
Setelah Elisabet berada di ruangannya, ia melihat Lucas tak henti-hentinya memperhatikannya sampai ia tidak berangkat ke kantor. "Kamu tidak berangkat ke kantor Lucas?".
"Tidak, aku akan disini bersama mu".
"Marisa ada yang menjaga ku, sebaiknya kamu pergi saja".
"Tidak" Lucas mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menghubungi sekretaris barunya, lalu Lucas memasuki kamar mandi membasuh wajahnya. Setelah itu ia keluar, ia melihat bekal yang tadi Marisa bawa dari rumahnya. "Kamu sudah makan?" tanyanya kepada Marisa.
"Mmmmm, sudah tuan" jawab Marisa tersenyum senang. Ia segera menaruh diatas piring, lalu memberinya di hadapan Lucas, "Ini masakan ibu ku, semoga tuan menyukainya".
"Katakan kepada ibu mu rasa terima kasih ku".
"Iya tuan" melihat Lucas yang sangat lahap membuat Marisa sangat bahagia, ia tidak menyangka kalau Lucas aku memakannya dan sekarang ia malah melihat Lucas sangat menikmati masakan ibunya. Setelah selesai, ia membantu Lucas menyimpan bekas piring kotornya.
DDDRRRTTTTT.... DDDRRRTTTTT...
"Ada apa?" tanya Lucas melihat siapa yang baru saja menelponnya.
"Kamu dimana? kakek ada di ruangan mu" ucap Dilan.
"Apa? sedang apa kakek kesana?".
"Aku tidak tau, buruan kemari" jawab Dilan mematikan ponselnya.
Lucas terdiam lalu ia melihat Elisabet, "Ada apa tuan?" tanya Marisa.
"Tidak, tolong kamu jaga dia. Aku keluar sebentar".
"Baik tuan" angguk Marisa. Lucas pun langsung keluar dan segera meninggalkan rumah sakit menuju perusahaan hingga ia telah tiba di depan gedung Hanju group. Lucas mempercepat langkahnya masuk kedalam loby, begitu ia masuk kedalam lift, ia langsung menekan tombol lantai ruangannya.
Ting..!
Pintu lift terbuka, Lucas keluar dari dalam lift disambut oleh mereka yang melihatnya "Selamat pagi tuan" sapa mereka.
"Mmmmm" angguk Lucas berjalan mendekati ruangannya, sebelum ia masuk Lucas terlebih dahulu menghela nafas sambil memperbaiki pakaiannya. Lalu Lucas mendorong pintu, ia langsung melihat Mateo dan Dilan duduk disana dengan dua gelas kopi hangat diatas meja. "Kakek".
"Kamu sudah datang? duduklah" ucap Mateo menyuruhnya duduk.
"Ada apa kakek datang kemari tampa memberitahu Lucas?" tanya Lucas sambil duduk dihadapan Dilan.
Mateo melihatnya, "Dilan, dia akan segera bertunangan dengan Kirana. Lalu bagaimana dengan mu? kenapa kamu bisa gagal? apa kamu masih menantang kakek tidak akan menikah?".
"Maaf kek. Aku tidak tau akan seperti ini" jawab Lucas sedikit menunduk.
"Itu artinya kamu akan menyerah dengan jabatan kamu sebagai pemimpin di perusahaan ini".
"Tidak kakek, maafkan aku karna lebih memperhatikan perusahaan dibandingkan hubungan ku dengan Kirana".
"Sekarang mau kamu apa? kakek akan tetap pada pendirian kakek sendiri. Dan kamu harus merelakan segalanya kepada Dilan begitu ia dan Kirana menikah".
"Beri aku satu kesempatan kakek, jangan pecat aku begitu saja dari jabatan ini, bukankah aku masih baru?".
"Mmmmm, kakek puji cara kerja kamu yang luar biasa. Karna itu, sebelum kakek meninggal kakek ingin melihat cara kerja siapa yang paling membawa keberuntungan untuk perusahaan ini. Maka saat itu juga aku akan memutuskan siapa pemilik Hanju yang sebenarnya" jawab Mateo melihat Lucas dan Dilan.
"Kakek" panggil Dilan.
"Mmmmm?".
__ADS_1
"Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini. Bisakah kakek mempercayai ku?".
"Bagus, lakukan yang terbaik untuk perusahaan ini".
"Baik kek".
Sedangkan Lucas hanya diam saja, ia tidak akan membiarkan perusahaan jatuh ditangan Dilan, karna itu Lucas harus mencari cara. Tapi ia tidak tau harus melakukan apa untuk mempertahankan posisinya. "Karna ini sudah jam istirahat, kakek pergi dulu" ucap Mateo bangkit berdiri dari atas kursinya.
"Ayo aku bantu kakek" ucap Dilan membantunya.
"Mmmmm".
Kemudian Lucas mengusap wajahnya begitu Mateo dan Dilan keluar, "Hahh.. Memikirkan ini membuat kepala ku pecah" gumamnya.
TOK... TOK....
"Masuk".
Ceklek!
"Tuan, saya membawakan beberapa laporan" ucap si sekretaris barunya.
"Taruh saja disitu".
"Baik tuan, permisi" undurnya. Lalu Lucas menduduki kursi kebesarannya, ia membuka beberapa dokumen tersebut dan segera menyelesaikannya.
.
Siang ini Jose sengaja menunggu Raniya di lantai ruangannya. "Sus, dokter Raniya ada dimana?" tanyanya.
"Dokter Raniya sedang ada jadwal operasi. Paling sekitar 30 menit lagi ia kembali. Ada yang bisa kami bantu pak?".
"Di sebelah sana pintu paling ujung".
"Mmmm, terima kasih".
"Sama-sama".
Jose melangkah berjalan mendekati pintu ruangan Raniya, ia segera masuk kedalam tampa persetujuan dari yang empunya ruangan. "Wah, sepertinya dia tipikal wanita yang sangat pembersih. Lihat ruangannya ini? sangat rapi.." gantung Jose melihat Raniya berada diatas sofa dengan tubuh lelah.
"Raniya" panggilnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanyanya melihat Jose.
Jose tersenyum, "Tadi aku bertanya kepada mereka kalau kamu sedang diruang operasi, karna itu aku memasuki ruangan mu".
"Operasi ku batal".
"Kenapa?".
"Dia sudah meninggal sebelum kami melakukan operasi" Jose terdiam, ia melihat kesedihan diwajah Raniya membuat ia ikut merasakan kesedihan yang Raniya rasakan.
"Kamu baik-baik saja?".
"Mmmmm, aku baik-baik saja. Duduk" jawab Raniya menggeser tubuhnya. Kemudian Jose mendudukan diri disampingnya, "Kamu sudah makan siang?".
__ADS_1
"Belum, kamu mau makan bersama ku?".
Raniya melihatnya, "Tidak, aku sedang tidak lapar. Kalau kamu lapar pergilah, aku ingin sendiri".
"Kalau gitu aku tidak akan pergi, aku akan disini bersama mu".
Raniya menarik sudut bibirnya, "Mau kopi?".
"Boleh".
"Tunggu sebentar" Raniya langsung membuatkan dua gelas kopi untuknya dan juga untuk Jose. Lalu memberinya ditangan Jose, "Cobalah, rasa kopi ini sangat nikmat".
"Terima kasih".
"Sama-sama" angguk Raniya duduk kembali menyeruput kopi hangatnya. "Jose, kamu benar-benar mau menikah dengan ku?".
Jose menatapnya, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?".
Raniya menghela nafas, lalu melihat Jose dengan senyum tipis. "Maafkan aku Jose, aku belum siap menikah dengan mu".
Deng..!
"Ma-maksud kamu apa Ran belum siap menikah dengan ku?".
"Mmmmm, aku belum siap. Tidak bisakah kita tunda dulu pernikahan ini meskipun kita menikah atas nama perjodohan".
"Kenapa Ran? aku ingin tau alasan kamu menunda pernikahan kita".
Raniya tersenyum, "Maaf Jose, tolong beri aku waktu untuk memikirkan pernikahan ini. Aku hanya ingin menikahi pria yang aku cintai dan saat ini belum waktunya aku untuk menikah. Kamu lihat sendiri betapa banyaknya pasien sedang membutuhkan aku. Karna itu tolong mengerti aku Jose".
"Aku mencintai mu".
"Apa?".
"Pertama kali aku melihat mu aku sudah mencintai mu dan kamu juga wanita yang pertama kali menggetarkan hati ini. Aku mencintai mu Raniya".
Raniya tersenyum kembali, "Kalau gitu beri aku kesempatan. Biarkan aku sendiri untuk saat ini".
"Lalu bagaimana dengan keluarga kita? aku tidak bisa menangani orang tua ku yang keras kepala harus menikahi mu apapun yang terjadi, bahkan ayah ku memindahkan ku kemari demi kamu".
"Maaf".
"Hhhmmmsss.. Tolong kamu pikirkan lagi, jangan sampai kedua belah pihak keluarga kita kecewa dengan perjodohan ini. Aku pergi".
"Tunggu sebentar" tahan Raniya.
"Apa?".
"Aku belum bisa melupakan seseorang yang dulu pernah singgah dihati ini".
Jose tertawa, "Lalu?".
"Karna itu beri aku waktu untuk memikirkannya".
"Baiklah, aku akan memberimu waktu selamat 1 bulan sampai kamu benar-benar melupakan dia".
"Terima kasih".
__ADS_1
"Mmmmm".