Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 64


__ADS_3

Marisa mengigit jarinya, "Aku tidak tau harus mengatakan apa lagi Ra. Tapi jalan satu-satunya kamu harus meminta pertanggung jawaban dia".


"Aku tidak bisa Sa".


"Kalau gitu kamu gugurkan saja bayi itu kalau kamu tidak mau minta pertanggung jawaban dia. Bagaimana?" tanya Marisa membuat Flora berkaca-kaca kalau ia harus menggugurkan bayi yang ada dalam kandungannya. "Kamu enggak mau kan Ra? jadi kamu harus meminta pertanggung jawaban Jose meskipun tadi Reza meminta ku supaya kamu menikah dengannya, dia siap menerima kamu apa adanya".


"Mau sampai kiamat pun aku tidak akan bisa menikah dengannya Sa. Apalagi disaat aku sedang berbadan dua. Apa sebaiknya aku menghilang saja Sa, terkadang aku lelah dengan hidup ini".


"Jangan gila Ra" Marisa menggenggam kedua tangannya. "Jangan pernah berpikir macam-macam, kalau pun kamu tidak bisa meminta pertanggung jawaban dari Jose, aku akan berusaha untuk melindungi kamu tampa seorang pun menghina mu. Semua akan baik-baik saja".


"Terima kasih Sa" senyum Flora melap air mata yang tadi ia tahan.


"Mmmm. Semangat".


.


Seperginya Flora meninggalkannya, Marisa menatap makanan Flora yang sama sekali tidak ia sentuh dengan tatapan sendu. "Hhhmmss, kenapa harus kamu sih Ra? kenapa harus kamu yang merasakan sakit ini? maaf aku tidak bisa melindungi kamu selama ini" gumam Marisa mengusap wajahnya dengan kasar.


DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTTT...


"Iya kak Za?".


"Kamu dimana Risa? tidak bisakah kamu menemani kakak ke mall membeli suatu untuk keperluan nanti. Soalnya mama lagi pergi bersama dengan teman-teman mama".


"Ke mall? harus sekarang yah kk?".


"Kenapa? kamu lagi sibuk?".


"Bukan sih kk, Risa hanya sedih ajah hari ini. Bagaimana kalau nanti sore saja kk? tapi sekarang Risa akan kerumah".


"Kenapa? apa sesuatu terjadi dengan suami mu?".


"Tidak, ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia kk".


"Ya sudah. Kakak tutup".


"Mmmmm" angguk Marisa meletakkan ponselnya. Setelah itu ia menyambar tas pergi dari sana menggunakan mobil pemberian Elisabet. Tetapi saat Marisa masuk kedalam mobilnya, ia melihat Dilan di dalam mobil sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita yang tidak ia kenal. "Astaga, itu bukannya tuan Dilan? apa yang sedang dia lakukan disana? bukankah sabtu nanti dia akan segera menikah?" gumam Marisa mengeluarkan ponselnya menghubungi nomor Lucas. Tetapi Lucas yang sedang sibuk tidak menyadari kalau ponselnya sedang berdering.


"Ah, kenapa dia tidak mengangkatnya? Atau haruskah aku mengambil gambar mereka berdua sebagai bukti? aku rasa itu ide yang bagus" Marisa pun langsung mengambil dua gambar. Setelah itu Marisa menunduk begitu Dilan bersama dengan si wanita tersebut menyudahi aksi romantis mereka. Lalu Dilan keluar, ia berjalan meninggalkan parkiran.


"Tapi kenapa malah tangan ku yang bergetar? aku merasa sangat takut. Apa sebaiknya aku menghapusnya saja? lagian wajah wanita itu tidak terlihat dengan jelas. Tapi kalau aku menghapusnya.. Ah sudahlah, sebaiknya aku membiarkannya saja, siapa tau nantinya berguna".


Sesampainya marisa di dalam rumah, ia melihat sang kakak sedang asik menonton tayangan acara pernikahan. "Lagi nonton apa kak?" tanyanya mendudukan diri disamping Zara.

__ADS_1


"Nonton itu biar nantinya kakak enggak tegang kalau sudah sampai altar. Terus kamu kenapa kaya lelah seperti itu?".


"Aku juga tidak tau kak" jawab Marisa menutup wajahnya dengan bantal. "Hari ini aku sangat lelah sekali, biarkan aku tidur sampai 3 jam lamanya kk, setelah itu baru kita pergi. Ok".


"Mmmm" gumam Zara tersenyum melihat sang adik. "Tidurlah".


"Terima kasih".


DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTT...


"Kamu sudah tidur? ponsel kamu berdering Sa?".


"Siapa?" tanyanya dengan suara lelah.


"Mana kakak tau, orang ponsel kamu di dalam tas".


"Ck, siapa sih menelpon ku? menganggu saja. Hallo!".


"Ada apa?".


"Kamu siapa?".


Lucas menjauhkan ponselnya, ia melihat layar ponsel memanggil orang yang tepat. "Kenapa kamu bertanya ini siapa? ada apa tadi kamu menelpon ku?".


"Itu saja?".


"Mmmmm".


"Kalau gitu aku tutup. Pekerjaan ku sangat banyak..


"Tunggu. Kamu yakin tidak penasaran dengan informasi yang ingin aku beritahu kepada mu? Tapi kalau kamu penasaran, ada baiknya aku menceritakan secara langsung sekalian nanti aku menunjukkan buktinya. Jam berapa kamu pulang?".


"Sepertinya aku tidak pulang".


"Oohh.. Ya sudah, malam ini aku akan tidur dirumah ku. Ok by" kesal Marisa mematikan ponselnya secara sepihak.


"Kenapa?".


"Tidak apa-apa. Aku lanjut lagi".


Begitu Marisa mematikan ponselnya, Lucas meletakkan ponselnya mendengar seseorang sedang mengetuk pintu ruangannya yang tak lain adakah sekretarisnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Tuan kedatangan tamu".

__ADS_1


"Siapa?".


"Reza tuan".


"Reza?".


"Iya tuan".


"Suruh dia masuk".


"Baik tuan" angguk Tera menyuruh Reza masuk kedalam ruangannya. Dengan kening mengerut Lucas tampa sedikit mengenali pria yang berdiri dihadapannya itu. "Kamu siapa? kenapa wajah mu tampak sedikit familiar".


Reza tersenyum mendudukan diri diatas sofa melihat seisi ruangan Lucas. "Wah, ternyata seperti ini ruangan seorang CEO. Sangat bagus, aku menyukainya" Lucas berjalan meninggalkan kursi kebesarannya menghampiri Reza. "Ternyata kamu, aku pikir selama ini orang lain. Apa kabar mu Lucas?".


Lucas pun langsung tersenyum begitu ia mengingat wajah Reza yang sudah sangat lama berpisah dengannya, "Dan ternyata kamu. Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat. Selamat ini kamu kemana saja? aku dan Jose selalu menanti mu setelah 10 tahun lamanya kamu menghilang".


"Hahahaha.. Kalian merindukan aku?".


"Tentu saja".


"Terima kasih sudah merindukan aku selama ini. Apa kamu sudah memiliki kekasih?".


"Kenapa kamu bertanya itu? lalu bagaimana dengan mu?".


"Aku tidak memiliki kekasih. Tapi aku memiliki mantan kekasih, kamu mau tau siapa dia?".


"Apa aku mengenalnya?".


"Kamu mengenalnya. Dia adalah Marisa yang pernah jadi sekretaris mu" jawab Reza melihat ekspresi wajah Lucas seketika berubah menjadi masam. "Hahahah, tidak usah memasang wajah seperti itu. Kamu menyukainya?".


"Hhmmsss.. Tidak usah membahasnya".


"Itu artinya kamu menyukai dia. Kamu tau Lucas? wanita seperti dia itu sangat langkah kamu temukan. Udah baik, cantik dan sangat menggemaskan, mengingatnya aku jadi menyesal memutuskan dia".


"Hentikan".


"Baiklah. Lalu dimana Jose saat ini? aku merindukan dia. Tidak bisakah kamu memanggilnya datang kemari? ah dan satu lagi, beritahu dia membawa makanan dari luar aku belum makan siang".


"Sekarang kamu bekerja dimana?".


"Kamu tidak tau kalau ayah ku salah satu investor besar di perusahaan ini? dan sekarang aku salah satu rekan bisnis mu. Harusnya kamu menyambut ku dengan baik" jawab Reza membuat Lucas tersenyum. "Kamu tenang saja, aku akan mendukung mu untuk tetap di posisi ini. Apa kamu sedang mencurigai sesuatu?".


"Tidak. Lupakan saja. Tapi bukankah selama ini kamu berkeinginan menjadi seorang professor?".

__ADS_1


"Mmmm, dan aku sudah mendapatkan gelar itu di universitas xx" jawab Reza dengan bangganya.


__ADS_2