Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 122


__ADS_3

Dibawah teriknya panas matahari, Marisa melihat keatas langit sembari berkata, "Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 11 pagi tapi aku belum juga mendapatkan pekerjaan, lalu harus kemana lagi aku mencari pekerjaa..


BBBRRRAAKK..


"Ekh, maaf-maaf.. Saya lagi buru-buru sampai saya tidak melihat ada orang berdiri disini. Apa mbak baik-baik saja?" tanyanya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, harusnya saya yang minta maaf sudah berdiri disini menganggu pejalan lainnya" Marisa tersenyum.


"Terima kasih, kalau gitu saya permisi dulu".


"Tunggu, sepertinya mbak sedang keberatan membawa barang-barang itu, boleh saya menawarkan bantuan?".


"Wah, ini serius? ketepatan kedua tangan saya sudah pegal sekali".


"Iya, ayo berikan sama saya mbak".


"Terima kasih" dengan senang hati ia pun langsung memberikan di tangan Marisa, lalu membawa Marisa pergi menuju restoran tempat ia bekerja. "Oh iya, sepertinya kamu sedang mencari pekerjaan yah? apa kamu sudah menemukannya?".


"Saya belum menemukannya mbak, jaman sekarang benar-benar sangat tidak mudah mencari pekerjaan".


"Mmmm, memang tidak mudah" tidak lama kemudian mereka tiba disana, dengan senyum mengembang di wajah wanita itu ia melihat Marisa. "Terima kasih banyak yah sudah mau membantu saya membawakan barang-barang ini, sebagai gantinya duduklah dulu disana, saya akan membuatkan untuk mu minuman segar".


"Iya mbak" tampa menolak, Marisa pun berjalan kearah meja yang baru saja wanita itu tunjukkan. "Restorannya ramai juga yah" lalu ia mendudukan diri, sambil melihat samping kiri kanan Marisa tiba-tiba berpikiran kalau wanita itu mau menerima dia sebagai salah satu pelayan di restoran tersebut, namun seketika itu juga ia membuang pikirannya. "Tidak mungkin dia menerima ku bekerja disini melihat pegawai di restoran ini sudah memenuhi kapasitasnya".


"Ini, minumlah".


"Akh" Marisa sedikit terkejut. "Terima kasih mbak sudah repot-repot membuatkan minuman ini untuk saya. Sepertinya minuman ini segar sekali".


"Iya, lalu siapa nama mu? kamu sudah menikah?".


"Marisa mbak. Saya sudah menikah dan saya memiliki satu anak laki-laki".


"Oh, sayang sekali. Padahal saya tadi mau nawarin kamu pekerjaan, tapi mendengar kamu sudah menikah pasti kamu tidak mau bekerja ditempat itu".


"Emang kerja dimana mbak? saya mau kok mbak meskipun saya sudah menikah. Tolong berikan pekerjaan itu untuk saya mbak, saya janji akan melakukan yang terbaik".

__ADS_1


"Kamu yakin? saya tidak bisa jamin kamu akan mau bekerja disana".


"Tidak apa-apa mbak yang penting pekerjaannya halal".


"Pekerjaan ini halal Marisa, cuman kamu akan bekerja di club. Bagaimana? apa kamu masih mau?".


"Mmmm, saya rasa itu tidak masalah mbak. Saya menerima pekerjaan itu, terus kapan saya bisa bekerja mbak? tidak bisakah malam ini juga saya langsung bekerja? saya sangat membutuhkan uang mbak".


"Ya sudah kalau gitu, nanti saya akan memberitahu mereka. Sekarang berikan nomor ponsel mu".


"Baiklah mbak, ini nomor ponsel saya".


"Ok. Ayo diminum lagi".


"Iya mbak" senang Marisa.


.


Sepulangnya dari sana, Marisa pun segera menuju sekolah sang putra. Disana ia melihat teman-teman satu sekolah Argana telah di jemput oleh orang tua mereka masing-masing, lalu ia melihat Argana bermain ayunan bersama dengan seorang gadis cantik nan-mungil. "Wah, anak mama sedang sama siapa?".


"Wah, anak mama sudah pandai menilai orang yah? bagus deh kalau gitu. Hallo gadis cantik, kenalin bibi mamanya Argana. Bibi harap kamu berteman baik yah sama anak bibi Argana".


"Mmmmm, Argana juga sangat baik sekali dengan ku bibi, aku juga sangat menyukainya" kemudian Reysa melihat mobil jemputan-nya berada dibelakang Marisa. "Karna jemputan Reysa sudah datang, Reysa pamit pulang dulu yah Arga bibi".


"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan yah".


"Iya bibi, sampai bertemu besok Arga".


"Dah.. Reysa".


"Dadah juga Argana".


Kemudian Marisa melihat putranya itu sambil tersenyum mengejek, "Hhrrmmm, kenapa mama melihat ada sesuatu yah dalam diri anak mama ini".


"Tidak ma, ayo kita pulang".

__ADS_1


"Ayo sayang".


"Oh iya ma, apa mama sudah menemukan pekerjaan itu? Argana tebak pasti mama sudah menemukannya. Iyakan ma?".


"Anak mama pintar juga yah soal menebak. Iya, mama sudah menemukannya sayang dan sebentar lagi kita akan pindah dari rumah dokter Rian. Argana suka kan sayang kalau kita pindah?".


"Iya ma, Argana suka kalau kita pindah dari rumah dokter Rian, tapi Argana akan merindukan dokter Rian karna dokter Rian sudah begitu baik sama Arga selama ini ma".


"Nanti kalau ada waktu kan kita masih bisa bermain kesana sayang, yang penting kita enggak hilang kontak komunikasi dengan dokter Rian".


"Iya ma".


Setibanya dirumah, Stela tengah kedatangan teman-teman sosialitanya, Marisa dan Argana pun langsung masuk begitu saja tampa terlebih dahulu menyapanya melihat betapa asiknya mereka bercanda ria, namun Stela yang tiba-tiba melihatnya merasa kalau Marisa dan anaknya benar-benar tidak punya etika. "Yah, kamu!" ia marah.Marisa pun menghentikan kedua langkah kakinya. "Kamu benar-benar enggak punya otak yah? sudah jelas-jelas kamu melihat disini ada tamu, apa salahnya kamu menyapa basa-basi kek kalau kamu sudah pulang. Dasar orang kampungan".


"Kalau gitu saya minta maaf mbak, saya hanya berpikir kalau saya menyapa mbak dan teman-teman mbak malah menganggu".


"Alah banyak alasan kamu, sana pergi" dengan kesal Stela pun kembali bercanda ria bersama dengan teman-temannya.


Lalu Argana menarik tangan Marisa pergi dari sana, "Sudah ma tidak usah dipikirkan, bibi itu tidak akan pernah berhenti menghina mama sebelum kita keluar dari rumah ini. Mama menangis?" Argana menghentikan langkahnya. "Jangan menangis ma, kalau mama menangis Argana akan ikut menangis".


"Mama tidak menangis sayang mama tidak menangis" Marisa melap air mata yang hampir saja menetes itu. "Seandainya ingatan mama tidak hilang, mungkin saja kita akan hidup bahagia bersama dengan papa kamu Arga, dan sekarang mana malah..


"Tidak ma, jangan berkata seperti itu. Cepat atau lambat kita akan segera bertemu dengan papa. Mama jangan nangis lagi yah".


"Maafkan mama ya sayang, mama janji akan lebih kuat lagi untuk Argana".


"Iya ma, terima kasih sudah mau kuat untuk Argana. Ayo ma, Argana sudah lapar sekali, bibi itu pasti sudah menyiapkan makan siang yang sangat enak".


"Argana tunggu".


"Kenapa ma?".


"Argana lapar? tadi kan mama sudah kasih unang jajan sayang sama Argana. Argana tidak makan tadi di kantin?".


"Tidak ma, tadi jajanan disana mahal sekali, jadi uang jajan yang mama kasih tidak cukup untuk makan di kantin itu, mungkin besok saja ma. Ayo ma, perut Argana dari tadi sudah keroncongan, Argana lapar".

__ADS_1


__ADS_2