Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 28


__ADS_3

Jam siang telah tiba, Jose berada diruangan Lucas. "Kenapa kamu kemari Jose?" tanya Lucas mendudukan diri diatas sofa.


Jose menghela nafas berat, "Kepala ku pusing Lucas, papa ku berencana menjodohkan aku dengan rekan bisnis ya. Ah, memikirkannya saja membuat kepala ku hampir pecah".


Lucas tersenyum, "Orang tua jaman sekarang ada-ada saja. Kenapa mereka tidak bisa membiarkan anak mereka menikah sesuai dengan keinginan hati mereka sendiri. Lalu apa yang akan kamu lakukan? kamu akan mengikuti perjodohan yang orang tua mu rencanakan?".


"Aku tidak tau Lucas, aku benar-benar sangat pusing hanya memikirkannya saja. Mana lagi wanita itu adalah seorang dokter di tempat aku bekerja dirumah sakit".


"Dokter?".


"Mmmmm".


"Itu sangat bagus, kamu bisa berkonsultasi kepadany..


"Apa kamu sudah gila?" semakin kesal Jose melihat Lucas yang malah tertawa. "Ah, kamu benar-benar membuat kesal" Jose menyambar makanan yang ia bawa dari luar. "Makan saja aku tidak berselera".


"Apa kamu sudah bertemu dengannya?".


"Belum".


"Kalau kamu belum bertemu dengannya kenapa kamu harus gelisah seperti ini? siapa tau dia wanita yang sesuai dengan kriteria kamu, dan mungkin saja dia adalah wanita baik cantik dan menyenangkan".


"Ck, begitu aku tau apa pekerjaannya aku yakin dia adalah wanita yang sudah berumur. Mana ada wanita muda yang sudah di sebut sebagai profesor, pastinya dia sudah berumur 40 tahun keatas".


"Ya sudah, kamu temui saja dulu. Kamu memiliki nomor ponselnya?".


"Mmmm, tapi aku belum berani bertemu dengannya. Padahal minggu ini acara pertemuan keluarga akan segera diadakan. Tolong aku Lucas, apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin menikahi wanita yang hampir seumuran dengan ibu ku".


"Aku tidak bisa membantumu, selain mempertemukan kalian berdua".


"Ais" lagi-lagi Jose kesal.


.

__ADS_1


Sepulangnya Jose dari kantor Lucas, ia kembali ke rumah sakit dengan kepala pusing hampir terjatuh kalau saja seorang wanita tidak menahan tubuhnya. "Kamu baik-baik saja?" Mendengar suara itu, Jose langsung melihat kearahnya dengan mata membulat. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi mengulangi sambil tersenyum manis.



"Kamu siapa?" tanya Jose.


"Saya dokter Raniya. Tadi kamu hampir saja terjatuh kalau saya tidak menahan tubuh mu, kamu sudah merasa baikkan? atau..


"Tidak, saya baik-baik saja. Terima kasih".


"Sama-sama, kalau gitu saya permisi dulu".


"Mmmmm" angguk Jose melihatnya pergi menjauh dari hadapannya. "Siapa wanita itu? kenapa dia cantik sekali" gumam Jose tersenyum. Kemudian ia melihat seorang perawat memanggilnya, lalu membawa dokter Raniya masuk kedalam ruang inap di bangsal VIP. Setelah itu Jose berjalan memasuki ruangannya yang berada di ujung lorong.


Namun saat Jose memasuki ruangannya, ia melihat Marisa keluar dari ruangan Elisabet membuat Jose tersenyum ramah kepadanya begitu juga dengan Marisa. "Permisi, boleh kita bicara sebentar diruangan saya?".


"Hhhmmm?".


"Tidak usah tuan terima kasih".


"Tidak apa-apa, saya akan membuatkan dua teh. Tunggu sebentar" Jose segera membuatnya, setelah itu ia memberikan kepada Marisa. "Teh ini sangat enak, saya membawanya dari Swiss".


"Ah" angguk Marisa tersenyum menyeruput tehnya. "Lalu apa yang ingin tuan bicarakan dengan saya?".


"Mmmmm, sebelumnya pernahkan kamu jatuh cinta hanya dengan sekali bertemu saja dengan lawan jenis mu? jangan salah paham dulu, saya tidak bermaksud mengatakan ini kepada mu. Saya ingin tau pengalam kamu sendiri".


"Pastinya pernah tuan, saya rasa itu sudah menjadi hal yang umum. Bahkan cinta itu datang kadang tampa kita sadari, apa tuan sedang merasakan hal itu?".


Jose tersenyum, "Mmmm, tadi aku bertemu dengan seorang dokter cantik. Tatapan matanya membuat jantung tidak bisa berhenti berdetak dan juga senyumannya membuat ku setengah gila. Dia benar-benar sangat indah".


"Itu bisa dibilang cinta pada pandangan pertama, sebelumnya tuan sudah pernah merasakannya?" Jose berpikir, ia mengingat semua moment kejadian saat ia bertemu dengan wanita yang pernah ia kencani, tapi anehnya perasaan yang tadi ia rasakan belum pernah ia rasakan kepada mereka. Dan yang selama ini ia rasakan kepada wanita yang ia kencani hanyalah sekedar rasa nafsu semata.


"Tidak, saya belum pernah merasakannya. Saya baru kali ini merasakannya".

__ADS_1


"Itu artinya, tuan harus mengejarnya dan segera dapatkan cintanya. Saya rasa itulah cinta sejati tuan".


"Masa iya?".


"Mmmm, tapi dia masib single kan tuan?".


"Maksud kamu?".


"Dia belum menikah?".


"Oh, saya rasa belum" jawab Jose menyeruput tehnya kembali mengingat wajah Raniya. "Terima kasih, kamu jauh lebih baik dari pada Lucas. Anak itu tidak akan pernah memberiku jawaban yang menyenangkan selain meledekku. Kamu boleh pergi".


"Baik tuan, terima kasih juga untuk teh ini. Rasanya sangat nikmat".


"Sama-sama" angguk Jose.


.


Malam harinya hujan turun sangat lebat membuat Marisa tidak bisa kembali kerumah, lalu ia melihat ke arah Elisabet yang tertidur pulas begitu sang perawat memberinya obat tidur yang membuat Elisabet tidak mendengar apa-apa lagi. "Hhooaamm, aku sangat mengantuk sekali. Aku ingin tidur, tapi hujan ini belum berhenti-henti juga, kalau aku tidur disini, aku akan mati kedinginan karna selimut tidak ada" gumam Marisa melihat kearah sofa.


Duuaarr...


"Astaga" kaget Marisa langsung menutup gorden. Ia mulai ketakutan, lalu menaiki sofa membaringkan tubuhnya disana. "Ya Tuhan, semoga petirnya tidak kembali lagi" doa Marisa dalam hati.


Setelah beberapa menit kemudian, Marisa tidak mendengar suara petir itu lagi. Ia melirik layar ponselnya, jam telah menunjukkan pukul 10 malam. "Sepertinya aku benar-benar tidak akan bisa pulang kerumah" Marisa menatap langit-langit kamar itu, kedua matanya sudah sangat berat, hingga pada akhirnya Marisa terlelap tampa mengenakan selimut.


Sedangkan mobil Lucas yang baru tiba di parkiran dirumah sakit, ia segera keluar dari dalam mobilnya dengan mengenakan pakai kantor yang belum sempat ia ganti. Lalu Lucas memasuki lift menuju ruangan Elisabet, begitu ia tiba disana, Lucas mendorong pintu, ia melihat semua lampu sudah padam, namun cahaya dari luar mampu membuat Lucas masih bisa melihat Elisabet berada diatas tempat tidur rumah sakit.


Kemudian Lucas berjalan memperbaiki selimut Elisabet dengan senyum diwajahnya, "Selamat tidur nyonya Elisabet" cium Lucas di keningnya.


Tetapi saat itu juga kedua mata Lucas tertuju kearah Marisa yang berada di atas sofa, ia melihat Marisa tidak menggunakan selimut membuat ia merasa kasihan, ia langsung membuka jasnya dan menaruh diatas tubuh Marisa. "Terima kasih sudah menjaganya sepanjang hari" Lucas menyentuh wajah Marisa sambil memperbaiki anak rambut Marisa yang mengenai wajahnya. "Kamu pasti sangat lelah" ia tersenyum. Lalu Lucas menarik tangannya dari wajah Marisa, namun Marisa yang bisa merasakan sentuhan tangan Lucas membuat ia membuka mata.


"Tuan Lucas!".

__ADS_1


__ADS_2