Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 103


__ADS_3

Dengan senyum tipis diwajahnya, Lucas pun langsung membawa hidangan tersebut dihadapan Marisa dan Flora. "Tuan, terima kasih banyak sudah membuatkan hidangan ini untuk saya".


"Mmmmm, makanlah" angguk Lucas mendudukan diri disamping sang istri. "Kamu juga makanlah".


"Tentu saja dong, masakan kamu tidak boleh disia-siakan. Oh iya, hari ini tampak sangat segar sekali, bagaimana kalau kita healing? kamu setuju Ra?".


"Healing?".


"Mmmmm".


"Kalau aku sih terserah kamu saja Risa".


"Ok, kalau gitu kita akan..


"Sepertinya aku tidak bisa, ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan" potong Lucas melahap makanannya.


"Ya sudah kalau kamu tidak bisa, aku akan pergi berdua dengan Flora. Iya kan Ra?".


"Tetap tidak bisa. Kamu mau kemana? sebaiknya kalian dirumah saja".


"Ah.. Dirumah membosankan, aku ingin pergi menikmati cuaca hujan-hujan seperti ini".


"Jalanan licin Marisa".


"Jangan khawatir, aku ini..


"Tetap tidak bisa".


"Kalau gitu..


"Jangan banyak melawan" Lucas menatapnya dengan tajam membuat seketika nyalinya menciut. "Kalau aku bilang tidak bisa tetap tidak bisa. Jangan kebiasaan melawan suami".


"Maaf" tunduk Marisa. Kemudian Lucas pergi meninggalkan mereka berdua, "Ck.. Suami menyebalkan sekali. Ra, apa kita akan seharian dirumah terus? lihatlah keluar, hujan-hujan seperti ini pasti sangat menyenangkan sekali berada di puncak. Iyakan?".


"Iya sih Risa. Tapi tuan Lucas kan barusan melarang kita pergi kemana-mana, sebaiknya kamu turuti saja apa yang suami kamu katakan".


"Ekh, sejak kapan kamu jadi anak penurut Ra? enggak ah, bosan tau dirumah terus. Ayolah Ra".


"Enggak ah, aku enggak mau terkena amukan tuan Lucas nantinya. Sudah Sa, jangan terlalu banyak melawan".


"Hhhmmsss.. Kamu enggak asik banget deh Ra".


"Maaf".

__ADS_1


Lalu Marisa membawa piring kotornya, ia mencucinya membuat Flora seketika tersenyum melihat tingkah laku Marisa yang terkadang kekanak-kanakan, namun ibunya Rehan yang ketepatan melihat Marisa, ia pun melarang sang majikan. "Tidak apa-apa bu, biar Risa saja".


"Tidak nona, tuan Lucas bisa marah kalau sampai saya membiarkan nona yang mencuci piring ini. Jadi biarkan saya saja nona".


"Tidak apa-apa bi, biar dia saja yang mencucinya. Sekalian ini juga ya Sa atau kamu butuh bantuan?" ujar Flora dari belakang.


"Tidak usah" jawab Marisa.


"Tuh, bibi dengar sendiri kan? jadi bibi pergi saja, biar aku yang menemani dia disini".


"Ya sudah kalau gitu nona, kalau ada yang perlu saya kerjakan..


"Iya, aku akan memanggil bibi. Terima kasih".


"Sama-sama nona" angguknya tersenyum tipis pergi meninggalkan mereka berdua. Lalu Rehan melihatnya, "Kamu sedang apa disini?".


"Tadi tuan Lucas memintaku membuatkan segelas kopi bu. Kedua nona itu sedang apa disana bu?".


"Itu dia Rehan, ibu jadi takut kalau sampai tuan Lucas melihat mereka berdua sedang mencuci piring".


"Loh, kenapa bisa bu?" Rehan berjalan mendekati Marisa dan Flora. Dengan tawa yang begitu lantang Rehan mengernyitkan dahi mendengar suara kedua orang tersebut. "Nona, apa yang sedang nona lakukan?".


"Oo, Rehan?" tawa Marisa. "Ada apa Rehan?".


"Apa yang sedang nona lakukan disini?".


"Tolong jangan lakukan itu nona, kalau sampai tuan Lucas melihatnya saya dan ibu saya pasti akan di pecat dari rumah ini. Karna itu tolong jangan membuat kami kehilangan pekerjaan ini nona, saya mohon".


"Maksud kamu apa Rehan? kami berdua hanya mencuci piring bekas makanan kami sajah, jadi kamu tidak usah khawatir kalau sampai Lucas tau".


"Saya mohon nona!" ucap Rehan kembali dengan wajah datar bercampur kesal.


"Sudah Sa, lebih baik kita hentikan saja. Ayo".


"Terima kasih nona".


"Mmmmm" angguk Flora membawa Marisa pergi dari sana menuju kamarnya. Lalu menjewer wajah sang sahabat yang tiba-tiba terlihat jutek, "Ada apa lagi Risa? aku rasa apa yang barusan Rehan ucapkan benar juga tuh. Kamu seperti tidak mengenal tuan Lucas saja, bagaimana kalau tiba-tiba tuan Lucas tadi melihatnya?".


"Emang kenapa kalau sampai Lucas melihatnya?".


"Hey.. pastinya tuan Lucas akan memarahi Rehan bersama dengan ibunya. Kamu tega kalau sampai mereka di pecat? enggak kan? sudahlah, kamu jelek tau disaat bete seperti ini".


"Aakkkhhh.." dengan kesal Marisa menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. "Ra, aku akhir-akhir ini bawaannya malas sekali. Apa kamu juga pernah merasakannya?".

__ADS_1


"Tentu saja aku pernah merasakannya, bahkan lebih parah dari sini" jawab Flora membaringkan tubuhnya disamping sang sahabat. "Aku tiba-tiba merindukan dia lagi Sa".


Marisa pun langsung menatapnya, "Ada apa Flora? loh.. Kenapa kamu jadi menangis?".


"Haahh.. Apa aku barusan menangis?".


"Mmmmm, air mata mu baru saja mengalir. Kamu baik-baik saja?".


Flora menyentuh wajahnya, "Astaga, aku tidak menyadarinya Sa" dengan nafas berat ia membaringkan tubuhnya kembali. "Aku tidak tau penyebabnya apa Sa.. Rasanya aku ingin menangis hiks.. hiks..".


"Ada apa Ra? please jangan buat aku khawatir dong" Marisa pun langsung memeluknya dengan sayang. "Ada apa Ra? ayo cerita" Namun Flora bukannya berhenti menangis, ia malah semaki menjadi-jadi membuat Marisa melepaskan pelukannya menatap wajah sang sahabat. "Kalau kamu menangis saja tampa berbicara kepada ku..


"Hiks.. Risa!".


"Mmmmm, ayo cerita ada apa?".


"Sakit Risa.. Rasanya sakit sekali".


"Maksud kamu Ra? apa mu yang sakit?".


Flora pun menunjuk dadanya, "Disini Sa, tiba-tiba hati ini terasa sesak hiks.. Apa ini pertanda buruk Sa? kenapa rasanya sakit sekali Sa sampai membuat ku menangis seperti ini hiks".


"Flora lihat aku. Siapa yang kamu pikirkan saat ini?".


"Jose!".


"Jose?".


"Mmmmm.. Aku merasa sesuatu sedang terjadi kepadanya Sa hiks. Apa dia akan baik-baik saja? Aarrkkhhh".


"Kamu tenang dulu Ra, sekarang berikan ponsel mu. Kamu memiliki nomor ya kan? aku akan menghubungi dia untuk memastikan kalau Jose baik-baik saja atau tidak".


"Tapi aku takut kalau bukan dia yang mengangkat ponselnya Sa".


"Biar aku yang bicara, kamu tidak usah khawatir sekarang berikan ponsel mu" Marisa pun langsung menekan nomor ponsel Jose. Dengan panggilan bergetar, Marisa menunggu sampai Jose mengangkatnya, namun usahanya tidak berhasil setelah beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor tersebut.


"Bagaimana Risa?".


"Dia tidak mengangkat ya Ra. Apa sesuatu terjadi kepadanya? tapi tidak mungkin, kalau sesuatu terjadi kepada Jose, Lucas pasti sudah pergi. Kalau gitu kamu tunggu sebentar Ra, aku pergi dulu untuk memastikan kalau Lucas berada di ruang kerjanya".


"Mmmmm".


"Aku tidak akan lama" Marisa pun keluar dari dalam kamar Flora menuju kamarnya, di depan pintu ia berharap kalau Lucas berada disana.

__ADS_1


Ceklek!


Dengan langkah panjang sedikit berlari menuju pintu ruang kerja Lucas ia pun langsung mengetuk pintu tersebut, "Apa kamu berada didalam?" tetapi Lucas yang berada di dalam hanya terdiam tampa menjawab pertanyaan. "Kenapa tidak ada jawaban? apa benar-benar sesuatu sedang terjadi.. Tidak-tidak, itu tidak mungkin, untuk memastikan kalau dia berada disana aku langsung masuk saja" gumam Marisa mendorong pintu ruangan tersebut membuat ia melonjak kaget. "Astaga.. Kamu?".


__ADS_2