Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 52


__ADS_3

Sambil menunggu diluar, Marisa mendekati si sekretaris yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Permisi".


"Iya, ada yang bisa saya bantu?".


Marisa tersenyum, "Boleh tidak saya bertanya?".


"Silahkan" jawabnya dengan datar.


"Hey, itu wajah biasa ajah kali. Enggak usah pasang wajah sok datar seperti itu" gumam Marisa dalam hati. "Itu, kenapa tuan Lucas merekrut mbaknya jadi sekretarisnya? mbaknya orang baru yah?".


"Iya, kenapa mbak bertanya?".


"Pantas saja. Sebelum kamu menduduki posisi ini, saya orang yang pernah menduduki kursi itu. Tapi karna sesuatu yang harus saya kerjakan, kini posisi saya jatuh ditangan kamu. Selamat" Lalu ia melihat Marisa dengan tatapan tidak suka. "Hahaha, tapi kamu tenang saja, saya tidak akan merebut posisi ini lagi dari mu. Kalau boleh tau nama kamu siapa?".


"Tera" jawabnya dengan singkat.


"Mmmm, Tera, sekretaris Tera, nama yang bagus sesuai dengan wajah kamu" senyum Marisa. "Tapi tidak sesuai dengan hati kamu, aku yakin kamu tidak menyukai ku. Ck, menyebalkan sekali, apa aku harus merebutnya lagi dari dia? aku sangat tidak ikhlas jika posisi ini berada di tangannya. Bagaimana ini? Haruskah?" ucap Marisa dalam hati mendengar suara pintu Lucas terbuka. "Oo, dia sudah keluar" tunduknya begitu Dilan melihatnya.


Kemudian Dilan berjalan mendekati dirinya, lalu ia menarik dagu Marisa melihat kearahnya sambil tersenyum senang. "Aku menyukai mu? bagaimana dengan tawaran ku tadi?".


"Ma-maksud tuan apa?" kaget Marisa gelagapan.


Dilan mendekatkan wajahnya di telinga Marisa membuat ia semakin merasa tidak nyaman, "Sekretaris ku, aku mau kamu menjadi sekretari...


"Apa yang sedang kamu lakukan Dilan?" bentak Lucas menarik Dilan menjauh dari hadapan Marisa.


"Hahahah, menurut mu apa yang sedang aku lakukan Lucas? aku hanya ingin menawarkan pekerjaan kepadanya yang jauh lebih baik dari mu. Tapi tunggu dulu, kenapa kamu melakukan dia seolah-olah..


"Hentikan, sekarang kamu pergi. Aku tidak ingin melihat mu".

__ADS_1


"Hahahaha" tawa Dilan kembali melihat Marisa. "Baiklah, kalau kamu menerima tawaran ku, temui aku diruangan ku" ucap Dilan pergi meninggalkan mereka. Lalu Lucas membawa Marisa pergi dari sana.


Di dalam lift, suasana tampak hening tampa ada obrolan dari antara mereka berdua membuat Marisa tidak nyaman. "Hhrrmm, tuan kita mau kemana?" namun Lucas tidak menjawabnya, ia hanya diam seperti tidak menganggap Marisa berada di disebelahnya. "Hey, apa dia sedang marah? lagian kalau dia marah kenapa imbasnya jadi ke aku? aku kan tidak tau apa-apa? iya kali aku mengatakan kepada tuan Dilan. Stop, jangan dekati aku, kalau tuan Dilan mendekat, tuan Lucas akan marah. Ups, hey.. Kalau aku berkata seperti itu, apa kata tuan Dilan? hahahaha.. Ini sangat gila, benar-benar sangat gila" geleng Marisa melihat pintu lift terbuka.


Lucas pun langsung keluar dari dalam lift bersama dengan dirinya. Lalu Lucas memasuki mobilnya, "Oh iya aku baru ingat, tadi diakan mengajak ku fiting baju pengantin" Marisa pun segera masuk kedalam mobil Lucas. Setelah itu Lucas menjalankan mobilnya meninggalkan gedung Hanju. Kemudian ia melirik Lucas yang sedang fokus menyetir mobil, "Tuan, aku minta maaf soal tadi. Apa tuan masih marah? aku kan tidak tau apa-apa tuan, tolong jangan diamkan aku seperti ini" ucap Marisa mengecilkan suaranya. Lalu Lucas melihatnya, setelah itu ia kembali fokus ke jalanan. "Tidak apa-apa Marisa hhmmsss".


Sesampainya mereka di butik yang kemarin pernah mereka kunjungi, beberapa pegawai langsung menghampiri mereka, "Selamat datang tuan" tunduk mereka. Lalu si manager yang bertanggung jawab mendatangi Lucas, "Selamat datang tuan Lucas. Ada yang bisa kami bantu?".


"Mmmmm, carikan gaun pengantin untuk dia" jawabnya menunjuk Marisa.


Dia tersenyum melihat Marisa, "Wanita ini siapa tuan?".


"Calon istri ku" mendengar tiga kalimat yang baru saja keluar dari mulut Lucas, kedua pipi Marisa langsung merona membuat Lucas yang tidak sengaja melihatnya tersenyum tipis. "Cepat bawa dia".


"Baik tuan" angguk mereka. "Mari nona ikut kami".


"Iya" senang Marisa mengikuti dari belakang, kemudian si manager mambawa Marisa kedalam sebuah ruangan yang di penuhi oleh gaun-gaun mewah keluaran terbaru. "Wah, ini benar-benar surganya gaun yang pernah aku lihat".


"Bagaimana bisa aku memilih, kalau semua gaun ini cantik sekali. Ini membuat ku pusing".


"Kalau gitu, bagaimana dengan gaun ini? saya rasa gaun ini akan jauh lebih bagus kalau tubuh nona yang memakainya" ucap si manager menunjuk salah satu gaun tersebut kepadanya.


"OMG, cantik sekali. Baiklah, aku akan memilih gaun ini".


"Mmmm, kalian tolong bantu dia merias wajahnya".


.


Begitu Flora selesai mengerjakan dokumen yang tadi si manager berikan kepadanya. Flora melirik jam telah menunjukkan pukul 12:13 menit, "Sudah waktunya istirahat" ia langsung menyambar ponselnya. Kemudian mengirim pesan kepada Reza. "Aku akan turun kelantai bawah, kamu tunggu saja aku di restoran".

__ADS_1


Ting..!


Baru saja dia mengirim pesan, balasan dari Reza pun langsung masuk kedalam ponselnya. "Mmmm, aku akan menunggu mu disana. Cepatlah kemari".


"Hhhmmsss, dia benar-benar menunggu ku.. Aahh" saat Flora bangkit berdiri dari atas kursinya, tiba-tiba ia merasa pusing, lalu ia memijit keningnya sembari menutup mata. "Kenapa aku tiba-tiba merasa pusing? astaga aku baru ingat kalau tadi pagi aku belum sempat sarapan dari rumah" kemudian Flora mendudukan diri kembali. Setelah itu ia mengirim pesan kepada Reza, "Reza tolong pesankan aku makanan, aku akan segera menyusul mu".


Begitu Flora mengirimnya, ia menidurkan kepalanya diatas meja hampir 10 menit lamanya, setelah itu ia kembali berdiri. "Flora, kamu baik-baik saja?" tanya rekan kerjanya.


"Iya, aku baik-baik saja".


"Tapi wajah kamu tampak pucat dan juga wajah mu berkeringat. Aku rasa kamu jatuh sakit, sebaiknya kamu pulang saja istirahat, nanti aku akan memberitahu kepala tim kalau kamu tidak enak badan".


"Terima kasih, tapi aku baik-baik saja kok" ia tersenyum, lalu pergi keluar dari ruangan tersebut menuju loby. Di didepan restoran, ia langsung melihat meja Reza berada sudut kaca, dengan senyum tipis ia mengusap wajahnya. "Reza, maaf sudah membuat mu lama menunggu ku".


"Tidak apa-apa, duduklah aku sudah memesan makan siang untu.. Kamu baik-baik saja?" tanya Reza melihat wajah Flora pucat pasi. "Kamu sakit Ra? wajah kamu pucat sekali".


"Aku baik-baik saja Za. Tidak usah khawatir seperti itu.. Mmpphhmmm".


"Ada apa Ra? kamu mual?".


"Mmpphhhmm, aroma makanan itu sangat tidak enak Za. Bisakah kamu menyingkirkan itu untuk ku?".


"Kenapa? bukankah kamu sendiri yang memesannya?".


"Iya, aku mohon tolong singkirkan itu Za" jawabnya dengan tubuh lemas.


"Kalau gitu kita kerumah sakit sekarang juga, aku tidak yakin kamu baik-baik saja".


"Tidak usah Za, aku baik-baik saj..

__ADS_1


BBRRAAKK...


"Flora!" kaget Reza melihat Flora jatuh pingsan.


__ADS_2