
Di dalam ruangannya Jose berdiri, ia menatap keluar sambil memikirkan orang yang dulu pernah singgah dalam hidup Raniya, "Siapa pria itu? kenapa Raniya tampak sangat mencintainya? apa aku mengenalnya? tapi bagaimana bisa aku mengenalnya? selama ini dia berada di L.A" Jose menghela nafas, memikirkannya membuat kepalanya pusing.
Tok.. Tok...
"Siapa?" tanyanya.
Ceklek!
"Siang tuan, saya membawa beberapa laporan".
"Mmmm, taruh saja disitu".
"Baik tuan".
Kemudian Jose mengeluar ponselnya, ia langsung menghubungi nomor Lucas yang sedang berada di kantor, "Kamu sedang apa Lucas? bisakah kita bertemu di cafe xx?".
"Ada apa kamu meminta ku bertemu?".
"Aku tidak bisa membicarakan ini melalui telpon, aku tunggu kamu disana" Jose mematikan ponselnya, ia pun segera keluar menuju cafe yang tadi ia bicarakan. Namun saat Ia keluar, Ia melihat Marisa dan Raniya sedang mengobrol didepan ruangan perawat membuat ia menghentikan langkahnya. "Apa yang sedang kalian bicarakan?".
"Tidak, kami sedang mengobrol biasa saja" jawab Raniya. "Kalau gitu aku pergi dulu" ucapnya kepada Marisa.
"Iya dok" angguk Marisa. Lalu ia melihat Jose yang berdiri disampingnya sambil memperhatikan punggung Raniya yang sudah menjauh dari hadapan mereka. "Semangat!".
Jose melihatnya, lalu membalas senyuman Marisa. "Terima kasih".
"Mmmmm" Jose pun langsung pergi dari hadapannya. "Dia tidak beda jauh dari tuan Lucas soal ketampanan, beruntung sekali dokter Raniya dicintai pria seperti dia, aku sangat iri".
Sesampainya Jose disana, ia memesan dua minuman segar untuknya dan Lucas. Tidak menunggu lama lagi, ia pun melihat Lucas mendorong pintu membuat ia tersenyum, "Disini bro" lambainya.
Lucas berjalan, lalu ia duduk dihadapan Jose, "Ada apa kamu kemari memanggil ku?".
"Kamu minum dulu, aku sudah memesannya".
"Terima kasih" Lucas meminumnya.
"Raniya menunda pernikahan kami" ucap Jose sedih.
Lucas melihatnya, "Kenapa?".
"Dia berkata kepada ku kalau dia belum bisa melupakan pria yang dulu pernah singgah dalam hidupnya. Kamu tau siapa pria itu Lucas? kamu berkata kepada ku kalau kalian pernah dekat waktu di L.A juga".
Lucas terdiam, "Aku juga tidak tau, selama itu aku tidak pernah melihat Raniya dekat dengan pria lain. Dia tidak memberitahu mu siapa pria itu?".
"Dia tidak memberitahu ku".
"Kamu tanya saja siapa pria itu. Lebih baik dari pada kamu menganggu jam kerja ku" Lucas melirik jamnya. "Ini sudah jam 3, aku pergi dulu".
"Mmmmm, terima kasih, nanti malam aku ingin minum bersama mu, bisakah?".
"Mmmmmm" angguk Lucas keluar. Sedangkan Jose masih berada disana, ia semakin tidak bisa berhenti memikirkan siapa pria tersebut membuat Jose semakin kesal, tapi ia gengsi kalau sampai ia bertanya kepada Raniya tentang pria itu.
.
Di rumah sakit Marisa sedang memijit kedua kaki Elisabet dan kedua tangannya. "Kamu sudah melihat mobil mu?".
Marisa menghentikan tangannya, "Nyonya, sebenarnya.. Sebenarnya mobil itu terlalu mahal untuk orang seperti saya nyonya. Saya mau nyonya menggantinya saja jadi mobil biasa".
Elisabet tersenyum, "Tidak apa-apa selagi kamu menyukai mobil itu. Harganya tidak akan membuat ku jatuh miskin".
Marisa terharu, "Nyonya baik sekali kepada saya, terima kasih banyak nyonya meskipun saya tidak tau cara membalas kebaikan nyonya dengan apa".
"Cukup kamu cintai cucu saya dengan setulus hati mu, itu semua sudah lebih dari cukup. Wanita baik seperti kamu sudah sangat jarang di temui. Karna wanita sekarang hanya ingin mengejar harta, lalu berlanja sepuas hati mereka sampai tidak tau waktu kapan ia melayani suaminya".
"Astaga, wanita matre itu juga termasuk salah satunya aku. Ya Tuhan, aku sangat berdosa sekali" batin Marisa. Lalu ia melanjutkan memijit kedua kali Elisabet. Hingga hari semakin sore sang suster memasuki ruangan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan ibu? apa ibu sudah merasa baikan?".
"Bisa dibilang sus" jawab Elisabet.
"Syukurlah, saya turut senang mendengarnya bu" senyum si perawat selesai menyunyik vitamin di inpus Elisabet, setelah itu ia pamit keluar.
Kemudian Marisa mendekati Elisabet, "Sebelum nyonya tidur, nyonya membutuhkan sesuatu?".
"Tidak" jawabnya. Marisa pun membenarkan posisi tidur Elisabet sambil memperbaiki selimut yang menempel ditubuhnya. Lalu Marisa melihat keluar, hari sudah malam.
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Hallo Ra" jawab Marisa mendengar suara isak tangis Flora dari sebrang sana membuat ia khawatir kepada sang sahabat. "Ada apa Ra? kamu menangis?".
"Hiks.. Hiks.. Risa, kamu dimana?".
"Kamu kenapa Ra? aku dirumah sakit. Ini aku mau pulang, kamu dimana? aku akan menyusul mu".
"Aku ada di bar tempat biasa. Kemarilah, aku butuh kamu Sa".
"Mmmm, aku akan kesana" Marisa mematikan ponselnya. Ia melirik Elisabet yang sudah terlelap dalam tidurnya, setelah itu Marisa keluar dari dalam kamar, namun sebelum ia meninggalkan rumah sakit, ia tidak lupa menitipkan Elisabet kepada perawat khusus yang menjaganya kalau ia tidak berada disana.
"Iya nona" jawabnya.
"Terima kasih sus" Marisa langsung meninggalkan rumah sakit dengan mobil mewah yang Elisabet berikan. Tetapi Marisa malah terjebak di jalan macet membuat ia menghabiskan waktu kurang lebih 40 menit, padahal jarak yang ingin ia tempuh cukup menghabiskan waktu selama 30 menit. "Aaiiss, pakai jalanan macet lagi" gumam Marisa melirik jamnya telah menunjukkan pukul 9 malam.
DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Kamu udah dimana Sa? kenapa kamu lama sekali sih?" gerutu Flora meneguk alkoholnya.
"Aku sudah dijalan Ra, cuman jalanan sangat macet sekali membuat aku tidak bisa cepat. Kamu tunggu saja, aku akan segera tiba".
"Cepatlah kemari".
"Mmmmm" angguk Marisa melihat mobil yang berada dihadapannya sudah berjalan. Ia pun langsung menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Sesampainya di depan bar, ia keluar dari dalam mobil, "Pak, saya titip mobil saya ya pak" ucapnya kepada petugas parkir.
Begitu Marisa masuk kedalam, ia mendengar suara alunan musik yang sangat merdu di kedua telinganya. "Let Her Go" lagu passenger.
Well, you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go
Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow, and they go so fast
You see her when you close your eyes
Maybe one day, you'll understand why
Everything you touch surely dies
But you only need the light when it's burning low
__ADS_1
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
'Cause love comes slow, and it goes so fast
Well, you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
'Cause you loved her too much, and you dived too deep
Well, you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go
Oh, oh, mm, oh
And you let her go
Oh, oh, uh, uh
Well, you let her go
'Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
'Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
__ADS_1
Only know you love her when you let her go
And you let her go