Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 99


__ADS_3

Malam ini Marisa tengah berdandan, ia tak henti-hentinya memoles wajah mulusnya dengan makeup yang membuat wajahnya terlihat begitu cantik. Sedangkan Lucas sedang memperbaiki pakaiannya dari belakang melirik sang istri yang terlihat benar-benar sangat cantik membuat ia senyum tipis sembari menyuruhnya untuk segera menyelesaikan makeup ya. "Tunggu sebentar sayang. Lihatlah kemari, apa aku sudah terlihat cantik?" dengan manis Marisa menunjukkan senyumannya.


"Kamu sangat cantik sekali sayang. Ayo, kita tidak punya banyak waktu lagi berlama-lama disini".


"Ayo" Kemudian Flora melihat sepasang suami istri itu menuruni anak tangga bergandengan tangan. "Oh iya Ra kami mau pergi dulu yah. Kamu enggak apa-apa kan sendiri tinggal dirumah sebentar ajah?".


"Jangan khawatir Sa. Pergilah" jawab Flora mengacungkan kedua jempol tangannya. "Kalian hati-hati dijalan ya".


"Iya Ra".


Lalu ponsel Flora berdering menandakan sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya, ia pun merogoh kantong celana, di layar ponselnya tertera nama sang ibu dari kampung halaman membuat Flora segera mengangkatnya dengan senyum mengembang di wajahnya. "Hallo bu, apa kabar? ibu dan ayah sehat?".


"Puji Tuhan sehat nak, ibu sama ayah kamu dan saudara kamu sehat selalu. Kamu apa kabar nak? kita semua sangat merindukan mu".


"Iya kak Ra, apa kabar? kami sangat merindukan Kak Flora? kapan kakak pulang?" teriak sang adik dari sebrang sana.


"Kamu dengar adik kamu Ra? mereka sangat merindukan mu".


"Flora juga sangat merindukan kalian semua bu. Maaf ya bu akhir-akhir ini Flora jarang kasih kabar, tapi ibu tenang saja, setiap bulan Flora akan selalu kirim uang untuk kebutuhan keluarga disana".


"Ibu malah lebih minta maaf lagi nak karna sudah merepotkan kamu untuk membiayai keluarga mu yang ada disini" kedua mata ibunya Flora pun langsung berkaca-kaca yang selama ini telah merepotkan sang putri.


"Jangan berkata seperti itu bu, Flora sangat tidak suka mendengarnya. Kalau ibu dan ayah sedih disana, Flora jauh lebih sedih yang berada disini. Jadi berhenti membicarakan itu Bu hiks" tangis Flora menyeka air matanya tampa ia sadari Rehan yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.


"Rehan ayo, kamu sedang melihat apa?".


"Ah iya bu. Ayo".


"Dia kenapa?".


"Siapa bu?".


"Nona itu, sepertinya dia sedang menangis".


"Sepertinya. Sudah ayo bu nanti keburu malam, takut jalanan macet".


"Mmmmmm".


Tidak lama kemudian Flora mematikan ponselnya, namun air mata itu masih mengalir membasahi kedua pipinya dengan tubuh bergetar. "Hiks.. Hiks.. Maafkan Flora bu, bahkan sekarang Flora tega membohongi ibu dan ayah dengan kehamilan ku hiks.. hiks..".


.


Sesampainya mobil Lucas di depan istana milik keluarga Davison, Marisa pun langsung membulat mata melihat betapa megahnya rumah tersebut. "OMG, ini benar-benar rumah?".

__ADS_1


"Mmmmm, ayo turun" jawab Lucas membuka pintu mobilnya. Beberapa pelayan disana pun segera menghampirinya dengan senyum tipis menyambut kedatangan sang tuan rumah.


"Selamat datang tuan Lucas" ucap mereka dengan sopan.


"Mmmmm" angguk Lucas. Lalu ia berjalan duluan disusul oleh Marisa dari belakang, karna saat ini posisi Marisa sebagai sekretaris, ia pun akan memperlakukan Lucas sebagai atasannya. Namun bukan berarti Lucas akan lalai membiarkan Marisa, ia tetap memperhatikan Marisa meskipun sang istri tidak menyadarinya.


"Ya Tuhan, rumah ini?".


"Permisi nona" tahan seseorang berdiri dihadapan Marisa membuat ia menghentikan langkah kakinya.


"Iya?".


"Nona telah memasuki kawasan keluarga Davison, tolong nona menjaga attitude selama berada disini, keluarga ini sedang kedatangan tamu spesial".


"Mmmm iya, saya akan mengingatnya".


"Terima kasih atas kerja samanya. Silahkan".


"Iya" angguk Marisa berjalan sambil berkata dalam hati. "Astaga ini rumah benar-benar seperti dipenjara saja. Oo, dia dimana? astaga aku kehilangan dia. Bagaimana ini?" Marisa pun linglung, ia mencoba mencari keberadaan Lucas yang telah meghilangan dari hadapannya.


Lalu Marisa bertanya kepada salah satu pelayan yang baru saja lewat dari hadapannya. "Permisi".


"Iya, ada yang bisa saya bantu nona?".


"Aduh bagaimana ini? ada hal penting yang harus saya kerjakan nona. Maaf, tapi tuan Lucas sedang berada diruang tamu, nona bisa berjalan lewat dari sini, nanti nona akan bertemu dengan beliau".


"Ah iya, terima kasih ya mba..


"Kamu siapa?" potong Kirana dari samping mendekatinya. "Oo, kamu!!".


Marisa tersenyum, "Hallo nona!" sapanya.


"Sedang apa kamu disini?".


"Saya datang kemari bersama dengan tuan Lucas nona".


"Lucas?".


"Iya nona".


"Lalu kenapa kamu ikut? Lucas kemari bukanlah urusan pekerjaan melainkan pertemuan keluarga".


"Maaf nona, saya tidak tau alasan tuan Lucas mengajak saya kemari, saya hanya mengikuti perintahnya" jawab Marisa sambil melanjutkan dalam hati kata maaf kepada sang suami karna sudah menggunakan namanya untuk berbohong. "Kalau gitu saya permisi dulu ya nona".

__ADS_1


"Kamu yakin akan lewat dari situ?".


"Lalu saya lewat dari mana nona?".


"Kamu lewat dari sini saja, nanti kamu akan bertemu dengannya".


"Ah iya nona, terima kasih".


"Mmmmm" gumam Kirana tampa Marisa sadari kalau dirinya baru saja dibohongi oleh Kirana yang sedang menahan tawa dalam hati, setelah itu ia pergi dari sana. Sedangkan Marisa yang terus menerus melanjutkan kedua langkah kakinya, ia mulai merasa aneh kalau ia sedang terjebak.


"Ya Tuhan, ini dimana? kenapa aku malah seperti sedang berada di hutan?" Marisa melihat samping kiri kanannya, lalu ia melihat sebuah harimau berjalan mendekatinya dengan mata bercahaya. "Tidak, tidak, aku pasti sedang bermimpi, aku yakin aku sedang bermimpi. Iya kali aku sedang berada di hutan dan bertemu dengan hewan buas seperti ini hahahah.. " tawa Marisa berteriak menangis memanggil ayah dan ibunya. Kemudian seseorang menutup kedua matanya dari belakang, "Aarrrkkhhh!!".


"Jangan berteriak, dia akan berlari kemari".


"Kamu siapa?".


"Sshhuueettt.. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja asalkan kamu tidak berteriak".


"Aku sangat takut".


"Jangan khawatir, ada aku bersama dengan mu" hingga pada akhirnya harimau tersebut pergi meninggalkan mereka berdua dari sana. Kemudian ia melepaskan pelukannya dari belakang, "Kamu baik-baik saja?".


Marisa menatapnya, "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkan aku, lalu kamu siapa?".


"Kenalin nama ku Alvin" jawabnya mengulurkan tangan di hadapan Marisa.


"Marisa".


"Marisa? nama yang sangat cantik seperti orangnya".


"Hhhmmm?".


"Tidak, lupakan saja. Ayo, tempat ini tidak bagus untuk mu".


"Tunggu sebentar" tahan Marisa. "Sebenarnya kita sedang dimana? bagaimana bisa aku berada ditempat seperti ini? aku enggak sedang bermimpi kan?".


"Iya kamu enggak sedang bermimpi. Lain kali jangan terlalu banyak berhanyal disaat kamu lagi berjalan sendiri supaya kamu tidak sampai kemari".


"Hey.. Siapa juga yang berkhayal? ck menyebalkan sekali. Tapi sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak sudah menolong ku".


"Sama-sama. Ayo".


"Mmmmmm".

__ADS_1


__ADS_2