
Begitu Marisa pergi, Lucas langsung menutup pintunya. Ia mendudukan diri diatas sofa, lalu memeriksa data-data yang baru di kirim dari pusat. Hingga kini telah menunjukkan pukul 10 malam Lucas masih berada di depan laptopnya.
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Mmmmm?" angkat Lucas melihat Jose menelponnya.
"Kapan kamu kembali? ada hal penting yang ingin aku bicarakan".
"Katakan saja selain percintaan, aku bosan mendengar mu".
"Ahahaha... Ayolah bro, aku butuh teman curhat. Kamu sudah tau kalau aku sudah sangat lama menjomblo, kamu enggak kasihan kepada ku? kamu sangat menyebalkan sekali, lama-lama aku akan memacari mu".
Lucas tersenyum, "Terserah kamu saja. Aku sangat sibuk".
"Ck, atau tidak bisakah kamu mencarikan wanita untuk ku dan aku dengar-dengar kamu sudah menemukan sekretaris baru. Apa dia cantik?".
"Kamu lihat sendiri".
"Kalau begitu, bisakah kamu memberikan nomor ponselnya kepada ku? aku yakin dia pasti cantik".
"Hhhmmsss, berhenti membicarakan wanita kepada ku Jos, aku tidak punya waktu memikirkan mereka. Kalau cuman itu saja yang ingin kamu bicarakan lebih baik aku tutup dul...
"Eehh, tunggu dulu. Kamu belum selesai mendengarkan ku kamu sudah main pergi saja. Kapan kamu kembali?".
"Hari jumat, aku hanya tiga hari disini".
"Baiklah, kalau kamu sudah kembali kamu harus memberikan sekretaris mu itu kepada ku ok".
"Terserah kamu saja".
"Mmmmm" setelah Jose mematikan ponselnya, Lucas langsung mendengus geleng kepala meletakkan ponselnya dan kembali fokus ke layar laptop. Namun saat itu juga ia mendengar suara rintikan hujan lebat dan suara petir sangat kuat. "Hujan" gumam Lucas melihat kearah jendela.
TOK... TOK...
__ADS_1
"Tuan, Tolong buka pintunya tuan. Saya tau tuan belum tidur hiks.. hiks...".
Lucas mengernyitkan dahi, ia segera membuka pintu kamarnya. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?".
"Hiks.. hiks... Tolong saya tuan, saya sangat takut hujan dan petir".
"Terus?".
"Ijinkan saya tidur disini tuan, untuk malam ini saja saya mohon".
"Masuk" ucapnya membuka pintu untuk Marisa.
"Terima kasih tuan, terima kasih banyak sudah mengizinkan saya tidur disini" kemudian Marisa melihat laptop Lucas yang masih menyala diatas meja membuat ia yakin kalau Lucas belum tidur dan malah asik bekerja. "Apa tuan masih bekerja di jam segini?".
"Tidak" Jawab Lucas menutup laptopnya.
"Mmmm, saya akan tidur di sofa ini tuan. Tuan boleh tidur di tempat tidur" Marisa menaruh bantalnya diatas sofa lalu membaringkan tubuhnya disana, namun saat suara petir meledak ia langsung berlari kearah Lucas yang kini sudah berada diatas tempat tidur. "Arkh, aku sangat takut" rengeknya Marisa berada di dalam pelukan Lucas.
"Hhmmsss.. Apa yang sedang kamu lakukan Marisa?".
"Kamu benar-benar yah" kesal Lucas menatapnya tajam. Lalu menuruni tempat tidur memasuki kamar mandi.
"Akh, dia pasti sangat marah. Kalau bukan karna suara petir ini, aku tidak akan takut seperti ini, mana kilatnya sampai kedalam lagi".
Begitu Lucas keluar, Marisa tersenyum kepadanya dengan rasa bersalah. "Maafkan saya tuan, saya sangat tak..
Duar....!
"Aarrkkh" teriak Marisa kembali memeluk Lucas dengan tangan bergetar. "Aarrkkhhh, mama Risa sangat takut hiks.. hiks.." Dan lagi-lagi Lucas mendengus melihat Marisa semakin erat memeluk tubuhnya.
"Lepaskan".
"Tidak" geleng Marisa.
__ADS_1
"Lepaskan".
"Tidak".
"Kalau kamu tidak melepaska.." gantung Lucas begitu suara petir tersebut meledak kembali hingga pada akhirnya Lucas membiarkan Marisa memeluk tubuhnya dan membiarkan sampai hujan berhenti. Setelah itu baru Lucas melepaskan pelukan Marisa, "Hujannya sudah reda, sebaiknya kamu kembali kedalam kamar mu".
"Terima kasih tuan dan tolong maafkan saya, tapi ijinkan saya tidur malam ini disini tuan. Saya berjanji tidak akan menganggu tidur tuan, saya mohon tuan" ucap Marisa memohon.
"Hhhmmsss, terserah kamu saja. Asalkan kamu tidak menganggu tidur saya".
"Terima kasih tuan, terima kasih banyak" senyum Marisa berlari kearah sofa. Kemudian melirik Lucas yang kini sudah berada diatas tempat tidurnya, "Sebenarnya aku sangat malu dengan apa yang telah terjadi, bagaimana bisa aku melupakan hal ini. Ah, pupus sudah harapan ku menikahi tuan CEO yang tampan dan gagah. Hhhmm, benar-benar hancur benar-benar hancur".
"Hhhrrrmm, tidak bisakah kamu mengecilkan suara mu?".
"Astaga, apa tuan mendengar suaraku? padahal suara ku sangat kecil. Maafkan saya tuan, saya akan menutup kedua bibir ini sangat rapat".
Tidak lama kemudian, Marisa melirik kearah Lucas kembali yang sudah terlelap dalam tidurnya, lalu Marisa melihat kearah jam. "Ternyata sudah jam 3 pagi, tapi kedua mataku tidak bisa tertutup. Dan sekarang perut ku malah minta di isi, ck ini sangat menyebalkan".
Namun saat Marisa asik bergumam sendiri, tiba-tiba ia mendengar suara Lucas sedang mengigau membuat ia penasaran. "Pa, jangan tinggalin Lucas pa. Lucas mohon jangan tinggalin Lucas pa".
"Astaga, tuan Lucas sepertinya merindukan sosok ayahnya" lalu ia melap keringat yang berada di dahi Lucas menggunakan tangan kananya. "Tidak apa-apa tidak apa-apa, tidurlah dan lupakan semuanya" tetapi saat Marisa berkata sedemikian Lucas membuka mata, ia melihat Marisa berada disampingnya dengan wajah terkejut. "Maafkan saya tuan, saya hany.. Aahh".
Lucas menarik tangan Marisa, ia menatap kedua manik mata Marisa dengan mata tajam, "Apa yang kamu lakukan disini?".
"Tu-tuan tolon..
"Apa yang kamu lakukan disini?" bentak Lucas semakin sangat marah dan Marisa yang semakin kesakitan dipergelangan tangannya membuat ia meminta kepada Lucas untuk terlebih dahulu melepaskan tangannya. "Jawab, sebelum kamu menjawab pertanyaan saya, saya tidak akan melepaskan tangan ini".
"Sa-saya hanya membantu tuan melap keringat, itu saja tuan, saya tidak melakukan apa-apa. Saya mohon tolong lepaskan saya" dengan kasar Lucas menghempaskan tangan Marisa dan menyuruhnya keluar sekarang juga dari dalam kamarnya tampa ada bantahan dari mulut Marisa. "Baik tuan" angguknya langsung keluar.
Kemudian Lucas mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar sangat marah kepada Marisa bahkan ia bisa saja membunuhnya saat itu juga, "Aku sudah memperingatkan dia untuk tidak melampuai batas, tapi wanita itu malah membuat ku. Aarrkkhh" geram Lucas.
Sedangkan Marisa yang sudah berada di dalam kamarnya, ia tak henti-hentinya meremas kedua tangannya saat melihat sorot mata Lucas yang benar-benar sangat marah. "Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku lakukan sehingga dia begitu sangat marah kepada ku hiks? padahal aku hanya membantunya saja tapi dia memperlakukan ku sangat kasar hendak ingin membunuh ku" Marisa meneteskan air mata, hatinya benar-benar sangat sakit.
__ADS_1
"Bodoh, kamu sangat bodoh sekali Marisa. Bagaimana bisa kamu datang saat itu, kalau saja kamu membiarkannya kamu tidak bakalan merasakan sakit ini. Tapi sekarang, kamu malah menangis seperti anak kecil setelah apa yang kamu lakukan kepadanya".