
Sebelum Lucas berangkat kekantor, ia terlebih dahulu mengunjungi sang nenek yang berada di rumah sakit. "Oo, tuan Lucas kenapa datang kemar... Sayang heheheh" tawa Marisa mengingat saat menatap manik mata Lucas yang menatapnya tajam. Lalu Lucas tersenyum mencium kening Marisa dengan sayang.
"Terima kasih sudah menjaga nyonya Elisabet, kamu sudah sarapan? aku membawakan kamu sarapan".
"Benarkah?".
"Mmmmm, kamu bisa makan bersama dengan nyonya Elisabet" jawab Lucas mendekati sang nenek yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri, "Selamat pagi nyonya Elisabet".
"Pagi juga sayang" genggam Elisabet ditangan Lucas. "Pagi ini kamu sangat tampan, kamu sudah sarapan juga?".
"Mmmmm" angguk Lucas.
"Kamu tidak berbohong?".
"Tidak, kalau gitu aku pergi dulu. Sepertinya pekerjaan ku sudah menumpuk" jawab Lucas meninggalkan mereka berdua. Kemudian Marisa melirik Elisabet, ia meminta izin keluar sebentar menyusul Lucas.
"Tuan tunggu" tahan Marisa.
"Ada apa?".
"Itu, saya ingin membahas mengenali pekerjaan saya di kantor. Apa tuan akan mencari pengganti saya? kalau tuan mencari pengganti saya itu artinya saya akan di pecat dari perusahaan begitu nyonya Elisabet keluar dari rumah sakit".
"Aku akan memikirkannya, sebaiknya kamu masuk saja".
"Baik tuan" angguk Marisa melihat punggung Lucas yang sudah pergi meninggalkannya. "Hhmmsss, tidak apa-apa. Kalau pun aku nantinya di pecat, aku masih mendapatkan dukungan dari nyonya Elisabet. Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk bertahan di Hanju group, dan lagian dia sendiri yang menyuruhku menjaga nyonya Sabet. Ini sangat tidak adil sekali Ck" kesal Marisa masuk kedalam ruangan itu kembali.
Ia melihat nyonya Elisabet sedang menelpon dengan seseorang yang tidak ia kenal, sambil menunggunya selesai, ia menyiapkan sarapan diatas meja. Begitu selesai, ia membawa sarapan tersebut kepada Elisabet, "Kita sarapan dulu nyonya Sabet".
"Terima kasih" senyum Elisabet meletakkan ponselnya. Kemudian Marisa memberikan sendok ditangannya, "Kamu juga makanlah, saya bisa makan sendiri".
"Tidak apa-apa nyonya. Saya akan memakannya setelah nyonya selesai".
"Ya sudah" Elisabet segera melahap makanannya dengan lahap dan sekali-kali ia melihat Marisa dengan cepat langsung melap sudut bibirnya setiap kali ada noda makanan yang menempel. Setelah selesai, Marisa menyimpan bekas piring kotor makanannya lalu membantu Elisabet membaringkan tubuhnya kembali. "Ah, saya kenyang sekali".
Mendengarnya, Marisa menunjukkan senyuman mengembang diwajahnya kepada Elisabet. "Syukurlah, saya sangat bahagia melihat nyonya Elisabet sangat lahap".
"Benar, mungkin itu karna masakan Lucas saya sangat menikmatinya".
"Masakan tuan Lucas?".
"Jangan memanggilnya tuan Lucas kalau tidak di kantor. Kamu panggil saja namanya, saya rasa umur kalian berdua tidak beda jauh".
"Baik nyonya".
__ADS_1
"Mmmmm, dia sangat pandai memasak sama seperti putra ku".
"Wah, ternyata dia pandai memasak juga" gumam Marisa tertawa kecil.
"Kenapa? kamu belum pernah mencicipi masakannya?".
"Mmmmm, tidak pernah".
"Ckckck, sayang sekali. Dia sangat hebat memasak, kalau kamu melihatnya dia akan terlihat gagah dan sangat tampan saat berada di dapur. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa membuktikan sendiri".
"Iya nyonya" angguk Marisa😁
.
Di kantor Lucas disibukkan dengan pekerjaannya. Kemudian seseorang membuka pintu ruangannya yang tidak lain adalah Dilan, "Ada apa kamu kemari? pekerjaan ku sangat banyak" tanya Lucas melihatnya.
Dilan tersenyum, "Aku kemari ingin memberitahu mu kalau ruangan ini sebentar lagi akan segera menjadi milik ku".
Lucas menghela nafas, kemudian memutar kursinya bangkit berdiri, lalu berjalan kearah Dilan. "Kamu yakin? kita lihat saja nanti".
"Hah... Aku dan Kirana akan segera bertunangan, dia telah memilih ku dari pada kamu. Atau kamu sudah melupakan apa yang kakek bilang kemarin? diantara kita berdua siapa yang duluan mendapatkan cinta Kirana maka ialah yang akan menjadi penerus perusahaan ini".
"Hhooaammm, mendengar mu membuat ku sangat ngantuk Dilan. Lebih baik kamu mengurus pembangunan pabrik yang ada di kota xx. Jadi sekarang sebaiknya kamu keluar, pekerjaan ku sangat banyak" usir Lucas kembali duduk diatas kursi kebesarannya.
Dilan menatapnya dengan tajam, setelah itu ia tersenyum sinis. "Baiklah" Dilan langsung meninggalkan ruangannya. Lalu Lucas melirik ponselnya yang berdering, ia melihat siapa yang sedang menelponnya itu.
"Aku dirumah sakit, tadi aku melihat wanita yang sama persis dengan sekretaris mu itu masuk keruang VVIP. Apa aku salah lihat Lucas?".
"Sedang apa kamu disana?".
"Aku dipindahkan kemari untuk beberapa bulan ini. Jadi benar dia sekretaris mu?".
"Mmmm".
"Kenapa dia kemari? siapa yang sakit? atau kamu sudah memecatnya?".
"Tidak, seseorang sakit disana. Jadi aku menyuruhnya untuk menjaganya".
"Siapa Lucas?".
"Seseorang yang tidak perlu kamu tau".
"Wah.. Kamu sudah lupa siapa aku Lucas? aku ini seorang direktur yang di pindah tugaskan kemari. Mencari tahunya adalah hal yang paling mudah aku cari tau".
__ADS_1
"Sejak kapan kamu dipindah tugaskan?".
"Mulai hari ini. Ah, ini sangat menyebalkan, aku tidak suka mencium aroma rumah sakit" kesal Jose mengingat betapa bersikerasnya orang tua Jose untuk memindahkan dirinya. "Kamu sedang sibuk?".
"Mmmmm, pekerjaan ku sangat banyak".
"Jam siang nanti aku akan kekantor mu. Aku tutup dulu" Jose mematikan ponselnya. Kemudian menghentikan salah satu perawat yang baru keluar dari ruangan Elisabet. "Siapa yang dirawat disana?".
"Anda siapa?" tanya mereka melihat Jose.
"Kalian tidak mengenal saya?".
"Tidak" jawab mereka tampa merasa bersalah.
"Ais.. Kalian bisa mengenali siapa orang yang ada di foto itu?" Tunjuknya.
"Ya, beliau pemilik rumah sakit ini".
"Saya adalah putranya, direktur baru di rumah sakit ini. Kalian sudah tau?".
"Astaga, tolong maafkan kami tuan" tunduk mereka menyesal.
"Hhhmmmsss, kalian boleh pergi" usir Jose berjalan memasuki ruangan VVIP tersebut. Dengan rasa penasaran yang Jose rasakan ia mendorong pintu, disana ia melihat Marisa, Elisabet dan dua pelayan Elisabet yang pulang balik membawakan keperluan Elisabet.
"Anda siapa?" tanya Marisa melihatnya.
Jose tersenyum melihat mereka, lalu melangkah masuk mendekati Marisa yang berdiri disamping bed Elisabet, "Maaf sudah masuk sembarangan kedalam ruangan ini tampa izin terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Jose direktur baru di rumah sakit ini".
"Oh" angguk Marisa. "Tapi apa yang membuat tuan datang kemari?".
"Saya mengenal mu, kamu sekretarisnya Lucas bukan?" Marisa terkejut begitu juga dengan Elisabet yang ikut mendengarnya. "Hahahah, sebenarnya saya ini sahabat Lucas, dia tidak memberitahu mu. Ah anak itu" gumam Jose melirik Elisabet yang sedang melihatnya. "Hallo nenek".
Elisabet tersenyum mengangguk, "Siapa nama mu? bagaimana bisa kamu dan Lucas saling mengenal satu sama lain?".
"Aku dan Lucas sudah menjadi sahabat sejak kita SMP sampai saat ini. Lalu nenek siapanya Lucas?".
"Kamu tidak perlu tau siapa saya".
"Oh. Maaf".
"Tidak apa-apa, saya rasa kamu sedang sibuk. Sebaiknya kamu pergi saja. Saya sedang tidak ingin diganggu".
"Ah baiklah. Semoga nenek lekas sembuh, saya permisi dulu. Oh iya, kalau ada sesuatu yang kurang dengan pelayanan rumah sakit kami, kamu bisa melapor ke saya" ucapnya kepada Marisa.
__ADS_1
"Baik tuan, terima kasih".
"Sama-sama" angguk Jose keluar.