Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 51


__ADS_3

Melihat jam telah menunjukkan pukul 7 pagi lewat 15 menit, keluarga Marisa sedang menikmati sarapan pagi seperti biasa. "Risa belum bangun ma?" tanya sang suami.


"Sepertinya pa".


"Kenapa ma? Risa enggak kerja?".


"Sepertinya, tadi pagi mama sudah membangunkan dia, tapi di bilang dia tidak akan bekerj..


Ceklek!


"Pagi semuanya, Risa duluan berangkat kerja ma pa kak Za" teriak Marisa berlari dari hadapan mereka.


"Hahh.. Anak itu" geleng Zara tersenyum.


Kemudian Marisa menaiki mobilnya, ia melihat jam masih menunjukkan pukul 07:20 menit. "Aku masih punya waktu 10 menit lagi, semoga jalanan tidak macet hhuuffff".


Flasback.


DDDRRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...


"Aaiisss.. Siapa sih menghubungi ku pagi-pagi buta seperti ini?" gumam Marisa menutup kedua telinganya dengan bantal.


DDDRRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...


"Aarrkkhhh.. Aarrkkhhh.. Siapa?" bentak Marisa mengangkat ponselnya. "Hallo!".


"Oh, berani kamu membentak ku yah?".


"OMG" Marisa langsung menjauhkan ponselnya. Ia melihat nomor yang baru saja menghubungi dirinya adalah nomor kantor Hanju membuat Marisa mengernyitkan dahi. "Dia siapa? jangan bilang dia tuan Lucas. Hallo, ini siapa?".


"Sekarang juga kamu kekantor, aku tunggu paling lama 20 menit dari sekarang. Cepat".


"Tuan Lucas? baik tuan aku akan segera kesana. Mampus aku".


******************


Sesampainya Marisa di kantor, ia melihat sekretaris barunya Lucas berada di meja kerjanya. "Ck, harusnya aku yang berada disana, menyebalkan sekali" gumam Marisa mendekatinya. "Permisi mbak, saya ada janji dengan tuan Lucas" ucapnya memberitahu.


"Tunggu sebentar" ia menghubungi Lucas, begitu ada jawaban darinya baru ia mempersilahkan Marisa masuk kedalam. "Tuan ada tamu".

__ADS_1


"Biarkan dia masuk" jawab Lucas menandatangi berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Lalu Marisa berjalan mendekatinya dengan senyum kecut, kemudian Lucas menghentikan berkasnya, ia melihat Marisa berada di depan meja kerjanya. "Kamu kemari" ucapnya menunjuk kesamping kursinya.


"Baik tuan" angguk Marisa berjalan semakin mendekati Lucas. Lalu Lucas memutar kursinya menghadap dirinya, "Maaf tuan, ada apa tuan memanggil saya pagi-pagi seperti ini datang kekantor?".


"Ayo, kita harus fiting baju pengantin" jawab Lucas menarik tangan Marisa terjatuh di atas pangkuannya.


"Ah.. A-apa yang sedang tuan lakukan? bagaimana kalau sekretaris tuan datang kemari atau tamu penting?".


"Biarkan saja, aku tidak perduli" Lucas menyisikan anak rambut Marisa, ia melihat kedua matanya dengan tatapan sendu. "Aku sangat mengantuk, semalaman aku tidak bisa tidur".


"Apa? tuan enggak pulang kerumah?".


"Mmmmm, sekarang biarkan aku tidur disini selama 20 menit. Setelah itu baru kita pergi".


"Tapi kita sedang dikantor tua.." gantung Marisa melihat Lucas menutup kedua matanya, kemudian memeluk tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya tepat di buah dada Marisa. "Ya Tuhan, kenapa seperti ini? jantung ku berdetak tak karuan. Astaga, mana jantung ku benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama lagi. Bagaimana kalau dia mendengar setiap detak jantung ku? oh tidak... Apa yang harus aku lakukan? ini membuat ku malu" ucapnya dalam hati.


Sambil melihat samping kira kanan, Marisa tak henti-hentinya melihat ke ambang pintu untuk memastikan tidak seorang pun masuk kedalam disaat keadaan seperti ini. Dan setelah hampir 20 menit lamanya, Marisa melihat wajah Lucas benar-benar tertidur pulas. "Dia benar-benar tidur, apa dia tidak keberatan memangku tubuhku seberat ini?" Marisa mencoba menyentuh kepala Lucas, dengan lembut ia mengusapnya dengan sayang. "Tidurlah kalau kamu benar-benar mengantuk, aku akan membiarkan kamu tidur sampai kamu membuka kedua mata mu sendiri".


.


"Flora" panggil si manager.


"Ini, coba kamu periksa dokumen ini sesuai dengan yang di sini, kalau masih ada yang salah, tolong kamu perbaiki untuk saya. Saya mau keluar sebentar, bisa kamu lakukan ini Flora?".


"Bisa bu, saya akan memperbaikinya".


"Mmmmm, terima kasih".


"Sama-sama bu" angguk Flora langsung mengerjakan sesuai dengan permintaan si manager. Namun begitu si manager pergi dari hadapannya, Flora mengusap wajahnya dengan kesal. "Aku harus bisa, jangan karna masalah ini aku dipecat dari perusahaan. Pulang dari kantor aku akan segera kerumah sakit untuk memastikan aku benar-benar hamil atau tidak" gumam Marisa.


DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTTTT...


"Siapa?" tanya Flora mengangkat ponselnya.


"Aku, Reza Ra" jawabnya.


"Reza?" kaget Flora menghentikan komputernya. "A-ada apa kamu menelpon ku Za? aku sedang sibuk dengan pekerjaan ku, tolong jangan ganggu aku di jam pekerjaan..


"Tunggu" tahan Reza sebelum Flora mematikan ponselnya. "Ra, aku ingin bicara sebentar, bisakah kamu keluar atau kalau tidak bisa aku akan menunggu mu di jam istirahat. Aku mohon, tolong temui aku sebentar saja Ra, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu".

__ADS_1


"Baiklah, tapi bukan sekarang, nanti jam istirahat".


"Baiklah, aku akan menunggu mu sampai jam istirahat".


"Mmmmm" Flora mematikan ponselnya, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


.


Kini jam telah menunjukkan pukul 9 pagi, Marisa mulai merasa pegal menahan tubuh Lucas yang sampai sekarang belum juga membuka mata. Lalu Marisa berusaha untuk membangunkannya, "Tuan, ini sudah 1 jam lamanya tuan tertidur, bisakah tuan sekarang membuka mata?" tetapi Lucas bukannya terbangun, ia masih tetap terlelap dalam tidurnya hingga Marisa mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok... Tok...


"Astaga.. Tuan ayo bangun" kaget Marisa tampa menyadari ia memukul punggung Lucas membuatnya terbangun. "Maaf, seseorang mengetuk pintu ruangan tuan" ucapnya memberitahu Lucas.


Tok... Tok...


"Hhhmmsss.. Masuk" jawab Lucas mengusap wajahnya.


Ceklek!


"Maaf tua.." gantung sekretaris Lucas begitu Dilan menerobos masuk kedalam ruangannya. "Kalau gitu saya permisi dulu tuan".


Kemudian Dilan melihat Marisa berdiri disamping Lucas dengan kepala menunduk, "Dia.. bukankah dia sekretaris mu yang kemarin Lucas? kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi? apa kamu sudah memecatnya?".


"Kalau aku memecatnya, tidak mungkin dia berada di disini" jawab Lucas melihatnya. "Sedang apa kamu kemari?".


Dilan mendudukan diri diatas sofa, lalu ia melihat seisi ruangan Lucas yang tertata sangat rapi sesuai dengan kriteria Lucas. "Tidak, aku kemari hanya ingin melihat-lihat seisi ruangan ku yang sebentar lagi akan menjadi milik ku" Dilan tersenyum. "Kamu, siapa nama mu?".


"Marisa tuan".


"Marisa.. Coba kamu angkat wajah mu. Mmmm, lumayan cantik juga. Kamu mau jadi sekretaris baru ku? aku akan mengaji mu lebih besar dari gaji yang Lucas berikan".


Lucas menyeringai, "Kamu keluar" ucapnya kepada Marisa. Begitu Marisa keluar, Lucas berjalan mendekatinya. "Kamu sangat menginginkan posisi ini?".


"Tentu saja".


"Baiklah, aku akan memberikan posisi ini kepada mu. Tapi ingat, suatu saat nanti aku akan merebutnya dari mu".


"Hahahaha.. Aku sudah tau itu Lucas, kamu tidak akan tinggal diam membiarkan aku menjadi CEO di perusahaan ini. Dan kalau kamu ingin merebutnya lagi dari ku, berjuanglah mulai dari sekarang, begitu kamu mengundurkan diri, posisi direktur masih ada ditangan mu hahahhaha" tawa Dilan membuat Lucas menahan emosi. "Ah satu lagi, kamu sudah punya sekretaris baru, aku mau wanita tadi menjadi sekretaris ku. Ok".

__ADS_1


__ADS_2