
Karna ini hari minggu, Marisa yang berada di dalam pelukan Lucas enggan membuka mata, ia malah semakin menyamankan diri meskipun kedua matanya tidak mengantuk lagi. Kemudian Marisa mencoba menyentuh hidung mancung Lucas, "Dengan mata tertutup saja aku masih bisa mengatakan dia sangat tampan. Astaga, bahkan sampai sekarang aku masih belum percaya kalau dia sudah menjadi suami ku" gumam Marisa membuka mata mencium pipinya.
"Jangan menggangu ku kalau kamu tidak ingin ku makan".
Deng..!
Suara khas bangun tidur itu pun berhasil membuat Marisa langsung terdiam sambil menutup mata itu kembali. Lalu Lucas tersenyum, "Kenapa kamu menutup mata seperti itu?".
Namun bukannya menjawab pertanyaan Lucas, Marisa malah menguap pura-pura tidak mendengarnya sembari menggeliat. "Hhooaamm, ah tubuhku pegal sekali. Astaga, ternyata sudah pagi, jam berapa sekarang?".
"Kamu tidak mendengar ku?".
"Hhhmmm? kenapa?" Lalu Lucas menarik Marisa menghadap dirinya. "A-ada apa? ini masih pagi".
"Aku ingin memakan mu. Kenapa kalau ini pagi?".
"Hahahha.. Kalau gitu ayo kita sarapan, setelah itu kita kerumah ku. Aku yakin kak Zara akan kerumah bersama dengan suaminya".
"Aku sudah bilang kalau aku hanya ingin memakan mu. Apa kamu masih pura-pura tidak mendengar ku?".
"Iya, aku mendengar mu. Lagian kamu enggak lelah ya? Ah maaf" senyum Marisa begitu Lucas menatapnya dengan marah. "Yah.. Maafkan aku, aku tidak bermaksud.. Aarrkkhh".
"Salah kamu sendiri telah membuat ku marah, dan sekarang aku benar- benar akan memakan mu" ujar Lucas menimpah tubuh Marisa, namun saat ia berusaha menanggal satu persatu pakaian Marisa. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya. Ia pun langsung menghentikan tangannya, "Kamu diam disini" ancamnya sebelum turun dari atas tempat tidur kepada Marisa. Lalu Lucas menyambar ponselnya, ia melihat sebuah panggilan dari Mateo sang kakek.
"Siapa?" tanya Marisa.
Tampa menjawab Marisa, Lucas segera menggeser tombol hijau berjalan keluar dari dalam kamar. "Iya kakek?".
Sedangkan Marisa yang merasa terabaikan, ia terlihat sedikit kecewa, tetapi karna itu menyangkut keluarganya, ia hanya bisa mendengus membuang kekesalannya dengan cara merapikan tempat tidur, setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi.
Namun berbeda halnya dengannya Lucas, begitu ia selesai menelpon, ia masuk kembali kedalam kamar menganti pakaiannya, setelah itu ia pergi tampa memberitahu Marisa yang berada di dalam kamar mandi.
Kemudian Marisa keluar, ia yakin kalau Lucas sudah pergi. Ia pun segera memakai pakaiannya, "Karna dia sudah pergi, sebaiknya aku pergi juga kerumah mama. Ini sudah hampir jam 10 pagi" setelah selesai, ia langsung meninggalkan rumah.
__ADS_1
Sesampainya Lucas di rumah, diruang keluarga semua anggota keluarga sedang berada disana termasuk Dilan dan Kirana. "Duduk" ucap Mateo.
"Ada apa kek?" tanyanya mendudukkan diri.
"Dari mana kamu?".
"Aku ada pekerjaan yang harus aku kerjakan" jawab Lucas melihatnya. "Maafkan aku karna sudah pergi tampa memberitahu kakek dan yang lain. Apa hanya itu yang ingin kakek bicarakan dengan ku?".
"Karna Dilan sudah menikah, kakek juga mau kamu segera menikah dengan putri rekan bisnis kakek. Siapa tau dia bisa membantu kamu membuka perusahaan baru yang akan kamu dirikan".
Lucas tersenyum, "Kakek. Maaf kalau kali ini aku menentang perkataan kakek. Aku mohon mulai dari sekarang stop mencampuri urusan pribadi Lucas, aku tidak suka yang namanya perjodohan dan aku tidak akan pernah menikahi wanita yang tidak aku cintai. Maaf".
"Apa?" kaget Mateo menatapnya tajam hendak memukul Lucas yang sudah berani menentang perkataannya. "Apa kamu tidak akan menuruti perintah ku lagi? apa sekarang kamu sudah berani menentang ku hahhh?".
"Maafkan Lucas kakek. Mulai dari sekarang Lucas akan keluar dari rumah in..
"Lucas!" bentak Isabella menamparnya. "Apa kamu sudah gila? berani sekali kamu menentang perkataan kakek kamu".
"Mah.. Aku sudah lelah dengan ini semua. Jadi biarkan aku melangkah tampa campur tangan keluarga ini lagi".
Dengan senyum sinis Lucas pun langsung mengangguk, "Benar apa kata bibi kakek, aku harus lebih berjuang lagi".
.
Setibanya Marisa di rumah, seperti yang tadi ia tebak, di depan halaman rumah ia telah melihat mobil Zara terparkir disana. Ia pun segera masuk kedalam, "Hallo semuanya, Marisa datang" teriaknya seperti biasa tampa ia sadari di dalam sana juga ada kedua mertua sang kakak. "Risa!" tegur sang mama.
"Astaga, ternyata ada tante sama om. Maaf, tolong maafkan suara saya yang terlalu kencang tante om" tunduknya membuat kedua mertua Zara tersenyum kepadanya.
"Tidak apa-apa nak. Duduklah".
"Iya" begitu Marisa duduk disamping Saphira. Dengan tawa kecil ia menunjukkan gigi ratanya kepada sang ibu yang sedang melihatnya dengan mata tajam. "Maaf ma, aku pikir tidak ada tamu, dan ternyata kak Zara datang bersama dengan mertuanya".
"Kebiasaan kamu Risa. Lain kali jangan di ulangi lagi".
__ADS_1
"Iya mama ku sayang hehehe".
DDDRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...
"Oo. Flora menelpon ku. Ma, Risa keluar sebentar. Iya Ra, aku ada dirumah, kamu lagi dimana? kemarilah".
"Risa" panggilnya.
"Mmmm, kenapa Ra?".
"Aku bosan dirumah Sa. Aku ingin pergi liburan bersama dengan mu. Melihat cuaca hari ini sangat mendukung sekali, bagaimana kalau kita ke pantai?".
"Pantai?".
"Mmmmm, ke pantai. Bagaimana? ayolah Risa, sepertinya ini permintaan bayi yang ada dalam kandungan ku".
"Kalau gitu, kenapa kamu tidak mengajak ayah dari bayi itu saja kalau dia ingin pergi ke pantai. Aku yakin bayi mu pasti sangat bahagia sekali".
"Hey.. Dia mau sama onty ya bukan sama orang yang membuatnya. Udah ah, buruan jemput aku kemari ok. Sekalian kamu ajak juga tante sama om, biar kita bisa baren liburan".
"Dirumah lagi ada tamu, kedua mertua kak Zara sama suaminya datang kemari. Aku akan kesana, kamu tunggu saja sekitar 30 menit lagi".
"Ok Sa".
Marisa pun kembali masuk kedalam rumah menganti pakaiannya kedalam kamar yang masih berisikan semua pakaiannya. Setelah itu ia keluar melihat Zara yang sedang melihatnya, "Kamu mau kemana Risa?".
"Itu kak, Flora mengajak ku ke pantai. Enggak apa-apa kan kalau Risa tinggal? tante om".
"Kamu sudah izin belum? nanti dia ke carian kamu".
"Aman itu kak. Kalau gitu Risa pergi dulu yah".
"Mmmmm, kamu hati-hati bawa mobil, enggak usah ngebut seperti itu".
__ADS_1
"Siap kak".