
Begitu mobil Jose tiba di depan rumah Lucas, Rehan yang sedang berada di taman depan segera menghampirinya, "Selamat pagi tuan, tapi tuan Lucas sedang tidak dirumah" ucap Rehan kepadanya.
"Tidak apa-apa" balas Jose membantu Flora membawa barang bawaannya. "Ayo masuk".
"Mmmmm" angguk Flora mengikuti langkah kakinya Jose masuk kedalam rumah tersebut, dan tidak lama kemudian mobil Lucas pun tiba disana membuat Rehan segera memberitahunya kalau Jose dan seorang wanita sedang menunggunya di dalam.
"Rehan, tolong kamu buatkan teh ya" ucap Marisa.
"Iya nona".
Lalu Marisa melihat sang sahabat berada di ruang tamu, ia berjalan mendekatinya. "Ra" panggilnya.
"Iya Risa?" balas Flora berdiri menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja?".
"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja Risa" jawab Flora membuat ia tertawa. "Kenapa?".
Karna nasib kita berdua tidak beda jauh, bagaimana kalau kita menikmati semuanya tampa ada beban? ayo kita kembali seperti semula. Kamu tau sendiri pria yang kita memiliki banyak uang. Bagaimana Ra?".
Flora tersenyum, "Setuju, ayo kita kembali seperti semula".
"Ok" senang Marisa memeluknya membuat kedua orang itu melihat mereka dengan kening mengerut.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Jose penasaran.
"Tidak, ayo duduk Ra".
"Mmmmm".
"Oh iya Jose, terima kasih sudah mau menitipkan Flora tinggal bersama dengan kami".
"Tapi maaf yah aku jadi sedikit merepotkan kalian berdua. Begitu semua urusan ku selesai, aku berjanji akan membawanya pergi dari sini".
"Sampai lahiran pun aku tidak akan keberatan, bukankah begitu tuan Lucas?".
"Mmmmmm" angguk Lucas.
"Mmmm, kamu dengar itu Jose? dia juga tidak keberatan kalau Flora tinggal disini sampai bayi kalian lahir".
"Aku sangat bersyukur. Kalau gitu, karna waktu ku tidak banyak lagi, aku harus pergi. Ra, aku pergi dulu, kalau kamu ingin sesuatu jangan segan-segan memberitahu ku mmmm".
"Iya, aku akan memberitahu mu. Pergilah, kamu hati-hati dijalan".
"Mmmmm" begitu juga dengan Lucas, ia pergi meninggalkan kedua orang itu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Lalu Marisa membawa Flora kedalam kamar yang akan dia tinggali.
"Ini kamar kamu Ra, bagaimana, kamu menyukainya?".
__ADS_1
Dengan senyum mengembang di wajah Flora ia meletakkan barang bawaannya diatas sofa sembari berjalan mendekati tempat tidur, "Wah, ini sangat mewah sekali Sa, aku sangat menyukainya".
"Aku senang mendengar mu merasa nyaman Ra" Marisa ikutan mendudukan diri disampingnya. "Oh iya Ra, aku berencana mau kerumah, kamu mau ikut enggak? aku rasa kamu harus memberitahu mama supaya mama bisa membantu mu suatu saat nanti".
"Iya, aku juga sudah berencana memberitahu om dan tante tentang kehamilan ku. Ya sudah bersiaplah, aku juga mau mandi dulu".
"Mmmm, aku akan menunggu mu nanti".
"Iya".
Marisa keluar dari dalam kamar, ia memasuki kamarnya yang berada di lantai atas. Tetapi Lucas yang belum berangkat kerja membuat ia bertanya kepada sang suami, "Kenapa belum berangkat? ini sudah jam..
Cup..!
"Aku lupa mencium mu" senyum Lucas menarik tubuh Marisa kedalam dekapannya. "Kamu jangan pergi kemana-mana tampa izin ku, saat ini Flora sedang pencarian keluarga Jose".
"Hahhh?" kaget Marisa melepaskan pelukannya. "Maksud kamu? apa Flora benar-benar dalam bahaya makanya dia tinggal disini?".
"Iya, tadi aku sudah memberitahu mu. Karna itu jangan membawanya pergi terlalu jauh".
"Yah.. Gimana dong? kami berencana mau kerumah".
"Pergilah kalau mau kerumah".
"Mmmmm, ayo aku akan mengantar kalian".
"Kamu enggak ke kantor? aku bisa bawa mobil sendiri kok. Jangan khawatir, aku akan membawanya dengan pelan".
"Kamu yakin?".
"Mmmmm".
"Ya sudah, kalau gitu aku berangkat dulu sayang" Lucas mencium keningnya kembali, setelah itu Lucas pergi meninggalkannya. Lalu Marisa memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sedangkan Flora yang berada di depan cermin, ia sedang merias wajahnya senatural mungkin sampai wajah pucatnya tertutupi.
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..
"Iya Reza?".
"Kamu dimana? hari ini kamu tidak bekerja Ra? aku sedang berada di ruangan mu".
"Aku sedang cuti Za. Sepertinya aku tidak akan kembali lagi ke perusahaan itu kalau mereka tidak menerima masa cuti ku".
"Jadi kamu dimana sekarang?".
"Dan aku juga tidak tinggal di apertemen ku lagi".
__ADS_1
"Maksud kamu Ra? jadi kamu tinggal dimana sekarang? apa kamu baik-baik saja? kenapa kamu tidak memberitahu ku? ayo katakan dimana kamu sekarang, aku akan kesana".
"Tidak usah Za, aku berada di tempat yang aman kok".
"Sebelum aku melihatnya aku tidak akan percaya".
"Hey.. Haruskah aku selalu melapor kepada mu? intinya sekarang aku berada di tempat yang jauh lebih baik dari pada tempat lama ku Reza".
Reza menghela nafas, "Apa Jose mengetahuinya?".
"Mmmm, dia tau".
"Kalau gitu untuk memastikan kamu berada di tempat yang aman, kirim gambar kamu sekarang juga".
"Baiklah aku akan mengirimnya" Flora pun langsung menyudahi panggilan mereka, kemudian mengirim gambarnya kepada Reza. "Sekarang kamu sudah percaya kan kalau aku baik-baik saja?" lalu Flora mendengar suara Marisa memanggil namanya. Ia pun segera keluar dari dalam kamar, "Risa, Reza tau enggak rumah tuan Lucas?".
"Kenapa Ra?".
"Aku memberitahu Reza kalau aku sedang cuti, lalu aku memberitahunya kalau aku tidak tinggal di apertemen lama ku lagi".
"Oh, sepertinya dia tidak tau Ra. Apa kamu memberitahunya kalau kamu tinggal dirumah ini?".
"Aku tidak memberitahunya, tapi mungkin saja nanti dia akan mencaritahu rumah ini Sa".
"Ya sudah kalau pun nantinya dia akan mencari tahu rumah ini. Ayo, sepertinya mama sedang menyediakan sesuatu di rumah untuk di makan".
"Emang kamu enggak merasa mual lagi Sa?".
"Tidak terlalu lagi Ra, kemarin dokter memberiku obat mual".
"Oh, bagus dong. Aku juga sangat merindukan masakan tante Saphira. Ayo".
"Ayo".
.
Raniya membuka mata, dengan tubuh lemas ia menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang menuju kamar mandi, lalu ia melihat pantulan wajahnya di depan cermin dengan mata membengkak. "Kemana Raniya yang selama ini aku kenal? sejak kapan Raniya selemah ini? hhmmsss" ia membasuh wajahnya. Setelah itu ia keluar berjalan mendekati jendela menatap keluar.
DDDRRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...
Suara panggilan masuk kedalam ponselnya, ia melirik, panggilan tersebut berasal dari Jose, namun Raniya yang tidak ingin mendengar suara Jose membuat ia mengabaikan panggilannya. Namun Jose yang terus-menerus memanggilnya, pada akhirnya ia pun mengalam, "Ada apa Jose? aku sedang tidak ingin di ganggu" kesal Raniya dengan ketus.
"Kamu sedang dimana? ayo kita bicara sebentar".
"Aku sedang libur, tidak ada hal penting yang ingin aku bicara saat ini dengan mu".
"Ini mengenai pernikahan kita, aku tunggu kamu di cafe xx" begitu Jose mematikan ponselnya, Raniya marah melemparkan ponselnya di atas ranjang. "Aarrkkhhh.. Aku membenci pernikahan. Jose, ini semua karna kamu, semuanya karna kamu aarrkkhh".
__ADS_1