Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 21


__ADS_3

Kemudian Marisa membalas senyuman Lucas membuat Lucas menjitak kening Marisa, "Ah, sakit" rengek Marisa menyentuh keningnya.


"Siapa suruh kamu melihatku seperti itu? sekarang kamu keluar" usir Lucas.


"Tidak, aku akan keluar begitu aku mengobati luka tuan. Kemarilah" Marisa menyambar kotak obat tersebut, lalu mengeluarkan salep, kapas dan alkohol dari sana. "Lihatlah kemari tuan".


"Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri".


"Tidak baik menolak kebaikan orang lain tuan, aku akan mengobatinya dengan pelan-pelan, tapi rasanya akan sangat perih" Marisa menarik wajah Lucas menghadap kearahnya, namun ia malah terdiam saat jarak diantara mereka berdua sangat dekat. Tetapi ia dengan cepat membuang pikiran kotornya, namun berbeda halnya dengan Lucas, ia langsung bisa mengetahui apa yang sedang Marisa pikirkan saat itu juga.


Marisa menuang alkohol di dalam kapas, lalu melap sudut bibir Lucas yang berdarah dengan sangat pelan. "Ah" rengek Lucas membuat Marisa langsung menjauhkan tangannya.


"Maaf tuan heheheh.. Aku akan melakukannya lebih pelan lagi" melihat Marisa yang malah tertawa kecil membuat Lucas juga ikutan tertawa melihat betapa mungilnya Marisa disaat seperti ini. "Aku akan melapnya lagi tuan".


"Ah".


"Hey, tuan terlalu berlebihan. Aku belum menyentuhnya tuan sudah dulua.." gantung Marisa melihat Lucas menutup mata. "Kenapa tuan menutup mata?".


Lucas membuka matanya, ia melihat kedua manik mata Marisa sangat indah. "Cantik".


"Hhhmm?".


"Sudah, biar aku saja yang melakukannya. Kamu boleh keluar".


"Tuan yakin bisa melakukannya?".


"Mmmmm" angguk Lucas.


"Kalau gitu saya permisi dulu tuan" Begitu Marisa keluar, Lucas melihat wajahnya di depan pantulan cermin, lalu menaruh salep tersebut diwajahnya yang terluka. setelah itu, Lucas menyimpan kotak itu kembali ditempat semula.


Sedangkan Kirana yang berada diruangan Dilan membuat ia merasa sangat bersalah kepada Dilan. "Maaf, aku tau kamu sangat marah kepada ku, tapi izinkan aku terlebih dahulu mengobati luka ini" Kirana membuka kotak obat, lalu mengoles salep tersebut di sudut bibir dan wajahnya yang terluka.


Kemudian Dilan menatapnya dengan mata tajam sambil menahan emosi, "Selesai, sekarang kamu boleh marah kepada ku" Kirana menatapnya.


"Benar, dimata mu aku tidak ada apa-apa dibandingkan dengan Lucas. Aku tau itu" Dilan tersenyum sinis.


"Maaf, kalau boleh jujur aku nyaman bersama mu tapi aku tertarik kepadanya".


"Hah... Hahahha" tawa Dilan menyentuh sudut bibirnya yang terasa sakit. "Apa kamu sedang mempermainkan kami berdua?".


"Tidak, aku tidak berniat mempermainkan perasaan kamu dan Lucas. Aku hanya ingin membuktikan siapa diantara kalian berdua yang benar-benar aku cintai. Dan kamu juga tau kalau kakek Mateo membiarkan aku memilih diantara kalian, jadi aku punya hak untuk membuktikan ini semua".


"Baiklah, kamu boleh pergi dari sini".


"Dilan!".


"Aku ingin sendiri. Tolong" Dilan bangkit berdiri, ia berjalan kearah kaca ruangannya dengan kedua tangan di dalam saku menatap kearah gedung-gedung tinggi disana. Namun Kirana bukannya pergi, ia malah berjalan mendekati Dilan, lalu memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Maaf, tolong maafkan aku Dilan" ucap Kirana sedih.


Dilan mendengus melepaskan kedua tangan Kirana, tetapi Kirana malah memeluknya semakin erat. "Lepaskan!".


"Tidak, sebelum kamu memaafkan ku, aku tidak akan melepaskan pelukan ini" geleng Kirana.


"Hhhmmmsss" lagi-lagi Dilan menghela nafas semakin kuat menarik kedua tangan Kirana hingga pelukan itu terlepas. "Sekarang apa mau mu?" tanyanya melihat Kirana.


"Maaf, aku mau kamu memaafkan ku".


"Itu saja?".


"Tidak, aku mau kamu memelukku juga".


"Aku sudah bilang aku ingin sendir..


Cup..!


Kirana menciumnya, "Sekarang kamu malah memberikan bekas ciuman Lucas kepada ku. Baiklah kalau itu mau kamu, aku sudah menyuruh mu pergi, tapi kamu lebih memilih untuk bertahan" Dilan menarik Kirana keatas sofa, lalu menciumnya sama halnya seperti yang dilakukan oleh Lucas kepadanya.


.


Jam makan siang Marisa dan Flora berada di dalam kantin. "Kamu yakin Ra malam ini di rumah?".


"Mmmm, aku harus berhasil mengerjakan proposal itu".


"Mmmmm, kamu mau aku dipecat dari perusahaan ini?".


"Ya enggaklah".


"Karna itu aku harus mengerjakan proposal ku. Ah iya, aku hampir melupakannya, kemarin Reza menelpon ku Sa. Katanya dia sudah berada di indonesia".


"Apa?" kaget Marisa menghentikan makanannya. "Kamu serius Ra?".


"Mmmmm, kamu senang yah dia kembali lagi ke indo".


"Ah.. Iya" angguk Marisa tersenyum.


"Apa kamu akan balikan lagi kepadanya Sa? ini adalah kesempatan emas kamu setelah dia menyelesaikan study S2 ya. Wah, aku tidak bisa bayangkan dia akan dipanggil sebagai professor di kampus".


"Aku tidak tau Ra, aku ragu kalau Reza tidak punya kekasih disana".


"Iya juga yah. Diakan sudah sangat lama di luar negeri, enggak mungkin dia enggak punya kekasih".


"Karna itu Ra".


"Tapi enggak mungkin Reza memberitahu ku kalau dia sudah di indo, pastinya dia tidak akan memberitahu ku Sa. Itu artinya dia ingin membuat kejutan kepada mu Risa".

__ADS_1


"Masa iya sih?".


"Mmmmm, aku yakin itu Sa"


"Syukur deh kalau kaya gitu. Aku sangat merindukannya setelah 3 tahun lamanya kami berpisah hehehehe".


"Kita lihat saja nanti, kejutan apa yang akan Reza lakukan".


"Mmmmm, terima kasih sudah memberitahu ku Ra".


"Iya".


.


Begitu selesai makan siang, Marisa kembali ke meja kerjanya. Namun sebelumnya ia melihat kearah pintu ruangan Lucas, "Apa dia sudah makan siang? tapi apa gunanya aku memikirkannya, kalau dia lapar dia pasti makan sendiri".


DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTTTT...


"Iya, dengan siapa?".


"Marisa" panggil seorang pria dari sebrang sana dengan suara khas yang sangat Marisa kenali siapa pemilik suara tersebut. "Aku sangat merindukan mu. Apa kabar?".


Kedua mata Marisa langsung berbinar-binar mendengar suara itu, "Reza? ini Reza kan?".


"Mmmmm, kamu masih mengenali suara ku. Terima kasih".


"Astaga Reza. Aku enggak nyangka kalau kamu akan menghubungi ku lebih duluan".


Reza tertawa, "Apa kabar mu? aku dengar kamu bekerja di Hanju group".


"Mmmm, Kabar baik Za. Lalu bagaimana dengan mu? aku sangat merindukan mu".


"Aku juga. Jam berapa kamu pulang? aku akan menjemput mu".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Ah" Marisa mengigit jari kegirangan. "Aku pulang sekitar jam 4 sore Za".


"Baiklah, sebelum jam 4 sore aku sudah berada disana".


"Oo, kalau gitu aku tutup dulu".


"Mmmmm" angguk Reza mematikan ponselnya. Kemudian Marisa melompat kegirangan sambil berteriak dalam hati tampa ia sadari Lucas sedang melihatnya dengan kening mengerut. "Astaga tuan" kagetnya Marisa melonjak. Lalu Lucas gelang kepala, setelah itu ia pergi begitu saja dari hadapannya. "Tuan mau kemana?".


Namun saat itu juga Lucas langsung mendapatkan panggilan dari seseorang yang tidak Marisa kenal membuat Lucas tidak bisa menjawab pertanyaan Marisa. "Tuan Lucas mau kemana? kenapa dia tidak memberitahu ku?".

__ADS_1


__ADS_2