Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 109


__ADS_3

Hari telah berlalu begitu juga dengan bulan, saat ini Marisa dan Flora tengah berada taman belakang menikmati pemandangan indah di pagi hari. "Tidak terasa sebentar lagi kamu akan melahirkan Ra, apa kamu masih bersikeras tidak ingin menemui Jose?" tanya sang sahabat.


"Hhhmmsss.. Berhenti menyebut namanya Sa di hadapan ku, aku tidak ingin mendengar nama itu. Kamu juga tidak terasa kalau saat ini usia kandungan kamu telah memasuki bulan ke 8".


"Mmmmm" Marisa tersenyum. Kemudian ibunya Rehan membawakan sebuah cemilan sederhana untuk mereka, "Terima kasih ya bu".


"Iya nona" angguknya.


"Terus apa yang akan kamu lakukan Ra? apa kamu benar-benar serius dengan keputusan ini? kalau aku saran sebaiknya kamu pikir-pikirkan lagi, ya mungkin untuk bersamanya kamu tidak ada harapan, tapi setidaknya biarkan Jose bertanggung jawab atas kamu dan bayi mu atau kalau tidak untuk bayi kamu saja".


Flora menatapnya, "Tidak bisa Sa, kalau sampai aku membiarkan Jose bertanggung jawab atas bayi ini, itu artinya aku akan lebih tidak bisa nantinya melupakan dia".


"Kenapa harus seperti ini sih?".


"Dan sebenarnya aku ingin memberitahu mu sesuatu Sa dan ini sudah aku pikirkan jauh-jauh hari sebelumnya".


"Apa itu Ra? kamu membuat ku sedikit khawatir".


"Maaf jika aku tidak memberitahu mu selama ini Risa. Minggu ini aku berencana kembali ke kampung halaman ku".


"Apa?" Marisa terkejut. "Kamu serius Ra? kamu serius mau pulang ke kampung halaman mu? terus bagaimana denga..


"Aku sudah memberitahu mereka Sa kalau saat ini aku tengah mengandung meskipun saat itu mereka sempat sangat syok mendengar kabar ku yang sekarang. Karna itu aku harus kembali Sa" Flora tersenyum menggenggam tangan sang sahabat. "Terima kasih untuk selama ini Risa, kamu benar-benar sahabat terbaik sepanjang sejarah hidup ku di dunia ini. Maaf aku belum bisa memberi yang terbaik untuk mu, terima kasih".


Dengan mata berkaca-kaca Marisa pun langsung memeluknya, "Ya Tuhan, kamu benar-benar akan pergi Ra?".


"Mmmmm, maaf".


"Tidak, kamu tidak perlu harus minta maaf Flora. Malahan aku ingin mengucapkan terima kasih banyak sama kamu karna selama ini kamu sudah mau menjadi sahabat terbaik ku. Tapi kamu yakin akan pulang kampung? lalu bagaimana dengan ku disaat aku benar-benar sangat merindukan mu?" tanyanya membuat Flora tertawa kecil. "Yah, aku tidak sedang bercanda Flora, eeeiisss".


"Aku juga tidak sedang bercanda Marisa, abis kamu lucu banget sih".


"Jadi kapan kamu akan pergi?".


"Mmmmm, kalau tidak ada halangan aku berencana pergi sabtu ini, tapi sebelumnya aku mau izin dulu dengan keluarga mu yang sudah menjaga ku selama ini".


"Ya sudah kalau kamu benar-benar akan pergi, nanti begitu melahirkan jangan lupa memberitahu ku supaya aku dan Lucas datang kesana. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Ra".

__ADS_1


"Aku juga Risa, disaat aku sudah pergi aku mau kamu harus lebih menjaga kesehatan kamu supaya bayi yang ada dalam kandungan mu ini baik-baik saja".


"Pasti Ra" senyum Marisa memeluknya kembali.


.


Dirumah sakit Raniya sedang di sibukkan dengan pekerjaannya sedangkan Jose yang termenung di dalam ruangannya, ia sedang merokok dengan nafas berat sembari menatap lurus keatas gedung-gedung tinggi yang berada disekitarnya.


Tok... Tok...


Ceklek!


"Selamat pagi tuan, bisakah saya membersihkan ruangan ini?" tanya Salsa membawakan peralatan kebersihan tersebut kedalam ruangannya. Lalu Jose melihatnya, dengan senyum manis Salsa menunjukkan gigi ratanya. "Kalau tidak bisa saya akan keluar tuan, nanti saya akan melanjutkanny..


"Tidak, kamu bisa membersihkannya" potong Jose memilih keluar dari dalam sana.


"Tuan tunggu!".


"Kenapa?".


"Ah.. hahahha.. Tidak tuan, maaf" tunduk Salsa merasa malu.


"Mmmmm, sebenarnya..


Ceklek!


"Jose!" panggil Raniya yang baru saja membuka pintu. "Kamu siapa?" lihatnya kepada Salsa.


"Maaf dok, saya sedang..


"Sebaiknya kamu bicara diluar" potong Jose menarik Raniya pergi dari sana. Lalu menatapnya, "Ada apa?".


Raniya menghela nafas, "Papa baru saja menelpon ku, apa yang kamu katakan kepadanya?".


"Maksud kamu?" Jose mengernyitkan dahi. "Aku tidak mengerti maksud dari perkataan mu, papa kamu bilang apa?".


"Papa berkata kalau kamu menginginkan seorang bayi. Apa kamu sudah gila? ingat yah kita sudah sepakat kalau pernikahan ini hanyalah sebatas sandiwara, jadi jangan pernah berharap lebih dari ku" jawab Raniya membuat Jose tertawa.

__ADS_1


"Yah, kamu pikir aku juga gila?".


"Terus kenapa papa berkata seperti itu? kamu mabuk saat itu?" Jose pun terdiam, ia mencoba mengingat-ingat perkataannya saat ia dan ayah mertuanya berada di bar. "Ais, kamu benar-benar sangat bodoh, pokoknya aku enggak mau tau, masalah ini kamu selesai sendiri. Dan ingat, jangan pernah membawa-bawa nama ku".


Lalu Jose mendudukkan diri, dengan kasar ia mengusap wajahnya. "Aaakkhh, apa yang sedang aku pikirkan? bagaimana bisa aku berkata seperti itu?" Jose mengeluarkan ponselnya, disana ia memperhatikan gambar Flora yang sedang tersenyum saat mereka berada di pantai. "Apa yang sedang kamu lakukan? apa kamu begitu membenci ku sampai kamu enggan bertemu dengan ku lagi?".


Kemudian ia melihat Salsa keluar dari dalam ruangannya, "Tuan saya sudah selesai membersihkan ruangan tuan".


"Mmmm, terima kasih" angguk Jose memasuki ruangan itu kembali mendudukan diri diatas kursi kebesarannya. Lalu mencoba menghubungi nomor ponsel Flora.


DDDRRRTTTTT... DDDRRRRTTTT...


"Aku mohon angkat Flora.. "gantung Jose melihat sebuah panggilan dari Marisa masuk kedalam ponselnya. "Iya Risa. Ada apa? apa kamu sedang bersama dengan Flora? apa dia baik-baik saja? aku sangat mengkhawatirkan dia" ucapnya membuat Marisa tidak bisa mengeluarkan perkataannya.


"Makanya kamu dengarkan aku dulu Jose".


"Sorry Risa. Kamu lagi dimana? kamu bersama dengannya?".


"Tidak, Flora berada di dalam kamarnya. Aku ingin memberitahu mu sesuatu".


"Apa itu Risa?" namun sebelum Marisa menjawabnya, ia terlebih dahulu berpikir haruskah ia memberi tahu kalau saja Flora akan segera meninggalkan kota ini dan memilih tinggal di kampung halaman orang tuanya. "Kenapa kamu diam Risa? apa sesuatu terjadi dengan Flora?".


"Jose, apa sebaiknya aku memberitahu mu?".


"Maksud kamu Risa?".


"Flora memilih untuk melahirkan di kampung Jose".


"Apa?" kaget Jose berdiri dari atas kursinya. "Risa, apa kamu mengatakan yang sebenarnya?".


"Mmmm, aku mengatakan yang sebenarnya dan ternyata keluarganya yang berada di kampung sudah mengetahui kalau Flora tengah mengandung anak kalian. Apa yang akan kamu lakukan? kalau aku saran kamu jangan menghalangi jalannya, tapi bertanggung jawablah atas hidup Flora sampai suatu saat nanti Flora menemukan pengganti mu Jose".


"Tidak akan Risa, sampai kapan pun Flora akan tetap menjadi milik ku. Aku tidak akan pernah membiarkan pria lain memilikinya dan juga bayi ku. Terus kapan Flora akan pergi?".


"Sabtu nanti".


"Terima kasih sudah memberitahu ku Risa, kalau gitu aku tutup dulu".

__ADS_1


"Mmmmm".


__ADS_2