Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 69


__ADS_3

Di dalam keluarga besar Davison, semua pelayang di istana tersebut sedang disibukkan menyiapkan semua keperluan untuk nanti malam yaitu acara pernikahan Dilan dengan Kirana yang akan berlangsung pukul 7 malan nanti. Dengan senyum mengembang di wajah ibunya Dilan, ia melihat Isabella dengan tatapan sinis. "Pa, lalu bagaimana dengan posisi Dilan yang papa bicarakan kemarin? apa papa belum memberitahu yang lainnya?" tanya Vina.


"Hhrrmm.. Kemarin papa sempat membahasnya dengan mereka. Tapi tampaknya mereka masih memikirkannya, papa tidak tau mereka akan menerimanya atau tidak".


"Loh, enggak boleh gitu dong pa. Apapun yang terjadi mereka harus siap menerima pimpinan baru. Bukankah begitu pa?" tanyanya melihat Carlos sang suami.


"Sebenarnya ma. Tapi kita juga tidak boleh memaksakan para investor, nanti mereka bisa saja menarik saham kapan pun mereka mau ma".


"Ck" Vina menatapnya dengan tajam. "Intinya Dilan harus bisa menjadi pimpinan, nanti Vina akan bicara dengan mereka".


Mendengar apa yang baru saja Vina ucapkan, Isabella langsung tertawa kecil sambil geleng kepala. "Sepertinya adik ipar kehausan sekali akan kekuasaan Hanju. Tidak bisakah kamu membiarkan anak-anak bertaruh secara sehat supaya tidak menimbulkan konflik?. Pa, aku mau papa melakukan pemungutan suara dari semua para investor, aku harap papa setuju".


"Apa?" bentak Vina tidak terima. "Vina enggak terima pa, apapun yang terjadi Dilan harus menjadi CEO baru. Dan kamu tidak usah ikut campur, kemarin kamu dengar sendiri kalau siapa diantara Dilan dan Lucas berhasil mendapatkan hati putri tuan Malik, maka papa akan memberikan perusahaan itu kepadanya. Bukan begitu pa? dan sekarang papa sudah melupakannya?" kesal Vina melihat Lucas menuruni anak tangga sambil melihat kearah mereka yang sedang berada di ruang keluarga.


Kemudian Lucas tersenyum, "Ada apa ini masih pagi sudah ribut-ribut?. Bi tolong buatkan saya kopi".


"Baik tuan" jawabnya.


Lalu Lucas mendudukan diri disamping Isabella yang terlihat sangat marah kepada Vina yang sedari tadi tidak mau tenang. "Ada apa ma? kenapa tidak satu orang pun menjawab pertanyaan ku?. Apa ini masalah perusahaan lagi?".


"Mmmmm, bibi kamu meminta kakek untuk segera menyerahkan posisi kamu kepada Dilan. Tapi kata kakek para investor sepertinya masih bimbang untuk menukar posisi kamu".


"Tidak apa-apa kalau memang aku harus memberikan posisi ku kepada Dilan. Kakek, aku baik-baik saja. Senin aku akan mengundurkan diri".


Mateo pun langsung sedikit terkejut begitu Lucas bersedia mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO di perusahaan Hanju group. "A-apa kamu mengatakan yang sebenarnya kalau kamu akan mengundurkan diri dari posisi mu yang sekarang?".


"Mmmmm, aku akan mengundurkan diri Hanju dan akan segera membangun perusahaan ku sendiri. Jadi kakek bebas memberikan posisi itu kepada Dilan" jawab Lucas melihat Isabella yang sedang menatapnya dengan mata tajam. "Ma, Lucas mau lebih berjuang lagi. Jangan khawatirkan aku, bisakah mama mempercayai ku?".


"Lu-lucas.. Kamu pasti sedang bercanda kan? itu tidak benarkan sayang? mama yakin kamu pasti sedang bercanda".


Lucas menarik kedua tangan Isabella, menggenggamnya dengan erat. "Aku sudah bilang jangan khawatir ma. Lucas ingin belajar lebih mandiri lagi, dan sekarang yang Lucas butuhkan hanya dukungan dari mama, kakek dan semua anggota keluarga ini. Bukankah begitu paman bibi?".


"Mmmmm" angguk Carlos tersenyum tipis, namun berbeda halnya dengan Vina yang malah tersenyum mengejeknya. "Ma, sudah. Apapun yang terjadi Lucas tetap keponakan kita" bisik Carlos menghentikan sang istri.


Hingga kini malah hari telah tiba, Kirana yang sedang berada di ruang rias, ia melihat pantulan wajahnya di depan cermin dengan senyuman bercampur senang dan sedih.

__ADS_1


TOK.. TOK....


"Siapa?".


Ceklek!


"Aku! boleh aku masuk?".


"Ada apa kamu kemari? sebaiknya kamu pergi saja. Bagaimana kalau orang lain melihat kita hanya berdua di dalam sini?".


"Kita tidak berdua. Kamu tidak melihat mereka sedang sibuk?" jawab Lucas menunjuk kearah para penata rias yang juga berada di dalam sedang sibuk menyimpan alat-alat mereka. Lalu ia tersenyum melihat Kirana dari atas sampai bawah, "Malam ini kamu cantik sekali. Aku jadi iri kepada Dilan, bagaimana bisa dia menikahi seorang putri bak dongen seperti mu?".


Kirana tersenyum, "Putri dongeng? sepertinya kamu terlalu banyak membaca buku dongen. Terus apa tujuan kamu kemari? apa karna hanya ingin mengatakan aku cantik?".


"Bisa dibilang. Kamu cantik sekal..


"Hentikan Lucas. Sebaiknya kamu keluar sebelum Dilan masuk kemari".


"Kirana!" panggilnya.


"Apa kamu tidak akan menyesal menikahi Dilan? aku akan segera mengundurkan diri dari posisi ku senin nanti".


"Aku tidak akan menyesalinya. Terus kemana kamu akan pergi Lucas kalau kamu mengundurkan diri posisi mu".


"Aku akan membuat perusahaan baru" jawab Lucas mengulurkan tangan kanannya. "Selamat".


Kirana menatapnya, lalu membalas tangan Lucas. "Terima kasih Lucas. Semoga kamu juga akan segera menikah menyusul kami".


"Mmmmm, aku pergi" angguk Lucas keluar dari dalam sana. Kemudian Dilan melihatnya, "Aku baru keluar dari dalam".


"Apa yang kamu lakukan disana?".


"Jangan khawatir, aku kesana bukan untuk menggoda dia. Oh iya, selamat atas pernikahan mu, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku pergi dulu".


"Tunggu" tahan Dilan.

__ADS_1


"Mmmm?" Dilan menatapnya, lalu tersenyum sinis membuat Lucas langsung mengetahuinya. "Aku sudah mengatakan kepada mu, senin nanti aku akan mengundurkan diri. Itu kan yang kamu tunggu?".


"Hahahahha.. Terima kasih, kamu boleh pergi".


"Mmmmmmm" senyum Lucas mengangkat kedua bahunya. Setelah itu ia pergi meninggalkan istana keluarga Davison yang di penuhi tamu undangan. Namun saat ia memasuki mobil, seseorang tiba-tiba memanggil namanya yang tak lain adalah Raniya. "Kamu?".


"Mmmmm, kenapa? kamu tidak senang melihat ku berada disini?".


"Bukan seperti. Bersama siapa kamu datang kemari?" tanya balik Lucas melihat sekitar mereka. "Kamu datang bersama dengan Jose? dimana dia?".


"Jose ada disana. Ayo, dari tadi aku mencari mu tapi kamu tidak kelihatan".


"Ah begini Niya, aku sedang ada urusan mendadak jadi aku harus pergi".


"Kamu mau pergi kemana Lucas? acaranya saja belum di mulai tapi kamu mau langsung pergi. Ayolah, bukankah ini acara pernikahan saudara kamu sendiri?".


"Iya, tapi aku harus pergi. Maaf" jawab Lucas memutar tubuh Raniya. "Aku tidak akan lama, pergilah".


"Kamu yakin kamu benar-benar akan pergi?".


"Mmmmmm" gumam Lucas membuka pintu mobilnya. "Aku pergi" Raniya pun menatapnya dengan tatapan kecewa, begitu mobilnya Lucas menghilang, ia pun kembali ketempat Jose dan keluarganya berada.


Kemudian Jose melihatnya, "Kamu dari mana?".


"Tadi aku bertemu dengan Lucas".


"Lucas? dimana dia?".


"Dia baru saja pergi dan aku tidak tau kemana dia akan pergi".


"Pergi?" batin Jose langsung mengingat kalau malam ini juga adalah pesta pernikahan kakak iparnya. "Dia pasti kesana".


"Kamu bilang apa?".


"Tidak, aku tidak bilang apa-apa" gelengnya.

__ADS_1


__ADS_2