
Marisa terdiam, lalu ia teringat siapa Lucas yang sebenarnya. "Tuan menyukai ku? aku rasa ini pasti permintaan nyonya Elisabet. Tidak apa-apa, aku akan menikahi tuan dengan syarat".
"Syarat?".
"Mmmm, begitu aku dan tuan resmi menjadi sepasang suami istri. Aku tidak mau di duakan, kalau pun nantinya tuan akan menikah dengan wanita pilihan tuan atau pun karna perjodohan yang di atur oleh keluarga tuan. Kamu harus menceraikan aku, deal?".
Lucas menatapnya, meskipun Marisa menunjukkan senyuman, tapi ia tau bukan dengan kedua matanya. "Baiklah, aku akan melakukannya".
"Ok, lalu kapan kamu akan menikahi ku? aku akan memberitahu kedua orang tua ku. Tapi bukan untuk waktu dekat ini, soalnya saudara perempuan ku akan segera menikah dalam bulan ini, bagaimana kalau bulan depan saja?".
"Tidak bisa, dia meminta ku menikahi mu dalam minggu ini".
"Minggu ini?".
"Mmmmm".
"Kenapa buru-buru sekali? kita berdua belum ada persiapan melakukannya".
"Aku akan menyiapkannya. Besok malam aku akan datang kerumah mu".
"Tunggu? kamu serius akan melakukannya?".
"Mmmmm".
"Benarkah?".
"Mmmmm.. Sebaiknya kita naik, matahari sudah mulai tenggelam".
"Kenapa kita tidak menunggu sampai matahari itu terbenam, aku ingin melihatnya. Pasti sangat inda.." gantung Marisa setetes air hujan mengenai wajahnya. Lalu ia tersenyum melihat keatas langit, "Langit saja ikut menangis merasakan apa yang aku rasakan saat ini" batin Marisa.
Kemudian Lucas menarik tangannya pergi dari sana melihat hujan yang semakin lebat, hingga kini mereka berdua telah berada di atas. Lucas melihat pakaian Marisa yang basah kuyup begitu juga dengan pakaiannya, "Kamu baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja".
"Ayo" ajak Lucas memasuki kamar yang tadi dia bicarakan. Lalu memberikan handuk ditangannya, "Mandilah".
"Bagaimana dengan tuan?".
"Aku bisa ditempat lain, pakaian mu ada di dalam lemari itu".
"Mmmmm, terima kasih" angguk Marisa memasuki kamar mandi. Namun Lucas bukannya pergi, ia malah berjalan mendekati balkon kamar tersebut, ia melihat matahari yang sudah terbenam bersamaan dengan suara burung yang berkicau diatas udara.
TOK.. TOK..
"Masuk" jawab Lucas melihat mereka membawa sebuah teh dan juga beberapa cemilan berat. "Terima kasih".
"Sama-sama tuan" angguk mereka keluar dan juga Lucas mengikutinya dari belakang. Lalu Lucas memasuki salah satu kamar, ia pun segera membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Marisa yang begitu keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat sebuah teh manis berada di atas meja sofa dan beberapa cemilan berat membuat ia langsung meminumnya untuk menghangatkan tubuhnya tampa terlebih dahulu memakai pakaiannya. "Mereka tau ajah kalau aku sedang lapar. Mmmm, tehnya sangat enak".
Ceklek!
"Astaga" kaget Marisa membuat lidahnya terbakar kepanasan melihat Lucas tiba-tiba membuka pintu tampa mengetuknya terlebih dahulu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Lucas berlari kearahnya.
__ADS_1
"Tunggu" tahan Marisa mencoba mengipas lidahnya supaya rasa panasnya menghilang. Kemudian ia melihat Lucas, "Harusnya tuan ketuk pintu dulu sebelum masuk, buat orang kaget saja".
"Lalu kenapa kamu belum memakai pakaian mu?".
"Habisnya aku kelaparan sama kedinginan, dan ketepatan aku melihat ini ada disini. Jadi aku mengutamakan mengisi perut dulu, kalau gitu akau pakai pakaia..
"Tunggu" tahan Lucas mendekati Marisa.
"Ada apa tuan?" tanya Marisa melihat cara Lucas menatapnya membuat ia melangkah mundur. Kemudian Lucas menahan pinggangnya, lalu menatap manik mata Marisa dengan tatapan yang tidak bisa Marisa bicarakan.
"Jangan mundur, kamu bisa terjatuh".
"Hahahah, iya. Tolong lepaskan aku tuan".
"Aku sudah bilang tunggu" Lucas melap sudut bibirnya, lalu menciumnya dengan lembut sambil tersenyum. Kemudian Lucas melihatnya, "Kamu mau bercinta dengan ku?".
"Apa? Aarrkkhh" kaget Marisa saat Lucas mengangkat tubuhnya keatas tempat tidur. "A-apa..
Cup..!
"Tu-tuan..
Cup..!
Marisa tersenyum, "Aku tidak akan melakukannya sebelum tuan menikahi ku..
DDDRRRTTT... DDDRRRRTTTTT...
Lucas mendengar suara ponselnya berdering, ia pun langsung menuruni tempat tidur. Melihat siapa yang baru saja menelponnya, Lucas keluar dari dalam kamar. "Hallo ma" jawabnya.
"Ada apa ma?".
"Cepat, kakek mencari mu".
"Baik ma, Lucas akan kesana".
"Mmmm".
Lucas melihat jam telah menunjukkan pukul 7 malam, lalu ia memasuki kamar itu kembali, ia melihat Marisa telah memakai pakaiannya. "Kita harus pulang. Ayo".
"Mmmm" angguk Marisa tampa bertanya. Dan selama perjalan menuju ke kota, Lucas menginjak pedal gas mobilnya diatas rata-rata membuat Marisa merasa sedikit ketakutan meskipun ia melihat Lucas cukup ahli dalam mengendarai mobilnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, bertahanlah".
"Mmmmm" gumam Marisa menutup mata, ia berdoa dalam hati kalau semuanya akan baik-baik saja, mereka akan tiba di kota dengan keadaan selamat. Setelah hampir 1 jam lamanya perjalan, Marisa membuka mata, ia merasakan kalau mobil Lucas sudah mulai berjalan dengan normal. "Syukurlah, ternyata sudah sampai di kota. Tuan, aku rasa tuan sedang buru-buru, tidak apa-apa kalau tuan menurunkan aku disini".
"Kamu yakin?".
"Iya tuan".
"Baiklah" Lucas menepikan mobilnya. Ia melihat Marisa langsung keluar, "Tunggu, maaf aku tidak bisa mengantar mu sampai dirumah".
"Tidak apa-apa tuan".
"Terima kasih, hati-hati dijalan".
__ADS_1
"Mmmmm" senyum Marisa menutup pintunya. Begitu Lucas pergi, ia melihat sekitarnya, jalanan masih di penuhi oleh kendaraan. "Kalau gitu aku naik taksi saj.. Oo tas ku eeiiss, aku baru ingat kalau aku meninggalkannya" kesal Marisa mengingat tasnya berada dirumah Lucas.
Sesampainya Marisa dirumah, ia meminta kepada si supir taksi untuk menunggunya disana. "Ma, mama" panggilnya.
"Kamu sudah pulang? kenapa kamu tidak mengangkat ponsel mu?".
"Tas Risa ketinggalan. Ma, Risa pinjam uang mama dong bayar ongkos taksi, buruan ma kasihan dia menunggu lama".
"Ck, kamu kebiasaan seperti itu. Inih".
"Terima kasih ma, nanti aku akan menggantinya" Marisa berlari keluar menghampiri si supir taksi, lalu membayarnya. "Terima kasih ya pak".
"Sama-sama nona".
Kemudian Flora mendatanginya, "Risa" panggilnya.
"Hhhmmm, Flora. Ada apa? Ah aku minta maaf Ra soal kejadian semalam meninggalkan kamu disana. Kamu baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja Sa. Bagaimana dengan mu?".
"Aku juga baik-baik saja. Tapi kenapa wajah mu tampak sedih seperti itu Ra?".
"Tidak, malam ini aku ingin tidur dirumah mu. Boleh kan?".
"Hey, tentu saja boleh. Emang kamu anggap aku ini siapa? ayo masuk. Kamu sudah makan malam?".
"Belum, kamu mau memasakkan mie untuk ku?".
"Benar kamu belum makan malam?".
"Mmmm, tapi aku ingin makan mie".
"Ya sudah, aku akan memasakkan mie untuk mu. Mama, Flora datang".
"Iya".
"Mama masak apa?".
"Kamu lihat saja ke dapur".
"Papa sama kak Zara mana ma?".
"Kak Zara tadi pergi sama calon kakak ipar kamu, tapi mereka belum pulang. Kalau papa tadi pergi memancing sama satu kantornya".
"Ck, kebiasaan deh papa pulang malam".
"Habis kamu enggak mau minjamin mobil kamu buat papa sama mama jalan-jalan berdua".
"Ikh, mama apa-apaan sih? kan mobilnya ada disitu".
"Iya, mobilnya datang setelah papa kamu pergi memancing".
"Ya sudah ah. Lain kali kan masih ada waktu mama jalan-jalan berdua sama papa".
"Mmmmm".
__ADS_1