Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 8


__ADS_3

Setibanya di kota tersebut, seseorang telah menunggu mereka di depan pintu keluar. "Selamat malam tuan" ucapnya menunduk sopan.


"Mmmm" gumam Lucas.


Kemudian si pria itu memasukkan semua barang bawaan Lucas dan Marisa di dalam mobil, begitu melihat mereka sudah berada didalam mobil, ia pun segera masuk kedalam dan langsung menjalankan mobil tersebut meninggalkan bandara menuju hotel.


Tidak membutuhkan waktu yang panjang, kini Lucas dan Marisa telah berada di dalam kamar hotel. "Ah, akhirnya tiba juga" senyum Marisa menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Kemudian menyambar ponselnya, ia melihat satu pesan dari Flora. "Risa, aku dengar dari tante kamu jadi sekretaris yah?".


"Iya, tadi aku lupa memberitahu mu" balas Marisa, lalu memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya. "Sebaiknya aku mandi dulu" namun saat ia hendak memasuki kamar mandi.


TOK... TOK...


"Sebentar" jawab Marisa berjalan kearah pintu.


Ceklek!


"Ada apa pak?" tanyanya melihat si supir tadi.


"Tuan Lucas memanggil nona".


"Oh, iya pak" angguk Marisa berjalan kearah pintu kamar Lucas. "Tuan Lucas memanggil saya?".


"Masuk" jawabnya dari dalam. Marisa masuk kedalam, ia melihat Lucas berada di atas sofa dengan makanan yang berada diatas meja tersebut. "Makan".


"Untuk saya tuan?" tanyanya dengan mata berbinar-binar. "Wah, terima kasih banyak tuan. Tau ajah kalau saya sudah lapar" senang Marisa melihat dua kota pizza itu. "Lalu kenapa tuan tidak memakannya? rasanya sangat enak".


"Saya tidak suka".


"Kenapa?".


"Jangan banyak bertanya, makan saja tampa ada suara" kesal Lucas menaiki tempat tidurnya. Kemudian Marisa meliriknya, tetapi ia malah ketahuan, "Apa?".


"Ah hahaha.. Pizza ya sangat enak, bisakah saya membawanya ke kamar saya tuan?".


"Tidak, habiskan disitu dan jangan menganggu".

__ADS_1


"Baiklah" dengan sangat lahap Marisa memasukkan kedalam mulutnya sambil menyalakan televisi yang ada di kamar Lucas tampa ia sadari kalau saja Pizza satu kotak itu hampir saja habis ia makan sangking ia sangat menikmatinya. "What? aku tidak sadar kalau aku sudah menghabiskan 1 kotak" kaget Marisa menyentuh perutnya yang sudah buncit.


"Wah, pantas saja aku merasa sesak. Ternyata karna pizza ini, tapi tidak apa-apa, habisnya pizza ini sangat enak" Lalu Marisa melihat kearah Lucas, "Ternyata dia sudah tidur" ia membereskan sisa makanannya, dan berjalan menghampiri Lucas. "Bahkan saat tidurpun kamu sangat tampan, aku jadi penasaran seperti apa orang tua yang sudah melahirkan mu".


Marisa tersenyum, lalu memperbaiki selimut Lucas dan menaruh ponselnya diatas meja. "Tapi kalau dilihat-lihat kamu lucu juga. Masa iya tuan Lucas yang terkenal dengan sikap cuek dan dinginnya itu bisa seimut ini kalau sedang tidur. Aku jadi ingin mencubit pipi mu" Setelah itu Marisa pergi meninggalkannya.


*


Pagi hari telah tiba, suara burung berkicau diatas udara membuat Marisa membuka kedua mata, ia melihat kearah jam masih menunjukkan pukul 6:45 menit. "Aku pikir sudah jam 8 pagi, ternyata masih jam 7 kurang 15 menit" namun Marisa yang tidak ingin mendengar omelan dari Lucas, ia terpaksa harus bangun memasuki kamar mandi.


15 menit lamanya disana, Marisa langsung keluar. Ia segera memakai pakaian kantornya dan sesuai dengan apa yang kemarin Lucas ucapkan, ia memakai kemeja putih tampa menggunakan kaus dan juga rok hitam itu membuat tubuhnya terlihat seksi dan jangan lupakan dua kancing diatas sengaja Marisa buka. "Wah, aku jadi terlihat seperti wanita jal*ng. Tapi itu juga yang dia mau, siapa suruh bilang aku tidak modis, padahal aku selalu merawat tubuhku supaya selalu terlihat seksi".


Begitu selesai, Marisa keluar dari dalam kamarnya. Ia mendatangi kamar Lucas, "Pagi tuan" sapanya melihat si supir itu telah berada disana membawa sarapan Lucas. "Pagi pak".


"Pagi nona" balasnya tersenyum. "Saya sudah membawa sarapan tuan dan nona, silahkan duduk nona".


"Terima kasih banyak pak, tapi saya terlalu kenyang jadi sarapannya untuk bapak saja. Maaf".


"Saya juga sudah sarapan nona".


"Bagusan yang itu nona".


"Hehehe iya pak" Kemudian Lucas menghampiri mereka, ia melihat Marisa sedikit berbeda dari yang kemarin. Meski demikian, ia tidak sudih untuk memuji penampilan Marisa dan malah terlihat biasa saja. "Wah-wah, dia melihat ku tapi dia tidak bilang apa-apa. Dasar bos menyebalkan, setidaknya dia dibilang kek kalau hari ini aku jauh lebih baik dari yang kemarin. Padahal enggak ada susahnya kan?".


Begitu Lucas menikmati sarapannya, ia bertanya kepada Marisa jadwal hari ini, "Jadwal hari ini meminta persetujuan dari penduduk desa ini tuan".


"Marto" panggil Lucas.


"Iya tuan".


"Oh, namanya Marto toh.." gumam Marisa melihat pak Marto.


"Bagaimana keadaan kebun teh? apa semuanya baik-baik saja. Akhir-akhir ini laporan yang datang kepada saya semakin menurun, apa kerja karyawan menurun atau bagaimana?".


"Seperti yang saya lihat, semua baik-baik saja tuan. Tapi ada baiknya tuan langsung bertanya saja kepada pak Agus" jawab Marto.

__ADS_1


"Marisa, siapkan jadwal meeting besok pagi".


"Baik tuan".


*


Sesampainya mereka disana, Lucas langsung keluar dari dalam mobil begitu Marto membuka pintu mobil untuknya. Kemudian Agus berlari kearahnya, "Hahahaha, tuan Lucas. Selamat datang kembali di desa ini dan selamat juga untuk jabatan barunya tuan" tawanya.


"Apa mereka sudah disini?".


"Sudah tuan, sesuai dengan apa yang tuan perintahkan saya sudah menyuruh penduduk desa disini berkumpul kemari".


"Bagus" Lucas melihat keatas lantas langit, udara tampak sangat menyejukkan. "Dimana mereka?".


"Sudah ada didalam tuan, lalu siapa wanita ini tuan, apa dia sekretaris tuan Lucas yang baru?".


"Mmmm" jawab Lucas berjalan duluan diikuti oleh Marisa dari belakang. Sedangkan mata keranjang Agus langsung tertarik kepada Marisa apalagi saat dia melihat tubuh Marisa yang sangat menggoda membuat dirinya selalu mendekat kepada Marisa.


"Apa yang sedang anda lakukan?" tanya Marisa melihat Agus saat tangan kanannya hampir saja menyentuh bagian pantat.


"Apa?" tanya balik Agus pura-pura tidak merasa bersalah.


Marisa manarik nafas, "Anda pikir saya tidak tau apa yang anda lakukan dibelakang saya?".


"Emang apa yang saya lakukan haahh?" Agus meninggikan suara.


"Bajingan" umpat Marisa menatapnya tajam. "Dengar yah, jangan karna anda pikir saya wanita saya tidak berani mencungkil mata anda. Mematahkan tangan anda saja saya berani".


Namun Agus bukannya takut, ia malah tertawa kecil mengejek Marisa. "Terus, kamu pikir saya takut? ayo cungkil mata saya kalau kamu berani atau potong kedua tangan ini. Silahkan".


"Baiklah, saya akan mencungkil mata mu. Tidak perduli kamu siapa di desa ini" tetapi Agus malah menarik kerah baju Marisa. "Wah, bahkan kamu berani menyentuh pakaian ku bajingan".


"Haahhh.. Bajingan? terus kamu apa? jal*ng? atau wanita mur*han? dan sepertinya kamu tidak jauh beda dari sekretaris lamanya tuan Lucas. Dasar" dengan sangat kasar Agus mendorongnya. "Minggir".


Marisa menghela nafas berat, pria itu benar-benar sudah menguji kesabarannya. "Kamu tenang dulu Risa, orang seperti itu tidak usah kamu layani. Tapi bukan untuk kedua kalinya, kalau sampai kejadian ini terulang lagi. Marisa tidak akan tinggal diam".

__ADS_1


__ADS_2