
Di kantor Dilan sedang sibuk dengan pekerjaannya, lalu Reza memasuki ruangannya membuat Dilan langsung terlihat kesal kepadanya. "Ada apa kamu kemari?".
Reza tersenyum berjalan mendekati meja kerjanya, "Ada apa dengan wajah mu terlihat sangat kesal sekali Dila...
Ceklek!
"Tuan.." gantung Rudy begitu ia melihat Reza berada disana. "Haahh.. Ternyata ada tamu, kalau begitu saya permisi dulu..
"Tunggu sebentar" tahan Reza.
"Ada apa?".
"Saya akan keluar, anda bisa bicara dengannya" Reza menyeringai lalu pergi meninggalkan mereka. Kemudian Rudy berjalan mendekati meja kerja Dilan sambil memberikan data penting yang ia minta kepadanya.
"Ini tuan".
"Mmmmm" gumam Dilan menyambar dokumen tersebut. "Kamu harus hati-hati, jangan sampai orang lain tau".
"Siap tuan".
"Sekarang kamu boleh pergi".
"Baik tuan" begitu Rudy keluar. Dilan membuka dokumen tersebut dengan senyum mengembang di wajahnya. Setelah itu Dilan memasukkan dokumen tersebut di dalam tasnya sembari menyambar ponselnya menghubungi nomor seorang wanita.
"Kamu dimana? aku akan menunggumu ditempat biasa" Dilan menutup ponselnya, melihat jam telah menunjukkan pukul 12 siang, ia segera keluar dari dalam ruangannya menuju parkiran. Sedangkan Reza yang masih berada disekitaran itu membuat ia langsung mengikuti Dilan dari belakang, seperti yang Lucas katakan, Lucas ingin ia mencari tahu apa yang sedang Dilan lakukan di balik kesibukannya selama ini.
"Dilan, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?" batin Reza memasuki mobilnya begitu Dilan menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran membuat ia segera mengikutinya.
DDDRRRRTTTTT... DDDRRRRTTTTT...
"Ada apa Lucas? aku sedang mengikuti Dilan dari belakang, aku merasa ada sesuatu yang mencurigakan".
"Kalau gitu aku akan menelpon mu nanti".
"Mmmmmm" angguk Reza semakin menancap pedal gas mobilnya melihat mobil Dilan yang sudah begitu jauh dari padangan matanya. Hingga kini mereka berdua memasuki sebuah jalan sedikit buntu, Reza pun tampak kebingungannya melihat tempat tersebut, bahkan kendaraan saja sangat jarang lewat dari sana. "Tempat apa ini? kenapa Dilan datang ke tempat seperti in... Astaga" kagetnya ketika sebuah mobil besar menghalangi jalannya.
"Yah.. Kalau kamu tidak bisa membawa mobil tidak usah datang ketempat seperti ini, merepotkan saja" bentak si pemilik mobil tersebut dengan marah kepadanya.
"Aaiisss.. Sialan" umpat Reza. Lalu ia melihat ke depan, tetapi ia tidak melihat mobil Dilan lagi berada disana. "Kurang ajar, ini semua karna orang itu sial-sial aarrkkhhh" Reza keluar dari dalam mobilnya, ia mengalihkan arah pandangan matanya ke sekitarnya tampak sangat sepi sekali. Kemudian Reza mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi nomor ponsel Lucas. "Hallo Cas, apa kamu tau tempat ini?" tanyanya menunjuk tempat tersebut.
__ADS_1
Lucas mengernyitkan dahi seperti mengetahui tempat tersebut, "Bagaimana bisa kamu sampai kesana Reza? tempat itu sedikit rawan. Berhati-hatilah, aku akan kesana".
"Lucas tunggu" tahan Reza sebelum Lucas mematikan ponselnya. "Maksud kamu rawan seperti apa? aku sampai kemari karna mengikuti Dilan dari belakang...
"Ada apa Reza? kamu baik-baik saja?".
"Lucas, aku melihat beberapa pria bermotor sedang mengarah kepada ku, aku tutup dulu cepatlah datang kemari".
"Cari perlindungan Reza dan jangan lupa aktifkan GPS mu aku akan kesana bersama dengan Jose".
"Baiklah" Begitu Reza mematikan ponselnya, Lucas segera menghubungi nomor ponsel Jose yang sedang berada di ruangannya.
"Ada apa Lucas?".
"Kamu dimana sekarang? aku membutuhkan mu, sepertinya Reza dalam keadaan bahaya".
"Apa yang terjadi Lucas? aku berada di rumah sakit".
"Aku akan kesana, bersiaplah nanti aku akan menjelaskannya".
"Oo baiklah" angguk Jose menutup berkas yang berada di genggamannya. Lalu menyambar jasnya segera keluar dari dalam sana, namun sebelum ia pergi, ia tidak lupa berkata kepada sekretarisnya kalau ia pergi keluar supaya orang yang akan datang mencarinya tidak menunggu. Namun saat ia bergegas berlari kecil menuju lift, Raniya yang sedang melihatnya langsung memanggil namanya.
Jose pun menghentikan langkahnya, "Kenapa kamu berada disini? bukankah sekarang hari libur mu?".
"Aku ingin bicara dengan mu, ayo ikut aku".
"Aku tidak bisa, aku harus pergi" ucap Jose menekan tombol lift.
"Ini mengenai pernikahan kita. Apa kamu tidak perduli?".
"Nanti saja setelah aku kembali" jawab Jose melihat pintu lift terbuka. "Maaf, aku harus pergi, nanti aku akan menghubungi mu".
"Jose!" panggilnya. Namun pintu lift tersebut telah tertutup membuat Raniya geram dengan Jose yang tiba-tiba tidak perduli begitu ia membahas tentang pernikahan mereka. "Ck, menyebalkan sekali di saat aku ingin bicara baik-baik kepadanya".
Sesampainya mobil Lucas di depan loby, Jose pun segera masuk ke dalam sambil bertanya apa sebenarnya terjadi. "Sepertinya Reza sedang dalam kesulitan. Bisakah kamu melihat GPS ponselnya?" Lucas memberikan ponselnya kepada Jose. "Kemarin aku meminta kepada Reza untuk menyelidiki apa yang Dilan lakukan dengan perusahaan, aku merasa kalau Dilan sedang korupsi bahkan keuangan perusahaan sedikit anjlok. Untuk memastikannya aku menyuruh Reza hingga sekarang ia terjebak saat mengikuti Dilan".
"Ck, apa Dilan tau kalau Reza mengikutinya?".
"Aku tidak tau pastinya, tapi sepertinya Dilan mengetahui kalau Reza mengikutinya dan tempat itu adalah tempat..
__ADS_1
"Tempat apa Lucas?".
"Tempat yang sangat rawan, aku sedikit mengetahui tempat itu..
"Tunggu, kamu lihat ini Lucas" Jose menunjukkan lokasi Reza saat ini. "Sepertinya Reza tertangkap oleh mereka".
"Sial" umpat Lucas semakin menggas mobilnya segera tiba disana, lalu mereka berhenti dijalan yang tadi Reza lewati namun mereka tidak menemukan jejaknya lagi disana. Kemudian Lucas menghentikan mobilnya di persimpangan yang Reza kirim tadi.
"Lalu kemana Reza perginya? apa tidak sebaiknya kita menghubungi ponselnya?".
"Jangan" tahan Lucas. "Berikan ponselnya".
"Ini" Lucas melihat GPS Reza berada saat ini tidak terlalu jauh dari jarak mereka berada sekarang. "Sebaiknya kita kesana Lucas sebelum...
DDDRRRRTTTTT... DDDRRRRTTTTT...
"Jose!" Lucas menunjukkan layar ponselnya kepada Jose dengan wajah sedikit terkejut begitu Reza menghubunginya kembali.
"Angkat saja Lucas, tapi aku yakin dia bukan Reza lagi".
"Oo" angguk Lucas menggeser tombol hijau mengangkat panggilan Reza. "Hallo Za!".
"Lucas, kamu dimana sekarang?".
"Reza? kamu baik-baik saja?".
"Tidak, mereka mencuri ku dan sekarang aku berada di sebuah kurungan yang sangat gelap yang tidak aku tau dimana ini sekarang".
"Aku dan Jose akan kesana, usahakan ponsel mu tidak mati. Lalu apa kamu tidak tahu siapa yang membawa mu kesana?".
"Aku tidak tau siapa mereka Lucas, berhati-hatilah karna mereka memiliki pistol dan benda tajam bahkan sekarang tubuhnya benar-benar tidak berdaya lagi begitu mereka menyuntikkan sesuatu di leher ku".
"Kurang ajar, bertahanlah, kami akan menyelamatkan mu".
"Mmmmm".
"Ayo Jose, Reza benar-benar dalam bahaya dan sekarang dia sedang di kurung".
"Ayo" angguk Jose.
__ADS_1