Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 42


__ADS_3

Begitu Jose mendekati kedua wanita itu, ia tersenyum senang menjongkokkan diri dihadapan mereka. "Sepertinya kalian berdua sudah mabuk berat" ucap Jose.


"Oo, kamu" senyum Flora menunjuk wajah Jose. "Sedang apa kamu disini? tampan sekali".


"Siapa?".


"Kamu".


"Aku?".


"Mmmmm, kamu sangat tampan sekali, aku menyukainya".


"Kamu suka apa? wajah ku yang tampan atau kamu menyukai aku karna perasaan?".


"Dua-duanya, aku menyukai dua-duanya sejak pertama kali kamu mencium ku".


"Apa? mencium mu?".


"Mmmm, waktu di bar kamu mencium ku sambil menyentuh pipi kanan ku. Kamu sangat cantik, maukan kamu menghabiskan malam yang panjang bersama ku. Tapi aku menolak mu karna aku tidak mengenal mu, setelah itu kamu pergi begitu saja meninggalkan aku".


Jose tersenyum, "Ternyata wanita itu adalah kamu. Terus sekarang kamu masih menolak ku?".


"Apa?".


"Menghabiskan malam yang panjang bersama ku".


"Tidak mau, aku tidak akan pernah memberikan diri ku kepada pria yang tidak aku kenal".


"Bukankah kamu sudah mengenal ku?".


"Mmmmm, tapi aku tetap tidak mau" jawab Flora melihat Marisa terlentang diatas lantai membuat ia tersenyum. "Kamu lihat dia, dia malah tertidur. Ah, kepala ku juga sangat pusing, bisakah kamu memanggilkan jasa supir kemari? aku tidak bisa membawa mobil dengan keadaan mabuk".


"Tunggu sebentar" Jose menghampiri Lucas. "Lucas" panggilnya.


"Ada apa?".


"Tidak bisakah kamu membawanya pulang, dia sudah tertidur".


"Ck" kesal Lucas meninggalkan mereka menghampiri Marisa bersama dengan Flora. "Lalu bagaimana dengan dia?".

__ADS_1


"Biar aku yang mengurusnya".


"Mmmmm" angguk Lucas langsung membawa Marisa pergi dari sana. Di dalam mobil, Lucas memandangi wajah Marisa, ia sedikit tampak asik tampa memalingkan wajahnya hampir 5 menit lamanya. "Aaiiiss, apa yang sedang aku pikirkan?" setelah itu Lucas menjalankan mobil menuju kediamannya.


Sesampainya dirumah, Lucas membawa tubuh Marisa kedalam kamar. Kemudian membenarkan cara tidurnya sembari menyelimuti tubuhnya, namun saat itu juga kedua mata Lucas terpesona dengan bibir ranum milik Marisa. "Ah, apa lagi yang sedang aku pikirkan? kenapa orang ini malah mengotori pikira..


"Mmmmm, ini sangat panas sekali, jangan menyelimuti ku ma" kesal Marisa membuang selimut ditubuhnya sambil membuka pakaiannya membuat Lucas tersenyum mengejek melihat Marisa yang tidak menyadari ia sedang dimana. "Ini baru nyaman".


Begitu Marisa membuka pakaiannya di hadapan Lucas, ia pun langsung merasakan sesuatu sedang bergejolak dalam tubuhnya membuat Lucas terlihat kesal. Kemudian Lucas memasuki kamar mandi, dan seperti biasa ia hanya bisa melakukannya disana.


Setelah selesai, Lucas keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat Marisa tertidur pulas dalam tidurnya, Lucas melap wajahnya, lalu membaringkan tubuhnya diatas sofa.


DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTTTT...


Lucas menyambar ponselnya, ia melihat nomor Raniya sedang menghubungi dirinya. "Ada apa tengah malam seperti ini Raniya menghubungi ku?" gumam Lucas mengeser tombol hijau. "Iya, ada apa Rani?".


"Kamu dimana Lucas?".


"Kamu mabuk?" tebak Lucas mendengar suara berat Raniya.


"Mmmm, aku mabuk. Aku sedang minum-minum seorang diri di apertemen ku Lucas".


"Tidak, aku sedang tidak baik-baik saja Lucas. Karna itu aku ingin menghibur diriku sendiri dengan anggur ini" jawab Raniya tersenyum meneteskan air mata.


"Kenapa? kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?".


"Aku juga tidak tau Luca..


Tut.. tut.. tut...


Lucas melirik ponselnya, batrenya ponselnya malah habis. "Apa dia baik-baik saja?" gumam Lucas mengisi daya ponselnya.


.


Pagi harinya Marisa membuka mata, ia menguap sangat lebar begitu matahari terbit, kemudian Marisa merentangkan kedua tangannya. "Ah, pagi ini sangat cerah seka.. Ooo" gantung Marisa menyadari kamar tersebut seperti tampak asing.



"Astaga, aku dimana?" Marisa pun langsung melihat tubuhnya yang hanya di tutupi oleh Pakaian dalam. "Tidak, ini tidak mungkin, ini tidak mungkin" teriak Marisa membuat Lucas membuka mata yang berada di atas sofa.

__ADS_1


"Aaiisss, kenapa dia harus teriak di pagi hari ini?" kesal Lucas berjalan mendekatinya. "Yah, tidak bisakah kamu diam?".


"Ooo, tuan Lucas? ke-kenapa saya bisa berada disini tuan? apa yang terjadi? kenapa pakaian saya.. hiks" tangis Marisa melap air matanya.


"Yah.. Apa yang sedang kamu pikirkan?".


Marisa semakin mengeluarkan air matanya, "Kalau tuan menginginkan tubuh ku, kenapa harus disaat aku mabuk tuan? aku kan jadi enggak tau apa-apa".


Lucas geleng kepala, "Sepertinya kamu sudah tidak waras lagi".


"Tunggu, tuan mau kemana?".


"Apa?".


"Tuan harus tanggung jawab".


"Tanggung jawab apa?".


"Tanggung jawab atas apa yang telah tuan Lucas lakukan".


"Emang aku melakukan apa sampai kamu meminta ku harus bertanggung jawab hahh? kamu pikir.." Lucas melihat tubuhnya. "Sayang sekali, kamu bukan tipe ku".


"Apa?" kaget Marisa secara spontan melempar bantal tersebut diwajah Lucas. "OMG, apa yang barusan aku lakukan" dengan rasa bersalah Marisa langsung menuruni tempat tidur meminta maaf tampa perduli dengan tubuhnya. "Tuan aku maaf. Aku tidak sengaja, aku benar-benar tidak sengaja melemparnya tuan".


Lucas menatapnya dengan kesal, namun Marisa yang malah menunduk ketakutan membuat Lucas gemas dengan tubuh Marisa setengah telanjang. "Ck, wanita ini malah menggoda ku lagi" senyum Lucas menarik sudut bibirnya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Marisa tampa mengeluarkan sepata dua kata untuknya.


"Aarrhhh, kenapa malam pergi begitu saja sih? setidaknya dia memarahi ku atau tidak memakiku. Bagaimana ini?" gumam Marisa mencari untuk meminta maaf kepada Lucas. Tapi ia malah kesusahan mencari ide tersebut, "Ini tidak bisa di biarkan" Marisa memungut bajunya yang berada di atas tempat tidur, lalu memakainya, kemudian keluar dari dalam kamar mencari keberadaan Lucas.


"Tuan, tuan" panggilnya. "Tuan, ada dimana?" panggilnya lagi menuruni anak tangga. Lalu Marisa berjalan kearah dapur, ia pun langsung melihat Lucas berada disana. "Ternyata dia disini, sedang apa dia.. Mmmm, sepertinya dia sedang membuat sarapan, ketepatan sekali nih aku lagi lapar. Tapi bagaimana bisa aku makan disaat seperti ini? kalau gitu aku minta maaf dulu" Marisa berjalan mendekatinya. "Tuan".


Lucas menatapnya, Marisa malah tertawa cengegesan kepadanya membuat Lucas lagi-lagi geleng kepala, "Minggir, jangan menghalangi jalan ku".


"Heheheh, maaf".


"Hhhmmmsss, sekarang kamu minggir".


"Aku lapar, tidak bisakah tuan membuat untuk ku juga?".


"Kamu lapar buat sendiri, jangan menghalangi ku" Lucas membawa sarapannya diatas meja tampa perduli dengan Marisa yang masih berdiri disana dengan tatapan kesal bercampur sedih.

__ADS_1


"Dia pelit banget sih, mana aku enggak bisa masak lagi" gumam Marisa mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka youtube mencari cara memasak sarapan pagi dengan mudah, tetapi melihat bahan-bahan yang digunakan sangat banyak membuat Marisa tidak bisa melakukannya. "Ah, aku tidak bisa".


__ADS_2