Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 84


__ADS_3

Sekeluarnya dari rumah sakit, Lucas langsung membawa Marisa pulang kerumah. Dengan sangat pelan, ia menaruh tubuh sang istri diatas tempat tidur, "Wah, aku serasa seperti tuan putri saja hehehe. Terima kasih suami ku" senang Marisa tersenyum bahagia.


"Kamu menginginkan sesuatu? aku akan mengambilnya untuk mu".


"Tidak, biarkan aku istirahat saja".


"Mmmmm, ya sudah tidurlah" Lucas hendak melangkah pergi. Namun saat itu juga tangan Marisa langsung menahan tangannya sambil bertanya.


"Kamu mau kemana? aku tidak ingin sendiri".


"Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan disini menemani mu. Sekarang tidurlah".


"Janji yah kalau kamu tidak akan pergi kemana-mana. Aku sangat takut sendiri".


"Iya, aku janji tidak akan pergi kemana-mana" jawab Lucas mencium keningnya. Lalu memperbaiki selimut Marisa, setelah ia melihatnya menutup mata, baru Lucas memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa bau dan lengket akibat bekas muntahan Marisa yang tadi. Sesudah itu, tidak menghabiskan waktu yang lama bagi Lucas berlama-lama di dalam kamar mandi, ia segera keluar dari dalam sana. Namun sebelum masuk ke ruangan pakaian, ia menyempatkan diri melirik kearah Marisa yang kini benar-benar telah terlelap dalam tidurnya.


Begitu Lucas memakai pakaiannya, ia keluar dari dalam kamar. Ia melihat kedua pelayannya sedang bersiap-siap kembali pulang. "Oo, tuan. Selama malam" ucap mereka tersenyum.


"Belum pulang?".


"Ini mau pulang tuan. Apa nona Marisa baik-baik saja? tadi saya tidak sengaja melihat tuan menggendongnya ke lantai atas tuan".


"Mmmmm, dia baik-baik saja".


"Syukurlah. Tadi saya dan ibu merasa sedikit khawatir kalau sesuatu terjadi kepada nona Marisa. Kalau gitu kami pamit pulang dulu ya tuan".


"Mmmmm".


Begitu mereka pergi, Lucas segera membuatkan secangkir kopi hangat untuk ia bawa kedalam kamar supaya ia bisa bekerja sampai tengah malam nanti, tetapi saat Lucas masuk kembali ke dalam kamar, ia tidak melihat Marisa diatas tempat tidur, ia pun langsung khawatir sambil memanggil nama sang istri. "Risa.. Marisa.. Marisa..!" panggilnya mendengar suara dari dalam kamar mandi.


"Hhuueeakk.. Hhuueeaakkhh.. Hhuueeaakkhh..!".


BBRRAAKK!

__ADS_1


"Marisa" kaget Lucas. Ia melihat Marisa tergeletak dengan tubuh lemas disamping kloset. "Kamu baik-baik saja? kalau tidak kita kerumah sakit sekarang juga".


"Tidak usah, aku baik-baik saja. Ini cuman mual doang, tolong bawa aku ke tempat tidur".


"Kamu yakin tidak akan kerumah sakit? aku tidak mau terjadi apa-apa kepada mu".


"Tubuh ku sangat lemas, ayo bawa aku".


"Ini tidak bisa di biarkan, wajah mu sangat pucat sekali. Kita kerumah sakit sekarang juga".


"Hentikan, aku sudah bilang aku tidak apa-apa.." gantung Marisa begitu Lucas membawa tubuhnya pergi dari sana menuju rumah sakit yang sedikit dekat dengan rumahnya. Sesampainya disana, para suster dan dokter yang bertugas di ruang IGD segera memberikan pertolongan kepada Marisa dengan menginpusnya.


"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir seperti itu" ucap Marisa melihat wajah khawatir Lucas begitu sang dokter pergi.


"Bagaimana aku tidak khawatir kalau keadaan kamu seperti ini Risa?".


Marisa tersenyum senang, "Terima kasih. Bisakah kamu menggenggam tangan kanan ku? aku butuh tenaga".


"Mmmmm" angguk Lucas menggenggam tangannya. Setelah Marisa kembali menutup kedua matanya, kini jam telah menunjukkan pukul 10 malam, Lucas juga ikutan merasakan ngantuk. Lalu sang suster menghampirinya.


"Oh, silahkan sus" angguk Lucas melepaskan genggaman tangan Marisa. Ia pun mempersilahkan mereka membawanya ke dalam ruang rawatan sambil mengikutinya dari belakang. Sesuai dengan permintaanya, Marisa di tempatkan di dalam ruangan VIP kelas 1. Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut, Lucas menaruh jaketnya diatas sofa, dengan tubuh lelah ia mendudukan diri menatap keatas langit-langit kamar. "Hhooaaamm, aku merasa mengantuk sekali" tidak membutuhkan waktu yang lama, ia pun ikutan terlelap diatas sofa.


Hingga kini matahari telah terbit, suara rintikan hujan dan suara burung berkicau diatas udara membuat Marisa membuka mata, ia melihat dirinya berada di sebuah ruangan yang cukup sangat mewah. "Kenapa aku berada disini? dimana Luca.. Ah ternyata dia ada disana" Marisa tersenyum. Ia melihat Lucas sangat menggemaskan sekali dalam tidurnya, namun saat melihat Lucas yang tidak mengenakan selimut membuat ia tiba-tiba merasa kasihan. "Astaga, kenapa dia tidak memakai selimut? apa dia tidak kedinginan?".


Tok.. Tok..


"Tunggu!" tahan Marisa agar Lucas tidak terbangun. Lalu ia menuruni tempat tidur berjalan ke ambang pintu.


Ceklek!


"Selamat pagi nona, kami mengantarkan sarapan".


"Ah iya terima kasih. Taruh saja disana".

__ADS_1


"Iya nona" setelah ia si ahli gizi itu menaruh diatas meja. Ia pun langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan senyum ramah. Kemudian Marisa berjalan mendekati lemari yang berada di sudut ruangan, ia tau kalau di dalam lemari itu terdapat sebuah selimut yang selalu tersedia disana.


"Ada juga" begitu Marisa mendapatkannya, ia segera mendekati Lucas. Lalu menyelimuti tubuhnya dengan senyum mengembang di wajahnya. "Setiap kali aku melihat mu tidur, rasanya aku ingin...


"Ingin apa?" potong Lucas membuka mata.


"Oo, kamu sudah bangun? maaf sudah menganggu tidur mu".


"Kamu sudah merasa baikan?" Lucas mendudukan diri menarik tubuh Marisa keatas pangkuannya.


"I-iya, aku sudah merasa baikan. Terima kasih sudah membawa ku kemari".


"Syukurlah".


"Mmmmm, kamu tidak berangkat ke kantor? ini sudah hampir jam 8 pagi".


"Lalu bagaimana dengan mu? tidak apa-apa kalau aku tinggalkan kamu disini sendiri?".


"Aku tidak apa-apa. Pergilah, pekerjaan kamu pasti sudah banyak menumpuk di kantor. Padahal aku juga seharusnya membantu mu, tapi karna keadaan ku tidak memungkinkan, aku tidak bisa berbuat apa-apa" jawabnya membuat Lucas tersenyum memeluknya dengan sayang. "Maaf".


"Sshhuueeetttt... Untuk saat ini kamu tidak boleh memikirkan pekerjaan, aku mau kamu hanya fokus ke calon bayi kita".


"Mmmmm" senyumnya.


"Kalau gitu aku berangkat dulu, tapi sebelum aku berangkat. Kamu sarapan dulu".


"Mereka sudah mengantarnya, itu disana diatas meja. Pergilah, aku bisa makan sendiri, jangan khawatir".


"Kamu yakin tidak apa-apa?".


"Iya, percaya kepada ku. Nanti kalau ada sesuatu yang terjadi, aku akan memberitahu mu".


"Ya sudah. Aku berangkat kerja dulu ya sayang" angguk Lucas mencium keningnya.

__ADS_1


Begitu Lucas keluar, ia memasuki kamar mandi membasuh wajahnya, setelah itu ia keluar. Diatas meja makan ia melihat sarapan yang tadi dibawakan oleh si tukang ahli gizi, meskipun ia tidak berselera, ia akan memaksakan untuk menikmati makan tersebut hingga kini perutnya sudah terisi. "Akhirnya aku kenyang juga. Apa dia sudah tiba dikantor?" Marisa tersenyum. "Jangan bilang kamu merindukannya? hey ada-ada saja. Apa hujannya sudah berhenti" ia mendekati jendela kaca. "Ternyata belum berhenti".


__ADS_2