
Begitu Marisa kembali kerumah sakit, ia melihat Elisabet sedang termenung seorang diri melihat keluar kaca dengan tatapan kosong. "Nyonya, saya datang" ucapnya mendekati. "Apa yang sedang nyonya pikirkan?".
Elisabet melihatnya sambil tersenyum, "Tidak, saya hanya melihat cuaca diluar tampak sangat menyegarkan sekali".
"Oh" angguk Marisa mendengar ponselnya bergetar. "Nyonya, saya terima telpon sebentar".
"Mmmmm".
"Hallo Ra" jawab Marisa keluar dari dalam kamar.
"Kamu dimana Sa? aku bosan dirumah".
"Dirumah sakit Ra, kamu enggak kerja?".
"Udah pulang, ini aku lagi didepan kantor baru keluar. Cepat beritahu aku alamat rumah sakitnya dimana?".
"Ya sudah, kamu datang ajah kerumah sakit xx Ra" setelah itu Marisa masuk kembali. "Nyonya menginginkan sesuatu untuk dimakan? saya akan membelinya dan ketepatan teman saya sedang perjalan kemari. Siapa tau nyonya lagi pengen".
"Tidak usah, siapa dia?".
"Teman masa kuliah saya nyonya".
"Oh".
Ceklek!
"Hallo" sapa Jose masuk kedalam bersama dengan Lucas. "Bagaimana keadaan nyonya Elisabet?".
"Baik".
"Benarkah? tapi aku merasa kalau nyonya Elisabet tampak kurusan sedikit dari pertama kali kita bertemu. Bukankah begitu nona Marisa?".
"Mmmm" senyum Marisa.
Jose mendekatinya, ia memperhatikan wajah Elisabet dengan lekat, "Meskipun kamu sudah tua, tapi kecantikan diwajah mu ini tidak menghilang, kamu masih tetap cantik. Aku juga ingin nantinya istriku memiliki kecantikan seperti kamu"
Elisabet tersenyum, "Kamu pasti bisa, karna kamu juga memiliki rupawan yang tampan sama seperti Lucas".
"Aku tidak sama dengannya" sambung Lucas.
"Siapa juga yang ingin sama dengan mu" balas Jose tersenyum mengejek. "Nyonya tau kalau Lucas..
"Hentikan" potong Lucas menatap Jose .
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? kamu tau apa yang ingin aku katakan?".
__ADS_1
"Hentikan Jose" jawab Lucas mengulangi perkataannya melihat Marisa menerima sebuah telepon.
"Nyonya saya keluar sebentar yah, teman saya sudah sampai".
"Siapa?" tanya Lucas.
"Flora, dia datang kemari" jawab Marisa melangkah keluar menghampiri sang sahabat yang sudah berada di dalam lift. Begitu Flora tiba di lantai atas, ia langsung keluar dari dalam lift, "Flora disini" panggilnya berlari mendekati.
"Wah, rumah sakit ini besar sekali Sa. Rasanya aku seperti sedang di hotel bintang lima, serius".
"Benarkah?".
"Mmmmm, ruangannya dimana Sa?".
"Disana. Ayo" ajak Marisa membawa sang sahabat kedalam ruangan Elisabet dirawat. "Tapi di dalam ada tuan Lucas Ra sama pria yang kemarin bersamanya".
"Maksud kamu Sa?" tahan Flora menghentikan langkahnya.
"Kenapa?".
"Ah, tidak. Aku hanya ingin tau pria mana yang kamu maksud Sa".
"Pria yang kemarin bersama dengan tuan Lucas waktu di dalam bar, kamu sudah lupa Ra?".
"Hahahah, oh iya aku baru ingat".
"Tidak, ayo masuk. Aku ingin melihat wajah seperti apa orang yang kamu rawat itu" jawab Flora menarik tangan Marisa. "Yang mana Sa?".
"Yang ini" Marisa langsung mendorong pintu tersebut membuat mereka yang ada didalam menoleh kepada mereka berdua begitu juga dengan Jose. "Ini teman saya nyonya, namanya Flora" beritahu Marisa menyuruh Flora mendekati Elisabet yang berada disamping Jose dan Lucas.
"Astaga, kenapa aku dan dia harus bertemu lagi sih?" batin Flora mendekati Elisabet. "Hallo grandma, saya Flora teman Marisa. Senang bertemu dengan grandma" senyumnya ramah menyalim tangan Elisabet.
"Kamu sangat cantik" puji Elisabet.
"Ah, terima kasih grandma sudah mengatakan saya cantik" angguk Flora mengulum senyumannya membuat ia semakin percaya diri. "Grandma juga sangat cantik meskipun sudah di umur seperti ini. Semoga grandma lekas sembuh".
"Terima kasih".
"Sama-sama grandma. Dan tadi juga saya membawakan sesuatu dari luar, ini adalah cemilan lembut menjadi kesukaan saya dan Marisa. Grandma mau mencobanya?".
"Boleh" angguk Elisabet menerimanya dari kotak kue yang Flora bawa dari luar. Begitu Elisabet memakannya, ia melihat Flora sambil menikmati seberapa enaknya kue tersebut sampai membuat mereka semua melihat kearahnya untuk menantikan jawaban apa yang akan ia berikan. "Enak, kue ini benar-benar enak".
Mereka tersenyum, "Syukurlah grandma menyukai kue ini. Tuan mau?" tawar Flora kepada Lucas.
"Boleh" jawab Lucas menerimanya. "Kamu enggak mau Jose? coba saja dulu, siapa tau kamu menyukainya" Jose melihat Flora, entah kenapa ia sedari tadi merasa tidak asing dengan wanita yang berada di hadapannya itu. "Kamu sedang memikirkan apa Jos? kamu benar-benar tidak mau? rasanya cukup enak".
__ADS_1
"Boleh" angguk Jose mengambilnya dari dalam kotak yang Flora tawarkan. "Terima kasih".
"Iya tuan" senang Flora memberikan kepada Marisa dan dua pelayan Elisabet yang juga berada disana. "Bagaimana?".
"Enak, terima kasih nona" senang mereka melihat Flora.
"Mmmmm".
Tok... Tok...
Ceklek!
"Hallo" sapa Raniya tersenyum masuk kedalam sampai membuat Flora melongo.
"Cantik sekali dia" kagum Flora melihat Raniya dari atas sampai bawa seperti sedang melihat gambar webtoon yang sering ia baca, kemudian Marisa menyuruhnya ikut bergabung dengan mereka. "Dokter" panggilnya.
"Hhhmmm?".
"Dokter mau? rasanya sangat enak" tawar Flora membuat Raniya mengernyitkan dahi melihat yang lainnya pada sedang menikmati cemilan tersebut. "Inih dok, kue ini tidak akan menambakan berat badan kok".
Raniya tertawa kecil, "Terima kasih" ucapnya menerima kue tersebut.
"Iya dok"
Lalu Raniya mendekati Elisabet, meskipun tatapan mata Jose sedari tadi tertuju kepadanya, ia pura-pura tidak tau sampai membuat Lucas membawanya keluar dari sana menuju rooftop rumah sakit. "Kamu baik-baik saja? apa yang akan kamu lakukan?".
Jose menghela nafas mengangkat wajahnya keatas langit yang cerah, "Aku tidak tau. Haruskah aku menyerah?".
"Tapi ini belum 1 bulan".
"Kamu tau sendiri kalau aku bukanlah orang yang suka menanti terlalu lama, apalagi saat aku tau hatinya masih untuk orang lain".
"Lalu bagaimana dengan orang tua mu? nasib kita hampir sama persis. Di jaman seperti ini masih diterapkan yang namanya perjodohan hhmmsss".
"Terus kamu bagaimana? kamu juga akan kehilangan segalanya kalau Dilan dan putri Malik menikah. Kamu sudah siap?".
"Memikirkannya saja membuat kepala ku pusing, haruskan aku melepaskannya? kalau bukan saja dia sedang hamil, aku akan memaksanya menikahi ku. Tidak perduli aku mencintainya atau tidak, aku cuman memikirkan perusahaan".
"Itu artinya kita berdua akan menjadi seperti mereka" ujar Jose melihat sekitarnya.
Lucas tersenyum, "Kita masih bisa memulai dari nol, kenapa kita tidak membuat perusahaan saja kalau memang kita harus keluar dari kehidupan ini?" ide Lucas membuat Jose memikirkannya. "Bagaimana? kamu setuju?".
"Ide yang bagus Lucas" tawa Jose memeluknya erat. "Aku enggak tau kamu akan berpikir sejauh ini, baiklah. Mari kita memulai dari nol membuat perusahaan baru. Kapan Dilan akan menikah?".
"Secepatnya, minggu ini mereka akan bertunangan".
__ADS_1
"Mmmmm, semangat bro, kita harus membuktikan kepada mereka dan dunia kalau kita bisa membuat perusahaan sendiri dengan cara kita sendiri" senang Jose menatap kearah perkotaan.