Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 107


__ADS_3

Kini Marisa tengah membantu Lucas memperbaiki pakaiannya, dengan senyum mengambang diwajahnya Lucas, ia mencium bibir sang istri dengan sayang. "Oh iya aku ingin memberitahu mu kalau Jose meminta Flora datang menemuinya, cuman kenapa yah perasaan aku gitu seperti tidak enak saja".


"Jangan terlalu sering ikut campur urusan pribadi mereka berdua, kalau gitu aku berangkat dulu sayang" ucap Lucas mencium keningnya.


"Tunggu".


"Mmmm?".


"Bagaimana dengan sekretaris mu? dari kemarin aku lupa menanyakannya, apa kamu sudah menemukannya?".


"Suda..


"Boleh aku ikut? hari ini aku akan sendiri dirumah karna Flora akan pergi menemui Jose. Kumohon, tolong izinkan aku ikut bersama dengan mu mmmm" potong Marisa merayunya dengan manja.


Lucas pun berjalan mendekatinya kembali, "Kamu dirumah ajah, kalau kamu ikut bersama ku kamu akan merasa bosan".


"Aku tidak akan bosan, percaya kepada ku mmmm. Ayolah suami ku bawa aku bersama dengan mu dan aku juga tidak akan menganggu pekerjaan mu, ok".


"Terserah kamu saja".


"Berarti aku ikut dong?".


"Mmmm".


"Yes.." senang Marisa tertawa segera mengganti pakaiannya dengan pakai kantor seperti biasa. Namun melihat perutnya yang semakin hari semakin membesar membuat ia merasa kurang nyaman memakai pakaian yang selama ini ia pakaian. Kemudian ia bertanya kepada Lucas, "Bagaimana?".


Lucas pun langsung menghela nafas, "Kamu ganti yang lain saja, pakaian itu tidak cocok lagi untuk kamu gunakan. Ayo buruan Risa, aku tidak punya banyak waktu lagi, jam 9 nanti aku ada meeting".


"Ya sudah aku pakai ini ajah deh, lagian aku enggak punya pakaian yang lebih besar dari ini lagi. Tidak apa-apa kan?".


"Tidak, ayo ganti sekarang juga Marisa".


"Kalau gitu aku car.." gantung Marisa mendengar suara ponsel Lucas berdering.


"Mmmm?" jawab Lucas. Setelah itu ia melihat Marisa malah berdiri disana bukannya mengganti pakaiannya. "Ayo, kamu tidak usah menggantinya" Lucas pun berjalan duluan menuruni anak tangga disusul oleh Marisa dari belakang.


Kemudian Marisa melihat Flora keluar dari dalam kamar, "Flora!" panggilnya.


"Iya Risa? kamu mau kemana dengan pakaian serapi ini?".

__ADS_1


"Aku mau ke kantor Ra, habisnya kamu juga mau pergi menemui Jose, dari pada nantinya aku bosan dirumah lebih baik aku ikut bersama dengannya. Aku pergi dulu yah Ra".


"Iya, hati-hati dijalan".


"Kamu juga Ra" begitu Marisa memasuki mobil, Lucas pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah menuju gedung perusahan Asian group. "Wah, hari yang begitu sangat indah. Bisa aku membuka kaca ini?" tanyanya melihat keluar.


"Jangan Risa" jawab Lucas melarangnya semakin menancap pedal gas mobil. "Reza sudah keluar dari rumah sakit, sepertinya dia sudah kembali bekerja".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Syukurlah, tapi kenapa sampai 2 minggu lamanya Reza menghabiskan waktu dirumah sakit? setiap aku bertanya dia tidak akan pernah menjawab ku begitu juga dengan dokter yang merawatnya. Apa sesuatu terjadi kepadanya?".


"Tidak, dia hanya cedera sedikit saja".


"Apa? kok bisa? kamu tidak sedang membohongi ku kan?".


"Untuk apa aku harus berbohong kepada mu? Reza hanya tidak ingin membuat mu khawatir dengan Flora".


"Aaiisss, menyebalkan sekali. Harusnya dia memberitahu ku dan Flora kalau dia cedera saat itu".


"Tentu sa..ja hehehe. Aku pikir sesuatu terjadi kepadanya. Syukurlah kalau cuman cedera sedikit saja, tapi di bagian mana? masa iya Reza tega sekali cuman memberitahu itu saja dia enggak mau. Hhmmsss".


"Di bagian tulang belakang".


"Jadi sekarang dia sudah benar-benar pulih?".


"Mmmmm".


Sesampainya di depan gedung Asian group, kedua orang itu pun langsung keluar dari dalam mobil. Kemudian Marisa melihat beberapa para petinggi perusahaan sedang menunggu Lucas di depan pintu loby. "Kamu duluan saja, aku akan menyusul dari belakang" ucap Marisa menyuruhnya.


"Mmmmm" angguk Lucas berjalan duluan meninggalkannya. Lalu Marisa melihat mereka memberikan salam hormat kepadanya. Dengan senyum tipis, baru ia berjalan mengikutinya dari belakang tampa ia sadari kalau seseorang sedang berlari dari belakang hingga membuatnya terjatuh akibat tabrakan orang tersebut.


"Aakkkhhh.." pekik Marisa kesakitan.


"Astaga, maaf-maaf aku tidak sengaja" ucap orang tersebut segera membantunya bangkit berdiri. "Kamu baik-baik saja? maaf yah aku benar-benar tidak sengaja karena saya sangat buru-buru sekali".


"Tidak apa-apa" balas Marisa memperbaiki pakaiannya.

__ADS_1


"Oo, kamu sedang hamil yah?".


"Iya".


"Astaga, apa saya harus membawa anda kerumah sakit?".


"Tidak, saya baik-baik saja. Karna kamu sedang buru-buru kamu boleh pergi".


"Ya sudah kalau gitu, sekali lagi saya minta maaf yah".


"Mmmmmm" angguk Marisa. Begitu orang tersebut pergi dari hadapannya, ia pun kembali melanjutkan langkah kakinya memasuki loby menuju lantai ruangan Lucas yang berada di lantai paling atas. Namun saat ia berada di dalam lift, "Tapi kenapa perut ku terasa sakit yah? ah.." Marisa meremas pegangan di dalam lift, rasa sakit itu pun semakin menjadi-jadi membuat ia terjatuh.


Ting!


Pintu lift terbuka, mereka yang berada disana langsung keluar tampa melihat kearah Marisa yang kesakitan paling belakang. "Ya Tuhan ada apa dengan ku? kenapa rasanya semakin sakit" ia pun berusaha bangkit berdiri dari sana, kemudian seseorang memperhatikannya.


"Maaf, apa mbak baik-baik saja?" tanya orang tersebut.


"Tidak, saya sedang tidak baik-baik saja" jawab Marisa menyambar tangannya. "Tolong saya, perut saya tiba-tiba terasa kram".


"Astaga, kalau gitu mari ikut saya mbak" ajaknya membawa Marisa kearah sofa yang berada di sana. "Mbak ya duduk dulu, saya ambil air hangat".


"Terima kasih" dengan tubuh lemas Marisa menyadarkan kepala di atas sofa sembari meremas perutnya yang kesakitan. "Ah aku tidak kuat lagi, aku harus memberitahu Lucas, tapi dia.. Aaakkhh aku harus kerumah sakit hiks.. Lucas" tidak menunggu lama, wanita itu kembali menghampirinya dengan segelas air putih di tangannya.


"Ayo mbak diminum dulu, siapa tau rasa sakit perut mbak berkura... Oo, mbak lagi hamil?" ia terkejut melihat Marisa mengangguk.


"Tolong saya mbak, perut saya sakit sekali".


"Aduh bagaimana ini? aku juga harus keruang meeting".


"Tolong saya mbak hiks.. hiks.. Rasanya sakit sekali, saya tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi saya".


"Lalu bagaimana dengan suami mbak? saya juga harus menghadiri meeting yang akan berlangsung 7 menit lagi mbak. Maaf, saya tidak bisa mbak".


Dengan rasa sakit yang tidak tertahankan, Marisa menatapnya dengan tatapan sendu bercampur air mata yang terus menerus mengalir. "Tolong mbak hiks.. Tolong kasihani saya dan bayi saya mbak hiks.. hiks.. Saya mohon mbak".


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana? kalau aku mengantarnya kerumah sakit itu artinya aku akan kehilangan pekerjaan ku" ia pun kebingungan melihat ia yang tidak punya banyak waktu lagi mengantarkan Marisa kerumah sakit, tetapi ia yang benar-benar tidak tega melihat Marisa menahan rasa sakit, ia pun akhirnya memutuskan membawanya kerumah sakit. "Baiklah mbak, kita kerumah sakit sekarang juga. Ayo".


"Terima kasih" angguk Marisa menyambar tangannya.

__ADS_1


__ADS_2