Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 67


__ADS_3

"Aiisss..".


BBBRRAAKK..


"Yah..!!" teriaknya marah mendengar suara pintu tersebut di tendang oleh orang yang tidak mereka kenal. "Kamu siapa?".


"Lucas?" kaget Marisa dan Isabella secara bersamaan menyebut namanya membuat mereka berdua saling melihat satu sama lain. "Kamu mengenalnya?" tanya Isabella.


"Bagaimana dengan anda?" tanya balik Marisa.


"Dia putra ku. Kamu?".


"Benarkah?" semakin kaget Marisa dengan mata membulat. "Astaga, bagaimana bisa aku disekap dengan ibu mertua ku sendiri. OMG" gumam Marisa.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku? apa hubungan mu dengan putra ku?".


"Hahahaha.. Ini tidak sepertinya yang anda pikirkan, aku dan tuan Lucas hanya sebatas karyawan dengan atasan. Aku sekretarisnya tuan Lucas".


"Sekretaris?".


"Iya, sekretaris" namun Isabella tampa belum mempercayai hubungan diantara keduanya hanya sebatas sekretaris. Ia yakin ada sesuatu diantara keduanya, "Hey, kenapa dia melihat ku seperti itu? ayolah jangan pikirkan yang aneh-aneh" batin Marisa melihat Lucas berjalan kearah mereka berdua begitu ia membuat mereka satu persatu tumbang di atas lantai yang kotor nan dingin. Kemudian Marisa menggeleng meminta supaya Lucas mengetahui kalau orang yang disampingnya itu adalah ibunya.


Tetapi Lucas yang terus menerus berjalan kearahnya membuat Marisa terpaksa harus berteriak untuk menyuruhnya berhenti. "Hahahah, tuan terima kasih banyak sudah menyelamatkan kami. Nyonya, bukankah nyonya tadi berkata kalau pria itu adalah putra nyonya?" tanyanya membuat Lucas melihat kearah Isabella yang sedang melihatnya dengan mata memicing.


"Mama?" kaget Lucas, ia pun langsung berlari kearah Isabella. Lalu melepaskan pengikat tali di tangannya, "Ma ada apa? kenapa mama bisa berada disini? mama baik-baik saja?".


"Iya, mama baik-baik saja. Terima kasih sayang sudah menyelamatkan mama dan wanita itu".


"Haaahhh..!" Lucas manarik nafas, lalu membawanya kedalam pelukannya. "Kalau sesuatu terjadi kepada mama, harusnya mama memberitahu ku. Aku tidak mau mendengar kalau mama sampai terluka".


"Mmmm, sekarang mama baik-baik saja. Terima kasih sayang".


Kemudian Lucas melihat Marisa yang masih terikat, ia segera melepaskan pengikat di tangannya sambil membisikkan, "Kamu baik-baik saja?".


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang menyelamatkan aku. Kalau tidak, aku enggak tau lagi mau gimana kalau sampai..


"Pria itu menyentuh tubuhnya" potong Isabella langsung melihat perubahan di wajah putranya itu yang sebelumnya belum pernah ia lihat. "Lucas" panggilnya. "Kamu mau kemana? jangan sayang, kamu tidak boleh membunuhnya" teriak Isabella melihat Lucas menyambar pisau yang terletak diatas lantai.


Marisa pun langsung mengejarnya, memeluknya dari belakang. "Jangan, aku mohon jangan lakukan itu. Aku mohon".


"Lepaskan".

__ADS_1


"Tidak, kamu tidak boleh melakukannya".


"Maksud kamu aku akan diam saja setelah apa yang mereka lakukan kepada mu?".


"Aku tau mereka salah. Tapi jangan sampai kamu membunuhnya, kamu bisa di penjara dan masuk ke semua berita media kalau CEO dari Hanju telah membunuh. Karna itu aku mohon hentikan, aku tidak mau terjadi sesuatu kepada mu, lebih baik kita serahkan saja mereka kepada pihak yang berwajib dan hukumlah mereka seberat mungkin karna sudah mengancam dua nyawa yang tidak bersalah. Ku mohon redahkan emosi mu mmmm".


Lucas menatapnya, dengan tatapan sendu ia pun menyentuh wajahnya, "Apa mereka barusan menampar mu?".


"Hhhmmm?".


"Tidak usah berbohong, aku masih bisa melihat dengan jelas bekas tamparan ini di wajah mu. Pria mana yang tidak akan marah kalau ist..


"Hahahha.. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku mencintai mu" bisik Marisa menghentikannya. "Jangan berlebihan, ibu mu bisa tau kalau kita sudah menikah. Kamu mau keluarga mu tau?".


Lucas terdiam, rasanya ia ingin membawa Marisa kedalam pelukannya, tapi karna ibunya ada disana, ia terpaksa harus menahannya. "Ayo, aku akan mengantar mu pulang".


"Tidak usah, aku naik taksi saja. Kamu bawa saja ibu mu pulang, sepertinya ibu mu butuh ketenangan" ucap Marisa yang belum tau siapa ibunya. "Kenapa kamu tertawa?".


"Siapa yang tertawa? aku tidak tertawa".


"Itu tadi apa?".


"Tidak ada. Ayo, aku akan mengantar mu pulang. Ayo ma" ucapnya kepada Isabella.


Sesampainya di depan rumah Marisa, ia melihat Lucas dan ibunya dengan senyum ramah. "Ini rumah ku, terima kasih tuan sudah mau mengantar sampai rumah" ucap Marisa menunjukkan rumahnya kepada Isabella.



"Mmmm, rumah mu sepertinya adem sekali".


"Iya. Lain kali kalau nyonya ingin berkunjung kerumah ku, dengan senang hati keluarga ku akan menyambut kedatangan nyonya".


"Jangan panggil nyonya, sebutan itu membuat ku kurang nyaman. Panggil saja tante atau sama halnya Lucas menyebut ku mama".


"Ah iya tante. Aku panggil tante saja".


"Ya sudah terserah kamu saja. Dan satu lagi, terima kasih sudah menyelamatkan aku".


"Iya tante sama-sama" begitu Lucas melihat Marisa masuk kedalam rumahnya. Ia pun langsung menjalankan mobilnya pergi dari sana. Lalu Isabella melihat kearah putranya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ada apa ma melihat ku seperti itu?".

__ADS_1


"Siapa wanita itu? apa dia kekasih mu?".


Lucas tersenyum, "Kenapa mama menanyakan itu? dia hanya sekretaris ku saja".


"Mama tidak bisa yakin kalau dia hanya sekretaris mu saja. Kamu pikir kamu bisa membohongi mama? kamu sudah lupa siapa mama Lucas? jawab mama, apa dia kekasih mu? mama yakin kamu bisa menyelamatkan mama karna wanita itu".


"Maaf ma".


"Maaf untuk apa?".


"Semuanya. Lucas enggak tau kalau mama bersama dengan dia".


"Tidak apa-apa. Tapi mama harap jangan sampai kakek kamu tau kalau kamu dengan wanita itu memiliki hubungan. Kakek kamu bisa sangat marah".


"Lucas tau ma" jawabnya.


Sedangkan Marisa yang baru masuk kedalam rumahnya, ia melihat semua anggota keluarganya sedang menunggu di ruang tamu penuh dengan ke khawatiran. "Risa pulang ma pa kak Za".


"Marisa?" kaget mereka. Dengan mata berkaca-kaca, Saphira sang mama berjalan mendekatinya dengan tangan bergetar, "Risa sayang anak mama. Kamu baik-baik saja".


"Mmmm, Risa baik-baik saja ma hiks.. hiks.." tangis Marisa memeluk sang mama. "Aarrkkhh, pa kak Za" semakin tangis Marisa begitu mereka saling berpelukan.


"Maafkan kakak Risa, maafkan kakak tidak bisa menyelamatkan kamu Risa hiks.. hiks..".


"Tidak kk, Marisa malah mengucapkan terima kasih banyak sudah meminta bantuan untuk meyelamatkan Risa dari mereka. Terima kasih kak Za".


"Mmmmm, dan terima kasih sudah kembali dengan keadaan baik-baik saja. Pa ma, kita harus mengucapkan terima kasih kepada suami Risa".


"Iya sayang" angguk Saphira menyentuh kedua pipinya. "Mama yakin kamu pasti sangat takut sekali".


"Tidak ma, karna Risa tidak sendiri. Jadi Risa enggak terlalu takut sekali".


"Benarkah sayang?".


"Mmmmm".


"Lalu bagaimana dengan wanita itu Risa?".


"Dia juga baik-baik saja kk".


"Syukurlah. Lalu dimana suami kamu? kenapa dia tidak datang bersama dengan mu".

__ADS_1


"Tadi dia yang mengatar ku kemari. Tapi karna ada sesuatu yang harus dia urus, jadi dia tidak sempat singgah".


"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja" peluk Saphira kembali di tubuh Marisa.


__ADS_2