana".


"Maafkan mama sayang, tadi mama kerja ditempat yang mama bilang tadi siang".


"Tapi kenapa harus malam ma? Argana takut mama kenapa-kenapa dijalan. Jangan pergi lagi ma".


Lalu Marisa berjongkok dihadapan putranya itu sembari mengusap wajah berserta rambutnya dengan sayang. "Mmmm, besok mama tidak akan bekerja di tempat itu lagi".

__ADS_1


"Benarkah? bisakah mama berjanji tidak akan pergi ketempat itu lagi?".


"Iya sayang mama janji. Sekarang anak mama tidur lagi yah" Marisa membawa Argana keatas tempat tidur kembali. Sambil memeluk Argana Ia mengingat pria itu lagi, "Kenapa aku merasa kalau pria itu seolah-olah aku sudah lama mengenalnya?".


Tidak lama kemudian begitu Argana terlelap, ia menuruni tempat tidur berjalan ke arah dapur mencari sesuatu yang bisa ia makan. "Marisa?".


"Astaga!!" Marisa melonjak kaget saat dokter Rian menyebut namanya secara tiba-tiba.


"Maaf..!! Sedang apa kamu disini? kamu mencari makanan?".


"Iya dok, perut saya tiba-tiba lapar" jawab Marisa tersenyum tipis.


Lalu dokter Rian berjalan mendekati lemari penyimpanan, "Duduklah, aku akan membuatkan mie instan untuk mu".


"Ekh tidak usah dok, saya tidak mau merepotkan dokter Rian".


"Tidak apa-apa. Duduklah".


"Tapi dok..


"Hanya membutuhkan waktu 10 menit saja" potong dokter Rian mengeluarkan dua bungkus mie instan untuk dirinya dan juga untuk Marisa bersamaan dua butir telur. "Oh iya, kamu habis dari mana Risa? Argana tadi memberitahu ku kalau kamu pergi bekerja. Kamu kerja dimana?" Rian sedikit meliriknya.


"Aku tidak akan bekerja ditempat itu lagi dok".


"Kenapa?".


Setelah dokter Rian selesai memasak mie instannya, ia langsung memberikannya dihadapan Marisa.


"Terima kasih dok".


"Mmmmm" Rian kemudian memandangi wajah Marisa yang begitu cantik nan mulus membuat Marisa yang merasa sedang dipandangi sedikit kurang nyaman. "Akh, ayo dimakan. Apa kamu menyukainya?".


"Ya. Rasanya enak seperti biasa. Kenapa dokter tidak memakannya? mienya nanti bisa mengembang".


"Marisa!" panggilnya.


"Iya dok?" Marisa menatapnya dengan serius.


"Apa kamu masih belum bertemu dengan suami mu? maaf jika aku menyinggung mu, tidakkah kamu berpikiran kalau kamu..


"Kalau apa dok?".


Rian seketika tersadar akan pertanyaan yang akan ia ajukan dapat menyinggung perasaan Marisa. "Tidak, lupakan saja Risa" setelah itu Rian melahap mie ya.


"Ada apa dengannya?" batin Marisa.


.

__ADS_1


Pagi hari telah tiba, seperti biasa Marisa selalu membantu pelayan dirumah dokter Rian untuk membersihkan rumahnya. Setelah ia selesai, baru ia membantu sang anak untuk segera berangkat ke sekolah. "Sayang, kamu bawa bekal ajah ya ke sekolah".


"Iya ma, nanti Argana bisa menghemat".


"Anak pintar, tapi kalau pun nanti Argana lapar atau pengen makan sesuatu, Argana harus membelinya yah".


"Siap ma. Sekarang Argana sudah selesai, ayo kita berangkat ma".


"Ayo sayang".


Namun saat Marisa dan Argana melangkah keluar dari rumah, Rian yang tengah menuruni anak tangga melihat keduanya langsung memanggil nama Argana.


"Pagi ini om akan mengantar Argana ke sekolah".


"Loh kenapa om? kenapa om tidak mengantar anak om saja ke sekolah?".


"Mereka sudah diantara tante Stela ke sekolah. Sekarang Argana sama om".


"Emang om tau sekolah Argana dimana?".


"Tau dong, Argana sekolah di xxx".


"Oh, Argana pikir om tidak tau hehehe" Argana melirik Marisa yang berada disebelahnya. "Ma, mama mau langsung pergi atau mama mau ikut sama mobil om Rian?".


Marisa melirik jam tangannya, "Mama langsung saja sayang. Dok, terima kasih banyak yah sudah mau..


"Nanti aku akan mengantar mu. Kamu ikut saja" potong Rian menarik tangan Argana menuju garasi penyimpanan mobil.


Setelah mereka berada di dalam mobil, Rian pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah menuju tempat sekolah Argana yang sedikit lumayan jauh dari kediamannya.


"Terus Argana sudah punya teman disana?" tanya Rian fokus menyetir.


"Iya om, dia seorang wanita. Dia baik dan juga cantik sekali sama seperti mama".


Rian dan Marisa pun tertawa mendengar jawaban Argana yang begitu menggemaskan di kedua telinga orang tersebut.


"Oh, jadi dia seorang wanita Arga?".


"Iya om dan Argana menyukainya. Tapi sepertinya dia anak orang kaya om".


"Terus kalau dia anak orang kaya emang kenapa Arga?".


"Argana takut kalau nantinya orang tua dia melarang kami berteman om".


"Hahaha" dan lagi-lagi Rian pun tertawa dibuat oleh Argana. "Jangan khawatir Arga, orang tua dia tidak akan pernah melarang kamu berteman dengan putrinya. Percaya sama om".


"Benarkah?".

__ADS_1


"Mmmmmm".


__ADS_2