Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 85


__ADS_3

Sedangkan di kantor begitu Lucas memasuki ruangannya, ia di kejutkan oleh kehadiran Dilan yang kini berada diatas sofa dengan segelas kopi ditangan kananya. "Kamu!" Dilan pun langsung tersenyum melihat wajah terkejut Lucas.


"Kamu sudah datang? duduklah" ucapnya. Namun Lucas yang belum percaya, ia masih berdiri ditempat semula. "Kenapa? apa kamu seterkejut itu melihat ku bisa berada disini hahahha. Lucas, kamu sudah lupa siapa aku? mencari keberadaan mu ada hal yang paling mudah untuk aku lakukan. Tapi bagaimana bisa kamu menjadi seorang pimpinan di perusahaan sebesar ini? bahkan saingan terbesar Hanju adalah Asian group. Dan nyatanya adalah kamu".


Lucas pun menyeringai menatapnya dengan tatapan sinis, "Kamu tau siapa pemilik perusahaan ini Dilan? yaitu aku Lucas Davison. Kenapa? kamu terkejut? hahahaha.. Tidak usah seterkejut itu, kita lihat saja nanti, aku akan melakukan segala cara untuk menendang mu dari Hanju. Karna mau sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan orang seperti mu berkuasa disana. Mulai dari sekarang berhati-hatilah, jangan bilang aku tidak tau apa yang kamu lakukan selama ini".


"Sial!" umpat Dilan mengepal tangan. "Baiklah, kita lihat saja nanti. Tapi jangan salah, aku Dilan tidak akan pernah takut dengan mu" lalu Ia pergi meninggalkan ruangan tersebut. Di luar pintu ruangan Lucas, Dilan benar-benar terlihat sangat marah mengingat ancaman yang Lucas lontarkan. Karna mau sampai kapan pun, ia tidak boleh ketahuan oleh siapa pun, kalau sampai itu terjadi, ia tidak akan segan-segan membunuh orang itu.


Lucas mendudukan diri diatas kursi kebesarannya, sambil menyebut-nyebut nama Dilan, Lucas memutar-mutar kursi membayangkan dimana Dilan menyembunyikan uang yang selama ini ia korupsikan. "Dilan, aku yakin kamu bekerja sama dengan orang disitu juga, tapi siapa orang itu. Mau sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan kamu menghancurkan perusahaan yang selama ini keluarga Davison bangun" Lucas menyambar ponselnya lalu ia menghubungi nomor Reza hingga kini mereka berdua berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari kantornya.


"Ada apa kamu memanggil ku kemari?" tanya Reza mendudukan diri dihadapannya.


"Mau sampai kapan kamu akan bertahan di Hanju?".


"Ada apa?".


"Aku butuh bantuan mu".


Reza mengernyitkan dahi, "Apa itu? apa ini menyangkut Dilan?".


"Mmmmm, kamu tau siapa saja orang yang sering mengunjungi ruangannya?" Reza terdiam, ia mencoba mengingat-ingat siapa saja yang paling sering memasuki ruangan Dilan. "Bagaimana? apa kamu tidak tau?".


"Yang paling sering akhir-akhir ini direktur keuangannya pak Rudy".


"Rudy?".


"Iya".


"Hhhmmsss.. Rudy. Ok, bisa aku minta tolong kepada mu? untuk saat ini orang yang bisa aku percayai disana hanyalah kamu. Aku mau kamu melakukan sesuatu kepada ku, bisakah kamu melakukannya?".


"Apa itu, sebisa mungkin aku akan membantu mu".


"Kamu selidiki Rudy. Aku penasaran apa yang selalu di lakukan kedua orang itu. Lalu bagaimana dengan Agung? apa dia juga sering datang kesana?".


"Seperti yang kamu bilang, mereka sering pergi bersama yang tidak aku ketahui ingin pergi kemana. Terus kamu dimana sekarang ini? kamu tidak memberitahu ku".

__ADS_1


"Aku berada di Asian group. Terima kasih untuk hari ini, aku harus pergi, sebentar lagi aku ada meeting".


"Mmmmm" angguk Reza. Begitu Lucas pergi meninggalkannya, ia pun segera kembali ke kantor mengingat pekerjaannya yang juga menumpuk diatas meja. Tetapi saat ia keluar dari dalam restoran tersebut, ia malah bertemu dengan Flora, "Kenapa kamu berada disini?" tanyanya.


"Bagaimana dengan mu? ini cafe langganan aku dengan Marisa".


"Kamu mau kemana?".


"Aku? ah aku mau kerumah sakit".


"Siapa yang sakit?".


"Ris..." gantung Flora mengingat Reza yang belum tau kalau Marisa kini sudah menjadi istri Lucas. "Tidak, lupakan saja. Pergilah, sepertinya pekerjaan mu sudah menumpuk diatas meja".


"Aku tanya siapa yang sakit Flora? kamu?".


"Mmmmm".


"Kalau gitu kita kerumah sak...


"Lebay gimana Flora? aku itu mengkhawatirkan kamu, bukan lebay. Aku tidak mau kalau sampai sesuatu terjadi kepada mu, aku bisa..


"Bisa apa? jangan khawatir, aku baik-baik saja. Nah, karna ketepatan kamu berada disini, aku mau kamu membelikan kue itu untuk ku. Bisakah kamu lakukan itu?".


"Aku akan membelinya untuk mu. Sekarang apa tujuan kamu kerumah sakit? siapa yang sakit Ra. Sebelum kamu menjawab yang sebenarnya aku tidak akan melepaskan mu".


"Haahh.. Kamu benar-benar yah Reza. Aku bingung harus mengatakan apa kepada mu, kalau aku mengatakan yang sebenarnya aku yakin kamu pasti marah besar. Jadi sebaiknya aku tidak usah memberitahu mu, ok. Sekarang belikan aku kue itu".


"Apa kamu akan seperti ini terus Flora?".


Flora pun langsung terdiam, "Ck, maafkan aku Za. Tapi ada baiknya.. Ah, kamu membuat ku sangat jengkel Za. Aku kerumah sakit mau cek kandungan, tadi aku sudah izin kalau hari ini aku tidak bisa bekerja".


"Cek kandungan?".


"Mmmmm, apa kamu masih belum percaya? lihat perut ini. Perut ku sudah membuncit dan rekan-rekan kerja ku sudah sering mengatai ku kalau aku sedang hamil".

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menjawab mereka kalau kamu sudah menikah".


"Aku mau jawab apa kalau mereka bertanya siapa suami ku? dan mereka semua juga tau kalau aku masih gadis sewaktu bergabung di Hanju".


"Katakan saja kalau aku adalah suami mu".


"Bukannya membantu kamu malah mempersulit hidup ku. Lagian aku sudah berencana cuti untuk beberapa bulan ini, jadi kamu tidak usah khawatir".


"Apa Jose akan menanggung biaya hidup mu?".


"Mmmmm, dia akan bertanggung jawab".


"Lalu, apa kamu tidak berencana menikah dengannya?".


"Aku sudak mengatakan kepada mu Reza. Kalau sampai aku berniat menikah dengannya, itu sama saja aku bunuh diri. Udah ah, aku tidak punya banyak waktu berlama-lama disini. Kamu jadi enggak membeli kue itu untuk ku?".


"Kalau gitu aku akan menemani mu kerumah sakit".


"Ekh jangan dong Reza. Kamu tidak usah repot-repot mengantar ku kerumah sakit, aku naik taksi saja, aku tidak mau kamu membuang-buang waktu mu yang sangat berharga".


"Jangan membuat ku merasa curiga Ra. Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?".


"Hahahah.. Kamu ada-ada ajah deh Za. Untuk apa juga aku harus menyembunyikan sesuatu dari mu? enggak usah mengada-ada deh. Ayo buruan beli, aku benar-benar tidak punya banyak waktu berlama-lama disini, dokter ku bisa menunggu ku lama".


"Kalau kamu mau kerumah sakit. Kue ini untuk siapa?".


"Hhmmm?".


"Untuk siapa?".


"Ais, yah untuk dokter disana loh Za. Ikh kamu apa-apaan sih Za punya banyak pertanyaan seperti itu? ya sudah kalau kamu enggak mau, aku juga bisa membelinya sendiri. Minggir" tetapi Reza langsung menahannya. "Kenapa?" kesalnya.


"Biar aku saja".


"Gitu kek dari tadi" senyum Flora tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2