Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 124


__ADS_3

Marisa berjalan mendekati mereka, dengan senyum tipis ia mencoba bersikap akrab kepada orang yang bernama Mawar. "Hallo! saya Marisa. Bisakah kita berteman baik seperti kamu berteman dengan mereka?" Marisa menggunakan bahasa santai karena ia tahu kalau wanita yang berdiri dihadapannya itu lebih muda darinya.


"Iya, boleh kok. Nama ku Mawar, senang bertemu dengan mu. Tapi kenapa kamu mau bekerja ditempat seperti ini?".


Seketika Marisa kembali tersenyum seolah-olah pekerjaan ini memang ia sukai. "Kenapa kalau saya bekerja disini?".


"Bukan Masalah sih, cuman pekerjaan di club itu tidaklah semudah yang kamu pikirkan. Nanti kamu akan tau sendiri, terus apa yang ingin kamu tanyakan dengan ku?" Mawar mendudukkan diri diatas kursi meja riasnya. Ia melihat wajahnya begitu mulus dan bercahaya. "Oh iya, kamu masih perawan?".


"Apa?" Marisa melonjak kaget membulatkan mata mendengar pertanyaan Mawar yang tiba-tiba. "Ah maaf, saya sudah memiliki anak dan sekarang usianya 5 tahun".


Mawar pun tertawa kecil, "Jadi kamu sudah menikah?" ia melihat Marisa dari pantulan cermin. "Wah, tapi kamu masih tetap cantik yah dan juga body kamu yang begitu menggoda. Terus, apa suami mu tahu kalau kamu bekerja di club? atau dia sendiri yang mengajukan kamu bekerja disini?".


"Tidak, aku sendiri yang ingin bekerja disini".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Luas biasa. Kamu beruntung mendapatkan suami sepertinya tidak terlalu mengekang mu untuk bekerja dimana pun kamu mau" Mawar segera menyelesaikan riasan di wajahnya. Kemudian melihat Marisa kembali dari atas sampai bawah, "Selama kamu bekerja disini, kamu akan melayani para tamu yang akan datang dari luar sana. Sekali lagi aku bertanya, kamu tidak apa-apa?".


"Tidak apa-apa" jawab Marisa dengan yakin.


"Baiklah kalau gitu. Sekarang kamu ganti pakaian kamu dengan gaun ini" Mawar tersenyum memberikan ditangannya. "Kamu akan memakai gaun itu. Bagaimana? kamu masih tetap ingin bekerja disini?".


"Tidak apa-apa" jawab Marisa menerima gaun tersebut, lalu Mawar mengangkat kedua bahunya sambil berkata dalam hati. Pemberani juga wanita ini.


"Kamu boleh mengganti pakaian mu disana, sekarang telah menunjukkan pukul 8 malam. Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu".


"Iya" angguk Marisa berjalan ke dalam ruangan tersebut. Meskipun yang sebenarnya ia merasa tidak nyaman, selagi itu tidak melayani mereka diatas ranjang, Marisa memaksakan diri untuk mendapatkan uang agar ia bisa keluar dari rumah Stela yang setiap hari mengusirnya. "Ya Tuhan, aku tau aku tidak sepantasnya dengan pekerjaan ini, tapi biarkan aku Tuhan untuk sementara waktu berada disini sebelum aku mendapatkan pekerjaan yang layak".


Begitu Marisa keluar dari dalam sana, Mawar melihatnya cukup menarik menggunakan gaun tersebut. "Sekarang kamu duduk disini, aku akan merias mu sampai cantik".

__ADS_1


"Iya".


Tidak menghabiskan waktu yang begitu lama bagi seorang Mawar merias wajah Marisa yang sudah memang dari sananya cantik, ia sedikit takjub dengan hasil riasannya. "Wah, kamu semakin cantik saja. Ayo berdiri, bagaimana menurut kalian, apa aku berhasil meriasnya sampai cantik seperti ini?".


Mereka pun tertawa memberikan tepuk tangan kecil kepada Mawar yang sudah tidak diragukan lagi soal merias wajah.


"Kamu dengar mereka? kamu harus percaya diri kalau kamu itu cantik. Dan ingat, jangan sampai para tamu kita tahu kalau kamu sudah menikah dan memiliki anak. Ok".


"Mmmmm".


"Kamu cantik, lihatlah pantulan tubuh di depan cermin itu".



Malam pun semakin berlarut, karyawan lainnya sudah berdatangan memasuki ruangan tersebut. "Dia siapa?" tanya salah satu diantaranya.


"Karyawan baru kita, namanya Marisa. Ayo perkenalan dirimu dengan mereka".


Marisa pun langsung memperkenalkan diri kepada mereka semua. Dan tampak mereka biasa saja tampa merasa senang atau pun tidak suka.


Tidak ada jawaban.


"Kenapa kamu tidak menjawab ku?" Mawar pun melihat kesamping, namun ia tidak menemukan Marisa berada di sebelahnya, anak itu malah tertinggal di belakang mematung seorang diri. "Yah, kamu kenapa malah berdiri disana?".


"Maaf, tapi apa yang barusan kamu katakan apakah itu benar-benar akan terjadi?".


Mawar pun terkekeh mendengar pertanyaan Marisa. "Aku sudah mengatakannya kepada mu kalau bekerja di club itu tidak hanya menuang minuman di gelas mereka. Kamu itu harus siap diraba atau pun..


"Hentikan Mawar. Jangan membuat ku semakin takut!".


"Terus sekarang mau kamu apa? kamu mau berhenti begitu saja sebelum kamu mencobanya? dasar pengecut".

__ADS_1


"Jangan katakan aku pengecut. Aku akan mencobanya".


"Kalau gitu coba saja supaya aku tidak mengatai mu pengecut".


"Pasti, aku akan mencobanya" Marisa menjawabnya dengan tegas kalau ia pasti bisa tampa harus merasa takut. "Kamu harus memikirkan uang Marisa, kamu harus memikirkan uang, tapi kamu tidak boleh disentuh oleh mereka, kamu harus menghindari itu sebelum kamu bertemu dengan suami mu".


Lalu Marisa melihat Mawar membuka salah satu pintu yang bertulisan VIP. Dengan perasaan tiba-tiba takut, kedua tangannya berkeringat. "Ayo masuk, kenapa kamu malah berdiri disitu?".


"I-iya" ia pun menghela nafas berat sambil berkata dalam hati. "Argana maafkan mama sayang".


Ceklek!


Melihat para tamu yang akan mereka layani, Marisa langsung menundukan kepala mengepal kedua tangannya kalau saja Mawar tidak menegurnya. "Marisa jangan menundukkan kepala mu, mereka bisa tau kalau kamu orang baru disini, kamu mau kalau sampai mereka mengajak mu tidur haah?" dengan cepat Marisa mengangkat kepala melihat mereka satu persatu.


Namun saat itu juga kedua matanya tertuju kepada salah satu pria yang berada diantara mereka "Siapa pria itu? kenapa jantung ku tiba-tiba berdetak seperti tidak biasanya?" Ia melirik Mawar yang berada disebelahnya.


"Kenapa? ayo tersenyum Marisa".


"Kamu mengenal mereka?".


"Tidak terlalu, tapi sebagian dari mereka aku mengen..


"Kamu!" panggil pria yang tadi sempat bertemu dengan mata Marisa "Aku menginginkan wanita itu, bawa dia kemari".


Deng!


Bagaikan disambar petir, Marisa membulatkan kedua matanya melirik kearah pria yang baru saja memanggilnya itu. "Kamu tidak mendengar ku?".


"Ma-maaf..


"Sana Marisa" Mawar pun mendorongnya berjalan kehadapan si pria tersebut.

__ADS_1


"Aakkkhhh" Marisa semakin membulatkan kedua matanya melihat jaraknya yang semakin dekat dengan pria itu. "Argana tolong mama sayang, tolong mama Argana. Tapi kenapa jantungku tak karuan berdetak seperti ingin meledak. Dan kenapa tatapan matanya..


"Marisa ayo buruan" tegur Mawar kembali terlihat kesal kepadanya melihat pria itu tengah menatap Marisa tanpa berkedip seolah-olah ingin menerkam Marisa yang tak kunjung melangkahkan kedua kakinya.


__ADS_2