
Begitu dokter yang berada di rumah sakit menangani Marisa, ia mendengar suara ponsel Marisa berdering menandakan sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya. "Ah, ponselnya berdering. Haruskah aku menjawabnya dan memberitahu kalau ia berada dirumah sakit" tidak ingin berlama-lama ia pun segera mengeluarkan ponsel Marisa dalam tas tersebut. "Hallo!".
"Ini siapa?" Lucas yang bisa mengenali suara Marisa bertanya siapa orang yang baru saja mengangkat ponsel sang istri.
"Maaf. Apa ini suaminya? tadi saya bertemu dengannya istri anda di tempat saya bekerja dan kami sedang berada di rumah saki..
"Apa?" kaget Lucas meninggikan suaranya. "Kenapa istri saya bisa berada di rumah sakit?".
"Saya juga kurang tau, tadi istri anda tiba-tiba merasa sakit di bagian..
"Sekarang beritahu dimana istri saya dirawat, saya akan kesana" potong Lucas yang tidak ingin berlama-lama lagi.
"Dirumah sakit xx" begitu ia memberitahunya, Lucas pun langsung mematikan ponselnya. "Tapi tunggu dulu, kenapa aku seperti mengenal suara itu yah? bisa dibilang suaranya hampir sama persis dengan suara tuan Lucas. Tapi apa mungkin?" hingga kini Lucas telah tiba dirumah sakit, ia berlari menuju tempat Marisa sedang ditangani oleh sang dokter yang sampai sekarang belum keluar juga. "Ooo, tuan Lucas?".
"Kamu!" kaget Lucas juga. "Sedang apa kamu disini?".
"Tu- tuan? lalu bagaimana dengan tuan Lucas.." gantungnya begitu Lucas menarik tas Marisa dari genggaman tangannya. "Astaga, a-apa dia istrinya tuan?".
"Apa yang terjadi sampai istri saya bisa masuk rumah sakit?" Lucas menatapnya datar.
"Saya juga kurang tau tuan, saya hanya membantu membawa kerumah sakit ini saat saya melihatnya kesakitan didalam lift. Selain itu saya tidak tau apa-apa tuan, saya benar-benar tidak tau apa-apa" jawabnya melihat Lucas mengusap wajahnya dengan kasar. "Ya Tuhan, kenapa dia menakutkan sekali? semoga istrinya baik-baik saja dan juga bayinya. Tapi, bukankah dia belum menikah yah? kok bisa seperti ini?".
Tidak lama kemudian dokter yang menangani Marisa segera keluar dari dalam sana dengan senyum tipis melihatnya bersama dengan Lucas, "Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan juga bayi saya?" tanya Lucas penuh dengan wajah khawatir.
"Apa saudara suaminya?".
"Iya dok, saya suaminya. Apa istri saya baik-baik saja?".
"Syukurlah istri anda dan bayinya baik-baik saja. Pasien sebentar lagi akan di pindahkan keruang rawat" dengan nafas legah baru Lucas menunjukkan senyum tipis. "Kalau gitu kami permisi dulu, mari".
__ADS_1
"Iya dok, terima kasih banyak".
"Sama-sama".
Lalu Lucas melihat sekretaris ya itu, "Kamu boleh pergi. Dan ingat, jangan menyebarkan gosip sembarangan".
"Iya tuan, kalau gitu saya pergi dulu".
"Mmmmm" setelah itu Lucas mendatangi ruangan yang ditempati oleh sang istri, ia melihat Marisa terbaring dengan lemas diatas bed rumah sakit dengan selang inpus ditangan kirinya. "Sayang. Kenapa bisa seperti ini? apa kamu merasakan sakit?".
.
Sesampainya Flora di sebuah cafe yang Jose kirim, ia langsung melihatnya disana. Dengan senyum mengembang di wajahnya ia pun sedikit mempercepat langkah kaki jenjangnya mendekati Jose. "Kamu sudah datang? ayo duduk".
"Mmmmm".
"Kamu mau makan apa?".
"Aku baik-baik saja. Kamu yakin tidak ingin makan atau meminum sesuatu?".
"Aku juga tidak ingin minum. Terima kasih sudah ingin menemui ku, aku sangat merindukan mu" Jose pun menatapnya sambil menyebut namanya. "Kenapa?".
"Aku memanggil mu kemari sebenarnya ada yang ingin aku beritahu kepada mu" Jose terdiam, lalu melanjutkan perkataannya, "Aku sudah menikah dengan Raniya Flora".
Deng!
Seketika raut wajah Flora berubah menjadi tegang begitu Jose berkata kalau ia dan Raniya telah menikah seperti yang keluarganya harapankan. "Maafkan aku Flora, aku tidak punya pilihan selain menikahi ya. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab atas bayi itu. Sekali lagi aku minta maaf" ucapnya melihat kedua mata Flora akhirnya mengelurakan air mata yang tadi ia tahan.
"Aku, aku ucapkan selamat atas pernikahan mu dengannya" Flora menyeka air matanya. "Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku pergi dulu".
__ADS_1
"Flora tunggu dulu" Jose menahan tangan kanannya. "Kamu tenang dulu, aku menikahi Raniya bukan karna dasar cinta. Tapi ini semua karena keadaan terpaksa, tidak bisakah kamu menunggu?".
"Hentikan. Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi, apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak bisa diceraikan manusia. Jangan kamu anggap pernikahan itu hanyalah sebuah permainan, tolong jangan membuat ku manusia yang paling hina di dunia ini" dengan sedikit kasar Flora menghempaskan tangannya. "Maafkan aku Jose, aku harus pergi dan berhentilah mulai dari sekarang memperdulikan ak..
"Kamu pikir aku sudah gila Flora?" seketika pandangan mata para tamu yang berada disana tertuju kepada mereka. "Maaf, kamu ikut aku keluar" ia langsung membawa Flora keluar dari dalam sana. Kemudian menatapnya dengan nafas berat, "Aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku akan bertanggung jawab atas bayi itu Flora, jadi jangan pernah berpikir kalau aku akan meninggalkan mu dan bayi kita".
"Hentikan.. Hentikan Jose" Flora sedikit meninggikan suaranya. "Aku mohon hentikan, mulai dari sekarang lupakan aku dan bayi ini, tampa kamu juga aku masih bisa membesarkannya suatu saat nanti dengan baik seperti yang kamu pikirkan meskipun tidak dengan kemewahan. Mulai dari sekarang belajarlah untuk mencintai dokter itu, aku yakin kamu pasti bis.." gantung Flora begitu Jose menarik tubuhnya kedalam pelukannya.
"Jangan katakan itu, apapun yang terjadi aku akan tetap mencintai mu Flora. Jadi aku mohon berhenti berkata seperti itu, suatu saat nanti aku akan hidup bersama mu dan bersama dengan bayi kita".
"Kamu jangan gila Jose. Kamu pikir aku ini perempuan apaan?".
"Aku mengatakan yang sebenarnya Flora, aku akan tetap berjuang untuk mempertahan mu selalu berada disisi ku. Aku mencintai mu".
"Tidak" Flora mendorongnya sampai pelukan itu terlepas. "Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah mau hidup bersama dengan pria milik orang lain".
"Flora!!" bentak Jose lagi marah. "Iya benar sekarang aku milik Raniya, tapi tidak dengan hati ini, sepenuhnya hati ini hanya milik kamu, milik seorang Flora, kamu harus tau itu".
PPLLAAAKKK...
"Aku rasa dengan menamparmu kamu akan semakin membenci ku".
PPLLAAAKKK... PPLLAAAKKK...
"Kamu harus membenci ku supaya kamu bisa melupakan ku".
PPLLAAAKKK...
"Hentikan, tidak ada gunanya kamu menampar ku Flora supaya aku marah, sampai kapan pun aku akan tetap mempertahankan mu".
__ADS_1
Flora menghela nafas, "Terserah kamu saja, hari ini aku lelah sekali. Jangan menahan ku lagi" Flora pun akhirnya pergi meninggalkannya tanpa ada lagi panahan dari Jose. "Pak taksi" begitu ia masuk kedalam taksi, Jose mengusap wajahnya dengan kasar tampa ia sadari sebelum taksi itu bergerak dari sana Flora menyempatkan diri melihatnya. "Maafkan aku Jose".