
Hingga kini Lucas dan Marisa telah tiba dirumah. Dengan tubuh lelah Marisa mendudukan diri diatas sofa melihat Lucas menerima sebuah telpon. Tidak menunggu beberapa kemudian setelah Lucas selesai mengangkat ponselnya, ia langsung menghampiri Marisa memberitahu kalau Elisabet saat ini sedang kritis dirumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Lucas berlari menghampiri dokter yang merawat Elisabet, sedangkan Marisa yang kini berada di depan ruangan isolasi Elisabet terlihat sedih sambil menahan air mata yang tidak bisa ia tahan lagi. "Tuhan, kalau memang nyonya Elisabet harus pergi, biarkan dia pergi dengan damai bersama mu. Jangan buat dia kesakitan seperti ini Tuhan, hamba mohon Tuhan, tolong jangan buat nyonya Elisabet kesakitan seperti ini hiks.. hiks.." tangis Marisa menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan di depan pintu ruangan Elisabet tampa ia sadari Raniya yang kini berada di belakangnya.
"Percuma kamu menangis kalau hanya membuat nyonya Elisabet sedih" Marisa pun segera menyeka air matanya melihat kebelakang dimana Raniya sedang berdiri tepat dihadapannya. "Jangan menangis disini, meskipun nyonya Elisabet sedang keadaan koma, dia bisa mendengar suara mu. Dimana Lucas?".
"Diruangan dokter".
"Mmmmm, kamu mau minum teh bersama ku sambil menunggu Lucas?".
"Tidak usah dok. Terimakasih".
"Apa kamu menolak tawaran ku?" Marisa terdiam, ia juga merasa tidak enak menolak tawaran Raniya, tetapi ia yang tidak ingin meminum teh tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya. Kemudian ia melihat wajah Raniya yang tidak suka di tolak membuat ia terpaksa harus mengiyakan ajakan Raniya. "Apa kamu masih menolaknya?".
"Baiklah".
"Gitu dong" senyum Raniya berjalan duluan membawa Marisa kedalam ruangannya. Lalu menyuruh Marisa duduk diatas sofa sambil membuatkan dua gelas teh untuk mereka berdua, "Aku melihat kau dan Lucas semakin dekat" ujar Raniya memberikan gelas tehnya ditangan Marisa.
Dengan senyum kaku Marisa menerimanya sambil berkata, "Hanya sebatas bawahan dan atasan. Doker tau sendiri kalau selama ini saya sudah merawat nyonya Elisabet. Tentu saja saya mengkhawatirkannya".
"Benarkah?".
"Mmmmm, lalu kenapa dokter bertanya itu? apa dokter menyukai tuan Lucas?" tanya Marisa memberanikan diri melihat langsung perubahan di wajah Raniya. "Benar, sepertinya dia menyukai Lucas. Ck, menyebalkan sekali, sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan mu memilikinya. Karna Lucas hanya milik seorang Marisa" ucap Marisa dalam hati masih melihat Raniya yang terdiam sambil tersenyum tipis.
"Lalu bagaimana dengan mu? apa kamu juga menyukai Lucas?".
"Saya memang menyukainya" jawab Marisa dengan mantap membuat Raniya mengernyitkan dahi dengan tatapan kaget. "Kenapa? saya rasa itu tidak akan menjadi masalah kalau soal menyukai atasan kita sendiri".
"Haah.. Sebagai bawahan kamu itu harusnya tau diri siapa dirimu yang sebenarnya. Apa? menyukai Lucas? hahahaha.. Sepertinya kamu terlalu percaya diri" tawa Raniya mengejeknya. "Marisa, sebaiknya kamu hentikan saja halu mu itu karna sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mendapatkannya. Dan kamu tau sendiri kalau kamu dan Lucas itu bagaikan langit dan bumi. Jadi kamu itu harus sadar".
"Lalu bagaimana dengan dokter? apa dokter juga menyukai tuan Lucas? Kenapa dokter tidak menjawab pertanyaan saya dari tadi?".
__ADS_1
"Itu tidak perlu kamu tau. Sekarang kamu boleh pergi" jawab Raniya mengusirnya. Namun Marisa yang belum bergerak dari atas kursinya, membuat Raniya mengulangi perkataannya. "Kamu belum pergi?".
"Baiklah, saya akan pergi. Terima kasih untuk tehnya" perginya dari dalam sana menghampiri Lucas yang kini berada di dalam ruang isolasi Elisabet.
Tok.. Tok..
"Bisa aku masuk?".
"Mmmmm".
Ceklek!
"Apa kata dokter? apa nyonya Elisabet akan baik-baik saja?".
Lucas menghela nafas, "Kata dokter kangkernya sudah menyebar sampai kemana-mana".
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?".
"Aku tidak tau. Sebaiknya kita pulang saja, hari ini aku sangat lelah" jawab Lucas bangkit berdiri dari atas kursinya. Kemudian mengingatkan bodyguard Elisabet agar selalu stay menjaga Elisabet selama 24 jam dirumah sakit tersebut. Setelah itu Lucas dan Marisa pergi dari sana.
"Jose!" panggilnya.
"Mmmmm, ada apa? kamu menginginkan sesuatu?" tanya Jose yang sedang bermain ponsel diatas sofanya.
"Please, pulanglah. Bagaimana kalau nanti keluarga mu mencari mu? mereka pasti sedang mengkhawatirkan mu. Ini sudah hampir jam 12 malam".
"Mereka tidak akan mencari ku hooaam.. Aku sudah mulai mengantuk, sebaiknya aku tidur saja. Besok aku ada meeting jam 9 pagi, apa kamu belum mengantuk?".
"Aku tidak akan bisa tidur selagi kamu masih ada di rumah ini. Jadi sebaiknya kamu pulang saja".
"Aku tidak akan pulang Flora ,tubuh ku sangat lelah sekali. Kemarilah, aku ingin memeluk tubuh mu. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam, percaya kepada ku".
__ADS_1
"Aku tidak mau sebelum kamu pulang".
"Aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku tidak akan pulang".
"Kalau gitu aku akan tidur di sofa ini. Tidurlah sampai kamu puas" kesal Flora membaringkan tubuhnya diatas sofa. Tetapi saat ia membaringkan tubuhnya, ia melirik kearah Jose yang sedang tersenyum kepadanya. "Apa yang sedang kamu lihat? aku tidak akan pernah mau tidur seranjang dengan mu. Kalau kamu merasa kasihan, sebaiknya kamu pulang saja".
"Aahh.. Tempat tidur ini nyaman sekali" ujar Jose mengabaikan apa yang baru saja Flora ucapkan hingga kini Flora terlihat sangat kesal sekali hendak ingin melemparnya keluar. "Kalau kamu merasa kurang nyaman tidur di sofa, datanglah kemari, tidak usah...
"Kamu mau bilang apa?" potong Flora menatapnya. Kemudian Jose tertawa mendudukan dirinya, "Aku tidak menyukai tawa itu, hentikan".
"Kamu ada-ada saja" Jose menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang Flora berjalan mendekatinya.
"Ada apa? kenapa kamu mendekati ku?" tanya Flora sedikit khawatir.
"Siapa yang mendekati mu. Aku hanya ingin ke kamar mandi".
"Kamar mandi ada disana. Tapi kamu melangkah mendeka.. Ah" kaget Flora saat Jose menimpah tubuhnya terjatuh di atas sofa. "A-apa..
Cup...!
"Kamu?".
Cup...!
"Apa yang sedang kamu lakukan Jose?".
"Mencium mu. Kamu tidak tau kalau aku sedang mencium mu?" ledek Jose tersenyum menggodanya sambil menyentuh lehernya dengan lembut. "Flora. Tau kah kamu? kalau setiap malam aku hampir selalu memikirkan mu?".
"Aku tidak tau itu, karna aku tidak pernah memikirkan mu".
"Benarkah kamu tidak pernah memikirkan ku sama sekali?".
__ADS_1
"Mmmmm, aku tidak pernah memikirkan mu".
"Kalau gitu lihat aku. Dari tadi kamu selalu memalingkan wajah mu dari ku. Sekarang katakan apa benar kamu tidak pernah memikirkan ku?".