Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 43


__ADS_3

Kemudian Marisa mendengar suara langkah kaki mendekatinya, ia tau kalau itu adalah Lucas. Dengan senyum mengembang diwajahnya, ia pun langsung membalikkan tubuhnya. "Oo, kamu siapa? dia dimana?" Marisa melirik kearah meja makan, ia tidak melihat Lucas disana lagi. "Kamu siapa?" tanyanya lagi.


Si pria itu tersenyum ramah menundukkan kepala, "Maaf sudah membuat nona terkejut, saya kemari membawa bahan-bahan dapur yang tuan Lucas butuhkan".


"Oohh, terus itu apa saja yang kamu bawa. Ketepatan sekali saya ingin masak, tapi karna bahan-bahan di kulkas habis jadi saya bingung mau masak apa. Kamu bisa masak?" senyum Marisa membuat si pria itu tertawa kecil.


"Nona meminta saya memasak?".


"Ooo, wah.. Kamu pintar sekali bisa menebaknya hehehe. Boleh enggak? saya tidak pandai memasak, saya takut dapur tuan Lucas malah berantakan".


"Boleh, nona tunggu saja disana, saya akan membuatnya".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Omo, terima kasih yah. Bdw, kalau boleh tau nama kamu siapa? kenalin nama ku Marisa, panggil saja Risa".


"Rehan" jawabnya memberitahu Marisa.


"Oh Rehan. Kalau gitu aku akan menunggu mu disana, tapi Rehan, kamu lihat tuan Lucas pergi kemana?".


"Paling di taman belakang, biasanya tuan Lucas akan menghabiskan waktu disana kalau hari minggu".


"Oh, sambil menunggu kamu selesai, aku tinggal sebentar yah".


"Iya" angguk Rehan. Marisa pun langsung pergi meninggalkannya menuju kolam yang tadi Rehan bicarakan, namun Marisa malah dibuat kebingungan mencari jalan menuju kesana melihat rumah Lucas yang cukup luas. Kemudian Marisa melihat sebuah pintu, ia menebak kalau pintu tersebut adalah pintu menuju tempat Lucas berada saat ini. Dan benar sekali, begitu Marisa mendorong pintu itu, Lucas langsung terlihat sedang menikmati sebuah lagu di kedua telinganya.



"Ya Tuhan, kenapa tempat ini indah sekali" kagum Marisa membuat Lucas melihat kearahnya. "Heheheh, tadi saya bertanya kepada Rehan tuan".


Lucas kembali menikmati musiknya sembari menikmati cuaca disana dan juga suara burung berkicau diatas udara. "Aku menyukai tempat ini" gumam Marisa mendudukan diri diatas sofa, ia melakukan sama hal seperti yang sedang Lucas lakukan. Tidak lama kemudian, Rehan memanggil namanya, "Udah?".


"Iya nona".


"Ok" angguk Marisa meninggalkan ponselnya disana kembali masuk kedalam dapur. Diatas meja Marisa melihat semangkuk makanan seperti sup bercampur mie, sifut dan sejenis lainnya.



"Ini untuk aku Rehan?".

__ADS_1


"Mmmm, itu untuk nona".


"Wah.. Cantik sekali kamu menghiasnya Rehan, semoga rasanya juga sangat enak. Kamu sudah makan?".


"Sudah nona".


"Kalau gitu aku akan mencobanya" Marisa langsung menyendok kedalam mulutnya, mengunyahnya secara perlahan sambil menikmati betapa enaknya makanan tersebut sampai membuat Marisa tersenyum senang sekali. "Rehan, kamu tau enggak kalau masakan kamu ini juara banget?".


Rehan tersenyum, "Terima kasih nona".


"Luar biasa, masakan kamu sangat enak Rehan, benar-benar sangat enak. Aku enggak bohong".


"Terima kasih nona" ucapnya lagi.


"Apa kamu pernah menjadi seorang Chef Rehan? atau memang kamu seorang Chef?".


"Tidak nona. Bagaimana bisa saya seorang Chef? tamat SMP saja saya tidak tamat nona".


"Benarkah?".


"Mmmm".


"Ah, maaf. Aku enggak membuat mu tersinggung kan? soalnya ibu ku juga mantan seorang Chef, jadi aku tau masakan Chef itu seperti apa? dan setelah aku mencoba masakan kamu, ini benar-benar sangat enak. Terima kasih untuk ini".


"Mmmmm" angguk Marisa kembali melanjutkan makanannya, hingga kini ia sudah kenyang. Marisa mencari ponselnya, namun ia tidak menemukan dalam kantong membuat ia langsung teringat tempat Lucas berada saat ini. "Oh iya, ponsel ku pasti tertinggal disana" Marisa membersihkan sisa makannya, lalu mencuci piring kotor, setelah itu baru ia pergi menghampiri Lucas.


"Tuan" panggilnya melihat Lucas menjawab panggilan di ponselnya. Lucas melihatnya, lalu memberikan ponsel itu ditangannya, "Siapa tuan?".


"Tidak tau" jawabnya.


Marisa melirik layar ponselnya, tidak ada nama membuat Marisa mengingat Reza yang menelponnya tadi malam. "Reza? kenapa di menelpon ku?" gumam Marisa berjalan sedikit menjauh darinya. "Hallo".


"Risa, siapa pria yang baru saja mengangkat ponsel mu?" tanya Reza dengan nada suara tidak suka.


"Kamu tidak perlu tau dia siapa? kenapa kamu menelpon ku?".


"Kamu dimana? kenapa kamu tidak bersama dengan Flora?".


"Ah iya. Flora dimana?" Marisa pun langsung mematikan ponselnya. Ia berjalan mendekati Lucas, "Tuan, Flora dimana? kenapa dia tidak bersama ku?".


"Dia bersama Jose" jawab Lucas memainkan game di ponselnya.

__ADS_1


"Tuan Jose?" ia pun segera menghubungi nomor Flora.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTT..


"Kenapa Flora tidak mengangkatnya sih?" gumam Marisa menghubungi nomor sang sahabat itu kembali.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTT..


"Ah, kalau gitu tolong tuan telpon dulu tuan Jose untuk memastikan kalau Flora baik-baik saja".


"Aku sedang bermain game. Dia pasti baik-baik saja, tidak usah khawatirkan dia".


"Tidak tuan, aku tidak bisa jamin kalau Flora baik-baik saja sebelum tuan menghubungi nomor ponsel tuan Jose. Aku mohon tuan".


Lucas pun langsung menghentikan tangannya, lalu menghubungi nomor ponsel Jose.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTT..


"Ada apa Lucas?".


"Apa kamu sedang bersama Flora?".


"Mmmmm, dia masih tidur. Ada apa?".


"Tidak" Lucas mematikan ponselnya melihat Marisa. "Dia baik-baik saja. Sudah?".


"Terima kasih" senyum Marisa.


.


Jose meletakkan ponselnya, ia melihat Flora masih terlelap dalam tidurnya membuat ia mencoba untuk membangunkannya dengan cara menaiki tempat tidur mencium bibir mungil Flora. "Ayo bangun beby" Flora menggeliat, ia belum menyadari dimana ia sekarang, sama halnya seperti Marisa. "Sayang ayo bangun, kamu belum sarapan dari tadi" ucap Jose menggigit bibir bawahnya Flora sampai ia merengek kesakitan.


Begitu Flora membuka mata, ia melihat Jose berada diatas tubuhnya dengan telanjang dada hingga roti sobek Jose terlihat sangat jelas di kedua matanya. "Aaa.. aarrkhhh" Jose pun segera menutup mulut Flora dengan mencium bibirnya. "Mmmmm, lepaskan aku".


Jose melepaskan bibirnya, "Jangan teriak, orang lain bisa mendengar suara mu".


"A-apa yang kamu lakukan? kenapa aku bisa berada disini? Marisa dimana?" tanya Flora berkaca-kaca.


"Aku membawa mu kemari karna semalam kamu mabuk, dan Marisa dibawa oleh Lucas, baru saja dia menelpon ku bertanya kalau kamu baik-baik saja atau tidak. Tapi kenapa kamu malah menangis?".


Flora mendorong tubuh Jose dari atas tubuhnya, sambil menangis ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Setelah 5 tahun lamanya aku tidak melakukan ini lagi, sekarang dengan bodohnya aku hiks.. hiks.. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? aku sudah bersusah payah menghapus masa lalu ku, tapi kenapa masa lalu itu terjadi lagi hiks.. hiks.." semakin tangis Flora senggugukan menutupi wajahnya dengan selimut.

__ADS_1


Dengan rasa bersalah, Jose mencoba menenangkan Flora dengan cara membawanya kedalam pelukannya. "Maaf, aku akan bertanggung jawab kalau sesuatu terjadi kepada mu. Tapi, tapi aku tidak bisa menikahi mu" mendengar apa yang barusan Jose ucapkan, Flora pun semakin mengeluarkan air matanya dan semakin membenci dirinya sendiri.


__ADS_2