Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 33


__ADS_3

Hampir 30 menit lamanya sudah berjalan, Raniya menghampiri mereka. "Lucas" panggilnya.


"Mmmm" gumamnya.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja Lucas. Kamu tidak usah khawatir seperti itu, dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyonya Elisabet".


Lucas mengusap wajahnya, kemudian melihat Raniya yang berada di sampingnya. "Terima kasih".


"Sama-sama" senyum Raniya menepuk punggung Lucas penuh dengan perhatian. Sedangkan Marisa yang masih berdiri di samping tembok tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Lucas selain berdoa dalam hati semoga Elisabet bisa selamat dan tidak terjadi apa-apa kepadanya. Hingga kini jam telah menunjukkan pukul 4 sore, namun dokter yang sedang mengoperasi Elisabet belum juga keluar dari dalam sana membuat Lucas semakin was-was.


"Kenapa mereka belum keluar juga Ran? apa yang terjadi di dalam sana?" tanya Lucas berjalan mendekati pintu.


"Sekitar 10 menit lagi mereka akan segera keluar, bersabarlah".


"Tapi ini sudah melebihi waktunya".


"Aku tau, kita tunggu saja" Raniya melirik kearah Marisa yang sedang menggigit jari membuat ia tersenyum. "Jangan khawatir Lucas, ingat apa yang tadi aku katakan kalau nyonya Elisabet pasti akan baik-baik saja" dan seperti apa yang Raniya ucapkan, dokter yang mengoperasi Elisabet pun langsung keluar dari dalam.


"Dokter" kaget Lucas. "Bagaimana dengan nenek saya? apa semuanya baik-baik saja dok?" tanyanya penuh dengan kekhawatiran.


"Mmmm, untuk saat ini nyonya Elisabet baik-baik saja".


"Syukurlah" senyum Raniya dan Marisa mendengarnya. "Terima kasih dok sudah memberikan yang terbaik untuk beliau".


"Sama-sama dok" jawabnya. "Kalau gitu kami permisi dulu, pasien sebentar lagi akan di pindahkan keruang ICU".


"Iya dok".


.


Begitu Elisabet dipindahkan keruang ICU, Lucas dengan setia selalu berada di samping Elisabet sambil menggenggam tangannya. "Kamu pulanglah istirahat, hari ini kamu pasti sangat lelah sekali" ucap Raniya kepada Marisa.


"Tidak apa-apa dok, saya akan menunggu disini sampai nyonya Elisabet siuman" jawab Marisa.


"Ya sudah" Raniya masuk kedalam, ia mendekati Lucas. "Kamu tidak pulang Lucas? ini sudah jam 7 malam, biar perawat yang menjaga nyonya Sabet".


"Tidak apa-apa, aku akan menunggunya sampai siuman".


"Hey, kamu dan dia sama saja. Aku sudah mengatakan kalau ada perawat yang akan menjaga nyonya Sabet kalian berdua malah mengatakan akan menunggu nyonya Sabet sampai siuman. Entar kalau kamu jatuh sakit, bagaimana? masih mau menunggu disini?".

__ADS_1


"Mmmmm, pergilah" jawab Lucas.


"Hhhmmmsss, baiklah" Raniya pun langsung pergi dari sana. Kemudian Marisa memberanikan diri masuk kedalam saat Raniya mengatakan supaya mereka berdua saling bergantian menjaganya.


"Tuan" panggilnya. "Biar saya saja tuan yang menjaga nyonya Sabet. Tuan bisa pergi".


"Tidak, aku akan disini menjaganya. Kamu saja yang pergi".


Mendengar jawaban Lucas yang sudah seperti biasa kepadanya membuat kedua mata Marisa berkaca-kaca, ia tidak menyangka kalau Lucas akan menjawabnya. "Kalau gitu saya permisi tuan" begitu ia berada diluar, ia berjalan kearah kaca melihat pemandangan kota yang sangat indah membuat Marisa tersenyum.



"Pemandangan yang sangat indah" setelah itu Marisa pergi dari sana, ia berjala menuju parkiran tempat mobil yang kemari Elisabet katakan. Namun saat ia berada disana, Marisa membulatkan mata melihat mobil tersebut tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


"Tidak mungkin, aku pasti salah" ia menekan kunci mobil itu lagi. Dan yang menyalah tetap mobil itu juga, "OMG, kenapa harus ini?".



Marisa menghela nafas, ia pun segera memasuki mobil tersebut dan langsung meninggalkan pekarangan rumah sakit. Hingga kini ia telah tiba di rumahnya, "Marisa pulang" ucapnya.


"Mmmmm" jawab sang mama.


"Seperti biasa, makanlah. Kami semua sudah selesai makan".


"Iya" angguk Marisa berjalan kearah meja makan, disana ia melihat menu makan yang sengaja diasingkan dan pastinya itu untuk dirinya. Dengan perut yang sudah sangat lapar, Marisa segera menyendok nasi kedalam piring serta lauk pauknya.


"Risa" panggil Saphira.


"Iya ma" jawab Marisa menyendok makannya kedalam mulut. "Ada apa ma?".


"Itu, mobil siapa itu Risa kamu bawa kemari? kalau mobil itu kenapa-napa, kamu punya uang menggantinya? mobil itu bukan mobil murahan seperti punya mama sama kakak kamu".


"Risa tau ma, karna mobil itu Risa sangat sedih".


"Maksud kamu?".


"Mobil itu punya Risa ma".


"Apa? kamu dapat uang dari mana sampai mobil seperti itu bisa kamu beli Risa. Jangan bilang kamu...

__ADS_1


"Tidak ma, mobil itu diberikan oleh dia yang aku rawat di rumah sakit".


"Kamu serius Risa dia memberikan mobil semahal itu sama kamu?".


"Mmmm, besok Risa akan mengembalikan mobilnya. Risa tidak pantas menerimanya dan pajak mobil itu juga pasti sangat mahal".


"Kenapa harus dikembalikan kalau memang mobil itu diberikan kepada mu Risa? sayang tau, mama juga ingin membawanya. Bisakah minggu ini mama meminjamnya?".


"Mah...!!".


"Hey, tidak apa-apa. Kamu ambil saja mobil itu, mama sangat menyukainya. Karna mobil itu impian mama sejak dari dulu, tapi karna mama tidak punya uang, jadi mama hanya mampu membeli mobil biasa. Bisa yah Risa mama pinjam sama papa kamu jalan-jalan minggu ini?".


"Hhhmmsss.. Terserah mama saja. Risa sudah kenyang, terima kasih makan malamnya".


"Mmmmm" angguk Saphira sangat bahagia.


.


Paginya Marisa kembali kerumah sakit, ia melihat Lucas masih berada di ruang ICU dengan kepala terletak disamping Elisabet yang belum siuman sampai sekarang. "Harusnya dia istirahat, dia terlalu memaksakan diri sekali padahal aku sudah menyuruhnya" gumam Marisa masuk kedalam.


Marisa melihat Lucas sangat terlelap dalam tidurnya membuat ia tidak tega untuk membangunkannya. Kemudian Marisa menaruh bekal yang ia bawa dari rumah diatas meja, lalu ia memandangi wajah tampan Lucas yang sangat menggemaskan sekali saat ia sedang tidur. Lalu Marisa melihat sekitarnya, beberapa pasien yang kemarin ia lihat telah keluar dari dalam sana tampa ia sadari kalau Lucas telah membuka kedua matanya.


"Sedang apa kamu disini?".


"Ah, tuan sudah bangun" senyum Marisa melihatnya. "Harusnya tuan istirahat saja diruangan nyonya Sabet, biar aku yang menjaganya".


"Tidak apa-apa" Lucas melihat wajah Elisabet yang belum juga sadar sampai sekarang.


"Oh iya tuan, aku membawa sarapan dari rumah untuk tuan. Tuan mau makan dimana? tapi sebaiknya tuan makan diruangan nyonya Sabet saja".


"Tidak usah, aku tidak lapar".


"Tapi tuan harus makan, nanti tuan bisa jatuh saki..." gantung Marisa saat Lucas menyuruhnya diam melihat Elisabet membuka mata. "Nyonya Sabet" kaget Marisa.


Lucas tersenyum, lalu memanggil dokter yang berjaga disana. Dan si dokter pun langsung memeriksa keadaan Elisabet yang sudah mulai membaik. "Bagaimana dok?".


"Syukurlah. Nanti pasien sudah bisa dipindahkan".


"Terima kasih dok".

__ADS_1


"Sama-sama".


__ADS_2