
Marisa tersenyum melepaskan kedua tangan Flora, lalu membalikkan badan menghadap dirinya. "Aku juga, aku mencintai kamu Flora" balas Marisa memeluknya.
"Terima kasih".
"Mmmmm. Oh iya Ra, aku ingin memberitahu mu sesuatu".
"Apa itu Risa?".
"Sabtu, hari sabtu ini aku akan menikah dengan tuan Lucas Ra" jawab Marisa dengan wajah sumringah.
"Benarkah Risa..?".
"Mmmmm, kamu harus datang diacara pernikahan aku".
"Iya, dengan senang hati aku akan datang. Selamat yah Marisa ku sayang, akhirnya sahabat ku ini akan menikah dengan pria idaman dia. Thank you GOD".
"Terima kasih Flora hehehe. Semoga kamu juga segera menyusul ku, aku mau suatu saat nanti anakku dan anak mu bisa berjodoh, pasti sangat menggemaskan".
"Hahahha, dan sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan mu Sa. Tapi bukan sekarang, nanti setelah tiba waktunya".
"Apa itu Ra? kenapa tidak sekarang saja".
Flora tersenyum, "Aku belum bisa memastikannya untuk sekarang Sa".
"Hey.. Aku yakin kamu ingin mengatakan kalau kamu menyukai Jose, iya kan Ra? ayo ngaku kamu" desak Marisa menggoda sang sahabat yang hanya dibalas senyuman oleh Flora. "Kalau kamu menyukainya, aku akan mendukung mu Ra. Sepertinya dia anak yang baik, tapi ya itu lagi, kamu akan menikah dengannya seperti aku dan tuan Lucas. Hhmmsss, sedihnya".
"Sedih dimana Sa? kamu sangat beruntung sekali di dukung oleh dia yang berkuasa. Tapi kalau aku ya sudah pasti tidak bakalan ada yang mendukung, lagian aku sama sekali tidak tertarik kepadanya".
"Kamu yakin?".
"Yakin".
"Tapi kenapa yah setiap kali aku menyebut nama Jose, aku merasa ada sesuatu gitu di wajah kamu".
"Hahahaha, kamu ada-ada ajah. Sudah ah, aku tidak ingin membahasnya, mana tehnya, aku ingin sekali memakan cake itu".
"Kamu tunggu saja disitu, aku akan membuatnya".
"Mmmmm".
.
1 minggu kemudian.
Setelah pernikahan Lucas dan Marisa berlangsung, dengan senyum mengembang diwajah Marisa, ia sedang asik memandangi bingkai foto pernikahan mereka di dalam kamar. "Cantik sekali, aku tidak menyangka kalau sekarang aku sudah menjadi istri tuan Lucas" gumam Marisa.
Kemudian Marisa melihat jam menunjukkan pukul 10 pagi, ia keluar dari dalam kamar melihat Rehan dan satu wanita paruh baya sedang menyiapkan sarapan untuknya. Sedangkan Lucas saat ini sedang perjalanan menuju luar kota, meskipun mereka baru menikah, Marisa tidak akan menghalangi pekerjaan Lucas dengan alasan pernikahan mereka yang baru saja berlangsung 1 hari. Sedih, tentu saja sedih bagi seorang Marisa.
__ADS_1
"Pagi nona" ucap Rehan.
"Pagi Rehan, ibu ini siapa? kok aku belum pernah melihatnya".
"Pagi nona, saya ibunya Rehan".
"Oh, ibunya Rehan. Maaf tidak mengenali ibu Rehan selama ini".
"Tidak apa-apa, karna Rehan yang paling sering datang kemari, wajar saja nona tidak mengenali saya".
"Hahahah.. Iya yah, lagi aku juga jurang dulunya datang kemari. Oh iya Rehan, jam berapa tadi dia pergi?".
"Tuan Lucas nona?".
"Iya".
"Sekitar jam 6 pagi tadi nona".
"Mmmmm, padahal sekarang kan hari minggu, tapi dia malah asik bekerja. Flora sedang apa yah?" Marisa mengeluarkan ponselnya, ia langsung menghubungi nomor sang sahabat.
"Iya Sa?".
"Kamu dimana Ra?".
"Dirumah. Kenapa?".
"Oh iya?".
"Mmmm, kamu sudah sarapan Ra? aku akan membawakan mu bekal dari rumah".
"Boleh".
"Ya sudah, sebentar lagi aku otw menjemput mu kerumah".
"Mmmmm".
Kemudian Marisa menyuruh Rehan membuatkan bekal yang akan ia bawa kerumah sakit. Lalu ia memasuki kamar mengganti pakaiannya, setelah itu Rehan memberikan bekal yang tadi ia minta. "Terima kasih ya Rehan, aku pergi dulu".
"Iya nona, hati-hati dijalan".
"Mmmmm" angguk Marisa segera memasuki mobil meninggalkan rumahnya menuju rumah sewa Flora yang sedang menunggunya di tempat biasa yaitu di depan halte. "Ra, ayo masuk".
"Kamu sudah datang?" masuknya kedalam mobil Marisa. "Wah, pengantin baru ini tampak bersemangat sekali, kenapa kamu tidak pergi bersama dengan tuan Lucas saja Sa?".
"Tadi pagi dia sudah berangkat ke luar kota Ra".
"Dengan siapa Sa?".
"Oh iya aku baru ingat, tidak mungkinkan dia pergi sendiri tampa ada orang yang membantunya. Hey, dia pasti pergi bersama dengan Tera".
__ADS_1
"Siapa Tera Sa?".
"Sekretaris itu".
"Oh" gumam Flora. Hingga kini mereka telah tiba di rumah sakit, Flora membantu Marisa membawa bekal tersebut, lalu mereka masuk kedalam. Namun saat mereka sedang menunggu lift, Jose yang juga baru datang berdiri tepat disamping Flora yang belum menyadari akan dirinya.
"Oo, tuan Jose" senyum Marisa memanggilnya.
"Ah, sedang apa kalian kemari?" tanyanya melihat mereka berdua.
"Nyonya Elisabet dirawat kembali tuan, tadi jam 8 pagi mereka memberitahu ku".
"Oh, lalu bagaimana dengan Lucas? dia dimana? kenapa kamu tidak bersamanya?".
"Tadi pagi sekitar jam 6 subuh dia sudah berangkat ke luar kota".
Jose tertawa kecil, "Ck, padahal hari ini adalah hari bahagia kamu bersama dengannya, tapi dia malah asik bekerja".
"Tidak apa-apa tuan".
Lalu Jose melirik Flora yang sedari tadi terdiam tampa melihat kearahnya. "Itu apa yang kamu bawa?" tanyanya. Tetapi tidak ada jawaban dari mulut Flora, ia pura-pura tidak mendengarnya.
"Ra, Flora. Kamu ditanyain sama dia" bisik Marisa menyadarkannya. "Hahaha, mungkin dia tidak mendengar tuan. itu bekal yang aku bawa dari rumah tuan".
"Mulai sekarang kamu tidak usah memanggil ku seperti itu lagi. Panggil saja Jose, biar lebih enak, aku ingin lebih dekat lagi dengan kalian berdua".
Ting..!
"Oo, pintu liftnya sudah terbuka. Ayo".
"Tidak, kalian duluan saja".
"Oh ya sudah" Marisa langsung menutup pintu lift. Lalu melihat wajah Flora yang tampak tidak seperti tadi ia melihatnya, "Ada apa Ra? kamu kok tiba-tiba sedih seperti itu?".
"Hhmmsss, aku tidak ingin melihatnya Sa".
"Siapa? Jose maksud kamu?".
"Mmmmm, aku tidak ingin melihatnya dan aku juga tidak ingin bertemu dengannya".
"Kenapa? kamu seolah-oleh terlihat sangat membencinya Ra. Apa dia pernah melakukan kesalahan kepada mu?".
"Entahlah, aku juga tidak tau Sa. Aku hanya tidak ingin melihatnya".
"Masa iya sampai segitunya kamu tidak ingin melihat dirinya? Aku rasa ada sesuatu deh kamu sembunyikan dari ku, iya kali kamu tidak menyukai seseorang tampa alasan, kamu tidak seperti Flora yang aku kenal selama ini. Lalu bagaimana dengan Reza? dia masa lalu mu tapi kenapa kamu bisa dekat dengannya? bahkan.. Ah sudahlah, aku juga tidak ingin membahas Reza".
"Maafkan aku Sa".
"Maaf untuk apa Ra? ayo dong cerita ke aku kalau kamu punya masalah. Jangan di pendam sendiri, entar kamu jadi sakit sendiri, aku enggak mau yah kalau kamu sampai kenapa-napa, aku tidak akan memaafkan mu. Ingat itu".
__ADS_1