Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 56


__ADS_3

Begitu Marisa dan Flora keluar dari dalam lift, Raniya yang sedang bertugas melihat mereka berdua berjalan kearahnya. Lalu ia tersenyum, "Kamu kemari apa karna nyonya Elisabet?" tanyanya.


"Iya dok" jawabnya.


"Mmmmm, masuklah. Tadi saya baru dari sana, itu apa yang kalian bawa?".


"Oh, ini bekal yang saya bawa dari rumah dok. Kalau gitu kami masuk dul..


"Oo, Jose" panggil Raniya melihat Jose keluar dari dalam lift membuat Flora menggantung perkataannya. "Bisa kita bicara sebentar?".


Jose melihatnya, lalu melihat Flora yang sedang melihatnya, "Ada apa?".


"Kamu ikut aku".


"Ayo masuk Ra" ajak Marisa meninggalkan Jose dan Raniya. "Kamu baik-baik saja?".


"Apa?".


"Tidak, lupakan saja" jawab Marisa mendorong pintu ruangan Elisabet. "Selamat pagi nyonya Sabet".


"Pagi" balas Elisabet tersenyum senang. "Dimana suami mu? kenapa kamu tidak datang bersama dengannya?".


"Tadi pagi dia sudah berangkat ke luar kota, jadi Risa datang sendiri saja bersama dengannya. Nyonya Sabet sudah sarapan? Risa membawakan bekal dari rumah" ucap Marisa membuka kota bekal yang ia bawa dari rumah.


"Sudah. Kamu belum sarapan dari rumah?".


"Iya, Risa pikir tadi enaknya sarapan disini, jadi Risa bawa saja dari rumah".


"Ya sudah, kalian makan bersama saja dengan mereka atau kalau tidak lebih enak kalau kalian makan di taman".


"Kita makan disini saja, ayo mbak kemari makan bersama dengan kami" ajak Marisa kepada kedua pelayan Elisabet yang setia menjaganya. "Tidak apa-apa, ayo. Tidak usah merasa sungkan seperti itu".


"Terima kasih nona" senang mereka.


"Iya, ayo duduk".


"Iya nona".


.


Selesai sarapan Flora meminta keluar sebentar kepada Marisa. Begitu Marisa mengangguk, ia segera bergegas keluar dari ruang inap Elisabet. "Mmpphhmm, mmpphhhmmm.. Ah, mmpphhmmmm.. Astaga, kenapa ruangan itu bau sekali" gumam Flora meremas perutnya. Lalu Flora melihat tanggal Exit disebelah kanan, ia pun langsung masuk kedalam. "Aahhh.. Kepala ku pusing sekali" dengan tubuh lemas Flora mendudukan diri di anak tangga.

__ADS_1


Ceklek!


Flora terkejut begitu seseorang tiba-tiba membuka pintu, namun begitu ia tau siapa orang yang baru saja membuka pintu tersebut, ia pergi menuruni anak tangga untuk menghindarinya, tetapi. "Kamu mau kemana? kenapa kamu selalu menghindari ku?" tanya Jose menahan tangannya.


"Tolong lepaskan tangan ku".


"Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu menjawab pertanyaan ku".


"Aku tidak ingin melihat mu dan aku tidak ingin mendengar suara mu. Karna itu aku selalu menghindari kamu, kamu puas?".


"Itu saja?".


"Mmmm, karna itu tolong lepaskan tangan ku".


"Aku tidak yakin dengan alasan itu kamu selalu menghindari ku. Aku tau kamu pasti sangat marah soal..


"Hentikan, aku tidak ingin membahasnya.. Ahhh" gantung Flora begitu Jose menarik tubuhnya kedalam pelukannya.


"Aku tau kamu marah karna itu" Kedua mata Flora pun langsung berkaca-kaca begitu Jose memeluknya, ia merasa kalau bayi yang ada dalam kandungannya itu sangat menginginkan pelukan Jose yang hangat. Kemudian Jose merasakan tubuh Flora bergetar membuat ia melepaskan pelukannya, "Kamu kenapa menangis?".


Flora melap air matanya, "Tidak, aku tidak menangis".


"Aku bilang tidak".


"Kamu tidak bisa membohongi ku. Kenapa kamu menangis?".


Flora menatapnya, "Aku hamil" jawabnya.


"Apa?" kaget Jose dengan mata membulat. "Ka-kamu serius? kamu tidak sedang membohongi aku kan?".


"Mmmm, aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah menuntut pertanggung jawaban mu asalkan kamu tidak pernah menganggu ku atau pun menunjukkan dirimu dihadapan ku. Aku mohon".


Bukannya marah atau pergi meninggalkannya, Jose malah tersenyum bahagia menarik tubuh Flora kedalam pelukannya kembali. "Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan. Tolong perjuangan bayi kita, aku mau bayi itu lahir ke dunia ini" ucapnya mencium kening Flora dengan sayang.


"Apa?".


"Mmmm, aku mau kamu melahirkan bayi itu dan terima kasih sudah memberitahu ku".


"Aku tidak bisa".


"Hhmm?".

__ADS_1


"Aku tidak bisa melahirkan anak ini".


"Kenapa?".


"Aku tidak mau anak ku lahir ke dunia tampa seorang ayah. Maaf aku tidak bisa, permisi".


"Tunggu" tahan Jose. "Maksud kamu apa? aku sudah berkata kepada mu kalau aku akan bertanggung jawab dengan bayi itu".


"Iya, tapi kamu bukanlah seorang ayah yang akan bebas dia panggil kapan pun dia mau. Dari pada itu akan menyakiti ku dan anak ini, lebih baik dia tidak usah lahir ke dunia ini. Maaf" jawab Flora pergi meninggalkannya.


"Apa?" kesal Jose mengusap wajahnya melihat Flora menuruni anak tangga, tetapi Jose yang tidak terima kalau bayi itu akan di buang oleh Flora, ia pun langsung berlari mengikuti Flora dari belakang. "Berhenti, aku bilang berhenti disana" dan bukannya berhenti, Flora malah semakin mempercepat langkahnya sampai membuat dirinya hampir terjatuh kalau saja Jose tidak menahan tubuhnya. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh dengan ke khawatiran.


Dengan kaki lemas dan nafas berat Flora menarik tangan Jose kedalam pelukannya. "Terima kasih, terima kasih sudah menyelamatkan aku" lalu ia jatuh pingsan.


"Flora.. Flora..Flora..!" panggilnya. Jose melihat kelantai atas, ia pun segera membawa pergi dari sana.


.


Di dalam ruangan Marisa sedang asik menunjukkan album foto waktu dia masih kecil kepada Elisabet. "Hahahaha, waktu kecil kamu sangat menggemaskan sekali" tawa Elisabet.


"Heheheh.. Kata ibuku, waktu kecil Risa seperti laki-laki. Tidak tau apa karna waktu Risa di dalam kandungan, ibuku dan ayahku sangat menginginkan seorang putra, tapi yang datang malah seorang putri".


"Tapi putri itu kini sudah menjadi istri dari cucu ku. Aku harus mengucapkan terima kasih banyak kepada mereka sudah membesarkan kamu dengan baik" dengan senyum mengembang diwajah Marisa, ia pun langsung memeluk Elisabet dari samping dengan sayang. "Minggu ini kakak perempuan ku akan menikah".


"Mmmm, semalam kedua orang tua mu memberitahu ku. Mereka mengundang ku, tapi aku tidak bisa datang ke acara pernikahan saudara mu dan juga Dilan, kalau tidak salah pernikahannya tepat diacara pernikahan saudara kamu".


"Apa nyonya Elisabet akan datang ke acara pernikahan tuan Dilan?".


"Tidak, aku tidak akan bisa datang kesana. Mulai hari ini aku akan menghabiskan waktu hanya dirumah sakit, dan mulai besok kamu tidak usah datang kemari. Aku mau kamu hanya fokus kepada Lucas, kalau aku pergi, aku mau dia tidak terlalu sedih, karna itu aku meminta dia menikahi mu. Tolong jaga dia untuk ku, meskipun pernikahan kalian masih secara tertutup".


"Nyonya Elisabet tenang saja, aku akan menjaga dan melindungi dia sampai selamanya".


"Terima kasih. Mendengarnya mu berkata seperti itu membuat ku semakin cepat ingin pergi".


"Apa rasanya sangat sakit?" tanya Marisa semakin mengeratkan pelukannya.


"Sangat sakit, rasanya sangat sakit".


"Apakah nyonya Sabet menginginkan sesuatu yang belum kesampaian sampai sekarang? maka aku akan mengabulkannya".


"Sudah, yaitu melihat kalian berdua menikah meskipun tidak sampai melihat kalian memiliki seorang putra dan putri" jawab Elisabet mengusap kepala Marisa dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2