
Malam pun tiba, Raniya telah berada di ruangan rias pengantin dengan busana gaun pengantin yang sangat mewah nan elegan membuat ia terlihat seperti putri ratu dalam dunia dongeng. "Wah nona, anda cantik sekali" puji pelayannya melihat sang majikan.
"Hhmmsss.. Terima kasih. Bisakah kamu panggilkan Jose kemari?".
"Baik nona".
"Jangan lama".
"Iya nona" angguknya pergi dari sana mencari keberadaan Jose. Begitu ia melihatnya, ia pun berjalan mendekati Jose yang sedang berbicara dengan para rekan bisnisnya dan juga para sahabat. "Tuan permisi, nona Raniya memanggil tuan ke ruang rias pengantin".
"Ada apa dia memanggil saya kesana?".
"Saya kurang tau tuan, saya hanya menyampaikan pesan yang nona Raniya ucapkan".
"Mmmmm, kamu boleh pergi. Aku kesana sebentar" ucapkan kepada mereka menuju ruangan Raniya berada saat ini. Lalu ia membuka pintu, dengan wajah datar Jose berjalan mendekatinya dengan kedua tangan berada di kantong celana, "Ada apa Raniya?".a
Raniya pun langsung tersenyum kesal melihat calon sang suami yang berada di hadapan ya itu dengan senyum sinis, "Setidaknya kamu memujiku terlebih dahulu Jose baru kamu mengajukan pertanyaan karna aku terlihat begitu cantik malam ini".
"Kamu sangat cantik sekali Raniya sampai aku terpesona dengan kecantikan mu. Apa kamu puas?".
Raniya menyeringai kembali mendekatinya, "Sesuai dengan perjanjian kita, pernikahan ini hanyalah sandiwara antara aku dan kamu. Kalau sampai keluarga kita tau, aku tidak mau tanggung jawab karna kamu yang mengusulkan ini semua".
"Jangan khawatir soal itu. Apa kamu cuman ini yang ingin kamu bicarakan dengan ku sampai kamu menyuruh ku datang kemari?".
"Tidak" jawab Raniya semakin mendekatkan dirinya kepada Jose sehingga jarak diantara keduanya terbilang sangat dekati sekali sampai Jose mampu merasakan setiap hembusan nafas Raniya. "Kamu harus mencium ku disini, ini adalah pelatihan dia altar nanti. Ayo lakukan sekarang".
Jose pun tertawa kecil, "Yah, untuk mencium mu aku tidak perlu latihan. Kamu pikir aku tidak mampu melakukan di depan umum? atau sebelumnya kamu belum pernah kiss?" tanyanya mengejek Raniya.
"Apa kamu sudah gila?" seketika Raniya ingin mendorong tubuh Jose. "Sudah, lupakan itu. Sekarang kamu boleh pergi" namun bukannya pergi Jose malah menarik pinggang Raniya saat ia hendak meninggalkannya. "Yah.. Apa yang sedang kamu lakukan? lepaskan!".
Jose tersenyum kembali, "Kenapa? apa seketika kamu terpesona kepada ku hhhmmm?".
"Yah.. Hentikan halu mu. Sekarang lepaskan aku kalau tidak aku aka..
"Akan apa hhhmmm?" Jose mendekatkan wajahnya di hadapan Raniya seperti hendak menciumnya. "Ingat Raniya. Jangan pernah mengharapkan lebih dari ku, wanita yang aku cintai sedang menunggu ku disana" lalu Jose melepaskan tubuhnya, setelan itu ia pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu Jose!" dengan sangat marah Raniya mengepal kedua tangannya menatap kearah cermin sembari tersenyum mematikan. "Haahhh.. Kamu pikir juga aku akan memberikan hati ini untuk mu? tidak usah berharap lebih dari ku juga Jose, lihat saja nanti apa yang aku lakukan".
**Tok... Tok..
Ceklek**!!
"Ekh.. Mama" Raniya tersenyum melihat sang ibu memasuki ruangan tersebut. "Apa acaranya akan dimulai ma?".
"Iya sayang, para tamu undangan sudah berdatangan. Ayo".
"Tunggu ma".
"Iya, kenapa sayang? kamu tampak gelisah sekali mama lihat".
"Ma, apa Raniya sudah terlihat cantik?".
Sang ibu tertawa, "Tentu saja putri mama sudah terlihat cantik sekali. Apa kamu merasa kurang percaya diri?".
"Iya ma, Raniya malu kalau sampai rekan kerja Raniya dan juga teman-teman Raniya melihat Raniya tidak cantik, kan Raniya malu ma, karna itu Raniya bertanya kepada mama".
"Jangan khawatir sayang, putri mama benar-benar telihat sangat cantik sekali. Ayo, calon suami mu juga sudah menunggu disana".
"Iya sayang. Itu papa kamu sudah datang. Pa!" panggilnya.
"Kamu sudah siap Raniya?" tanya sang ayah melihat sang putri begitu sangat cantik. "Ayo, mereka semua sudah menunggu mu".
"Iya pa" angguk Raniya berjalan ditengah-tengah kedua orang tuannya membuat semua para tamu undangan memberi tepuk tangan yang sangat meriah kepadanya. Lalu ia tersenyum bahagia menatap kearah para tamu undangan memberi salam hormat kepada mereka, "Pa ma.. Raniya tidak menyangka kalau Raniya menikah".
"Kamu bahagia sayang?" tanya sang ibu.
"Mmmmm, Raniya sangat bahagia ma" jawabnya mengangguk meskipun itu hanya kebohongan semata. Kemudian Jose mengulurkan tangan kanannya, dengan senyum mengambang di wajah Raniya ia pun langsung menerimanya. Lalu Jose membawanya di atas altar dimana sang pendeta menunggu disana, "Jose, sampai sekarang aku belum percaya kalau kita berdua benar-benar menikah".
"Aku juga merasa hal yang sama dengan mu" Jose tersenyum.
Sedangkan Flora yang berada di dalam kamar ia tak henti-hentinya menangis senggugukan di samping tempat tidur, "Ya Tuhan, kenapa hari ini terasa sesak sekali? apa yang terjadi dengan ku? hiks.. hiks..".
Namun berbeda halnya dengan Lucas dan Marisa yang tengah berada di atas ranjang saat ini, ia tak henti-hentinya menciumi wajah sang istri yang begitu sang mengemas bagi dirinya. "Oh iya sayang, besok aku mau kerumah dengan Flora. Tadi mama memberitahu ku kalau kak Zara telah hamil, jadi mama mau buat acara syukuran gitu".
__ADS_1
"Mmmmm, besok aku akan usaha sepulang dari kantor akan kesana".
"Benarkah?".
"Iya" dengan senyum mengembang di wajah Marisa ia pun memeluknya sang suami dengan sayang. "Dan mulai besok juga kamu tidak boleh lagi menyetir sendiri. Aku akan menyuruh Rehan menjadi supir pribadi mu".
"Loh kenapa? aku masih bisa kok membawa mobil sendiri meskipun hamil ku sudah mulai terasa membesar".
"Tetap tidak boleh sayang, aku tidak mau terjadi apa-apa kepada mu dan bayi kita. Sekarang tidurlah, ini sudah jam 10 malam".
"Akh, aku belum bisa tidur".
Lucas tersenyum, "Kalau gitu...
"Hhooaaamm" uap Marisa menutup mulutnya dengan pura-pura mengantuk. "Sepetinya aku harus tidur, besok aku masih mempersiapkan mu berangkat ke kantor. Selamat malam suami ku uummcchh".
"Ya sudah tidurlah" ciumnya di kening Marisa mendengar ponselnya berdering. Lalu ia menyambar ponselnya melihat Jose tengah memanggilnya. "Mmmmm?" Lucas menuruni tempat tidur hendak keluar dari dalam kamar kalau saja Marisa tidak menahan tangannya.
"Kamu mau kemana?".
"Tidurlah, aku tidak akan kemana-mana".
"Siapa?".
"Hhhmmm?".
"Itu siapa yang baru saja menelpon mu?".
"Rekan bisnis ku, aku keluar sebentar" jawab Lucas segera keluar. "Ada apa Jose? apa semua berjalan dengan baik? maaf aku tidak bisa datang kesana".
"Tidak apa-apa Lucas, semua berjalan dengan baik. Apa Flora baik-baik saja?".
"Dia baik-baik saja".
"Syukurlah, tiba-tiba aku sangat merindukan dia".
"Untuk saat ini jangan terlalu memikirkan dia dulu. Sebaiknya kamu selesai dulu masalah mu, setelah itu baru kamu ajak dia bicara".
__ADS_1
"Mmmmm, kalau gitu aku tutup dulu".
"Mmmmm".