
Sekarang telah menunjukkan pukul 1 siang, Lucas dan Marisa masih setiap menunggu disana sampai Elisabet siuman. "Tuan, sebaiknya tuan makan siang dulu" ucap Marisa.
"Aku tidak lapar, kamu saja" jawab Lucas mengeluarkan ponselnya.
"Baik tuan" Marisa keluar dari dalam kamar, ia berjalan kearah kantin yang berada di lantai bawah. Ia menikmati makan siangnya seorang diri, kemudian seseorang berjas putih mendekati meja Marisa.
"Permisi, boleh saya bergabung disini? meja lain sudah penuh, saya melihat mu hanya seorang diri".
"Iya, silahkan dok" angguk Marisa tersenyum.
"Terima kasih" duduknya dihadapan Marisa. Ia langsung menikmati makan siangnya dan ia terlihat sangat menikmati makanan itu, sedangkan Marisa yang sedang memperhatikannya membuat ia melihat kearah Marisa. "Ada apa?" tanyanya.
"Tidak, saya melihat dokter sangat menikmati makanan dokter".
Ia tersenyum tipis, "Kalau kamu tidak menikmati makanan ini, kamu tidak akan memiliki tenaga untuk menghadapi dunia yang pahit ini. Jangan buat dirimu disiksa oleh dunia, kamu harus menang. Saya sudah selesai" ucapnya pergi meninggalkan Marisa.
"Ada apa dengannya? dia berkata seperti itu seolah-olah dia banyak masalah" gumam Marisa melihat punggungnya menjauh. kemudian Marisa melanjutkan makannya, setelah selesai, ia meminta kepada si pelayang untuk membungkus 1 porsi untuk Lucas. Begitu ia mendapatkannya, ia segera kembali kedalam ruang rawatan Elisabet.
Ceklek!
Namun saat ia membuka pintu, ia tidak melihat Lucas berada disana membuat Marisa mengernyitkan dahi. "Kemana dia pergi? apa dia kembali ke kantor?" Marisa berjalan mendekati ranjang Elisabet. Ia melihatnya dengan tatapan sendu, "Tapi kalau tuan Lucas pergi, harusnya dia memberitahu ku" gumam Marisa.
Ceklek!
Melihat siapa yang baru saja membuka pintu tersebut, Marisa langsung menghampirinya. "Tuan dari mana saja? aku pikir tuan sudah kembali ke kantor?".
"Tadi aku ada urusan sebentar. Sebaiknya kamu kembali ke kantor".
"Lalu bagaimana dengan tuan".
"Aku akan menunggunya sampai siuman".
"Kalau gitu, biarkan aku juga ikut menunggu disini tuan sampai nyonya Elisabet siuman. Dan tadi juga aku membawakan tuan makan siang, saya rasa tuan juga lapar" Marisa berjalan kearah sofa, lalu membukan kotak tersebut. "Mari tuan".
Lucas menatapnya tampa ekspresi, namun ia tetap berjalan kearah Marisa, lalu ia mendudukan diri. "Terima kasih".
__ADS_1
Marisa sempat terkejut mendengar Lucas mengucapkan terima kasih kepadanya dengan sangat tulus, "Mmmm, aku akan mengambil air putih" Marisa membuka kulkas, ia mengambil sebotol air minum, lalu memberinya di hadapan Lucas. "Apa rasanya enak tuan?".
"Lumayan" jawab Lucas.
"Syukurlah. Yang penting tuan menyukainya" senyum Marisa bahagia. Begitu Lucas selesai, ia langsung mengambil bekas kotak tersebut dan membuangnya ke tong sampah, tampa mereka sadari sepasang bola mata sedang melihat kearah mereka berdua. "Tuan...
"Apa?" potong Lucas melihatnya.
"Sebentar" ia menyentuh sudut bibir Lucas. "Maaf tuan, aku tidak bermaksud lain, aku hanya.." gantung Marisa melihat kedua bola mata Lucas menatapnya dengan tajam. Marisa pun langsung menarik tangannya, "Maafkan aku tuan".
Kemudian Lucas memalingkan wajahnya, namun saat itu juga kedua mata Lucas bertemu dengan kedua bola mata Elisabet, "Nyonya Sabet" Lucas berjalan kearahnya, ia langsung memeluknya dengan sayang. "Terima kasih sudah membuka mata kembali".
"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir. Kenapa kalian kemari? harusnya kamu ada di kantor".
"Aku kemari karna mendengar mu berada dirumah sakit nyonya Elisabet, dan mulai hari ini sampai seterusnya kamu akan berada dirumah sakit ini".
"Apa dokter itu memberitahu mu?".
"Mmmmm, dia sudah memberitahu ku semuanya".
Lucas mengernyitkan dahi, "Syarat?".
"Mmmmm, aku mau dia yang merawat ku selama aku tinggal dirumah sakit. Bagaimana? kamu setuju".
"Pekerjaannya sangat banyak dikantor. Aku akan mencari perawat baru untuk merawat mu disini".
"Tidak, aku mau dia yang merawat ku. Bagaimana?" Lucas melirik Marisa yang masih berdiri didekat sofa. "Kamu mau kan merawat saya?".
Marisa tersenyum, "Kalau tuan Lucas tidak keberatan saya akan merawat nyonya Elisabet selama berada dirumah sakit" jawab Marisa.
"Bagus, kamu dengar dia Lucas?".
"Terserah nyonya Sabet saja. Mulai besok kamu yang merawatnya".
"Baik tuan. Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku? apa tuan akan mencari pengganti ku?".
__ADS_1
"Nanti aku pikirkan".
"Baik".
.
Malam harinya Lucas mengantar Marisa kembali kerumahnya, dengan senyum mengembang di wajah Marisa ia mengucapkan terima kasih sudah repot-repot mengantarnya pulan kerumah. Setelah itu Lucas pergi meninggalkannya, ia pun langsung masuk kedalam rumah. "Marisa pulang ma, pa, kak Zara" ucapnya tidak melihat anggota keluarganya berada di ruang tengah.
"Kemana mereka pergi? kenapa tidak ada satu orang pun disini. Biasanya setiap kali aku pulang mama dan papa selalu berada disini" gumam Marisa mencari kedalam kamar. Tetapi ia tidak menemukan kedua orang tuannya disana, lalu Marisa mencari kedalam kamar sang kakak, namun ia juga tidak menemukan sang kakak berada disana.
"Ada apa ini?" dengan tubuh lelah Marisa akhirnya memasuki kamarnya. Ia yakin kalau kedua orang tuannya pasti sedang berada diluar bersama sang kakak. Kemudian Marisa memasuki kemar mandi, ia menatap wajahnya di depan pantulan cermin. "Tapi kalau aku yang akan merawat nyonya Elisabet, bagaimana dengan tuan Lucas? kasihan juga dia harus.. Oo, jangan bilang dia akan mencari sekretaris baru? terus aku kemana begitu nyonya Elisabet keluar dari rumah sakit? wah, itu artinya aku akan dipecat? oh no, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus membicarakan ini dengan tuan Lucas sebaik mungkin".
Begitu Marisa keluar dari dalam kemar mandi, ia segera memakai pakaiannya, lalu ia melirik jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, "Tapi kalau aku menelponnya sekarang, aku takut akan menganggu dia. Apa sebaiknya besok saja? baiklah, besok saj..
DDDRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...
Panggilan nomor tidak dikenal masuk kedalam ponselnya, "Siapa" gumamnya, namun Marisa tetap menggeser tombol hijau. "Ini siapa?".
"Marisa".
Marisa menjauhkan ponselnya, lalu ia melihat layar ponsel yang masih menyala sambil meremasnya. "Bajingan" umpatnya. "Ada apa Za?".
"Kenapa kamu memblokir nomor ku Sa? apa aku melakukan kesalahan?".
"Maaf, aku tidak tau kalau aku memblokir nomor mu. Ada apa kamu menelpon ku malam-malam seperti ini?".
"Aku ingin bertemu dengan mu Sa. Bisakah kita bicara sebentar?".
"Aku tidak bisa Za, hari ini aku sangat lelah sekal..
"Sebentar saja Sa. Aku berada di depan rumah mu".
"Apa? sedang apa kamu di depan rumah ku Za? Kamu pulang saja".
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan pulang sebelum kamu menemui ku. Kumohon Sa, temui aku sebentar saja, kalau tidak aku tidak akan pergi dari sini sampai kamu benar-benar keluar".